
...Santai-santai dulu ya kan....
...Senyum-senyum sebelum konflik....
...Stay reading 😘...
...****************...
"Akhhhh!" Kavin meringis sembari bergerak untuk mengeratkan pelukannya di tubuh Mika, di mana sekarang mereka sedang tertidur di dalam kamar.
Iya— setelah semua pekerjaannya selesai di jam dua belas malam tadi. Kavin langsung kembali ke dalam kamar, dan tentu saja sembari membopong tubuh Mika yang entah kapan terlelap di pangkuannya.
Awalnya Kavin yang melihat istirnya tertidur pulas di pangkuannya hanya terkekeh, soalnya Mika kalau tidur itu suka dusel-dusel di dada Kavin. Terlebih lagi dia tidur dengan cara pipi kanan disandarkan di dada sang suami, dan itu seolah memberikan kenyamanan tersendiri untuk Mika.
Sedangkan Kavin, hanya geleng-geleng kepala, dan entah kenapa jika melihat wajah damai istrinya. Mood kerjanya naik drastis. Dia yang awalnya mengeluh, menjadi penuh semangat, dan itu karena Mika.
Seandainya tadi Mika tidak datang ke ruang kerjanya. Mungkin jam lima ini, Kavin masih berada di ruang kerja. Bergulat dengan MacBooknya, dan bukan memeluk istrinya seperti yang sekarang dia lakukan ini.
Sedangkan Mika yang saat ini sedang dipeluk perlahan mulai membuka matanya, karena tiba-tiba saja gendang telinganya mendengar sebuah suara lantunan adzan subuh yang keluar dari dalam ponsel Kavin.
Mika menggosok-gosok matanya dengan gerakan pelan hanya untuk mengusir rasa kantuk yang bergelantungan di bulu matanya. Dia yang tadi posisi tidurnya miring ke kanan sekarang mulai bergerak berbalik ke sisi kiri.
Kavin yang menyadari gerakan berbalik istrinya semakin mempererat pelukannya, dan bahkan pria dua puluh tujuh tahun itu, ingin membenamkan wajahnya ke tubuh bagian depan istirnya.
Mika yang melihat itu hanya bisa tersenyum, dan tangannya terulur untuk mengelus rahang kokoh suaminya yang beberapa bulan ini tidak ditumbuhi bulu-bulu halus lagi, karena Mika tidak menyukai adanya bulu di sana. Jika wanita itu melihat beberapa bulu, dia pasti akan membersihkannya, dan asal Mika bahagia. Kavin akan membiarkan itu. Toh— dia juga bahagia diperhatikan sepertu itu oleh istirnya.
Mika semakin melebarkan senyuman saat melihat suaminya yang malah semakin pulas. Bahkan, Mika sekarang dapat mendengar dengkuran halus yang keluar dari pria yang tiga bulan lalu menyunting dirinya.
Mika bergerak menepuk pelan pipi sang suami, sembari mulut bergerak seolah sedang mengatakan "Bangun" tapi seperti biasa. Tidak ada suara yang keluar.
Namun, biar begitu. Kavin melai mengerjap-ngerjapkan matanya, "Sayang ...." Kavin bergumam dengan suara khas orang bangun tidur, pun kedua matanya masih terlihat terpejam.
Sedangkan Mika yang melihat itu hanya menggelengkan kepala, dan kembali menepuk-nepuk pelan pipi Kavin yang entah kapan mengeluarkan suara dengkuran lagi.
Puk!
Puk!
Puk!
__ADS_1
"Lima menit lagi," ujar Kavin sembari mengeratkan pelukan tangannya di perut sang istri, dan jangan lupakan wajahnya yang semakin dia benamkan tepat di dada Mika.
Sedangkan Mika yang melihat tingkah sang suaminya hanya menggelengkan kepala, dan kedua tangannya langsung memeluk kepala Kavin. Jika kalian mengira, Mika akan semakin membenamkan wajah suaminya. Maka kalian salah mengira, karena setelah ini.
