Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
102. Hari Menjelang Pernikahan 3


__ADS_3

...Hai gays— rencananya aku mau buat novel ini kisaran sampai 130 atau 140 part. Jadi tinggal 28an atau 38an part bakalan ending....


...Kalian maunya sad ending atau happy ending?...


...😝😝😝😝...


...Terus konfliknya gimana yah? mau berat, sedang, atau yang ringan 😝😝😝...


...Sebenarnya aku udah siapin konfliknya sih, jadi nikmati aja dulu yah, dan kalau perlu kalian boleh menerka apa sih konfliknya😝😝😝...


...****************...


"Kenapa juga kalian berdua harus ikut? Emang kalian tidak punya kerjaan lain hah?" tanya Kavin yang saat ini sudah menghentikan mobilnya tepat saat mendapati lampu merah.


Kavin menoleh ke sisi kirinya di mana, di sana ada Agler yang sedang duduk dengan jari telunjuk mengetuk-ngetuk dashboard mobil.


"Sebenarnya aku tadi ada pemotretan, but Zaly ingin melihat calon istrimu, dan kau tahu kan aku selalu menuruti kemauan Zaly," jawab Agler dengan nada kelewat santai sembari melihat Zaly yang saat ini duduk di kursi penumpang bagian belakang melalu kaca spion yang tergantung di langit-langit mobil.


Sedangkan Zaly yang tadi disebut namanya langsung menyunggingkan senyum, "tentu saja Lio akan selalu menuruti permintaanku, karena dia sangat perhatian pada sahabatnya. Berbeda dengan kau, Kavin," celetuk Zaly sembari terus merangkul Mika yang juga sedang duduk di kursi belakang, dengan posisi kepala menunduk.


Sedari tadi Mika merasa tidak nyaman, karena wanita yang bernama Zaly ini selalu saja menempeli dirinya sedari masih berada di rumah besar keluarga Bagaskara, hingga di dalam mobil seperti ini.


"Perhatian kepadamu? Buat apa? Kau juga udah dewasa, dan bisa memerhatikan dirimu sendiri, dan untuk kau, Lio. Berhenti memanjakan wanita itu, karena itu tidak lah baik." Kavin mengomel dengan menatap tajam ke Zaly melalu kaca spion.

__ADS_1


Sedangkan Zaly yang merasa Kavin sedang menatapnya, hanya bisa mengulas seutas senyum, "Aku akan terus mengikuti kemauannya, hanya jika dia merasa senang. Kalau tidak, yah aku juga akan menolak." Agler menjawab perkataan Kavin dengan santainya.


'tapi kalian tanpa sadar mengganggu waktu berduaan dengan istriku,' imbuh Kavin dalam hati, dan dia langsung menginjak pedal gas saat lampu merah sudah berubah menjadi hijau.


Suasana hening mulai menyelimuti dalam mobil, membuat Mika merasa semakin canggung. Terlebih lagi sekarang dia sedang ditempeli oleh Zaly, dan itu semakin membuat dia tidak tahu harus ngapain. Ingin nimbrung ke pembicaraan mereka, tapi itu nihil dia lakukan.


"Dari tadi kau diam saja, kenapa?" Zaly akhirnya mengeluarkan pertanyaan yang ditujukan langsung untuk Mika.


Sontak gadis berkulit hitam manis itu langsung terserang rasa panik, dan....


"Hai jawab. Aku tadi bertanya loh. Kau kenapa dari tadi diam? Apa karena merasa canggung kah?" imbuh Zaly, dan itu berhasil membuat Agler menoleh ke arah belakamg.


"Zaly berhenti menganggunya," ujar Agler dengan nada lembut, dan itu berhasil membuat Zaly menaikkan satu alisnya.


"Aku tidak menggangunya, Lio. Aku hanya bertanya— owh tidak, aku lupa kalau kata Mama Adena. Kau itu mohon maaf, bisu yah?" tutur Zaly dengan nada terdengar menyesal.


