Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
129. Semua Belum Berakhir (Ending Sebenarnya)


__ADS_3

Langit yang tadinya samar-samar kelabu, sekarang sudah semakin terlihat jelas. Bahkan gelapnya malam sudah sedari tadi mengepung pusat kota Jakarta pun dengan hujan yang turun sangat derasnya.


Entah kenapa dua hari terakhir ini langit begitu setia menurunkan tetesan air. Apakah semua itu dikarenakan tanggalan yang sudah memasuki bulan April? Ataukah tuhan sengaja menurunkan air ini untuk menemani seorang laki-laki yang saat ini sedang berjalan tak tentu arah di tengah-tengah derasnya hujan dan pekatnya kegelapan malam.


Bunyi klakson dari mobil yang melintas tidak membuat laki-laki itu berlalu dari tengah jalan. Malahan dia tetap jalan lurus ke depan dan dia menulikan pendengarannya untuk area sekitar.


"Kalau mau mati lu jangan di sini," omel salah satu pengendara mobil dan langsung melaju kencang dijalan sunyi yang entah di mana itu.


Sedangkan laki-laki yang terlihat kacau dengan pakaian serba hitam yang sudah basah itu hanya bisa menyungging senyum ironi, "Aku juga mau mati dengan cepat, istriku sudah menunggu di atas sana," jawabnya dengan berbisik pun tangan kanannya menunjuk ke arah langit yang malam ini tak terhias oleh bintang selain pekatnya awan mendung yang dibarengi dengan munculnya kilat.


Laki-laki berwajah suram itu menggerakkan telapak tangannya untuk menghapus air mata yang menyatu dengan butiran-butiran air hujan.


hidup mas masih panjang


"Itu tidak benar. Semua yang kamu katakan itu tidak benar. Hidupku sudah mati, semuanya sudah mati dan itu bersamaan dengan kamu yang meninggalkan pergi ke tempat yang tidak bisa lagi aku datangi." Kavin menangkis perkataan arwah Mika tadi dengan nada yang terdengar tegas pun rahang yang mengetat.


"Kebersamaan kita memang singkat, tapi biar begitu. Aku melakukannya dengan sepenuh hatiku dan sekarang hatiku sudah tidak lagi bersama denganku, karena kamu telah membawanya pergi," racaunya lagi sembari terus berjalan tidak tentu arah.


Kavin sudah berjalan seperti ini dari berjam-jam lamanya, atau bahkan dia melakukannya sedari pulang dari pemakan umum tempat di mana istrinya dikebumikan.


Padahal siang tadi dia sudah mengatakan akan mengikhlaskan kepergian istrinya, tapi semua itu hanya omong kosong. Buktinya, lihatlah sekarang. Dia sudah seperti orang gila yang berjalan ditengah-tengah jalan.


Beruntung malam ini jalanan tidak terlalu ramai, "Aku meningkatkanmu untuk kembali, sayang. Aku merindukanmu " Kavin berucap lirih dan bersamaan dengan itu dai langsung duduk bersimpuh tepat di tengah-tengah perempatan jalan.


Lagi dan lagi Kavin menangis dengan posisi kepala yang menunduk dan kedua tangan yang menutup wajahnya. Padahal ini bukan kali pertama laki-laki itu merasakan kehilangan.


Dulu pertama kali dia menangis, saat Mamanya meninggal, kemudian dia juga menangis saat Miguel I dimakan oleh Miranda I, dan sekarang inilah yang terakhir dan juga memberikan bekas yang sangat dalam.


"halo pemirsa para pendengar radio R.H FM di manapun anda berada. Apa kabar malam ini? tentu kalian baik-baik saja bukan? tapi oh tapi lagu yang akan kami putarkan untuk malam ini terkesan tidak baik-baik saja. Lagu ini terdengar seperti orang yang tengah kehilangan dan lagu ini direquest oleh mbak Ela yang ada di Jakarta timur, apa kabar mbak, semoga suami mbak tenang diatasi sana yah. okeh langsung saja kita putarkan lagu untuk mbak Ela. Ini lah hijau daun, Aku Dan Air Matamu."


Kavin melihat ke arah radio yang terpasang disebuah tiang yang berdiri menjulang. Laki-laki itu tersenyum, seolah merasa kalau bukan hanya dirinya yang saat ini bersedih.


