Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
Part 32. Petikan Gitar mendebarkan jiwa.


__ADS_3

...Tidak aku sangka ternyata bisa 30 Like...


...Makasih karena sudah mendukung karya saya yang ala kadarnya ini semua🙏...


...I am really very gratefull....


...Ada salam nih dari Kavin yang ada di tengah persawahan. Katanya, selamat rebahan buat para jomblo....



...(Ceritanya nih si Kavin mau nyanyi buat kalian yang alone alone in house, but dia bilang enggak jadi. Mending dia nyanyiin si itu katanya.)...


...***...


Bias senja yang tadi bersinar menyilaukan di ujung barat, sekarang sudah menghilang, dan digantikan oleh rembulan yang terlihat indah malam hari ini. apa lagi di sisi-sisinya sekarang sedang berpijar jutaan bintang-bintang yang sangat kecil, membuat perhatian Kavin tidak fokus dengan pekerjaan yang dia lakukan.


prang!


Mika membanting sebuah bambu, membuat suara nyaring khas benda terjatuh menyalami gendang telinga Kavin, "Ada apa lagi sih gad-" Ucapan Kavin tertahan kala melihat ekspresi Mika yang saat ini berkacak pinggang, dan jangan lupakan tatapan matanya yang tajam seolah mampu menembus jantung Kavin.


Mika yang saat ini sudah memakai baju kaos warna putih dengan bawahan jeans panjang wanita, bergerak mengayunkan langkah mendekati Kavin yang sekarang sedang berdiri mematung, "Ada apa?" tanya Mika menggunakan bahasa isyrat, membuat Kavin kesulitan menelan ludahnya.


"A—anu. Itu apa namanya, bulan dan bintangnya terlihat sangat indah. Iya, itu coba kau lihat— lihat lah," jelas Kavin dengan susah payah, karena gadis yang dia kira malang itu, ternyata punya ekspresi menyeramkan. Bahkan tadi saat pulang dari sungai. Mika hampir saja menghanyutkan baju seharga jutaan rupiahnya.


Kavin hendak marah, tapi saat dia melihat ekspresi Mika. Dia mengurungkan niatnya itu, dan memilih untuk mengalah. Bayangkan— seorang Alfarizi Kavindra yang terkenal di takutkan di ibu kota Jakarta, sekarang malah gemetar di hadapan Mika.


"Sekarang cepat bantu aku buat tenda, dan berhenti lah main-main, kalau tuan tidak ingin kedinginan malam ini." Mika membuat isyrat tangan dengan gerakan cepat, karena sekarang wanita itu sedang marah besar pada pria kota yang tengah melongo di depannya ini.


Sesuai yang dilihat Mika. sekarang Kavin tengah melongo, karena pria itu tidak mengerti apa yang Mika katakan dari isyrat tangannya itu, 'Apa gadis desa ini kerasukan siluman buaya putih? Kenapa malam ini dia berubah garang sekali?' ujar Kavin dalam hati, tapi sedetik kemudian pria itu langsung mengusir ketakutannya.


Raut Kavin yang tadi ketakutan, langsung menguap, dan berubah menjadi wajah sangar khas dirinya, "Emang kau kira aku bawah-" Ucapan Kavin kembali berhenti dengan sendirinya saat kedua matanya, melihat Mika memungut sebuah bambu.


"Buat."


"Tenda."


"Sekarang."


"Juga."


Mika melakukan Isyarat tangan satu persatu seolah saat ini dia sudah benar-benar marah. Belum lagi Kavin melihat gerakan tangan Mika yang meremas-remes udara, membuat nyali Kavin menciut. Terlebih lagi, saat dia melihat Mika membawa sebuah bambu cukup panjang, dan juga tebal.


"Iya inikan kita mau buat. Kau bantu juga dong." Akhirnya Kavin saat ini menerima kekalahannya, 'aku biarkan kau menang untuk hari ini gadis desa, tapi lihat saja nanti. Waktu kita di sini masih panjang, dan aku pasti akan membalas semuanya lihat saja," lanjut Kavin dalam hati, dan sekarang pria itu menyalurkan amarahnya ke sebuah bambu, yang dia tancapkan kasar ke tanah.


Mika yang menyadari itu hanya bisa tertawa puas. Dalam hati, dia sangat-sangat bahagia karena bisa membalas perlakuan Kavin yang tadi menariknya hingga terjatuh ke dalam sungai, 'Ini baru permulaan pria kota. Lihat saja nanti. Aku pasti akan melakukan yang lebih dari ini,' batin Mika.


