
...Karena lagi rehat renovasi kamar. aku update lagi nih untuk kalian cus banyakin hadiahnya dong, and bantu share please....
...Langsung aja yok, stay reading!...
...***...
"Gadis desa," panggil Kavin yang saat ini sedang tidur terlentang tanpa seutas benang yang menutupi tubuh bagian atasnya.
Sementara Mika hanya diam. gadis itu sekarang duduk di sisi ranjang dengan masih menggunakan mukenah, dan tangannya juga sekarang sedang bergerak menyeka tubuh Kavin.
Iya, Mika baru saja selesai menunaikan ibadah shalat magrib, dan setelah itu. Kavin memanggilnya dengan suara yang menggelegar. Mika sebenarnya tidak mau menghampiri pria itu, karena masih kesal dengan kejadian sore tadi.
Dia sebenarnya berniat menjauhkan Kavin, tapi pria itu seolah tidak bisa memberikan dirinya menjauh barang sesaat. Dan di sinilah dia sekarang. Menyeka tubuh Kavin dengan air hangat, di dalam kamar Kavin. yang ada di lantai satu motel.
"Kau masih marah soal itu?" tanya Kavin, tapi Mika masih tak geming. Dia masih saja fokus mengelap tubuh bagian atas Kavin, dengan jantung yang berdegup sangat cepat.
"jangan mendiamkan aku seperti ini, gadis desa," ujar Kavin dengan nada suara tidak sukanya. Kavin tahu, setelah dia mengeluarkan nada seperti ini. Mika pasti akan memperhatikan dirinya.
Namun, apa yang Kavin pikirkan ternyata tidak sesuai dengan yang dilakukan Mika. Malahan gadis ayu itu, masih saja mengacuhkan pria yang saat ini berekspresi sok ngambek, "Jadi kau beneran marah?"
Mika masih tidak menangapi Kavin, dan itu berhasil membuat Kavin bangkit dari berbaringnya. Biarpun begitu, Mika masih tetap menyeka tubuh Kavin yang sudah duduk.
"Kenapa kau marah seperti itu? Bukankah yang aku katakan sore tadi memang terjadi?" Mika menghentikan gerakannya mengelap tubuh Kavin, dan dia malah bergerak menundukkan kepala untuk menyembunyikan rona merah yang saat ini merkah di pipinya.
"Atau kau memang sudah melupakan kejadian di danau, saat kita pergi ngerampek wak- akhhh! Sakit, bodoh!" Perkataan Kavin seketika berhenti, dan berubah menjadi umpatan saat Mika mencubit perut kerasnya.
Mika mengenakkan kepalanya, tatapan matanya tajam mengarah ke Kavin, dan jangan lupakan hidungnya yang sekarang kembang-kempis, "Aku punya ponsel, dan jika kau nekat. Aku akan menelepon polisi, dan- sialan! ini sakit sumpah, lepasin. Mika lepasin enggak, akhhh!" Kavin mulai meracau tidak jelas saat cubitan tangan Mika kembali dia rasakan di perut kerasnya.
Mika yang melihat raut wajah Kavin yang sudah sangat-sangat kesakitan. melepas cubitannya, dan dia langsung membuat isyrat tangan, "Bukankah itu sudah berlalu? Lagian Kavin yang mencium bibirku duluan, dan Kavin juga sudah janji tidak akan mengungkitnya."
Kavin yang masih merasakan perih di area perutnya hanya meringis, dengan satu sudut bibir terangkat, dan satu mata sedikit tertutup, "Aku lupa. Lagian aku hanya mengingatkan saja kalau bib- enggak maksudku peace. Kita berdamai. Aku janji tidak akan mengungkit kejadian di danau waktu itu." Kavin berucap dengan jari telunjuk dan jari tengah berdiri tegak.
Mika yang mendengar penuturan Kavin, langsung menghela napas, "Tapi lihatlah. gara-gara kau perutku merah, dan terasa sangat perih, gadis desa."
Mika tidak menangapi perkataan Kavin. malahan gadis ayu itu bergerak bangkit dari duduknya, dan membuat Kavin menaikkan satu alisnya, "Kau mau ke mana?" tanya Kavin dengan masih menggosok-gosok perutnya yang ada sedikit warna merah.
__ADS_1
Mika yang mendengar itu, langsung melakukan isyrat tangan, "Aku mau memasak. Jadi, Kavin urus diri sendiri saja, dan aku pergi dulu."
"Tapi kau belum memakaikan aku baju," ujar Kavin saat setelah berhasil mengerti isyrat tangan Mika.
Mika yang sudah sampai di ambang pintu bergerak memutar tubuhnya, dan langsung membuat isyrat tangan, "Yang sakit kaki Kavin, dan bukan tangan Kavin. Jadi, pakai baju sendiri, dan jangan menggangguku lagi." Mika tunggang langgang keluar dari dalam kamar.