Mika akan menjambak rambut belakang sang suami, hingga ....
"Akhhhh! Sayang iya, aku bangun. Ini lihat mataku sudah terbuka." Kavin berteriak penuh kesakitan, saat kedua tangan Mika menjambak rambut suaminya hingga tercabut dari tubuh bagian depannya.
Terlebih lagi mata Kavin yang tadinya sayu, sekarmag sudah terbuka sepenuhnya. Mika yang melihat itu, langsung melepas jambakannya di rambut sang suami, dan dia mulai bergerak untuk bangkit dari tidurnya.
Sedangkan Kavin yang selalu saja mendapatkan tingkah laku Mika yang membangunkannya tanpa penuh cinta itu, hanya menatap wajah cemberut istrinya, dengan tatapan nalangsa. Mika yang mendapatkan pandangan itu, bukannya iba malah bergerak mencubit perut suaminya, dan setelahnya dia langsung melakukan isyrat tangan.
"Makanya— kalau dibangunin itu yang cepet. Ini bukannya bangun malah tambah dusel-dusel."
Kavin yang melihat isyrat tangan itu, langsung cengengesan, dan pria itu langsung bergerak untuk bangkit dari tidurannya, "Iya Maaf," ucap Kavin sembari bergerak melingkarkan kedua tangannya di perut Mika, dan menempelkan dagunya di pundak Mika yang sekarang terbalut baju tidur.
"Maaf," ujar Kavin lagi dengan nada lembut sembari bergerak menggigit kecil pundak istirnya, "tapi— bisa enggak kamu, membangunkanku tidak seperti itu lagi?" imbuhnya, dan itu berhasil membuat Mika melirik tajam ke arahnya.
Kavin yang mendapatkan lirikan tajam itu, langsung melepaskan pelukannya. Mendapatkan dirinya sudah terlepas, Mika bergerak turun dari ranjang.
Dia kembali melihat ke arah suaminya, dan langsung melakukan isyrat tangan, "Udah jam lima lewat lima belas menit, Mas. Jadi, cepat ambil air wudhu, dan kita shalat."
Sedangkan Mika yang melihat suaminya, ikut keluar dari dalam kamar, dan berniat pergi ke kamar mandi yang ada di rumah besar ini untuk ambil air wudhu.
***
Hari yang tadinya gelap, sekarang sudah kembali terang karena tepat di ufuk timur. Matahari pagi sudah bersinar dari jam setengah tujuh tadi, dan sekarang cahayanya semakin terlihat jelas karena jam sudah menunjukkan pukul delapan, di mana semua keluarga Bagaskara di Minggu pagi ini sedang berkumpul di meja makan.
"Nak— Suamimu belum turun? Apa dia masih tidur?" Suara papa Rama terdengar menyalami gendang telinga Mika, membuat wanita yang saat ini sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya itu, mengangkat kepalanya.
Mika bergerak melakukan isyrat tangan, "Sudah bangun pa, tapi tadi mas, sedang membereskan barang-barang kami."
"Kakak ipar mengatakan, kalau Abang sudah bangun, tapi dia masih beres-beres barang-barang mereka." Agam menyeletuk, membuat Rama menganggukkan kepalanya.
"Emang kalian berdua, benar-benar mau pindah ke apartemen?" Adena meneyeletuk, membuat fokus Mika teralihkan pada wanita paruh baya yang sekarang nampak sedang tersenyum untuknya.
Mika hanya membalas pertanyaan Adena dengan anggukkan, dan isatu gerakan itu berhasil membuat raut wajah Adena berubah menjadi sedih, "Pasti Mama, akan sangat merindukanmu." Adena berucap dengan nada yang terdengar seolah tidak rela menantu pertamanya itu pergi.