Suara musik bernada sendu mulai memenuhi kawasan perempuan, membuat Kavin sedikit lebih betah berada di sana. Bahkan dia sampai-sampai merubah posisi dari duduk bersimpuh, menjadi kaki yang terangkat dengan tangan yang berada di atas lutut.



Kavin memejamkan mata kala nada demi nada sendu masuk ke dalam telinganya membuat memori-memori kenangan indah bersama Mika terputar.


"Jatuh air mataku


Iringi remuk redam hatiku


Saatku kehilanganmu dan hanya


Rintik hujan yang menemani aku.


Di saat aku bertahan


Selama ini aku bertahan

__ADS_1


Lewati semua malam


Dinginnya aku pandangi hanyalah langkahmu.


Wahai kau air mataku


Hanya engkaulah saksi hidupku


Saat aku kehilangannya


Saat aku kehilangannya."


Untaian demi untaian lirik lagu yang dinyanyikan oleh hijau daun itu membawa kenangan demi kenangan manis Kavin dan juga Mika. Entah itu kebersamaan saat pergi ngerampek dulu atau saat sudah menikah. Semua terputar diingatan Kavin.


***


Jam sepuluh malam Kavin baru sampe ke gedung apartemennya. Sekarang laki-laki itu tengah berdiri di depan pintu tempat tinggalnya. Kavin hanya menatap pintu itu dengan tatapan mata yang kosong.


Laki-laki yang sekujur tubuhnya basah kuyup itu mulai bergerak mengangkat tangan kanannya dan bergerak untuk mengetok pintu.


Tiga kali ketukan dia lakukan tanpa ada ekspresi bahagia seperti biasanya, "Sayang, buka pintunya." Kavin menitikkan air mata, tapi tidak sederas yang tadi.


Merasa tidak mendapatkan jawaban, Kavin memutar gagang pintu dan langsung mendorongnya ke dalam. Kesepian langsung menyambut kedatangan Kavin saat dia masuk ke dalam apartemen.


Paling telinganya hanya mendengar suara Mira yang mengeong dan saat ini tengah mengitari kakinya. Bahkan kucing itu tidak segan untuk menempeli bulunya di celana basah Kavin.


Sedangkan Kavin yang sudah tidak ada semangat untuk hidup, hanya bisa berjalan dengan tatapan kosong. Tiba-tiba langkah pria itu terhenti saat dia telah memijakkan kakinya di ruang tengah.


"wow ini makanan perkedel jagung. Makanan ini kesukaanku tahu, terima kasih. Aku mandi dulu okeh."


Kavin hanya tersenyum saat dia melihat kilas balik kejadian-kejadian yang sudah pernah dia lakukan di sini bersama sang istri. Dia bahkan bisa menyaksikan gimana dia memeluk Mika dari belakang saat wanita itu memasak.


"makan yang banyak biar kamu selalu sehat."


"sumpah, semua masakanmu malam ini sangat lezat. Terima kasih, sayang."


Bahkan Kavin masih bisa melihat dirinya yang tengah makan malam bersama dengan Mika dalam satu piring yang sama di mana, dirinya lah yang menyuapi sang istri.


Kavin lagi-lagi tersenyum pun air matanya satu per satu kembali turun membasahi pipinya. Dia sedikit berjalan hingga sampai ke ruang keluarga.


"Aku duduk di mana, jika di sebelahmu sudah ada Mira dan Migu? "


Kavin terkekeh saat dia melihat Mika yang melakukan isyrat dengan wajah yang cemberut dan dia semakin tertawa dalam tangis saat melihat dirinya sendiri menarik Mika, hingga duduk di atas pangkuannya menggantikan popcorn yang tadinya berada di atas sana dan sudah pindah di atas perut Mika.


"kamu masih punya pangkuanku, sayang. Jadi, jangan cemburu dengan Migu dan Mira. Bukan begitu, anak-anak Papa?"


Kavin menundukkan kepalanya ksrena dia tidak ingin lagi menyaksikan kenangan-kenangan yang terlihat seperti teater nyata di setiap sudut rumahnya.


Rasa sesak kembali menghunus ulu hati Kavin, membuat punggung laki-laki itu bergetar. Dia tidak mau berlama-lama di tempat yang akan semakin membuatnya merasakan sakit ini.

__ADS_1


Kavin mulai berjalan ke lorong yang di mana, kamarnya berada. Sesampainya di dalam kamar. Kavin kembali berdiri diam di ambang pintu, kakinya seolah tidak ingin melangkah lebih jauh untuk masuk ke dalam sini, karena bayang-bayang istrinya yang tertidur di atas ranjang malam ini, terus saja mengganggu dirinya.


