
...Aku enggak mau banyak omong. Aku minta Hadiah 5100 aku langsung update next part....
...Kalau tiket Vote Genap 50 aku update lagi juga....
...Jadi ayok langsung sumbangkan hadiah, atau tiket Vote....
...(Kenapa harus kembali secepat ini?)...
...***...
Bersamaan dengan terjangan ombak yang menghantam tubuh Mika. Sekarang, di motel Kavin sudah rapi dengan celana panjang yang dipadukan baju kaos lengan panjang, dan topi yang bertengger di kepalanya.
Tidak ada seutas senyum yang tersemat di wajah datarnya. Malahan sedari tadi pria itu mendesah, saat mengingat pembicaraan dengan papanya di telepon beberapa menit lalu, tepat setelah dia masuk ke dalam kamar, dan meninggalkan Zaly di ambang pintu.
Kavin meraup wajahnya, dan setelah itu. Dia mengembuskan napas dengan kasar. Dia menundukkan kepalanya, untuk kembali melihat tas punggung hitam berukuran besar, yang sudah dia isikan pakaian.
'sudah cukup liburanmu itu Kavin. Sekarang kau kembalilah ke ibu kota, dan selesaikan pekerjaan yang kau tunda,' Kavin masih mengingat dengan jelas perkataan ayahnya beberapa menit yang lalu.
Dan itulah alasan Kavin tidak melukis seutas senyum sedikitpun di sore hari ini. Sebenarnya, tadi dia juga sepat membantah permintaan ayahnya, tapi itu percuma saja. Karena, apa yang ayahnya katakan, tidak akan bisa dia bantah.
Terlebih lagi yang paling mengganggu pikirannya saat ini, adalah Mika. Sedari berkemas-kemas tadi, Kavin hanya memikirkan gadis itu. Apalagi, saat ingatab-ingatanny masih memutar jelas senyum manis Mika.
__ADS_1
"Sialan," umpat pria itu, dan dia kembali meraup wajahnya dengan kasar, diselingi dengan embusan napas lelah yang begitu sangat jelas terdengar menggema di ruang tengah motel, "apa yang gadis desa itu lakukan sekarang?" gumam Kavin sembari kepala menoleh ke arah pintu keluar motel.
Terlihat jelas raut wajahnya, yang sekarang tengah dibiasi oleh cahaya matahari yang mulai berwarna jingga, dan itu membuat raut sedih sangat kentara di sana. Walau sekarang terlihat datar, tapi percayalah pikirannya sekarang sedang bimbang, antara pergi atau tinggal.
Di satu sisi dia ingin tinggal, tapi Papa yang sangat dia hormat imemnita dia untuk secepatnya kembali. Kavin kembali menegakkan kepalanya menghadap ke depan, saat angin di luar sana mulai menggoyangkan pohon-pohon kelapa, dan di mata Kavin.
Semua pohon kelapa yang bergoyang itu, seperti tengah melambaikan tangan, seolah mereka tidak sabar melihat Kavin untuk secepatnya pergi meninggalkan tempat ini.
"Akhirnya kita kembali juga!" seru girang Zaly. Wanita itu bergerak duduk di sebelah Kavin, dan langsung melingkarkan tangannya di lengan kekar Kavin.
Jarum jam langsung berseru, seolah sedang mencela wanita tak tahu malu itu. Padahal beberapa menit yang lalu, dia dan Kavin baru saja cekcok, tapi Zaly tanpa tahu malunya bersikap biasa saja, walau sekarang Kabin tengah menunjukkan raut tak suka.
Namun, dia tidak melakukan, karena itu akan percuma saja. Dan malah, akan membuat Zaly tidak akan berhenti bicara nantinya. Terlebih lagi, sekarmag dia masih terserang bimbang, "Bukankah tadi kamu bilang, dia pergi keluar mencari taksi?" tanya Zaly, dan itu membuat Kavin berdecak. Karena, merasa bodoh.
Iya, padahal Kavin baru saja berbicara dengan Agler di tempat ini. Tetapi, kenapa dia secepat itu melupakannya. Apa mungkin ini, karena pikirannya sedari tadi tertuju kepada Mika.
Pria itu juga tidak tahu, kapan pikirannya itu dikuasai oleh gadis desa itu. Yang jelas sedari tadi, dia ingin menemui gadis itu, memeluknya, dan mengatakan merindukannya. Iya, itu hanya keinginannya, tapi tidak tahu kalau setelah bertemu nanti.
"Ada apa Kavin? Kenapa sedari tadi kamu terlihat memikirkan sesuatu? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" celetuk Zaly, membuat lamunan Kavin tentang Mika terpecahkan.
"Bukan urusan kau," jawab acuh Kavin, dan membuat Zaly tersenyum kecut. Tetapi, sedetik kemudian dia menyungging senyum manis, dan hendak menyadari kepalanya di otot lengan Kavin.
__ADS_1
Namun, Kavin malah berdiri membuat tubuh Zaly setengah tertidur menyandar ke kepala sofa, "Sialan!" umpat Kavin, dan berbarengan dengan itu, suara girang Agrel memenuhi ruang tengah motel.
"Aku sudah menemukan tak-" Ucapan Agrel menggantung di udara saat Zaly melihat Kavin tajam, "kalian berdua kenapa?"
"Sialan! Kalian tunggu di sini sebentar, aku akan pergi dan secepatnya kembali." Kavin langsung berlalu pergi, tanpa menunggu teman-temannya memberikan persetujuan.
"Kenapa?" tanya Agler masih penasaran. Dan, tepat setelah itu. Zaly datang dan memeluk dirinya.
"Kavin tadi mengumpatku," adu Zaly merasa umpatan yang diucapkan Kavin tadi, tertuju pada dirinya. Tetapi, itu tidaklah benar.
Karena Kavin tadi mengumpat, untuk dirinya yang tidak bisa menghilangkan nama, wajah, dan senyum Mika.
Dan, Kavin pergi untuk menemui Mika, untuk berpamitan. Dia juga akan membuat janji akan kembali lagi ke sini, untuk bertemu dengannya.
Namun, semua itu akan terlaksana jika Mika masih mengembuskan napas, dan berada di bibir pantai.
...T.B.C...
...Aku tidak mau meminta. Tetapi, maafkan jika ceritaku bikin kalian geregetan. Karena beginilah outline yang aku buat. Ini masih konflik awal, dan belum ke puncak....
...5100 hadiah atau 60 tiket Vote. Aku update lagi...
...Jadi ayok yang penasaran sumbangkan hadiahnya....
__ADS_1
...See you next part!...