
...ada yang kangen babang Kavin?...
...Atau ada yang kangen Paris?...
...Sahabat Paris kangen siapa sih? Pasti aku dong, awas aja enggak kangen aku. Babang Kavin libur up🤣🤣🤣 Canda loh yah...
...10500 Hadiah untuk double update....
..."Kenapa meninggalkan terasa sangat sulit begini, Tuhan?"...
...*...
...(Alfarizi Kavindra)...
..."Dan, kenapa mengikhlaskan kepergiannya juga terasa sangat lah sulit?"...
...*...
..."Mika Anaya"...
...****************...
Masih di hari, dan jam yang sama. Tetapi, bedanya sekarang. Kavin dan juga Mika sudah berada di rumah baru yang berbatas namakan Mika Anaya.
Yap, kejutan yang Kavin maksud iyalah memberikan Mika sebuah rumah, sebagai pengganti gubuk yang selalu Kavin katakan jelek itu.
Sedari tadi Kavin tidak bisa menghilangkan senyum yang tersungging di wajahnya. Buktinya Pria itu sekarang sedang duduk di meja makan sembari kedua sudut bibirnya tak berhenti tertarik ke atas.
Sedangkan Mika. Gadis ayu berkulit hitam manis itu sekarang berada di dapur, dengan wajah yang sedari tadi menahan malu, "Mika, cepat. perutku sudah lapar," ujar Kavin dengan nada yang terdengar menggoda.
Mika yang saat ini sedang memotong tempe, langsung mengangkat tangan kanannya yang membawa pisau, dan itu berhasil membuat Kavin bergidik ngeri, tapi pria itu masih enggan untuk berhenti mengganggu Mika.
__ADS_1
"Kaca mana kaca. Setahuku aku juga sudah menyuruh para konstruksi itu menaruh kaca," celetuk Kavin dengan kepala menoleh ke sana ke mari, seolah mencari-cari benda yang bisa memantulkan bayangan manusia itu. Tetapi, percayalah. Kalau sekarang dia sedang melirik Mika, dan dia juga tengah menahan untuk tidak mengeluarkan tawa.
Mika yang mendengar celetukan Kavin, semakin menunduk. Gerakan tangannya yang memotong tempe juga mulai tidak karuan, "Kok aku merasakan ada yang aneh yah di bibirku."
Prang!
Mika melempar pisau yang tadi dia gunakan memotong tempe masuk ke dalam wajan. Hingga itu membuat suara nyaring memenuhi area dapur, dan juga ruang makan yang menjadi satu dengan ruang keluarga.
Kavin yang mendengar itu, langsung terkejut, dan senyum di wajahnya langsung menghilang tatkala Mika memutar tubuhnya, dan saat ini sedang menatapnya tajam.
"Bukankah sudah aku katakan itu tidak disengaja, Kavin?" Mika melakukan isyrat dengan raut wajah yang sedang menahan amarah, dan jangan lupakan. Tadi setelah isyratnya selesai. Mika meremes-remes udara seolah ingin mengatakan kalau saat ini dia sedang marah.
Kavin yang melihat itu langsung menciut, dan mengangguk-anggukkan kepalanya, "Iya— itu memang tidak sengaja," ujar Kavin dengan raut wajah yang masih memancarkan keterkejutan.
'kenapa dia menyeramkan sekali jika begitu?' batin Kavin berucap seolah dia tidak percaya Mika bisa mengeluarkan ekspresi menyeramkan seperti itu.
"Tapi rasa bibirmu masih sama seperti waktu kita melihat senja di sungai kala itu, Mika," gumam Kavin dengan nada pelan sembari meraba bibir yang tadi Mika cium. Atau bisa di katakan bibir yang tadi tidak sengaja mendapatkan ciuman dari Mika.
...****************...
Waktu terus berjalan, hingga tanpa Kavin sadari. Jam dinding di rumah Mika sudah menunjukkan pukul tiga lebih lima menit yang berarti.
Namun, lihat lah kenyataanya. Sekaran Pria dua puluh tujuh tahun itu masih setia duduk, dan menoleh ke arah Mika. memandang raut wajah gadis yang beberapa hari ini sudah mengobrak-abrik isi hatinya.
Kavin mulai menggerakkan tangan untuk meraih jemari mungil Mika yang sedari tadi wanita itu pangku, "Mika." Terdengar jelas suara Kavin begitu serak yang menandakan, kalau dari beberapa menit yang lalu. Dia belum mengeluarkan sepatah katapun.
