
...Update gays....
...Ingatkan jika taypo, atau salah penyebutan nama di kolom komentar yah....
...Satu lagi, jangan dag-dig-dug, untuk part ke depan udah enggak tegang, tapiππππ...
...Dah yah langsung aja stay reading!...
...****************...
Tok! Tok! Tok!
"Sayang, aku masuk sekarang yah." Setelah mengatakan itu, Kavin langsung membuka pintu, dan melangkah masuk ke dalam kamar.
Dan tepat setelah dia masuk, Kavin langsung diam mematung saat kedua mata coklatnya menangkap sosok Mika yang sudah berdiri dengan balutan celana jeans wanita, dan baju kaos berwarna kuning yang terlihat sangat cocok di tubuhnya.
Sedangkan Mika yang melihat Kavin berdiri diam di depan pintu masuk kamar yang sudah tertutup, hanya bisa melambaikan tangan dengan seutas senyum kecil di wajahnya.
Jujur, Mika baru kali ini memakai pakaian seperti ini. Padahal di desa sana, dia tidak pernah memakai celana jeans dengan baju kaos dengan bahan selembut dan senyaman ini. Palingan disana dia hanya memakai sebuah rok kain lusuh, dan baju kaos biasa. Itupun dia dapatkan dari pemberian orang-orang yang merasa kalau semua pakaian itu sudah tidak layak di kenakan.
Mika kembali melambaikan tangan seolah ingin memanggil Kavin yang hanya diam mematung, tapi orang yang dipanggil itu malah tidak bergeming sedikit pun.
Mika melihat Kavin yang sedang menatapnya dengan intens, mulai ikut memperhatikan penampilannya dari atas hingga bawah, 'tidak ada yang aneh kan?' tanya Mika dalam hati, dan dia kembali menatap ke arah Kavin yang masih belum bergeming sedikit pun.
__ADS_1
Merasa Kavin semakin menatap dirinya dengan sangat intens. Mika, mulai mengayunkan langkah mendekat ke calon suaminya, dan.....
Puk! Puk! Puk!
Mika menepuk lembut pipi Kavin, membuat sang empunya terkejut, dan...
"Kamu cantik pagi ini," spontan Kavin mengeluarkan kata-kata pujian dari dalam mulutnya.
Sedangkan Mika yang mendengar Kavin mengucapkan kata-kata pujian langsung memerah, dan menundukkan kepala,."Jangan besar kepala dulu, sayang. Tadi yang aku maksud cantik itu adalah pakaian yang kamu kenakan. Jadi, jangan baper." Mika yang baru saja terbang ke langit, seketika kembali jatuh saat mendengar penuturan Kavin.
"Tetapi tenang saja. Kau itu akan keluar bersama seorang Alfarizi Kavindra, dan aku yakin nanti akan ada banyak pasang mata yang akan menatap kita. Jadi, tetap di sebelahku, paham?" terang Kavin dengan nada songong, dan dia langsung menggenggam jemari Mika.
"Kita akan berangkat sekarang," imbuhnya dan mereka berdua langsung mengayunkan langkah keluar dari dalam kamar.
"Pagi-pagi anak Papa dan calon istrinya sudah kelihatan rapi. Kalian mau ke mana?" Suara pertama yang menyalami gendang telinga Kavin dan juga Mika setelah sampai di lantai satu adalah Rama.
Sekarang pria paruh baya itu sedang duduk di ruang santai. Dia yang tadinya membaca koran mulai bangkit dari duduknya, dan langsung mengayunkan langkah berjalan mendekat ke anak dan menantunya.
"Papa enggan ke kantor kah?" tanya Kavin setelah Rama mengentikan langkahnya tepat di depan dia dan Mika.
Berbeda dengan reaksi Mika. Gadis desa itu malah bergerak menyalami tangan Rama, dan dia juga tak lupa menciumi punggung tangan calon ayah mertuanya itu.
"Sopan sekali nak. Emang Putraku yang satu ini tidak pernah salah jika mencari calon," puji Rama sembari bergerak mengelus lembut rambut hitam Mika yang tergerai.
__ADS_1
Sedangkan Mika yang mendapatkan perlakuan manis itu, hanya mengulas seutas senyum kikuk, dan dia semakin mempererat genggaman tangannya di jemari Kavin.
Mika melakukan itu karena dia masih gugup jika berhadapan dengan ayah Kavin. Apa lagi jika ada Adena. Bisa dipastikan Mika akan bergetar ketakutan, karena jujur. Dia masih belum melupakan perlakukan Mama tiri Kavin swmalam.
"Ehhh kalian udah siap-siap saja. Mau kemana?" Baru saja Mika memikirkan Adena, dan entah kenapa wanita paruh baya itu langsung mencul.
Seketika Mika langsung bergetar, dan genggaman ditangan Kavin semakin menguat. Andai saja dia bisa bicara, Mika akan berbisik untuk secepatnya pergi diri situasi mencekam ini.
"Kalian sudah sarapan?" tanya Adena yang sudah berdiri di sebelah Rama, dan seutas senyum terukir di wajah tanpa keriputnya.
Mika yang mendengar itu mencoba tersenyum, dan dia mulai menanggalkan kepala dengan sedikit ragu-ragu. Kavin yang merasa kalau situasi ini membuat Mika ketakutan mulai mengukir seutas senyum.
"Kalau begitu, Kavin permisi dulu Pa. Kavin akan pergi bersama dengan Mika untuk melihat-lihat baju pengantin yang cocok," pamit Kavin. Dia langsung menyambar tangan Rama, menyalaminya, dan dia juga tak lupa menciumi punggung tangan ayah yang dulu sangat dia sayangi.
Rama yang melihat tingkah laku Kavin, malah dibuat melongo, "Ayok, sayang," ajak Kavin, dan Mika hanya menganggukkan kepala sembari bergerak melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan calon suaminya tadi.
Mika hendak menyalami tangan Adena yang sedari tadi wanita paruh baya itu ulurkan, tapi belum sempat dia menggenggum tangan lentik Mama mertuanya. Kavin sudah terlebih dulu menarik tangan calon istrinya, dan itu berhasil membuat Adena melongo tidak percaya.
"Kalian lama sekali. Aku dan Lio dari tadi menunggu kalian loh." Kavin menghentikan langkahnya saat melihat sosok wanita modis berdiri di ambang pintu masuk ruang santai.
"Hai calon pengantin," sapa seorang pria yang sekarang berdiri di belakang wanita modis itu dengan seutas senyum yang mengembang.
...T.B.C...
__ADS_1