Mereka berdua kembali melanjutkan pekerjaan membangun sebuah tenda ala-ala anak Pramuka gitu, tapi bedanya mereka membuat itu dari terpal plastik yang Mika bawa siang tadi. Padahal mereka itu membuat tenda, dari sepulang shalat magrib tadi, dan hingga jam menunjukkan pukul tujuh. Mereka masih belum selesai juga, sedangkan tenda Amak Kasim, dan juga Amak Udin sudah berdiri sedari tadi.


Mereka semua juga sudah berkumpul di area tengah-tw gah persawahannya seperti siap-siap untuk makan bersama. Tetapi, sedari tadi mereka belum mulai, karena sedang menunggu Mika dan Kavin selesai membuat tenda.


***


Tanpa di duga waktu bergulir sangatlah cepat, dan tak terasa jam di ponsel yang saat ini Kavin mainkan. Sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tapi pria itu masih tidak bisa memejamkan matanya, dan akhirnya dia menghabiskan waktu untuk duduk di depan perapian bersama Amak Kasim, dan Amak Udin.

__ADS_1


"Ganteng kamu pakai baju itu," puji Amak Udin dengan bahasa Indonesia, tapi berlogat Sasak yang begitu terdengar jelas oleh telinga Kavin.


Mendengar itu, Kavin memperhatikan penampilannya yang saat ini menggunakan baju kaos hitam milik anak Udin, dan dipadukan dengan sarung yang sudah melilit di pinggang Kavin, "Makasih Mak," jawab Kavin dengan senyum, dan dia kembali fokus ke ponselnya.


'emang aku ganteng karena itu sudah takdir, dan bukan karena pakaian yang aku gunakan ini Mak. Justru aku risih, mana enggak pakai ****** lagi,' lanjut Kavin dalam hati mengeluarkan ocehannya.


Iya, karena Kavin tidak membawa baju ganti, dan baju yang dia pakai kotor semua. Dengan berat hati, dia meminjam sarung dan juga baju di Amak Udin. Tetapi, walau begitu tetap aja dia merasa risih karena sekarang dia tak menggunakan ******.


"Oh iya Mak. Gadis desa itu kemana yah? sehabis Isa tadi dia udah enggak kelihatan," celetuk Kavin, dan mulai menanyakan di mana Mika berada.


"Ohh Mika ada di sawah sana," jawab Amak Kasim sembari menunjuk ke arah timur, tepat di mana ada sebuah kobaran api, dan suara cekikikan beberapa orang yang sedang bernyanyi.


Kenapa Kavin bilang cekikikan, karena suara yang menyalami gendang telinganya itu tidaklah merdu, "Emang ada apa di sana?" tanya Kavin penasaran sembari terus melihat ke timur.


"Di sana ada beberapa anak muda yang nongkrong, dan sedang nyanyi-nyanyi. Kau cobalah ke san-" Tanpa mendengar ucapan Amak Kasim hingga selesai.


Kavin bergerak bangkit dari duduknya, menggulung sedikit gulungan sarung yang ada di pinggangnya, dan dia langsung mengayunkan langkah mendekati sekumpulan pemuda yang saat ini tengah asik bernyanyi dengan nada fales.


'Ternyata kau tidak ada henti-hentinya mencari perhatian yah,' batin Kavin sembari berjalan angkuh ke arah timur.


***


"Ohh jadi kau seperti ini ternyata." Semua orang yang sekarang sedang berkumpul, langsung terdiam saat suara Kavin terdengar menyalami gendang telinga mereka, "Kau asik-asikan di sini, dan ninggalin aku di sana," imbuh Kavin membuat tujuh orang termasuk Mika terdiam.


"Hai kau geser sedikit," Perintah Kavin, dan membuat seoeang wanita yang duduk di sebelah Mika dengan berat hati menggeser tempat duduknya.


Kavin yang sudah melihat ada tempat duduk yang kosong, langsung saja memposisikan diri untuk mengisi kekosongan itu, dan tepat setelah itu. Wajah tampannya yang tadi tidak terlihat karena gelap, langsung saja terekspos.


"owhh aku tahu. Kau tidak mengajakku, karena kau pasti takut ketahuan sedang cari perhatian. Jadi, saking prustasinya kau karena tidak bisa membuatku terpesona, kau akhirnya menyerah, dan mencari pria lain, begitu kan? benarkan?" Kavin mulai menuding Mika, dengan membahas soal terpesona.


