
...Ya ampun, kalian cepet banget capai target....
...Kan aku jadi semangat nulisnya....
...Aku tantang 6000 Hadiah bisa enggak yah?...
...Kalau bisa aku update lagi part lebih menegangkan malam ini....
...(Dasar cacat)!...
...***...
Mika masih memandangi keadaan gubuk tempat tinggalnya, yang sekarang sudah hangus tak bersisa. Iya, Mika terdiam karena gubuk reyot yang dia tinggali sedari dia berusia sepuluh tahun itu, sekarang sudah menjadi abu.
Gedek-gedek yang tiga hari lalu masih berdiri, sekarang sudah tidak lagi bersisa, begitu juga dengan atap, tiang yang terbuat dari bambu, semuanya sudah hangus terbakar.
Mika semakin menggelengkan kepalanya, mulutnya yang setiap kali tertutup jika menangis, tidak bisa dia tahan untuk tidak menganga, mengeluarkan isakan, yang sudah jelas tidak akan bersuara. Maupun sebagai mana lebarnya dia menganga, suara isakannya tidak akan keluar, karena dia itu bisu.
Mika mulai bangkit dari duduknya, dengan air mata yang semakin deras keluar dari pelupuk matanya, yang sudah tidak bisa lagi menampung air hangat itu.
__ADS_1
Padahal gadis itu tadi sudah berniat memasak, makanan yang lezat untuk dia makan. Tetapi, semua itu menguap saat matanya melihat keadaan gubuk miliknya, sudah hancur tak bersisa.
'siapa yang tega melakukan ini pada tempat tinggalku?' tanya Mika hanya bisa dalam hati.
Dia ingin sekali meneriaki pertanyaan itu, hingga menggema ke seluruh penjuru kebun. Tetapi, kenyataan kalau dirinya seorang tuna wicara, membuat keinginan itu terkurung di dalam angan.
Mika mulai mengayunkan langkah mendekat ke bangkai gubuknya, yang di mana hanya puing-puing genteng, beberapa bambu yang dimana warnanya sudah menggelap, dan sisanya dipenuhi oleh abu-abu dari gedek yang sudah terbakar.
Mika tidak habis pikir, emang apa manfaatnya mereka melakukan hal keji ini, kepada dirinya. Apa sebelum mereka membakar gubuk itu, mereka tidak memikirkan nasib orang yang tinggal di sana?
Mika terus berjalan mendekat dengan tangisan tak bersuara miliknya. Malahan sekarang, dia tidak begitu peduli dengan keadaan lutut kakinya, yang ditempeli oleh butiran-butiran beras.
Padahal, Mika mendapatkan beras itu tidaklah mudah. Dia mendapatkan sekantung plastik beras itu, dengan tiga hari bekerja keras, tapi Mika begitu mudahnya membuang itu semua.
'pasti masih ada yang tersisa bukan. iyah, mana mungkin itu terbakar, karena aku menyimpannya di dalam bambu,' batin Mika, dan wanita itu langsung saja berlari.
Mika menyingkirkan bambu-bambu yang sudah menjadi abu, agar jalannya untuk menuju ke tengah-tengah tidak terhalangi. Setelah semua bambu-bambu menghitam itu hilang dari jalannya, Mika mulai mengambil genteng, dan membuangnya.
Itu dia lakukan dengan terus menangis, dan mulutnya terbuka untuk mengeluarkan teriakan. Tetapi, bedanya tidak ada suara yang keluar dari dalam sana. Malahan sekarang dia twngah mendengar, kicauan burung-burung yang seolah sedang menertawakan tingkah membuang-buang gentengnya itu.
Mika terus melakukan hal yang sama, hingga dia sudah berdiri di tengah-tengah. Terlihat dadanya naik turun secara tidak beraturan, 'pasti ada,' batin gadis itu, dan dia kembali menyingkirkan seluruh genteng yang menutupi bagian tengah itu. Hingga dia berhenti melakukan hal itu, saat matanya melihat sebuah bambu berwarna hitam.
__ADS_1
Mika berjongkok. Kedua tangannya menghapus jejak-jejak air mata yang masih membanjiri pipinya, hingga membuat pipi hitam manisnya itu, dipenuhi oleh warna hitam.
Setelah melakukan itu, Mika bergerak meraih bambu yang terlihat masih utuh. Tetapi, saat Mika mencoba mengangkatnya. Tiba-tiba saja benda yang sudah menjadi bambu itu, patah, dan dari dalam bambu itu keluar uang-uang yang sudah menghitam.
Dan tepat setelah itu, Mika kembali menangis. Posisi duduk yang tadinya berjongkok, sudah terduduk sepenuhnya di atas tanah yang menghitam. Mika mendongak, dan mulut gadis itu langsung menganga mengeluarkan sebuah teriakan bisu, tanpa suara.
'ini sudah keterlaluan. Uang yang aku kumpulkan bertahun-tahun sudah hangus. Padahal— aku berniat untuk menyewa tempat tinggal dengan uang itu, tapi gara-gara orang yang-"
"Mika— kau kah itu?" Ungkapan batin Mika terhenti, saat dia mendengar suara seorang pria paruh baya memanggil namanya.
Mika bangkit dari duduknya, gadis itu langsung menghapus jejak-jejak air matanya, dan setelah itu dia memutar tubuhnya, "Maaf— jika saja bapak datang tepat waktu. Mungkin Rina dan jug—" Mendengar nama Rina, Mika langsung berlalu pergi dari dalam kebun itu, dengan amarah yang sudah menggebu.
...T.B.C...
...Nah yok, kasihan Mika yah....
...Yok 6000 Hadiah, aku update lagi. ...
...Tunjukan antusias kalian, jika penasaran dengan part selanjutnya...
...Ingat bantu SHARE juga yah...
__ADS_1
...See you next part!...