Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
Part 36. Perkara Maling Mangga.


__ADS_3

...Hai gays! Sebelum itu. Aku mau kasih pengumuman dikit yah. Cerita ini aku udah kasih jadwal update setiap hari di jam, 07.00 pagi dan 04.00 sore....


...Ada satu pengumuman lagi. Gini gays— akukan mau publish satu cerita lagi, but bukan CEO. ini ala-ala anak kampus gitu. Kira-kira ada yang mau mampir enggak ke ceritaku ini...


...👇...



...(Dear Jessy)...


...Kamu cantik, baik, bawel, dan terlebih lagi kamu itu cengeng. Kamu bukanlah seorang wanita populer di kampus, tapi aku sangat mengenal dirimu, karena aku mencintaimu....


...Akan tetapi kamu adalah kekasih sahabatku. Lalu, apakah aku harus mengubur rasa cinta ini untukmu?...


...Gimana ada yang tertarik?...


...Segitu aja pengumuman dariku gays!...



...(Manjat pohon begituan tokek peliharaan gue aja bisa. apa lagi guenya— eh tapi, gue bukannya mau nyamain diri sama tokek. Awas aja jika ada yang bilang gue tokek di komentar. Wong gue bocah apik, guanteng, dan suka bikin cewek jatuh cinta. Kecuali si Gadis desa itu. Gue itu ya enggak tahu kenapa dia enggak tertarik sama gue.)...


...***...


Masih di hari, jam, waktu, dan tempat yang sama. Tetapi bedanya sekarang Kavin dan Mika sedang dalam perjalanan kembali ke sawah. Es yang mereka beli tadi sudah sedari tadi tandas. Bahkan Kavin menghabiskan minuman berwarna itu dengan sekali sedot.


Mika yang melihat itu, hanya bisa geleng-geleng kepala seperti orang kebingungan. Bagaimana tidak, tadi pas dikasih tuh orang nolak, ehh malah dia yang duluan habis. Bahkan tadi dia juga sempat minta es milik Mika, tapi yang dia dapatkan gelengan kepala. Wong Mika juga haus, yah dia enggak kasih lah.


Dan karena hal itu sekarang Kavin berjalan sangat pelan sekali, membuat Mika tidak habis pikir dulu pernah takut dengan orang modelan Kavin.


Padahal nih yah, di pertemuan pertama. Mika mengira Kavin itu orang yang jahat, sombong, dingin, dan perkiraan itu benar saat Mika bertemu dengan Kavin untuk kedua kalinya.


Namun, ketakutan Mika kepada Kavin menghilang di pertemuan ketiga. Entah kenapa saat berhadapan dengan Kavin, Mika itu selalu kesal dengan sikap songong milik pria kota itu. Walaupun Kavin seringkali marah kepada dirinya, Mika tidak pernah merasa takut.


Beda halnya jika dengan Rina. Dalam pengamatan Mika, Rina dan Kavin itu berbeda. di mata gadis itu, Rina terlihat seperti seorang yang patut di takuti, karena dia tidak punya belas kasih sama sekali.


Sedangkan Kavin, dimatanya pria itu malahan terlihat lucu. Dia seringkali marah, tapi yang Mika lihat. Kavin tidak terlihat marah. Intinya Kavin itu beda.


'tumben sekali gadis desa itu tidak banyak tingkah," batin Kavin yang melihat Mika sedari tadi hanya berjalan, dan itu terlihat menghiraukan dirinya yang saat ini sedang ngambek.

__ADS_1


Padahal ini yah, Kavin itu mau dirayu, agar dia tidak ngambek lagi. Tetapi, emang tuh Mika enggak peka orangnya, 'Akhhh!' teriak Kavin dalam hati, dan pria itu mendongakkan kepala untuk menyalurkan rasa kesalnya.


Dan langkah pria itu terhenti kala kedua mata coklatnya tidak sengaja, melihat beberapa buah mangga yang sedang bergelantungan manja di dahan-dahan pohon. Mata Kavin langsung berbinar, dan pikirannya langsung melanglang buana membayangkan. Betapa nikmatnya memakan buah mangga segar, di siang hari yang terik ini. Terlebih saat ini Kavin merasa sangat haus.


"Gadis desa!" panggil Kavin dengan nada sedikit berteriak, membuat langkah Mika berhenti. Padahal tinggal satu langkah lagi, dia akan keluar dari kawasan pemukiman warga, dan menginjakkan kaki di kawasan persawahan.


"Gadis desa!" panggil Kavin dengan suara yang masih bernada sama.


'ada apa lagi sih,' gerutu Mika dalam hati, tapi gadis ayu yang masih memakai mukenah itu memutar tubuhnya menghadap ke Kavin.


Mika menaikkan kedua alisnya seolah bertanya ada apa. Kavin yang selalu melihat, langsung mengerti akan arti dari gerakan itu, "Lihat," ujar Kavin dengan nada pelan sembari menggerakkan telunjuk tangan, untum menunjuk ke atas.


Mika yang tidak mendengar jelas ucpaan Kavin, menggaruk kepalanya yang masih tertutup mukenah, dan dia lebih memilih mengikuti arah telunjuk Kavin.


Sontak Mika langsung berjalan cepat mendekati Kavin, menggenggam tangan besar milik pria dua puluh tujuh tahun itu, dan langsung menggeret pria itu untuk cepat-cepat pergi.