Mika yang mendengar itu hanya memutar bola matanya malas, dan hendak membuat isyrat tangan, tapi kalah cepat dengan suara Kavin, "Kau itu jelek, jadi tidak usah sok-sokan caper begitu," imbuh Kavin membuat Mika ingin sekali mencakar-cakar wajah songong yang sekarang laki-laki itu perlihatkanlah.


"Untuk kalian! Pasti kalian semua masih sekolah bukan?" tanya Kavin kepada anak-anak muda yang sedari tadi diam setelah kesayangannya.


Mendengar pertanyaan itu. Meraka semua serempak menganggukan kepala, "Jadi, kalian jangan terpesona dengan gadis ini, karena dia itu jelek, dan masih banyak wanita lain yang lebih cantik dari dia," imbuh Kavin sembari menunjuk-nunjuk ke arah Mika.


Sebenarnya ini yah, Kavin itu lagi cemburu. Hatinya sedikit merasa sakit saat melihat Mika bersama laki-laki lain. Tapi, saking gengsinya tuh pria kota. Dia sampai menghina-hina Mika, agar pemuda yang ada di depannya itu, tidak lagi berniat pedekate.


"Bro pinjem gitarnya dong." Mendengar itu, Pemuda yang sedari tadi memangku gitar itu, langsung saja menyerahkannya ke tangan Kavin.


"Ehh jujur aja yah. Tadi suara kalian jelek semua, enggak ada yang bagus, bikin budeg," jujur Kavin, dan membuat semua orang yang ada di sana cekikikan.


Mika menepuk-nepuk pundak Kavin, membuat pria itu menoleh, "Apa? Kau mau request lagu?" tanya Kavin dengan satu sudut bibir terangkat.


Mika menggelengkan kepala, dan langsung membuat isyrat mengunakan tangannya, "Aku tidak yakin kau bisa main gitar, seperti Agler."


Melihat gerakan tangan Mika yang menyebut nama Agler, langsung membuat Kavin menyatukan kedua ujung alis matanya, "Kau meremehkan aku rupanya. Lihat saja, aku akan membuat kau melupakan permainan gitar Lio, setelah mendengar permainan gitarku gadis desa."


Setelah mengatakan itu, Kavin langsung memainkan gitarnya. Matanya terpejam untuk menikmati irama yang keluar dari dalam gitarnya. Semua orang yang berada di sana langsung terdiam, menikmati alunan merdu di malam yang indah ini.


Kavin menghentikan permainan gitarnya, dan pria itu bergerak memutar tubuhnya menghadap ke Mika, "Bagaimana— permainan gitarku lebih bagus dari pada Agler bukan?" Belum sempat Mika menjawab, Kavin kembali memetik senar gitarnya, dan mulai memainkan sebuah lagu milik dari hijau daun.


Dari suara alunan nadanya, mereka bisa menebak kalau lagu itu berjudul "sesuatu yang sempurna" milik dari hijau daun.

__ADS_1


"Pertama ini aku merasa.


Cinta sekuat ini.


Aku tak berdaya.


Menekan gejolak rasa


Owhhh....


Hari-hari waktuku sayang


Selalu teringat kamu sayang


Engkau lah belahan jiwa.


Owhhh...."


Kavin menjeda permainan gitarnya, membuat Mika yang tadi memejamkan mata, kembali membuka matanya, dan menggerakkan kepalanya seolah bertanya "Ada apa?"


Kavin hanya menggelengkan kepala, lalu pria itu tersenyum membuat pupil matanya menyipit, dan baru setelah itu. Dia kembali mengenjreng senar gitarnya.


"Sejuta kata pun takkan mampu


Katakan- katakan kekagumanku


Dirimu benar-benar sempurna


Kau luar biasa.


Dalam nafasku hati bilang sayang


Detak- detak jantungku bilang sayang


Kau sesuatu yang sempurna


Aku teramat cinta.


Owohh...."


Malam dingin itu dipenuhi oleh permainan gitar Kavin, dan senyum bahagia Mika. Entah kenapa degup jantung pria itu selalu terpompa cepat saat melihat senyum itu. Begitu juga Mika, dia mulai merasakan sebuah desiran saat Kavin menatapnya dengan intens.


...**T.B.C...


...Gimana Part ini?...


...aku panjangin nih partnya untuk kalian karena berhasil capai targetnya....


...Ada yang baper?...


...90 like dan 40 komen langsung up lagi. ...


...bisa nggk 90 like nih**?...

__ADS_1


__ADS_2