Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
90. Hari Yang Ditentukan.


__ADS_3

Ibu kota Jakarta, dua hari kemudian.


Tidak terasa hari sangat cepat berlalu, hingga malam yang sudah dijanjikan Rama ke Bagas pun sudah tiba. Sekarang di kediaman keluarga Bagas, sebuah mobil berwarna putih masuk, dan sedang melaju di jalanan paving blok.


Mobil putih itu tepat berhenti di pekarangan rumah berlantai dua milik Bagas. Sedikit informasi, rumah Bagas memang tidak seluas milik Rama.


Namun, itu bukan berarti Rama lebih kaya dibandingkan Bagas. Mereka berdua sama-sama orang kaya, dan dua orang pria paruh baya itu saling mengenal karena. Almarhum istri Bagas, adalah sahabat Rama.


Dan karena hal itu juga, mereka sudah dari dulu menjalin kerja sama dalam berbisnis, dan kerja sama itu mereka lakukan sudah sangat lama. Mungkin itu terjalin saat Almarhum istri pertama Rama, atau Ibu kandung Kavin masih hidup.


Dan karena hubungan pertemanan itu juga. Kavin dan juga Zaly berteman sudah sedari kecil. Terus bagaimana mereka kenal dengan Agler?


Kavin dan Agler saling mengenal, karena mereka bertetangga. Bagaimana bisa saling mengenl? karena suatu hal.


Lama mobil itu terparkir di pekarangan rumah keluarga Zaly. Terlihat, pintu di bagian kemudi perlahan mulai terbuka, dan langsung menampilkan sosok seorang pria gagah berpakaian rapi.


Di mana jas merah maron melekat ditubuh bagian atasnya, sedangkan kemeja warna putih dia gunakan sebagai dalaman. Sementara untuk tubuh bagian bawahnya, dia balut dengan celana kain yang berwarna senada dengan jas yang dia gunakan. Jangan lupakan sepatu pantofel hitam yang terlihat sangat mengkilat, karena cahaya lampu taman yang meneranginya.

__ADS_1


Tampan, gagah, maskulin— itulah kata-kata yang cocok untuk menggambarkan betapa tampannya pria itu malam hari ini. Agler mengulas satu senyum di wajahnya, dan itu berhasil membuat wajah tampannya terlihat sangat lah nyata.


Dia melirik jam rolex yang melingkar di pergelanan tangannya, "Pasti tuan putri manja itu sudah siap," gumam Agler dengan masih mempertahankan senyum miliknya.


Setelah gumaman itu. Agler bergerak mengayunkannya langkah kakinya untuk menaiki anak tangga demi anak tangga, agar bisa sampai ke pintu utama rumah megah tersebut.


Ternyata Agler tidak perlu masuk ke dalam rumah, karena— Zaly. Wanita itu sudah berdiri dengan balutan dress warna merah darah tepat di depan pintu masuk utama rumahnya.


Dari senyum yang tersungging di wajah Zaly. Agler bisa menebak, kalau wanita itu sangat menunggu datangnya hari ini. Bahkan dari dua hari yang lalu, dia selalu saja mengganggu Agler.


Ingin Agler berkata "Bisa tidak, kamu berhenti menyebutkan nama Kavin, jika bersama denganku" tapi dia tidak bisa mengatakan itu, karena takut membuat Zaly sedih.


Karena apapun yang bersangkutan dengan Kavin, sangatlah sensitif untuk Zaly, "Hai, Nona manja," sapa Agler saat dia sudah berdiri, tepat di hadapan Zaly.


"Malam ini kau sungguh terlihat mwnawan, Nona," puji Agler, dan itu mampu membuat Zaly semakin menyunggingkan senyumnya.


"Makasih Agler, tapi aku takut penampilanku tidak akan membuat Kavin memujiku. Seperti yang engkau katakan tadi." Terdapat guratan kekhawatiran yang sangat nyata, saat Zaly berkata seperti itu, dan itu dapat Agler lihat dengan sangat-sangat jelas.

__ADS_1


"Apa aku ganti saja bajuku?" tanya Zaly, meminta saran, dan itu berhasil membuat Agler menggelengkan kepala.


"Kau sudah sangatlah cantik Zaly. Jadi, aku akan menjamin kalau kau akan merebut perhatian Kavin." Kavin berucap dengan jari telunjuk yang bergerak mengangkat kepala tertunduk Zaly, "Calon Nyonya keluarga Bagaskara, tidak boleh menunduk seperti itu."


Zaly langsung menyungging senyum saat mendengar penuturan Agler. Bagi wanita itu, Agler seorang pria yang sangat-sangat baik. Dia seorang penghibur dikala Kavin yang selalu membuat dia sakit hati.


Namun, biar begitu. Zaly sama sekali tidak punya perasaan terhadap Agler. Begitu juga dengan Agler. Wanita itu mengira, kalau Agler hanya menganggapnya seorang teman. Padahal, jika dia lihat dengan sudut pandang yang berbeda.


Seluruh perhatian, dan kasih sayang yang Agler tunjukan untuk Zaly itu sangatlah berbeda dari seorang teman. Tetapi, karena Zaly sudah sangat jatuh cinta kepada Kavin. Dia tidak terlalu melihat keberadaan, perhatian, dan rasa sayang Agler untuk dirinya.


"Ayok. Semua orang pasti sudah menunggu di sana." Agler berucap dengan tangan kanan terangkat, persisi seperti pangeran.


Zaly yang melihat itu, hanya menganggukkan kepala. Dia langsung bergerak meraih jemari besar Agler, dan menggenggamnya, "Aku sudah menunggu datangnya hari ini, Agler. Jadi, aku harap semoga berjalan dengan lancar, dan aku berharap Kavin sudah pulang dari berliburnya."


"Semoga saja, Zaly." Agler menjawab dengan nada biasa saja. Tetapi, biar pria itu terlihat santai di luar. Percayalah, kalau sekarang hatinya sedang menjerit sakit, karena dia akan menjadi saksi. Bagaimana wanita yang teramat dia cintai, akan bertunangan dengan pria lain yang dimana adalah sahabatnya sendiri.


...T.B.C...

__ADS_1


__ADS_2