
...Yeh target hadiah udah kalian capai😘...
...Sesuai yang aku katakan. setelah target tercapai, aku update lagi, dan ini buktinya😘...
...13333 Hadiah, tripel update. Jadi, ayok capai jika cerita ini ingin update lagi....
...Anggap saja Mika sedang sandaran di dada Kavin yah🙈...
..."Apa itu Cinta?"...
...*...
...(Mika Anaya)...
...Anggap aja foto Kavin dibawah ini sedang ada di kebun belakang rumah Mika yah...
..."Cinta— tida bisa digambarkan lewat untaian kata, tapi bisa dirasakan lewat desiran sebuah rasa yang bernama suka, dan lama kelamaan akan menjadi sebuah rasa cinta."...
...*...
...(Alfarizi Kavindra)...
...****************...
Masih di hari yang sama. Bedanya sekarang hari semakin larut, dan itu bisa dilihat dari bulan purnama yang saat ini semakin bersinar sangatlah terang.
Dan itu sedikit mampu menyinari kebun di belakang rumah Mika yang perlahan ini mulai menggelap, karena perlahan. Kobaran api dari pembakaran kayu itu mulai padam.
"Apa aku perlu memperbesar nyala apinya lagi?" tanya Kavin yang saat ini sedang duduk di depan pembakaran kayu, dengan punggung yang bersandar di dahan pohon rambutan.
Mika yang saat ini duduk di pangkuan Kavin dengan kepala hingga punggung menyandar di tubuh bagian depan milik pria itu, hanya menggelengkan kepala.
Kavin yang melihat itu hanya bisa menyunggingkan senyum, sembari mempererat pelukan tangannya di perut Mika, "Tapi kamu enggak merasa kedinginan kan?"
Mika lagi-lagi menggeleng, karena jujur saja. Walaupun malam ini angin bertiup sangat kencang, tapi dia tidak merasa dingin sama sekali. Mungkin itu karena dia berada di dalam pelukan Kavin.
__ADS_1
"Kau turun dulu!" perintah Kavin, dan Mika tanpa berpikir lama langsung bergerak turun dari pangkuannya.
Kavin bangkit dari duduknya, dan dia berjongkok tepat di pembakaran kayu yang nyala apinya saat ini tidak lah sebesar tadi, "Tolong ambilkan aku satu ranting, By," panggil Kavin, yang sedari tadi memanggil Mika dengan sebutan By. Entah, setelah dia mengutarakan perasaanya. Dia spontan memanggil Mika dengan sebutan itu.
Mika tanpa berlama-lama langsung meraih satu batang ranting, dan itu langsung dia serahkan ke Kavin, "Makasih," tutur Kavin dengan nada lembut.
Mika yang melihat perubahan sikap Kavin yang tiba-tiba lembut, hanya membalasnya dengan senyum, "Kamu kenapa?" tanya Kavin yang saat ini sedang mengais bara-bara kayu, untuk mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.
"Orang banyak di jawab dong. Kamu kenapa?" tanya Kavin yang tiba-tiba saja sudah duduk menghadap Mika.
Mika menganggukkan kepalanya terlebih dulu, dan dia langsung membuat isyrat tangan, "Kavin kenapa masih di sini?"
Kavin yang saat ini sedang berusaha mengupas singkong bakar menghentikan aksinya, "Menjemput calon istriku," jawab Kavin kelewat santai, dan pria dua puluh tujuh tahun itu kembali mengupas singkong bakar yang tadi dia dapatkan dari tumpukan bekas pembakaran kayu.
Mika yang mendengar jawaban santai Kavin, hanya menganggukkan kepala bak orang bodoh, "By— buka mulut!" gadis itu langsung membuka mulutnya, saat suara Kavin tadi mengintegrasikan dia untuk melakukan itu.
"Tapi, calon istriku itu belum jawab ajakan nikah dariku, by," imbuh Kavin sembari menyuapi Mika singkong bakar yang tadi dia kupas.
Mika yang mendengar itu, mengeluarkan ekspresi yang tidak bisa dibaca. Dia sadar kalau Kavin saat ini sedang mwmyindir dirinya, dan Maka dari itu dia langsung bergerak melakukan isyrat.
"Kenapa kamu melakukan ini?"
Mika yang mendengar itu, kembali melakukan isyrat tangan, "Kenapa kau mempermainkan aku seperti ini?"
"Mempermainkan? Dari mana kamu menganggap aku sedang main-main coba?"
"Tapi kenapa harus aku yang Kavin pilih? Apa yang membuat Kavin tertarik kepadaku? Aku ini hanyalah seorang gadis desa, tidak tahu siapa orang tua, tidak berpendidikan, miskin, jelek, dan terlebih lagi aku tidak bisa bicara."
Mika menghentikan isyrat tangannya, dan dia berniat menghapus air yang tiba-tiba keluar dari pelupuk matanya. Tetapi, gerakan tangan yang akan dia gunakan untung menghapus aliran air hangat itu, terhenti saat suara Kavin menyalami gendang telinganya.