Mika yang mendengar namanya dipanggil. Langsung menoleh, dengan seutas senyum yang seolah menandakan kalau dia baik-baik saja. Tetapi, aslinya saat ini dia sedang mengontrol diri agar tidak melakukan hal yang akan membuat hati Kavin goyah untuk meninggalkan.
Kenapa begitu? Karena beberapa jam yang lalu. Kavin mengatakan, jika Mika melakukan isyrat tangan untuk tetap tinggal. Maka pria dua puluh tujuh tahun itu, akan langsung mengikuti, karena jujur. Kavin juga ingin tetap di sini.
"Aku tanya sekali lagi. Apa kau benar-benar merelakan aku kembali?" tanya Kavin dan ini sudah kesekian kalinya pemuda itu menanyakan hal sama yang jelas-jelas dia tahu kalau Mika akan menjawab apa.
'tidak. Aku ingin Kavin tetap di sini, karena jujur saja. Setelah bersama Kavin. Aku merasa hidupku tidaklah sepi, seperti dulu,' batin Mika berkata, dan sebenarnya dia sangat ingin sekali memberitahu Kavin lewat isyrat.
Namun, bukannya memberitahu apa yang ada di hatinya. Mika malah menganggukkan kepala dengan terus menyungging senyum manis yang sebenarnya mencoba dia manis-manis kan.
__ADS_1
Kavin yang melihat anggukkan kepala itu, semakin mempererat genggaman tangannya di jemari Mika, dan tingkahnya itu seolah mengatakan kalau dia masih belum siap, dan belum berani beranjak dari tempat itu.
Namun, sayangnya sekarang pria itu sudah bergerak bangkit dari duduknya. Kavin juga bergerak meraih tas hitam yang sudah berisikan pakaian miliknya, dan langsung menyampirkannya di pundak kiri.
Mika yang tangannya masih dalam genggaman Kavin, ikut bangkit dari duduknya, dan sekarang. Gadis itu ingin sekali berpegangan di sebuah benda untuk menghentikan langkah kaki Kavin yang sekarang sedang membawanya keluar dari dalam rumah.
Padahal beberapa jam yang lalu. Mereka menghabiskan waktu di pantai. bermain jetski, jalan-jalan pagi, dan bahkan Kavin sempat menggendongnya tadi.
Terus tadi juga. Mereka sempat makan bersama untuk merayakan rumah baru Mika. Setelah makan, mereka juga bercanda gurau, hingga...
Ting!
Suara jam membuat mereka sadar, kalau waktu kebersamaan mereka harus di akhir, karena jika keras kepala dan memilih tetap melanjutkan. Maka mereka harus bersiap-siap menahan sakit yang disebabkan oleh kenang-kenangan yang akan melahirkan sebuah rasa yang disebut rindu.
Kavin berhenti saat kedua kakinya sudah menapak di luar rumah. Sedangkan sekarmag. Mika masih berdiri di dalam rumah. Perlahan, pria itu memutar tubuhnya, dan setelah dia menghadap ke wajah Mika.
Kavin berharap di wajah itu, akan ada sedikit raut kesedihan. Tetapi, nyatanya saat ini Kavin melihat Mika yang masih setia dengan senyuman lebarnya.
Kavin padahal sudah mempersiapkan diri untuk hari ini. Tetapi, tetap saja hatinya serasa berat untuk meninggalkan Mika, "Aku pergi," cicit Kavin seolah ingin memperjelas, kalau dirinya masih enggan untuk pergi.
Mika yang mendengar itu hanya bisa menganggukkan kepala, dan tanpa sadar. tangan kirinya terangkat untuk menggenggam tangan Kavin yang saat ini masih terikat dengan di jemari kananya.
"Mika aku akan pwrgi," cicit Kavin kembali, dan itu sudah jelas kalau dia mengharapkan Mika untuk menahannya agar tetap di sini.
Mika lagi-lagi mengangguk dengan ekspresi yang wajahnya masih memancarkan senyum, dan Kavin mengartikan senyum itu kalau Mika tidak merasa keberatan dengan kepergiannya.
Kavin mulai mengurai genggaman tangannya. Pemuda itu bergerak memundurkan langkahnya. Kedua matanya masih setia melihat raut wajah Mika yang masih sama, dan itu membuat Kavin merasa yakin kalau gadis itu benar-benar mengikhlaskan kepergiannya.
"Sampai jumpa, Mika. Tunggu— aku pasti akan kembal-"
"Akan atau Enggan?"
Deg!
...T.B.C...
__ADS_1
...1016 kata untuk kalian....
...10500 kata untuk double update....