
Suara khas pintu terbuka langsung menyalami gendang telinga Mika, membuat wanita yang sudah menyandang gelar seorang istri itu, kembali menghadapkan wajahnya tepat ke depan di mana, Kavin— sang suami sudah terlihat membuka pintu apartemen bernomer 225 yang ada di lantai tiga.
"Ayo kita masuk." Kavin berucap sembari tangan kembali menarik koper yang berisikan seluruh barang-barangnya.
Sedangkan Mika yang mendapati ajakan masuk itu, hanya menganggukkan kepalanya. Dia mengayunkan langkah kakinya untuk masuk ke dalam apartemen di mana, di dalam sana masih dikepung oleh kegelapan.
Namun, tepat saat dia sudah memasukkan kaki ke dalam apartemen. seluruh lampu-lampu menyala, memperlihatkan interior apartemen khas seorang pria di mana, segala sesuatu di letakkan tidak pada tempat yang semestinya.
"Gimana, sayang? Apartemen suamimu ini, bagasi, dan luas kan?" Kavin berucap dengan nada penuh bangga, pun raut percaya dirinya sudah sedari tadi, terlukis nyata di wajahnya.
Sedangkan Mika yang mendengar nada penuh kepercayaan diri dari sang suami, hanya bisa menganggukkan kepala dengan ekspresi yang tidak dapat dibaca.
Seketika, Kavin yang melihat itu langsung menghempas kepercayaan dirinya. Terlebih lagi sekarang Mika— istrinya sedang berjalan dengan berkacak pinggang, menuju ke tempatnya berdiri.
"kau baik-baik saja kan, sayang?" tanya Kavin dengan nada takut, dan Mika yang mendengar itu hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Luas." Dengan gerakan lambat, Mika membuat isyarat tangan, seolah dari gerakan itu dia seperti sedang mengaskan.
"I— iya. emang luas, kau lihat send-"
Seketika suara Kavin tercekat, saat dia merasakan ada tangan yang sedang menjepit tubuh bagian perutnya, "Sa— sayang. Salah aku apa lagi?" Kavin berbicara gugup, padahal sekarang Mika hanya meletakkan tangannya di perut sang suami, dan dia masih belum menjepit perut suaminya.
melihat gelagat sang suami. Mika menarik kembali tangan kirinya dari atas perut datar Kavin, membuat pria dua puluh tujuh tahun itu mengembuskan napas lega.
Mika yang sudah melihat raut lega sang suami, langsung melakukan isyarat tangan, "Kenapa caramu meletakkan barang-barang di ruangan ini sangat buruk, Mas?" Mika melakukan isyarat tangan dengan cepat, membuat Kavin melongo tidak bisa menangkap arti isyarat tangan itu, tapi satu hal yang sekarang dia tahu.
Sekarang wanita yang sudah menjadi istrinya selama tiga bulan itu, sedang marah, dan hal itu terbukti dari bibirnya yang meliuk ke kanan, dan kiri pun tatapan tajam mengarah kepadanya.
"Sekarang cepat letakkan ditempat yang benar." Mika kembali melakukan isyarat tangan. Bedanya isyarat tangan yang ini dia lakukan dengan perlahan dan penuh tekanan.
Sedangkan Kavin mendapati istrinya yang seperti itu hanya menelan ludahnya bulat-bulat, pun kepalanya mengangguk-angguk, "A— akan aku kerjakan sekarang, sayang."
Setelah mengatakan itu, Kavin hendak melangkah. Tetapi, gerakannya terhenti saat gendang telinganya mendengar suara kucing yang mengeong, dan suara khas tokek.
__ADS_1
Kavin yang sekarang dalam.posisi membelakangi sang istri, langsung bergerak menolehkan kepalanya melihat ekspresi sang istri yang terlihat begitu kebingungan.
"Sayang ...." Kavin memanggil Mika dengan nada pelan, membuat wanita yang berstatus istri sahnya itu melihat ke arahnya, dengan tatapan mata penuh tanya.
"Kita tunda dulu acara rapi-merapikan ini dulu, yah."
Ekspresi penuh tanya semakin tercetak jelas di wajah Mika, membuat Kavin melakukan ancang-ancang untuk melanjutkan kata-katanya.
"Miguel, dan Miranda memanggilku di dalam kamar. jadi, acar rapi-merapikannya kita tunda dulu. kita akan melakukannya setelah aku memberi makan kedua hewan peliharaanku." Kavin berlari mendekati salah satu pintu yang tepat di atasnya ada sebuah gantungan yang berbentuk kucing, dan tokek.
Sedangkan Mika, mendengar itu hanya melongo tidak percaya dengan tingkah suaminya yang membatalkan acara rapi-merapikan susunan barang yang ada di ruang tengah apartemen itu, karena alasan konyol seperti itu.
Apa Mika menerima itu? Tidak. tentu saja dia tidak menerima tingkah laku Kavin. Dia bergerak meronggoh saku celananya, dan mengeluarkan sebuah ponsel.