"Jangan di hapus, dan biarkan air itu mengalir," intrupsi Kavin, dan Mika mengikutinya.
Mika menarik napas untuk menguatkan hatinya, dan setelah itu. Dia kembali melakukan isyrat tangan, "Jadi, Kavin."
"Kavin apa?" tanya pria dua puluh tujuh tahun itu dengan nada bicara yang mulai serius, dan tatapan matanya yang sudah menejam, "Lanjutkan isyrat yang kamu buat, karena aku tidak suka dengan orang yang bicara denganku setengah-setengah."
"Aku tidak pantas untuk Kavin." Pada akhirnya, Mika melakukan isyarat tangan yang langsung membuat Kavin menyungging senyum ironi.
"Heh— aku tidak pantas untuk Kavin," beo pria dua puluh tujuh tahun itu dengan terkekeh di awal, "lalu yang pantas untukku siapa?"
__ADS_1
"Banyak wanita yang pantas untuk Kavin di luar sana, dan pastinya mereka semua itu berasal dari kalangan yang sama seperti Kavin. Bukan seperti orang bisu, orang bodoh, orang miskin, dan orang yang tidak tahu asal usulnya sepertiku ini Kavin."
"Tapi, hatiku menginginkanmu Mika. Kamu gadis pertama yang buat aku berdebar, kamu gadis pertama yang membuat aku merasakan rindu, dan kamu gadis pertama yang membuat aku membantah keinginan Papaku," ucap Kabin dengan nada tegas, dan tatapan mata yang memancarkan kejujuran.
Mika yang mendengar itu, hendak melakukan isyrat tangan, "Berhenti melakukan isyrat, jika itu bermaksud merendahkan dirimu sendiri, Mika." Seketika gerakan tangan Mika menggantung di udara, dan Kavin langsung mengulurkan tangan kanannya untuk meraih tangan Mika yang menggantung itu.
"Rasakan," tutur Kavin saat dia menempelkan telapak tangan Mika di dadanya.
"Kau merasakan degup jantungku yang cepat bukan?" tanya Kavin, dan Mika menganggukan kepalanya, "degup jantungku ini terjadi, jika aku bersama denganmu," imbuh Kavin, dan itu langsung membuat Mika meletakkan satu tangannya di tubuh bagian dadanya.
"Kamu pasti merasakan itu semua bukan?" tanya Kavin, dan Mika hanya menganggukkan kepala polos, "Kau tahu kenapa jantung kita berdegup cepat seperti itu?"
Mika menggelengkan kepala, dan itu membuat raut serius di wajah Kavin mwnghilang, "Itu terjadi karena kita saling mencintai Mika. Hati kita berdua terhubung karena rasa itu, dan sekali lagi aku katakan kepadamu, kalau aku mencintaimu, Mika Anaya." Kavin berucap dengan penuturan yang sangatlah pelan, agar Mika mendengar jelas ungkapan cintanya itu.
Mika yang baru pertama kali mendengar tentang cinta, hanya bisa menaikkan satu alisnya karena bingung. Kavin yang melihat itu, sudah tidak terkejut lagi karena dia tahu kalau wanita yang dia cintai ini sangatlah polos, dan juga bodoh.
"Kau tahu apa itu cinta?" tanya Kavin, dan Mika yang memang tidak tahu hanya bisa menggelengkan kepala.
"Cinta itu sebuah rasa yang bagiku, tidak bisa dijelaskan dengan beribu untaian kata. Tetapi, itu bisa dirasakan melalu desiran di hati. Contohnya seperti degup jantung kita ini. Terus, rasa cinta ini terlahir dari sebuah perasaan suka."
Mika menarik tangannya dari dada Kavin, dan setelahnya dia melakukan isyrat tangan, "Aku suka jika bersama Kavin, dan jantungku juga selalu berdetak cepat jika di sisi Kavin. Jadi, apa itu bisa mengartikan kalau itu rasa cinta?"
Kavin yang melihat isyrat tangan itu, langsung melebarkan senyum, dan entah kenapa matanya tiba-tiba berkaca-kaca, "Tentu saja bodoh. tentu saja itu rasa cinta. Jadi, kamu sekarang katakan kalau aku cinta Kavin. Cepat."
Mika yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala. Dia bergerak melakukan isyrat tangan, "Aku cinta Kavin."
Kavin yang melihat itu, langsung menarik Mika masuk ke dalam pelukannya, "Aku juga mencintaimu, Mika. Sangat mencintaimu," ucap Kavin, dan dia semakin mempererat pelukannya di tubuh Mika.
"Kau tahu. Amak Kasim dan Inak Icok menikah, karena mereka saling mencintai. Jadi, kita berdua juga harus menikah, karena kita saling mencintai." imbuh Kavin, dan Mika yang saat ini di dalam pelukannya langsung mengangguk setelah mendengar penjelasan dengan Kavin.
"Terima kasih, terima kasih."
...T.B.C...
...**Gimana part ini gays?...
...13333 tripel update yah**...
...Jadi kudu push hadiah dulu hingga 13333 jika mau update lagi.....
__ADS_1