Padahal tiga bulan yang lalu. Adena sangat menentang pernikahan Kavin dan juga Mika. Tetapi, setelah akad selesai. Dia mencoba untuk mengenal Mika lebih jauh, dan itu tentu saja permintaan suaminya. Jika suaminya tidak memintanya untuk itu, dia mana mau melakukan hal rendah seperti berdekatan dengan gadis desa, dan cacat seperti Mika.
__ADS_1
Namun, beberapa bulan setelah bersama-sama dengan Mika. Adena mulai berubah, terlebih lagi. dia mulai mengajari Mika tata cara merawat diri, dan berpenampilan layaknya seorang wanita berkelas.
Mika yang mendengar ucapan Mama mertuanya, hanya bisa menyungging seutas senyum dia kembali melakukan isyrat tangan, "Sebenarnya Mika enggan untuk meninggalkan rumah ini, tapi. Mas, sudah memutuskan kita untuk pindah. Katanya enggak baik lama-lama di rumah orang tua."
Seperti biasa. Agam yang notebenenya bisa bahasa isyrat langsung menerjemahkan perkataan kakak iparnya, dan membuat Adena menganggukkan kepala, "Kalau Suami sudah memutuskan hal itu, kita sebagai istri ngikut aja kan?"
Mika yang mendengar penuturan Adena hanya menganggukkan kepala, dan kembali bergerak menyendok nasi lalu dia taruhkan di atas piring suaminya. Sedikit informasi kalau di meja makan itu, terdapat dua masakan berbeda. Masakan si embok, dan juga Mika.
Sebenarnya Mika hanya membuat dua jenis makanan, dan satu makannya adalah makanan khas daerah lombok. Yaitu, Pelecing.
...(Tadi sarapan lauknya ini, ehh jadi taruh ke dalam cerita deh😄😄. Kita orang Lombok biarpun makan dengan hanya lauk ini, udah muantep, apalagi ditemani tahu tempe. Restoran bintang lima mah lewat. Turis-turis malahan coba makanan ini jika berkunjung ke pulau kami😄)...
Mika terlihat sedang mengaduk kangkung yang sudah disuir. tipis-tipis itu agar tercampur dengan sambal yang di mana dipenuhi oleh biji-biji cabai.
Bahkan Rama, Adena, dan juga Agam yang melihat itu ngeri sendiri karena jujur. Mereka bertiga itu anti makanan pedas. Walaupun mereka berdarah indonesia asli, mereka bertiga tidak suka makanan pedas, kalau asem mereka bertiga juaranya.
"Kau yakin suamimu bakalan suka makanan menyeramkan itu, Menantu?" tanya Rama, membuat Mika menaikkan kepalanya, dan hanya menjawab dengan seutas senyum.
"Tentu saja aku akan selalu suka memakan, makanan buatan istriku. Lagian di Lombok ini sudah menjadi makanan sehari-hariku di sana, bukan begitu sayang." Kavin secara tiba-tiba menjawab, dan entah sejak kapan pria yang sudah terbalut dengan pakaian santai itu duduk di kursinya.
Mika yang sudah melihat keberadaan suaminya, langsung ikut duduk. Dia tidak lupa menyerahkan piring yang sudah terisi oleh nasi, dan lauk tahu tempe itu ke hadapan sang suami.
"Makasih, sayang." ujar Kavin sembari bergerak mengecup kening istrinya, hal yang selalu dia lakukan jika Mika berhasil mengerjakan sesuatu.
Mika yang mendapatkan perlakuan itu, hanya tersenyum malu, dan itu berhasil membuat keluarga lainnya terkekeh. Sekarang lima orang itu, terlihat seperti keluarga bahagia, walau terkadang rasa curiga selalu Kavin pikirkan.
"Kalian sudah benar-benar yakin untuk pindah?" tanya Rama disela-sela dia bergerak menyendok nasi.
"Iya, itu barang-barang Kavin sudah siap, dan selepas sarapan. Kami akan pergi dari sini, dan pindah ke apartemen."
...T.B.C...
...1445 kata untuk kalian. ...
...Senyum aja dulu yakan...
...Nikmatilah dulu...
__ADS_1