Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
119. Kabar Gembira Yang Diiringi Kehancuran.


__ADS_3

...Siap menuju konflik?...


...Jujur aku berat buat ngetik ini, tapi aku tak berdaya....


...Stay toon aja lah....


...***...


Hari minggu seharusnya menjadi hari paling menyenangkan di mana, segala jenis pekerjaan bisa kita tinggalkan.


Namun, tidak untuk Kavin. Sekarang pasangan suami dan juga istri muda itu tengah mengecek segala perlengkapannya yang semalam sudah mereka siapkan.


"Gimana? Sudah lengkap semua?" tanya Kavin saat melihat Mika menutup koper yang tadi dia buka.


Mika yang mendengar pertanyaan sang suami bergerak bangkit dari duduknya di atas ranjang dengan kepala yang mendongak, dan tangan yang bergerak menarik koper agar turun dari atas tempat tidur.


Mika mengacungkan jari jempol sembari bergerak menyerahkan koper yang ada di tangannya ke arah sang suami.


melihat jempol istrinya yang mengacung, Kavin mulai memamerkan raut seperti orang yang tengah berpikir. Kavin bergerak meraih koper dari tangan istrinya sembari kepala menoleh ke kanan dan kiri.


"Mungkin ada sesuatu yang engkau lupakan?" tanya Kavin dengan nada ragu-ragu, karena jujur. Sekarang pria itu terlihat sangat enggan untuk beranjak pergi.


Padahal pesawat yang dia dan Agler tumpangi akan terbang jam delapan nanti. Tetapi, lihatlah. Susah jam setengah tujuh, Kavin masih berada di rumah.


Mika yang mendengar pertanyaan sang suami tentu langsung melakukan isyrat tangan.


"Aku sudah mengeceknya dari subuh tadi, Mas. Semua sudah lengkap."


Kavin yang melihat isyrat tangan istrinya kembali memutar otak, "Pakaian hangat? Atau baju lengan panjang lainnya, apa sudah kamu masukkan?" tanya Kavin kembali dan dia melakukannya hanya untuk mengulur waktu.


Mika yang mendengar itu hanya menatap datar sang suami. Kavin yang mengetahui arti tatapan itu hanya cengegesan.


Laki-laki dewasa itu bergerak genggaman tangannya di pegangan koper dan setelahnya dia tanpa pikir panjang, langsung menarik Mika ke dalam pelukannya.


Kavin menyesap dalam-dalam aroma vanila yang menyeruak dari kulit istirnya. Bahkan dia sekarang sedang menempelkan hidungnya di ceruk leher Mika


Sedangkan Mika. Wanita yang sudah menyandang status seorang istri itu hanya diam dengan mata terpejam. Kedua tangannya sudah sedari tadi bergerak memeluk tubuh Kavin.


"Aku merindukanmu." Kavin berucap dengan suara yang berat. Belum saja laki-laki itu beranjak pergi, kata-kata rindu sudah ia keluarkan.


Sementara Mika yang mendengar itu semakin memejamkan matanya hingga tanpa sadar, sebuah butiran air hangat keluar dari sudut matanya.


Wanita itu menangis. Jujur— dia sebenarnya tidak ingin sang suami pergi meninggalkan dirinya di sini sendiri. Tetapi, karena mendengar penuturan kata Papa mertuanya yang mengatakan kalau ini jalan Kavin untuk menjadi orang yang lebih sukses. Dia dengan lapang dada memberikan persetujuan.


Sedangkan di sisi Kavin. Saat ini dia masih setia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri. Bahkan dia saat ini sudah tidak peduli lagi akan air matanya yang sudah jatuh berlinang.


Jika saja perjalanan bisnis ini mengizinkan dia untuk membawa istrinya. Kavin tidak akan menangis seperti ini. Tetapi, itu hanya jika saja, karena aslinya pihak sana tidak mengizinkan untuk dia membawa serta istrinya.


Mika yang merasa kulit lehernya basah, bergerak mengurai pelukan sang suami membuat. tatapan mata terselimuti awan mendung milik keduanya bertemu.


