Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
57. Because I'm worried about you


__ADS_3

...Update lagi, walau tak capai target😭😭😭...


...Aku sempatkan update yah, jadi dukungan kalian berupa hadiah dong xixixixixi....


...Langsung aja kita cekibot!...



...(Kavin cerita kalau itu pengalaman pertama dalam hidupnya, berjalan tanpa alas kaki. Terlebih lagi, dia menggendong seorang gadis)...


...***...


Dengungan suara monitor memenuhi mulai memenuhi ruang rawat, yang saat ini tengah bercahaya remang-remang, membuat rasa tenang menyelimuti ruangan tersebut.


Di tengah-tengah ruang rawat, terdapat sebuah brankar. Di atas brankar itu sendiri, terlihat seorang gadis tengah berbaring dengan alat pembantu pernapasan yang sudah terpasang membungkus hidung, hingga mulutnya, dan impuls yang sudah melekat di punggung tangannya.


Gadis itu adalah Mika Anaya. Napas yang beberapa jam lalu sudah melemah, sekarang sudah kembali normal. Tetapi, sudah enam jam lamanya gadis itu, belum juga sadarkan diri.


Dan membuat Kavin yang saat ini duduk menggunakan kursi roda di samping ranjang, menatap teduh wajah yang saat ini terlihat sangat-sangat damai, "Ternyata aku yang lebih dulu bangun daripada kau gadis desa," gumam Kavin sembari mengelus salah satu punggung tangan Mika, yang tidak terpasang infus.


Iya, Setelah tidak sadarkan diri hampir enam jam lamanya. Setelah tersadar Kavin, langsung meminta perawat mengantarnya ke ruang rawat Mika. Mulanya, dia ingin pergi sendiri, tapi saat dia merasakan perih di telapak kakinya. Dia menyerah, dan memutuskan meminta bantuan ke perawat.


Kavin mengelus punggung tangan yang masih terasa sangat dingin itu, dengan gerakan seringan kapas. Dan tanpa di duga, gerakannya itu mampu membuat Mika perlahan mulai sadarkan diri, dan mengerjap-ngerpakan kedua matanya.


Kavin yang melihat itu, langsung saja dipenuhi oleh rasa girang. Dia tanpa sadar mencoba untuk berdiri, "Akhhh! Kaki sialan," jeritnya dan diakhir umpatan, saat dia kembali merasakan perih di telapak kakinya.


"Aku tidak mau tahu. Setelah kau siuman. Kau harus merawat diriku, hingga sembuh," gumam Kavin dengan tersenyum, dan masih memancarkan tatapan penuh bahagia untuk Mika yang mulai tersadar.

__ADS_1


"Akhhh! Sialan," umpat Kavin saat dia memaksakan telapak kakinya menapak di atas marmer dingin ruang rawat itu.


Kavin memejamkan mata, dan pria itu langsung secepat kilat untuk mendudukkan sedikit pantatnya di sisi brankar Mika, dan mulai menolehkan kepalanya untuk melihat wajah Mika.


Deg!


Degup jantung pria itu langsung serasa berhenti, saat dia melihat Mika membuka kedua mata. Tetapi, yang Kavin liat kedua mata itu sekarang tengah memancarkan kekosongan.


"Gadis desa," panggil Kavin, tapi nihil. Mika tidak bergeming, dan masih memancarkan tatapan kosong miliknya, untuk melihat ke langit-langit ruangan.


"Gadis des-" ucapan Kavin terhenti saat pancaran mata Mika mulai terlihat sendu, dan kelopak matanya mulai digenangi oleh air, yang siap tumpah kapan saja.


"Gadis desa, kau kenapa?" tanya Kavin, tapi wanita itu masih saja tak bergeming, bahkan tidak menoleh sedikitpun untuk melihat Kavin.


Malahan Mika sekarang bergerak membuka alat bantu pernapasannya, membuat Kavin menaikkan satu alisnya, dan pria itu masih memperhatikan gerakan Mika selanjutnya. Alat bantu pernapasan sudah Mika buka, dan setelahnya dia mulai bergerak untuk melepas infus, yang terpasang di salah satu punggung tangannya.


Dan itu Mika lakukan, dengan masih menatap kosong ke langit-langit kamar. Kavin yang melihat gerakan itu, langsung membulatkan mata terkejut, dan dengan cepat dia mencekal pergelangan tangan Mika yang hampir mencabut infus miliknya.