"Kau jangan marah yah. Aku sungguh tidak tahu. Oh iya aku juga baru ingat. Dulu Agler pernah menceritakan tentangmu, tapi itu sudah dulu, dan aku itu tipe orang pelupa, jadi maafkan aku," sesal Zaly dengan kedua sudut bibir yang sudah membentuk senyum.


Mika yang mendengar ucapan penuh sesal Zaly mulai menegakkan kepalanya, menoleh ke samping kanan tempat duduk Zaly, dan dia langsung menganggukkan kepala sembari mulutnya membentuk seutas senyum.


"Aku tidak menyangka Kavin akan menikahi orang yang tuna wicara sepertimu. Aku akui sahabatku itu orang yang sangat baik, jika sudah merasa kasihan kepada seseorang. Tetapi, pasti ini akan berdampak dengan karir Kavin yang baru saja diangkat menjadi CEO. Aku tidak habis pikir, gimana kalau setelah kalian menikah terus, Kavin mengajakmu pergi ke pesta, dan owhh— aku tidak bisa membayangkan betapa dia akan meras-"


"Diam lah selagi aku masih sabar." potong Kavin, dan itu berhasil membuat Zaly bungkam untuk sementara waktu, dan....

__ADS_1


"Aku kan hanya bicara sesuai fakta," terang Zaly, dan itu berhasil membuat Kavin serta Agler melirik tajam ke arahnya.


Sedangkan Mika yang mendengar penuturan Zaly tadi, mulai berpikir, Apa benar aku akan membuat Kavin terhina?


***


"Masjid?" celetuk Zaly saat Kavin membelokkan mobilnya masuk ke dalam pekarangan masjid yang terbilang cukup luas.


Kavin tidak menangapi celetukan Zaly. Pria dua puluh tujuh tahun itu malah bergerak membuka sabuk pengamannya, dan langsung menoleh ke kursi penumpang bagian belakang, "Sayang, apa kamu ikut?" tanya Kavin, dan Mika yang mendengar suara lembut milik calon suaminya itu langsung mengangguk sebagai jawaban.


"Baiklah— kalau begitu aku dan calon istriku mau shalat dulu. Apa kalian bisa menunggu sebentar?" tanya Kavin, dan Agler langsung menganggukkan kepala, sama halnya dengan Zaly.


Namun, bedanya Zaly mengangguk dengan pandangan mata masih terkejut kalau Kavin yang dia kenal mulai sedikit berubah, Boleh— tapi kamu sejak kapan menjadi rajin seperti ini?" tanya Zaly, dan sudah pasti Kavin akan mengacuhkan pertanyaan itu.


Malahan pria dua puluh tujuh tahun itu, bergerak membuka pintu mobil, dan langsung menutupnya dengan cara di banting. Kavin yang sudah berada di luar mulai mengayunkan langkah berputar ke pintu kursi penumpang bagian belakang yang terletak di sisi kiri.


Dia bergerak membukanya dengan perlahan, "Silahkan Nyonya Kavindra," ujar Kavin, dan Mika yang masih malu-malu langsung keluar dari dalam mobil.


"Kalian bisa nunggu sebentar. Lagian jalanan masih sangat padat, tapi jika kalian mau. Bawa saja, dan jalan duluan. Nanti aku dan calon istriku bisa ke butik itu menggunakan taksi," terang Kavin panjang lebar sembari melempar kunci mobil yang ditangkap sempurna oleh Agler.


"Kami akan menunggu, jadi kalian silahkan saja." Agler berucap dengan nada remang-remeng.


"Baiklah— kalau gitu kami pegi dulu. Kau cepatlah tobat. Jangan keluyuran mulu," ejek Kavin, dan itu berhasil membuat Agler tersenyum kikuk.

__ADS_1


...T.B.C...


...Yang kesel sama sikap sok anu Zaly angkat kaki😝...


__ADS_2