"Kamu baik-baik di sini. Jangan keluar rumah jika itu bukan urusan yang mendesak. Kamu boleh keluar rumah, tapi kabari Mas dulu dari pesan singkat." Dengan menahan tangisannya Kavin memberikan wejangan pun laki-laki itu berucap sembari, menghapus air mata istrinya.


Sedangkan Mika. Dia hanya bisa menganggukkan kepalanya sembari melakukan hal sama seperti yang dilakukan suaminya. Yaitu, menghapus jejak-jejak air mata milik Kavin.

__ADS_1


"Rawat Mira dan Miguel dengan baik. Beri dia makan sesuai jadwal." Mika hanya menganggukkan kepalanya mengerti.


Kavin yang mendengar itu menarik napas dalam-dalam, "Baiklah, kalau begitu Mas pergi dulu." Sembari meraih kopernya. Kavin berucap.


Laki-laki itu sudah tidak lagi mengeluarkan air mata, tapi percayalah. Sekarang tatapan matanya terlihat jelas memancarkan ketidak relaan.


"Mau antar, Mas ke depan?" Mika menganggukkan kepalanya, Kavin yang melihat itu langsung meraih jemari tangan kanan istrinya dan dia langsung menariknya keluar dari dalam kamar.


Sesampainya di luar kamar. Suara khas kucing mengeong, dan bunyi tokek yang memanggil namanya sendiri terdengar menyalami gendang telinga Kavin dan Mika.


Meong! Meong! Meong!


Saat ini Miranda tengah berjalan pelan mengikuti langkah kaki Kavin dan juga Mika yang menuju pintu keluar apartemen.


Sementara dari arah tembok salah satu kamar yang ada di apartemen. Terlihat seekor toko juga sedang melata sambil terus mengeluarkan suara.


Kavin dan Mika mengehentikan langkah tepat di depan pintu Apartemen. terlihat tangan Kavin mulai terulur meraih gagang pintu.


Bunyi khas pintu terbuka menyalami gendang telinga mereka semua. Kavin menarik pintu apartemen itu ke dalam dan langkah kakinya bergerak ke depan untuk keluar tentu saja tanpa membawa Mika.


Kavin berdiri di luar rumah dengan posisi memunggungi Mika yang masih setia berdiri di dalam rumah. Terlihat jemari tangan laki-laki itu begitu kuat mencengkram pegangan koper.


Kavin terlihat menunduk. Dengan gerakan secepat kilat, dia memutar tubuhnya, dan langsung menarik tubuh Mika ke dalam pelukannya.


"Tiga puluh hari lagi. Aku akan kembali tiga puluh hari lagi." Kavin berucap dengan nada bicara yang serak.


Mika yang sudah menangis hanya bisa menganggukkan kepalanya, "Jadi, tunggu aku pulang." Mika kembali mengangguk mendengar penuturan sang suami.


Sedangkan Mira sudah sedari tadi mengeong, pun Miguel yang ada di dalam sana tidak henti-hentinya menyebut suaranya sendiri.


***


Meong!


Iya, sekarang Mika hanya sendiri di Apartemennya karena tiga puluh menit yang lalu. Kavin sudah berangkat pergi ke bandara bersama dengan Agler.


Sedari tadi dia hanya duduk diam di atas tempat tidur dengan Mira berada di pangkuannya, 'makasih ya sudah mau nemenin Mama di sini,' Mika berucap di dalam hati sembari terus mengelus rambut Mira.


Iya, beruntunglah ada kucing berbulu putih itu bersama karena jika tidak ada Mira. Mungkin Mika akan kesepian di dalam kamar itu.


Mika menegakkan kepalanya untuk melihat jam yang terpasang di dinding depan kamarnya.


Pukul tujuh tepat.


Mika menolehkan kepalanya ke sisi kanan ranjang yang di mana, di sana dia meletakkan ponselnya, 'katanya mau kirim pesan setelah tiba, tapi mana?' Mika menggerutu di dalam hati dan bertepatan dengan itu rasa mual tiba-tiba menyerang dirinya.


Mika yang merasa ada sesuatu yang ingin keluar dari dalam mulutnya langsung bergerak turun dari atas ranjang dan berlari ke pintu kamar mandi yang ada di dalam sana.


Mira yang melihat itu ikut berlari kencang ke arah kamar mandi dengan terus mengeong.


