Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
103. Hari Menjelang Pernikahan 4


__ADS_3

...Kenapa kalian pada mau happy ending?...


...Jujur— aku ini outhor yang doyan sad ending loh🤣🤣🤣...


...tapi, kita lihat aja perjalan Mika seperti apa kedepannya....


...Terus komenan kalian pada curiga gitu sih🤣....


...stay reading....


...****************...


Masih di hari, dan jam yang sama. Sekarang Kavin masih duduk di undakan Masjid dengan kaki menapak di paving blok. Kulit di wajahnya terlihat semakin cerah, karena pria dua puluh tujuh tahun itu baru saja selesai menunaikan ibadah shalat Dzuhur.


Entah kenapa sekarang dia menjadi sangat rajin dalam menjalankan ibadah, ini semua bermula saat dia pergi tiga hari bersama Mika, dan selama tiga hari pula Kavin rajin menunaikan ibadah.


Dan sekarang, Kavin malah menjadi terbiasa. Buktinya pagi tadi dia bangun saat telinganya samar-samar mendengar suara Adzan subuh. Entah kenapa dia terbangun dengan sendirinya, mengambil air whudu, dan menjalankan ibadah, apa ini dampak baik bertemu Mika?


Lamunan Kavin buyar saat melihat calon istrinya yang juga baru keluar dari dalam masjid, di mana tempat khusus para wanita untuk shalat, "Wajahmu nampak berseri, sayang. Terlihat lebih bercahaya," puji Kavin, dan hal itu tentu saja membuat Mika memerah malu.


Mika langsung mendudukkan pantanyanya di undakan tepat di sebelah Kavin, dan setelahnya dia melakukan isyrat tangan, "Kamu pun nampak lebih menawan."


Kavin yang melihat itu hanya bisa menyungging seutas senyum, dan setelahnya. Dia bergerak memindahkan anak-anak rambut hitam milik Mika ke belakang telinga.

__ADS_1


"Aku emang sudah ganteng. Jadi, kau harus beruntung punya calon suami sepertiku." Kavin berucap dengan percaya dirinya membuat Mika tersenyum dengan memamerkan deretan gigi putihnya.


"Sayang...." Kavin memanggil dengan nada yang mulai terdengar cukup serius.


Mika yang tadinya hendak memakai kaos kaki, malah mengurungkan niatnya, dan memilih untuk menoleh ke arah Kavin yang saat ini sedang menatapnya tajam, tapi terkesan meneduhkan.


"Kau tidak berpikiran mau meninggalkanku kan?" tanya Kavin dengan nada yang masih terdengar serius, tapi tatapan mata yang mulai berubah dari tajam, menjadi penuh ketakutan.


Iya— saat mendengar ucapan-ucapan Zaly yang seolah sedang meminta Mika untuk mundur, membuat Kavin merasa takut kalau calon istrinya itu akan kembali bimbang.


Mika yang mendengar pertanyaan Kavin hanya menaikkan satu alis matanya, karena gadis itu bingung, "Soal perkataan wanita di mobil tadi. Mau tidak menganggapnya serius bukan?" imbuh Kavin memperjelas pertanyaan sebelumnya, dan tentu saja otak bodoh tak pernah sekolah milik Mika mulai bisa mengolah pertanyaan Kavin.


Mika bergerak menggenggam jemari besar Kavin, dan itu berhasil membuat Kavin melihat lebih fokus ke arah netra hitamnya, 'tidak,' ucap batin Mika sembari kepala menggeleng.


Kavin yang melihat itu langsung mengembangkan senyum, dan satu tangannya bergerak menggenggam tangan Mika yang masih terikat dengannya, "terima kasih,' ujar Kavin, dan Mika hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Loh kok ketawa sih. Kamu kira aku bohong yah?" Mika hanya menggelengkan kepala, dan dia bergerak menarik tangan kananya yang ada digenggaman kedua tangan Kavin.


"Tidak, aku mana mungkin tidak percaya sama Kavin, karena di dunia ini. Orang yang aku percaya hanyalah Kavin. Dulu aku hanya percaya kepada diriku sendiri, tapi sekarang sudah ada Kavin yang juga aku percayai."


Kavin yang melihat isyrat tangan itu hanya bisa mengulas senyum lebar, tapi garis lengkung di bibirnya itu menghilang saat Mika melakukan isyrat tangan lagi.


"Tapi, jujur. Kata-kata Zaly yang mengatakan, kalau kehadiranku akan membuat Kavin malu, dan terhina membuatku takut."

__ADS_1


Kavin berdiri dari duduknya. Satu tangannya dia gerakkan untuk menggenggam jemari Mika, dan setelahnya. Dia langsung menarik tubuh calon istrinya itu agar ikut berdiri.


"Permisi Bu, Pak," ujar Kavin saat melihat sepasang suami istri yang baru saja keluar dari masjid, dan hendak melangkah pergi meninggalkan pekarangan masjid, tapi suara Kavin membuat mereka mengurungkan niat.


"Ada apa, Mas?" tanya Bapak yang bisa Kavin tebak pasangan dari ibu-ibu yang berdiri di sebelah kirinya itu.


"Lihat— ini calon istri saya. Apa dia kelihatan memalukan atau membuat saya akan terhina, Pak, Bu?" tanya dengan Masih mengenggam tangan Mika.


"Enggak mungkin lah Mas, wong calon istri mas cantik, manis kayak gitu. Masak iya mau malu-maluin, Mas. Bukan begitu Pa?" celetuk Istri bapak-bapak itu dengan nada yang terdengar jujur.


"Iya bener. Emang kalian akan menikah kapan?" tanya bapak-bapak itu, membuat Kavin tersenyum.


"Dua hari lagi, Pak," jawab Kavin sekenanya, sedangkan Mika hanya bisa menundukkan kepala menyumbangkan warna merah di pipinya.


"Sebenar lagi dong. Kalau gitu, selamat yah. Semoga kalian menjadi pasangan suami istri yang saling mencintai, dan melengkapi."


"Terima kasih pak," jawab Kavin, dan setelahnya kedua pasangan suami istri paruh baya itu, langsung pergi meninggalkan Kavin yang sekarang sudah berdiri menghadap Mika.


Kavin bergerak memutar posisi berdiri sang istri agar menghadap ke arahnya, "Kamu dengar kan? Apa kamu malu-maluin aku? Apa tadi nada bicaraku terdengar malu-malu mengenalkan kamu sebagai calon istriku?" tanya Kavin, dan Mika hanya menggelengkan kepala sebagai jawabannya.


Kavin yang melihat gelengan itu langsung bergerak membelai surai hitam milik Mik, "Berhenti berpikiran seperti itu, sayang. Kenapa kamu cepat sekali memasukkan omongan orang ke otak bodohmu ini." Kavin berucap dengan nada terdengar tegas, sembari jadi telunjuk menunjuk ke kepala Mika.


Mika bak seorang bocah hanya mengangguk dengan kedua sudut bibir yang mengembangkan senyum seolah terlihat agar paham, "Kalau begitu ayok. Kita sudah sangat terlambat untuk kebutik."

__ADS_1


...T.B.C...


...Tenangkan hati, karena part sebelum ini, dan seterusnya tidak akan ada apa-apa kok....


__ADS_2