Namun, seperti yang Mika katakan. Dia harus melanjutkan hidup, karena perjalanannya masih sangat jauh. Dia masih punya karier yang harus dikejar.


Kavin mulai berjalan masuk lebih ke dalam. Awalnya dia berniat untuk merebahkan diri di atas ranjang, tapi itu urung dia lakukan.


Laki-laki itu justru berjalan ke meja rias istrinya, membuka laci, dan mengeluarkan sebuah album foto.


Kavin membuka album itu dan secarik kertas tiba-tiba jatuh tergeletak di atas lantai, "Surat kah?" gumam Kavin dengan suara yang serak karena itu kali pertamanya dia mengeluarkan suara.


Kavin membungkuk untuk memunguti kertas tersebut. Dia memutarnya seolah sedang menelisik, "Untukku kah? tapi, siapa yang menulisnya? Apa jangan-jangan ini."


Kavin tidak melanjutkan perkataannya. Dia memilih untuk meletakkan album foto di atas meja rias almarhum istrinya dan sekarang fokusnya terarah ke secarik kertas itu.


Kavin bergerak membuka lipatan demi lipatan kertas hingga kedua matanya kembali berkaca-kaca saat melihat tulisan yang ada di sana.


Untuk Suamiku.


***


Kavin menatap tajam ke arah cermin yang ada di depannya. Raut wajah yang tadinya bahagia karena bisa membaca kata-kata terakhir yang dia kira membahagiakan dari istrinya, tapi justru itu membuat kobaran api membesar di dalam tubuhnya.


Kavin mengepalkan kedua tangannya membuat urat-urat yang ada di punggung tangan tercetak jelas, pun di lehernya juga.


"Benar— perjalananku di sini masih panjang dan semua ini bukanlah akhir. Awalnya aku akan belajar untuk mengikhlaskan kepergianmu, tapi tidak. Aku tidak akan pernah ikhlas, karena semua ini bukan takdir kita. Maaf karena tidak bisa menjagamu, tapi percayalah aku akan membalas semua ini. Aku akan membalas mereka yang telah melakukan ketidakadilan ini kepadamu, walaupun aku akan dicap sebagai pembunuh." Kavin berucap panjang lebar dengan kata-kata yang terdengar sangat-sangat menyeramkan. Terlebih lagi wajahnya yang suram terlihat sangat-sangat menyeramkan.


"Aku, Alfarizi Kavindra tidak akan membiarkan kalian hidup dengan tenang setelah melakukan ini kepada istriku dan calon anakku." Kavin seketika menyeringai seperti seorang iblis yang dipenuhi kebencian.


"Terima kasih, karena sudah membangkitkan iblis di dalam diriku," ucap Kavin dengan menyeringai pun kedua tangannya terkepal sangat erat hingga membuat buku-bukunya memutih.


...The End...


...Akhirnya aku bisa menamatkan cerita ini☺️....


...Makasih juga untuk para pembaca yang sudah berkenan mampir dan memberikan segala komentar dan like beserta dukungan....


...Pesan yang dapat kita ambil dari cerita ini adalah....


...Untuk semua orang, entah itu anak muda atau dewasa. Tolong, kalian ubah pola pikir kalian kepada seorang yang terlahir tidak sempurna. Aku tahu banyak diantara kalian menaruh rasa empati dengan anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus, tapi tidak sedikit juga orang yang tidak menaruh empati kepada orang yang seperti Mika ini. ...


...Pasti banyak orang di luaran sana yang tidak senang dengan orang seperti Mika, bahkan tidak jarang kita melihat orang seperti Mika ini dijauhkan. Bahkan lebih parahnya orang seperti Mika ini dijadikan bahan Bullyan. Bukan begitu? ...


...Makanya untuk semua orang mulailah ubah pola pikir kalian. Jangan, mentang-mentang ada orang yang terlahir tidak sempurna terus kita jauhkan. Tetapi, justru kita harus merangkul mereka, mengajak mereka berteman, agar mereka yang lahir tidak sempurna itu tidak merasa terasingkan....


...Itu saja sih. Sekali lagi terima kasih, dan kita bertemu di cerita selanjutnya 👇...



...Mampir juga di ceritaku yang ini yah👇...

__ADS_1



...Sampai jumpa, jika sudah rilis bakalan aku umumin di sini cerita si Kavin yaj....


__ADS_2