Sedikit informasi. Mika sudah ada kemajuan kepintaran. Setelah diajari membaca, menulis oleh Kavin selama tiga bulan. Kavin juga mengajari istrinya untuk mengoperasikan ponsel.
Walau jujur, dia masih belum paham fitur-fitur yang ada di dalam benda pintar itu. Tetapi, dia hanya paham. Kalau benda itu bisa bertukar pesan dengan sebuah aplikasi.
Mika membuka aplikasi itu, dan dia langsung masuk ke room chat dirinya dan kontak yang bernama, "Suamiku♥️."
...Suamiku♥️...
^^^Kembali, dan lakukan apa yang aku minta. Jika dalam.hitungan satu detik, mas enggak keluar. Maka aku yang akan merapikan ini sendirian.^^^
^^^10.30am✓✓^^^
Mika yang masih mengetik pesan dengan gerakan kaku, langsung mengirimkannya setelah selesai, dan anehnya. pesan itu langsung centang biru.
"Kamu apa-apaan sih. Jangan bertingkah macam-macam." Suara Kavin kembali dia dengar, karena pria itu sudah kembali ke ruang tengah, pun sekarang dia sedang berekspresi tidak suka kepada Mika.
Sedangkan Mika yang mendapati keberadaan sang suaminya, hanya mengukir sebuah senyum lebar ke arah Kavin yang saat ini tengah kesal, "Sekarang katakan, mana barang-barang yang posisinya yang harus aku ubuah?"
Mika yang mendengar pertanyaan sang suami, semakin melebarkan senyum, dan dia langsung melakukan gerakan isyrat tangan, "SE-MU-A-NYA."
__ADS_1
Seketika Kavin melongo, dengan tatapan yang membulat sempurna pun mulut yang sedikit menganga, "Se— semua?" beo Kavin, dan Mika yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepalanya.
***
Berjam-jam sudah berlalu, dan sekarang Kavin sudah melepaskan tubuhnya yang dibanjiri oleh peluh keringat, di atas sofa. punggungnya yang terasa pegal dia sandarkan di sandaran sofa, membuat kepalanya mendongak.
Lelah? tentu saja pria berstatus suami sah Mika itu, marasa kelelahan setelah merapikan, dan merubah sususan barang-barang yang ada di ruang tengah apartemennya itu.
"Sayang! buruan. kamu kok lelet bener sih." Kavin berucap dengan nada sewot, karena jujur saja kalau saat ini. Dia benar-benar letih. tulang-tulang punggungnya serasa remuk, karena dia melakukan pekerjaan itu sendirian.
Sedangkan Mika yang saat ini sedang membuat sirup di dapur, hanya menganggukkan kepala walau dia yakin Kavin tidak melihatnya, karena jarak dapur dengan ruang keluarga— tempat sang suami saat ini duduk sangatlah jauh.
"Sayang, cepatlah. Apa kamu mau buat aku mati kehau— san?" Teriakan Kavin melambat saat gendang telinganya menangkap sebuah suara pintu apartemen yang diketuk dari luar, dan suara ketukan pintu itu bersamaan dengan datangnya Mika ke ruang keluarga.
Padahal Kavin baru saja akan bangkit, tapi tangan Mika meminta dia untuk tetap duduk diam, "Biar aku saja yang mengeceknya. Mas, duduk diam saja di sini." Mika melakukan isyrat tangan, membuat Kavin menaikkan satu alis matanya.
"Kamu yakin?" tanya Kavin, dan Mika hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban, "baiklah, kalau itu yang kamu mau. Sekarang, pergi dan buka pintu untuk orang yang ada diluar sana."
Tanpa banyak isyrat tangan lagi, Mika langsung memutar tubuhnya, dan berjalan ke arah pintu apartemen. Sedangkan Kavin yang melihat istrinya sudah menjauh, bergerak mengangkat gelas yang berisikan minuman sirup warna kuning, dan sia langsung meneguknya hingga tandas tak bersisa.
Setelah dia rasa minumannya, sudah habis. Kavin kembali meletakkan gelas kosong itu ke atas meja kecil yang ada di depan sofa, dan pria yang sudah menyandang status seorang suami itu bergerak bangkit dari duduknya.
Dia langsung berjalan untuk menyusul sang istri, karena jujur saja. Kavin selalu cemas jika membiarkan istrinya sendirian.
Sementara di sisi Mika. Saat ini wanita itu sedang berdiri dengan kedua mata membulat, "Maaf Nyonya—Apa kami boleh masuk?" Suara seorang pria menyalami gendang telinga Mika, membuat wanita itu tersadar dari keterkejutannya.
"Kami berdua dar—"
"Sayang— siapa yang datang?" Kavin yang baru saja datang mengeluarkan bersuara, dan kedua tangannya langsung bergerak melingkar di perut rata isterinya, "Kalian? Bukannya kalian berdua, pria yang tadi?"
...T.B.C...
...Maaf jarang update yah. Sumpah deadline aku banyak gays....
__ADS_1
...Aku bukan orang yang sok sibuk, tapi jujur. Sekarang aku lagi disibukkan sama novel yang harus daily update di beberapa paltform. Jadi, sorry karena buat kalian menunggu....