
...Hai sahabat Paris🗼...
...Apa kabar?...
...Karena nama penaku, "SuKa_PaRiS" Kalian panggil aku apa saja, asalkan harus ada kata parisnya. Jangan panggil Thor. Panggil aja aku Paris....
...Jika kalian bertanya kenapa nama penaku gitu. Jawabannya, karena aku suka Paris....
...Jadi, setelah aku berpikir panjang dikali lebar. Aku sudah memikirkan nama yang cocok untuk para pembaca ceritaku....
...Jadi mulai malam ini, aku akan panggil kalian dengan sebutan, "Sahabat Paris."...
...Gimana menurut Sahabat Paris? bagus enggak sebutan kalian?...
...Kalau gitu, yok Sahabat Paris, tulis di komentar, kalian dari mana?...
...Kalau Aku, dari NTB. Apa ada yang sama?...
...Udah cukup curhatanku, yok langsung baca aja....
...Semoga Sahabat Paris suka Part malam ini....
...***...
Dari ufuk timur, matahari perlahan mulai naik kepermukaan. Bisa dilihat dari bias jingga yang sekarang ini sedang memenuhi kawasan timur. Tetapi, biar begitu. bias jingga pembawa kehangatan itu, sedikit mampu membuat tubuh Kavin merasa sedikit lebih hangat. Saat ini pria itu, sedang berada di teman belakang rumah sakit.
__ADS_1
Di tubuhnya masih melekat baju khas pasien, karena pria itu masih memerlukan perawatan agar luka di kakinya itu cepat pulih. Sedari tadi Kavin berada di tempat ini seorang diri. Mata coklatnya sekarang terkunci untuk melihat cahaya jingga yang dikeluarkan mentari di pagi hari ini.
Tidak ada kediaman seperti dini hari tadi, karena saat hari sudah menjelang pagi. Rumah sakit, langsung dipenuhi oleh para pengunjung. Tetapi, biar begitu Kavin masih mendapat ketenangan di taman belakang itu.
"Andai saja gadis desa itu, diizinkan keluar. Pasti aku akan mengajak dia ke sini, dan melihat indahnya cahaya matahari yang baru saja terbit," gumam Kavin dan diakhiri oleh kekehan kecil.
Kavin bergerak memejamkan mata, tapi sedetik kemudian. Dia kembali membukanya, karena suara dering telepon menyalami gendang telinganya. Kavin bergerak meraih ponsel yang ada di pangkuannya, melihat nama sang penelepon, dan Kavin langsung bergerak menerima panggilan dari seseorang, yang memang sedari tadi dia tunggu untuk menelepon.
Iya, Kavin ke sini untuk menerima panggilan itu, karena setelah tadi, dia mengaktifkan ponselnya. Puluhan panggilan tak terjawab langsung menyerbu notifikasi ponselnya, dan itu berasal dari tiga nomer berbeda.
Pertama, nomer Agler, kedua, nomer milik Zaly, dan yang terakhir, nomer milik Papanya. Kavin bisa saja menghiraukan panggilan-panggilan dari Agler, dan juga Zaly. Tetapi, dia tidak bisa mengabaikan telepon dari Papanya.
Kavin bergerak cepat menempelkan benda pipih itu, di telinganya. Dan baru saja ponsel itu menempel, suara tegas Papanya yang ada di seberang sana, Langsung membuat Kavin menelan ludahnya dengan sulit.
"Kavin masih di pulau Lombok Pah," jawab Kavin dengan nada yang dibuat sesantai mungkin. Tetapi, percayalah kalau sekarang pemuda itu tengah tegang.
"Bukankah Papa sudah memintamu untuk pulang? Tetapi, kenapa hanya Lio dan Zaly yang kembali ke ibu kota, dan kau-"
"Bukankah Kavin sudah mengatakan, kalau sekarang Kavin masih berada di Lombok. Jadi, papa tidak perlu khawatir seperti itu. Lagian Kavin sudah dewasa, dan bisa menjaga diri."
"Ini bukan maslaah menjaga diri. Papa memintamu pulang, karena perusahaan sedang membutuhkan kehadiran pemimpinnya."
"Kenapa Kavin? Pasti sekarang Papa sudah meminta dia jadi pengganti Kavin. Jadi buat apa Kavin kembali?" tanya Kavin, dan nadanya sudah mulai dibuat dingin. ketakutan yang tadi sempat dia rasakan sudah menghilang, karena Kavin mengingat dia— yang mungkin sekarang sedang duduk di kursi kepemimpinannya.
"Biar pun begitu. Kaulah pewaris Papa, dan kenapa kau selalu saja cemburu dengan adi-"
__ADS_1
"Dia bukan adikku. Dia itu orang asing bagiku, dan aku membenci dia, sama seperti aku membenci wanita itu." Kavin berucap dengan mencoba menahan diri agar tidak berteriak, dan lepas kendali.
"Jaga ucapanmu! Apakah Papa pernah mengajarimu berbicara seperti itu?' Pria diseberang sana mulai meninggikan suaranya, membuat Kavin memejamkan mata, dan menghela napas untuk merendam emosinya.
"Sepertinya kita harus mengakhiri pembicaraan ini Pah. Kavin takut, Papa akan tersinggung dengan ucapan Kavin. Jadi, Kavin akan mematikan teleponnya."
"Tunggu!" Gerakan memutuskan panggilan Kavin terhenti, saat mendengar suara seorang pria di seberang sana.
"Apa lagi Pah?" tanya Kavin mulai jengah, dan kembali menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Kapan kau akan kembali, nak?" tanya pria dari seberang sana.
"entahlah Kavin juga tidak tahu. Sudah dulu yah Pah, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Kavin langsung mematikan ponselnya setelah mengatakan ucapan salam.
'aku butuh menenagkan diri,' batin pria itu, dan dia langsung melirik ke samping kanannya, "Keluarlah, aku sudah selesai," ujar Kavin, dan tepat setelah itu. Perawat pria yang semalam bersamanya, langsung berjalan menghampiri Kavin.
"Bawa aku ke ruang rawat, gadis desa itu!" perintah Kavin, dan perawat pria itu langsung menganggukan kepala, dan mendorong kursi roda Kavin meninggalkan taman belakang.
...T.B.C...
...Gimana part ini sahabat Paris?...
...Ada yang bisa menerka-nerka?...
...Cus jangan lupa hadiah karena aku up lima part yah!...
__ADS_1