Tanpa perlu mencari tahu apa maksud Kavin tadi, Mika sudah bisa menangkap kalau pria itu ingin maling mangga.


Kavin yang digeret oleh Mika, bergerak menepis tangan mungil itu, "Ayok lah, nanti kita akan bagi rata. Lagian kebunnya sedang sepi," ujar Kavin setelah tangannya sudah tidak digenggam oleh Mika.


Mika yang mendengar itu langsung membuat isyarat tangan, "Itu milik orang."


Mika yang melihat itu, berlari ke depan Kavin, dan langsung bergerak menghadang jalan pria yang sekarang sedang digoda oleh setan, "Minggir," pinta Kavin dengan tatapan mendelik.


Mika yang mendengar itu kembali melakukan Isyarat tangan, "Nanti kalau ketahuan gimana?"


"Ya jika ketahuan, kita lari. Lagian jika saja aku tidak lupa bawa dompet, aku pasti bisa membeli kebun itu. Jadi awas," jawab Kavin dan masih sempat-sempatnya berlagak songong.


Mika yang mendengar itu kembali melakukan isyrat tangan, "Tapi itu jika Tuan membawa dompet, dan sekarang Tuan itu tidak membawa dompet. Jadi tidak usah sok, dan lebih baik kita pergi."


Mika langsung melenturkan tangannya untuk menghilangkan rasa lelah, karena saking panjangnya isyrat yang gadis itu gunakan. Kavin yang melihat itu, malah bergerak mencekal tangan Mika.


"Kau tinggal ikut saja apa susahnya coba." Kavin langsung menyeret Mika untuk ikut bersamanya kembali ke tempat di mana pohon mangga itu berada.


Inilah nasibnya jika berpergian dengan orang yang punya keras kepala seperti Kavin. Dia dengan berat hati mengikuti kemauan pria itu, tapi di dalam hati dia berkata, 'jika terjadi apa-apa jangan salahkan aku Tuan,'


***


Sekarang mereka berdua sudah berdiri, tapi bedanya Kavin sudah masuk ke dalam kebun, dan Mika berada di luar kebun. Tidak usah ditanyakan gimana cara Kavin masuk, yang jelas pria itu sangat penuh perjuangan untuk masuk ke dalam kebun itu.

__ADS_1


"Tuan yakin bisa memanjat?" tanya Mika menggunakan bahasa isyarat, karena dia masih tidak percaya dengan kemampuan Kavin. Apalagi tadi sempat terjadi perdebatan diantara mereka, untuk memutuskan siapa yang akan memanjat pohon mangga itu.


Tentu saja yang menang Mika, dan Kavin yang kalah, "Bisa, kau itu meremehkan sekali," ujar Kavin dengan percaya dirinya. Padahal ini, baru pertama kalinya dia mencoba manjat-manjat beginian. Tapi demi menghilangkan haus, pria kota itu akan membisa-bisakan dirinya.


"Ingat sesuai tugas. Aku yang manjat, kau yang lihat-lihat orang." Mika menganggukan kepalanya, membuat Kavin yang sedang menaikkan gulungan sarungnya ikut mengangguk.


'Miguel berikan kekuatan perekat tanganmu itu kepada majikanmu ini. Aku janji setelah pulang dari sini, aku akan memanjakanmu dengan makanan,' batin Kavin dan menyebut nama Miguel— tokek peliharaanya di Jakarta.


Tanpa menunggu lama, Kavin mulai memanjat, entah kenapa keberuntungan berpihak padanya, dan pria kota itu tidak kesulitan menaiki mangga yang kebetulan banyak dahannya untuk memijakkan kaki.


Kavin memanjat pohon mangga itu semakin tinggi, membuat pohon itu bergerak-gerak seperti ditimpa angin. Walau nyatanya saat ini bukan angin yang melakukan itu, menaikkan Kavin yang siap menjarah seluruh buah mangga itu.


"Gadis desa! kita akan melakukannya dengan cepat. Jadi bersiap-siaplah." Mika hanya menggukan kepala, dan gadis ayu itu sudah sedari tadi ketakutan.


'aku tidak bersalah di sini. Jika ketahuan, aku tidak akan bertanggung jawab,'


baru saja Mika membatin, dan Kavin bergerak meraih satu buah mangga, "Sai leq ti (Siapa di sana)?!" Tepat setelah suara teriakan bahasa daerah itu menggelengar. Tiba-tiba saja gerakan Kavin terhenti, dan jantung Mika berpacu sangat hebat.


"Ohhb jakm pade memaling doang aran (ohhh rupanya kalian mau maling ternyata)!" imbuh suara seorang pria tua itu kembali.


Sontak Mika yang mendengar itu langsung ngacir meninggalkan tempat itu, dan juga meninggalkan Kavin yang masih berada di atas pohon mangga.


...T.B.C...


...Gimana part ini gays?...


...Eh mau nanyak, kalian bosen enggak baca ke uwuan mereka? Kalau bosen aku enggak bisa apa-apa. Soale aku mau buat kalian bahagia, dan tertawa lepas dulu sebelum ke konfliknya....


...Jangan lupa beri gift ❤️ biar aku semangat, dan jangan lupa bantu rekomendasikan cerita ini....


...Ada kata buat:...


...Kavin?...


...or...


...Mika?...


...see you next part!...

__ADS_1


__ADS_2