"Jangan bilang kau mau bunuh diri?" tanya Kavin dengan nada yang perlahan melemah, dan Mika menjawab pertanyaan itu dengan anggukkan kepala.


Kavin langsung menatap tajam gadis yang sekarang berekspresi pasrah itu. Tangan yang tadinya mencekal lengan Mika, sekarang beralih membingkai wajah pucat milik gadis itu, yang saat ini masih berbaring, "Aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal itu. Aku sudah berjuang keras membawamu hingga sampai ke sini, dan aku...." Kavin menjeda ucapannya, dan seketika pandangannya mengabur.


"Kau tanpa memikirkan perjuanganku, ingin mengakhiri hidupmu sendiri?" Kavin bertanya dengan tatapan yang saat ini memancarkan ketidak percayaan. Sedangkan Mika, saat ini dia malah semakin menjatuhkan air matanya, dan perlahan dia juga mau menarik kedua sudut bibirnya.


Mika mulai menggerakkan mulut, untuk berbicara, karena sekarang kedua tangannya serasa lemah hanya untuk melakukan isyrat tangan.


'Terima kasih, dan selamat tinggal,'

__ADS_1


Seperti itulah arti gerakan mulut Mika, tapi Kavin tidak dapat memahami itu. Tetapi, degup jantung pria itu mulai berubah cepat, saat Mika perlahan memejamkan matanya.


Kavin mencoba menurunkan pandangannya, "Tidak— Mika, kau." Ucapan Kavin tidak menentu. Pria itu langsung terserang panik saat infus di tangan Mika sudah tercabut, dan mulai mengeluarkan banyak darah.


Kavin menepuk pipi Mika, yang semakin memucat. Dia mulai bergerak mengangkat tubuh Mika, memeluknya, "Tidak jangan tinggalkan aku. Kau harus bertanggung jawab atas luka di kakiku ini. Jadi, kau tidak perlu pergi, karena aku tidak mau kehilanganmu. Aku mau kau ada di sisiku, mengiringi kepulanganku, dan menyambut diriku saat kembali ke sini lagi, Mika. Woi Mika!" Kavin berucap panjang lebar, tapi Mika yang sudah tertidur pulas di pelukannya itu, tidak bergeming.


"Mika..." panggil Kavin dengan mulai menggoyangkan punggung Mika yang masih dia peluk, tapi gadis yang dipanggil itu, malah tak bergeming, "Mika...." Kavin mulai menaikkan nada suaranya, tapi tetap saja dia tidak mendapatkan jawabannya, dan....


***


"Mika!" Kavin bangun dari tidurnya dengan meneriaki nama Mika, diikuti napas yang sudah memburu, dan wajah yang sudah dipenuhi oleh keringat dingin.


Perawat yang mendengar teriakan Kavin, langsung masuk ke dalam ruang rawat, "Ada apa Tuan?" tanya panik perawat itu. Kavin menoleh ke arah pintu masuk, menyungging senyum seolah merasa lucu dengan dirinya sendiri, "Tidak apa-apa sus," jawab Kavin, dan pria itu langsung terkekeh.


"Apa gadis yang aku bawa tadi sudah baik-baik saja?" imbuhnya bertanya, dan perawat wanita itu langsung menganggukkan kepala.


"Gadis itu sedang ada di ruang rawat, dan keadaannya sudah lebih baik dari sebelumnya," jawab perawat itu, membuat Kavin semakin terkekeh merasa lucu.


Pria itu, langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, 'tentu saja dia akan baik-baik saja brengsek,' batin Kavin dengan masih menertawakan dirinya sendiri.


Pria itu bernapas lega, karena yang dialaminya tadi, hanyalah mimpi, dan itu tidak akan menjadi kenyataan. Karena, Kavin tidak akan pernah bisa mengatakan kata-kata menggelinjang seperti di alam mimpi tadi.


Dia bukannya tidak berani, tapi Kavin hanya takut Mika akan besar kepala jika dia mengatakan itu, "Syukurlah itu hanya mimpi, dan jika itu nyata. Aku pasti akan malu sendiri, telah mengatakan kata-kata yang menggelikan itu."


...T.B.C...


...Bingung mau ngomong apa....

__ADS_1


...Yang jelas, Bagaimana perasaan kalian setelah membaca part ini?...


...see you next part!...


__ADS_2