Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
Part 19. Tidak Terpesona


__ADS_3

"Jadi maksudmu yang tadi itu, kau menuduhku melirik kau diam-diam?" tuding Kabin dengan pandangan mata tajam, membuat Mika mengerutkan dahi.


'menuduh? Aku tidak menuduhnya. Malahan aku lihat jelas dia melirikku,' batin Mika membela diri.


"Apa maksud kau menuduhku hah?" imbuh Kavin bertanya dengan tatapan masih mendelik tajam.


Mika hendak melakukan isyrat, tapi kedua tangannya seolah mati rasa, dan tidak bisa digerakkan, "Mau apa? Kau mau membela diri?"


Mika menggelengkan kepala, dan raut di wajahnya pun juga berubah menjadi geram. Soalnya Mika itu tidak suka jika dikatakan tukang tuduh menuduh seperti yang terlontar dari mulut Kavin, 'Aku tidak menuduh tuan, tapi aku jelas-jelas tadi melihat tuan melirikku. Tuan mengaku saja,' Mika mulai mengeluarkan gerakan isyrat tangan, untuk membela diri. Tetapi, semua itu hanya percuma.


"Bodoh! bukankah sudah aku katakan jika kau melakukan gerakan itu. Kau lakukan pelan-pelan." Kavin menggerutu membuat Mika memukul pelan keningnya, karena lupa. Alhasil Mika kembali melakukan gerakan isyarat tangannya itu dengan perlahan, agar pria angkuh, gengsian, dan sombong di depannya ini, mengerti apa yang dia coba katakan dari setiap gerakan tangan yang dia lakukan itu.


"Kau percaya diri sekali gadis desa! Kau kira aku melirikku? Emang sih aku sedikit melirik, tapi itu bukan berarti aku terpesona dengan gadis desa seperti kau itu. Jadi, jangan besar kepala saja kau," jujur  Kavin setelah mengetahui maksud dari isyrat tangan yang di lakukan Mika tadi. Walau begitu, dia kembali menyanggah pengakuannya itu, dengan mengeluarkan kata-kata angkuh khas dirinya.


'ada apa dengan pria kota ini? Aku hanya bertanya kenapa dia melirikku, tapi kenapa dia membicarakan tentang terpesona?' batin Mika setelah mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Kavin.

__ADS_1


Kavin kembali membuang pandangan untuk melihat ke arah lautan. Sebenarnya dalam hati pria itu sedang menggerutu, kenapa di berbicara ceplas-ceplos seperti itu, 'sialan— aku yakin, gadis desa ini pasti besar kepala,' empat Kavin dalam hati, dan setelah itu. Dia kembali menolehkan wajah datarnya, untuk melihat Mika yang masih berdiri menghadapnya.


"Kenapa?" tanya Kavin sinis, membuat Mika yang masih mengelilingi dunia lamunanya terkejut, "hai gadis desa...." panggil Mika, membuat ekspresi terkejut wanita itu menghilang, tergantikan raut penuh tanya.


"Kau jangan besar kepala yah. Memang aku sedikit terpesona, tapi itu hanya sedikit. Ingat! Hanya sedikit, dan berhentilah bersikap bodoh seperti itu." Kavin kembali berkata jujur, dan setelah itu, dia meloncat turun dari atas batu karang.


'dia terpesona denganku? Kenapa dia berkata seperti itu? Tadi dia juga bilang besar kepala, apa maksudnya?' batin Mika masih bingung dengan maksud Kavin barusan.


"Kau turun dari sana. Aku akan mengantar kau pulang, jadi cepatlah," perintah Kavin, tapi Mika yang masih menerka-nerka tidak bergeming. Lagi-lagi Kavin dibuat mengereng marah, "hai gadis desa! Cepat turun!" bentak Kavin, membuat Mika terkejut, dan spontan saja gadis itu meloncat turun.


Namun, gerakan spontan itu membuat kakinya tidak menapak ketanah dengan posisi yang pas, alhasil wanita itu terhuyung, dan hampir saja terjatuh, tapi lengan kekar Kavin langsung melingkar di pinggang ramping Mika.


Hening— itulah yang sekarang mereka rasakan. Hanya desiran ombak yang menyalami gendang telinga mereka, hingga tepat saat tangan kanan Mika menarik-narik sweeter bagian daadaa milik Kavin mencoba untuk menyadari pria itu.


Benar saja, berkat gerakan menarik-narik itu. Kavin tersadar, membuat sifat bawaan dari lahirnya juga ikut tertarik kembali ke dalam tubuhnya, hingga dia tanpa sadar melepas lingkaran kedua tangannya di pinggang Mika, dan membuat wanita itu tertidur jatuh di atas pasir.

__ADS_1


Bibir Mika terbuka seperti mengeluarkan ringis'an, tapi bedanya tidak ada suara pun yang keluar dari dalam mulutnya, "Kau kira aku akan terpesona lagi? Itu tidak mungkin. Bukankah sudah aku katakan, aku tadi hanya sedikit terpesona. Jadi kau kembali ingin membuatku terpesona, dengan pura-pura menjatuhkan diri kan?" tudung Kavin, dan pria itu masih membahas perihal terpesona yang di mana itu juga masih Mika pikirkan.


"Aku tidak akan mungkin terpesona dengan gadis desa sepertimu, jadi berhentilah melakukan hal-hal aneh, dan cepat berdiri." Kavin meracau dengan posisi masih memunggungi Mika yang masih terduduk di atas pasir. Dia memposisikan diri seperti itu, agar wajahnya yang sedang memerah karena pria itu berpikir kalau Mika mengetahui kalau tadi dia sedang menatap lekat wajah ayu gadis itu.


Namun, pikiran itu semua hanya ada di otak Kavin. Padahal Mika melakukan itu, agar bisa di bantu berdiri, dan bukan malah di jatuhkan seperti itu, 'kenapa pria kota ini, aneh sekali. Dia juga sombong,' gerutu Mika sembari bergerak berdiri, dan setelahnya dia menepuk-nepuk pundak Kavin.


"Bukankah sudah aku katakan, aku tidak terpesona. Aku juga tidak pernah ingin menatap wajahmu, jadi jangan menuduhku seperti itu." Kavin memutar tubuhnya dan langsung meracau, dan sedetik kemudian dia menyesali omongan yang keluar dari dalam mulutnya itu.


Mika hanya bisa berekspresi bingung mendengar pria di depannya itu berbicara tidak jelas, 'sekarang dia kenapa lagi?' tanya Mika dalam hati.


"Aku akan mengantarmu pulang, jadi cepatlah."


T.B.C


Gimana nih? Kavin itu di balik sifat sombong, angkuh, sok berkuasa, dan datarnya itu, dia juga punya sifat jujur loh. Tetapi, jujurnya kalau dia sudah dicurigai, dan kejujuran akan keluar sendiri dari mulutnya.

__ADS_1


Penasaran dengan part berikutnya?


15 like + 10 komen aku kasih updatean lagi. Bisa nggk 15 like? Bisalah yah, jadi yok promosikan cerita ini, kasih gift biar aku semangat! Kasih komen juga, dan kasih like juga. Jangan lupa juga di vote yah!


__ADS_2