Mika memutar keran wastafel kamar mandi. Dia langsung muntah di sana. Suara khas orang muntah menggema memenuhi kamar mandi dan itu bersahutan dengan suara Mira yang mengong.


Mika mengangkat kepalanya saat dia merasa kalau rasa mual susah tidak lagi menyerangnya, 'aku tidak memuntahkan apapun,' batin Mika sembari melihat pantulan wajahnya yang ada di dalam cermin.

__ADS_1


Iya, tidak ada apapun yang keluar dari dalam mulut Mika selain cairan bening dan itu benar-benar aneh. Mika menarik napasnya dengan mata yang terpejam.


apa kamu hamil?


Pertanyaan Kavin kemarin langsung menyerang ingatan Mika, membuat wanita itu membuka matanya, 'apa mungkin aku hamil?' batin Mika bertanya.


Wanita itu menggelengkan kepalanya untuk mengenyahkan segala pikiran yang ada di dalam otaknya. Dia bergerak mendongak melihat ke sebuah rak yang terpasang di atas.


Mika menjinjit dengan tangan yang sudah menggenggam sebuah bulatan kecil yang ada di tengah-tengah rak. Mika menarik bulatan itu membuat pintu rak terbuka lebar.


Tira mengambil satu buah alat tes kehamilan yang ada di dalam sana, mengeluarkan, dan langsung membukanya.


***


Mika tersenyum dengan mata yang berlinang, tapi memancarkan kebahagiaan saat dia melihat hasil garis dua yang ada di alat testpack.


Bahkan saking bahagianya. Dia sampai-sampai membuka mulut untuk bersorak, 'aku harus memberitahukan ini kepada, Kavin.' batin Mika dan wanita itu langsung berjalan cepat ke luar dari kamar mandi.


Tentu Mira yang setia menemani dirinya juga ikut keluar dari kamar mandi.


Sesampainya di luar kamar mandi. Mika kembali berjalan mendekat ke ranjang, tapi langkahnya terhenti saat dia mendengar sebuah ketukan pintu sebanyak tiga kali.


'jika pintu di ketuk tiga kali. Itu tandanya aku yang datang,'


Mika yang meningkat perkataan suaminya sebelum pergi tadi semakin dipenuhi kebahagiaan, 'Kavin,' batin Mika dengan girangnya, dan tanpa berpikir lama. Dia langsung berlari keluar dari dalam kamar.


Mira yang melihat itu mengeong dan suara yang dia keluarkan berbeda dari biasanya. Suara kucing betina itu terdengar seperti ingin menghentikan Mika.


Sedangkan disaat Mika membuka pintu. nada dering pesan masuk menggema memenuhi ruang kamar yang sunyi.


Sesampainya Mika di luar kamar. langkah kakinya terhenti, karena tepat di dinding depannya. Miguel— tokek kesayangan suaminya sedang diam sembari mengeluarkan suara yang menyebut namanya sendiri.


Sedangkan Mira juga semakin gencar untung mengeong. Bahkan sekarang dia mendar-mandir di depan Mika seolah ingin menghadang langkah kaki dari istri majikannya itu.


Mika yang melihat tingkah Miranda dan juga Miguel yang tiba-tiba saja aneh, membuatnya mulai berpikir.


"Sayang— buka pintunya!" Mika tersadar saat dia mendengar suara khas suaminya yang meminta dia membuka pintu setelah pulang bekerja, begitu terdengar jelas.


Tanpa mau berpikir lagi. Mika berjalan cepat mendekat ke pintu masuk apartment miliknya meninggalkan Mira yang semakin mengeong dan Miguel yang semakin bersuara menyebut namanya.


Mika membuka kunci pintu masuk apartmentnya, menarikan ke dalam, dan ....


"Aku pulang istriku."


"Apa kamu merindukanku?"


Mika langsung memundurkan langkah sembari tangannya bergerak membanting pintu untuk menutupnya.


Namun, gerakannya kalah cepat dengan dua orang laki-laki berkulit gelap yang entah kapan masuk ke dalam rumah.


...T.B.C...


...1529 kata loh....

__ADS_1


...Konflik yah....


__ADS_2