Kavin yang melihat raut wajah kesal Mika langsung turun dari tempat tidur, "Kau selalu saja membuatku gemes, Mika," gumam Kavin yang saat ini berjalan dengan normal ke arah lemari kecil yang sudah tersedia di dalam kamar motel itu.
***
Malam semakin larut, walau begitu Kavin dan juga Mika masih setia terjaga. Setelah makan malam beberapa jam lalu, sekarang mereka berdua berada di dalam kamar Kavin.
Dengan Mika yang masih setia duduk di atas ranjang. sekarang gadis itu sedang fokus menulis sesuatu di atas kertas, dan Kavin yang tiba-tiba menjelma sebagai guru saat ini menatap tajam ke arah Mika.
"Tulis dengan rapi, dan jangan sampai garis angkanya bengkok. Ingat apa yang pernah aku ajarkan di rumah sakit waktu itu," ceriwis Kavin, membuat Mika semakin fokus.
Mika bergerak menegakkan tubuhnya yang tadi sedikit duduk menunduk, "Sudah?" tanya Kavin, dan Mika mengangguk sebagai jawaban.
"Berikan kepadaku," minta Kavin, dan Mika langsung menyodorkan kertas jawabannya itu tepat ke depan Kavin.
4 + 3 \= 10
1 + 1 \= 2
2 - 1 \= 0
1 - 1 \= 0**
Seketika Kavin membulatkan mata terkejut, karena pria itu tidak percaya kalau Mika sebodoh ini, "Hai— kenapa jawabanmu seperti ini, bodoh?" tanya Kavin tanpa memfilter perkataanya.
Namun, Mika yang mendengar itu hanya menggaruk kepala bagian belakangnya. Jujur saja, padahal selama di rumah sakit, Mika hanya belajar menulis nama, dan belum pernah diajari penjumlahan dan pengurangan seperti itu.
"Sejak kapan tiga ditambah lima jawabannya dua belas? Terus sejak kapan empat ditambah tiga jawabannya sepuluh?" geram Kavin dengan kedua mata menatap tak percaya ke arah Mika yang saat ini melongo.
Mika bergerak menepuk pelan pipi Kavin, membuat pria itu melihat ke arahnya, "Aku menjawabnya asal, karena Kavin belum mengajarkan itu padaku."
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Kavin dengan satu alis terangkat. Mika yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala, "emang yang aku ajarkan kepadamu tiga hari terakhir ini apa?"
Mika yang mendengar itu, bergerak mengambil kertas di tangan Kavin, dan dia kembali menulis di kertas itu. Lima menit telah berlalu, dan Mika menegakkan tubuhnya kembali.
"Sudah?" tanya Kavin, dan Mika langsung menganggukkan kepala, "coba perlihatkan padaku?"
Dengan rasa bangga, dan senyum merekah. Mika membalik kertas, dan langsung menunjukkan hasil tulisan yang berjumlah tiga kata, tapi membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menulis itu.
...**K A V I N...
...C I N T A...
...M I K A**...
"A—apa benar aku mengajarimu menulis kata-kata itu?" tanya Kavin yang sekarang masih menatap tulisan di atas kertas itu, dengan tatapan tidak percaya.
Mika yang mendengar itu, menganggukkan kepala, "Apa kau tahu arti kata-kata itu?"
Mika lagi-lagi menganggukkan kepala. Dia bergerak melepas pegangan tangannya di ujung kertas, dan gadis ayu itu mulai melakukan isyrat tangan, "Yang di atas itu nama Kavin. Kavin sampai bela-belain berjaga sepanjang malam untuk mengajariku menulis nama Kavin, hingga benar."
"Terus yang di tengah-tengah itu apa?" tanya Kavin setelah mengetahui arti Isyarat tangan Mika yang pertama.
Mika yang mendengar pertanyaan itu, menggelengkan kepal, dan kembali melakukan isyrat, "Kavin waktu itu tidak menjelaskannya kepadaku. Tetapi, jika tulisan dibawah itu, tulisan nama aku, Mika."
"Baguslah— kau jangan mengerti arti tulisan ditengah-tengah itu. Sekarang kau pergi istirahat, karena tiba-tiba otakku tidak bisa mencerna apa yang terjadi malam ini."
...T.B.C...
...Nah apa ini ayok....
...Double update, jadi kudu kasih hadiah yang banyak yah!...
...Yuk bantu share cerita ini juga, dan jangan lupa untuk ajak teman kalian baca cerita ini yah. Terima kasih, dan sampai jumpa di next part...
...Ada kata buat Kavin? atau Mika?...
__ADS_1