
...(Ceritanya ini si Kavin sedang duduk di pematang sawah. Dia ini lagi liatin Mika yang dari jam satu tadi hingga jam setengah tiga tidak berhenti untuk mukul batang padi ke alat papan perampek, untuk memisahkan bulir padi. Kavin aja yang baru melakukan itu lengan serasa copot)...
...***...
Matahari siang ini entah kenapa serasa sangat terik, membuat kawasan persawahan itu terasa sangat panas, dan karena itu Kavin saat ini duduk di bawah bayang-bayang yang ada di pematang sawah. Padahal ini yah, Kavin itu sudah pakai topi khas petani, dan entah kenapa kulit pria itu sangat sensitif dengan paparan radiasi cahaya matahari.
Beda halnya dengan Mika. Di pandangan Kavin, dari jam satu hingga setengah tiga. Tenaga gadis desa itu tidak ada habisnya. Berbeda dengan dirinya. Baru satu jam saja, dia langsung istirahat.
Alasan yang dipakai Kavin adalah lengannya pegel. Tetapi Mika tidak mempercayai itu, karena mana mungkin pria berotot yang selalu angkat alat berat langsung pegal-pegal mukul batang padi saja.
Iya, benar dugaan Mika. Sebenarnya Kavin tidak merasa kelelahan sama sama sekali. Itu hanya Albi saja, agar dia bisa beristirahat, dan terhindar dari paparan mata hari yang membuat seluruh kulitnya memerah.
Namun, ada satu lagi yang membuat Kavin ingin selalu istirahat iyalah melihat wajah manis Mika, yang bercucuran keringat. Entah kenapa, dia sangat suka melihat itu. Soalnya Mika jika sedang berkerja, mempunyai daya tarik tersendiri walau wajah hitam manisnya, dipenuhi peluh keringat.
Kavin menolehkan kepala ke kanan dan kiri, seolah melihat situasi. Pria itu tersenyum kala dia tidak melihat siapapun di sekalilingnya. Setelah memastikan tempat itu aman, Kavin kembali melihat ke arah Mika.
"Cantik," pujinya dengan nada berbisik agar kata-kata pujiannya untuk Mika itu tidak terdengar siapapun.
Kavin kembali mengedarkan pandangan ke penjuru sawah, dan saat dia masih melihat keadaan sawah yang sepi. Kavin mengembuskan napas lega.
Kavin kembali memfokuskan matanya untuk melihat ke arah Mika, tapi bedanya sekarang tangannya sudah memegang ponsel, "Manis," puji Kavin kembali sembari bergerak mengambil gambar Mika yang sedang memukul-mukul batang padi ke alat papan perampek.
"Dia juga imut," pujinya lagi dan dia masih melakukan hal yang sama, yaitu mengambil gambar Mika.
"Nyebelin, dan aku menyukainya," ujarnya untuk terakhir kali, dan dia tidak menyadari kata-kata terkahir yang dia uxpakan.
Namun, setelah sadar dengan apa yang dia katakan. Kavin secepat kilat menoleh ke kanan, dan kiri untuk memastikan kalau tidak ada siapapun yang mendengarnya, "Syukurlah— untung aja sepi, dan tidak ada yang denger. Tadi hampir saja, gadis desa itu kepedean karena aku puji." Kavin mengembuskan napas lega.
Padahal, apa salahnya coba dia muji Mika? wong biarpun orang lain dengar, mereka pasti akan bodoh amat. Tetapi, karena Kavin itu gengsian, dia harus memuji Mika sembunyi-sembunyi.
"Satu lagi, yang aku katakan terakhir itu. Sebenernya itu tidak lah benar. Masak iya aku suka sama gadis desa? tapi mungkin aku sedikit suka sama dia. Tetapi, cuma sedikit, dan jangan kalian berpikir itu akan jadi cinta. Karena itu tidaklah mungkin," gumam Kavin memberitahukan kepada sekelilingnya kalau apa yang dia katakan dengan tidak sengaja itu, tidak lah benar.
"Gadis desa!" teriak Kavin dengan kedua tangan berada di sudut bibirnya.
__ADS_1
Mika yang mendengar itu, langsung menegakkan kepala, dan melihat ke arah Kavin, "Aku haus! Dan cepat, ambilkan aku air. Ingat sesuai perjanjian kita tadi. Aku sudah memberikanmu mangga, dan kau sudah bersedia melayaniku!"
Mika yang mendengar teriakan itu, hanya memicingkan mata. Sebal? tentu saja. Bagaimana coba, padahal ini yah tadi saat makan mangga. Kavin tidak mengatakan apapun, dan tiba-tuba saja dia membuat perjanjian jika Mika memakan mangganya, dia harus bersedia menjadi pelayan Kavin.
Dan Mika yang sudah terlanjur memakan mangga itu, dengan penuh keterpaksaan, dan hati dongkol menerima perjanjian yang tidak benar itu. Jika saja pria di depannya itu bukan tamunya, mungkin dia akan mencakar-cakar wajah tampan itu.
Sementara Kavin yang melihat ekspres terpaksai Mika langsung saja tersenyum, "Entah kenapa aku suka ekspresi itu," gumam Kavin tanpa sadar dengan hati yang bahagia.
***
Kuta beach, 14.30am
"Rupanya kau sudah tahu banyak tentang gadis itu ya," celetuk Zaly yang sedari tadi mendengar cerita tentang Mika dari Agler.
Iya, saat ini mereka sedang dalam perjalanan kembali ke motel setelah tadi makan di warung flora, dan sedikit berjalan-jalan mengelilingi Kuta. Sedari tadi, Zaly menanyakan tentang Mika, dan itu sangatlah aneh menurut Agler.
Padahal, Zaly ini tidak pernah tertarik dengan kehidupan orang lain. Tetapi, entah kenapa dia begitu ingin tahu banyak tentang Mika, dan sedari tadi wanita itu membombardir Agler dengan deretan pertanyaan seputar gadis itu.
"Aku tidak tahu banyak. Tetapi aku tahu kalau Mika itu gadis yang kuat, tidak mudah menyerah, dan dia ciri-ciri gadis pekerja keras," jawab Agler membuat Zaly menganggukan kepala.
.
"Yang kamu katakan itu tidaklah benar. Pemberitaan Mika jauh lebih berat daripada adikku. Coba kamu bayangkan, wanita seperti Mika hidup sendiri, tanpa ada seseorang yang merawatnya. Itupun dia alami dari kecil," sanggah Agler, dan Zaly hanya menganggukan kepala.
"Apa kau menyukainya?" celetuk Zaly, dan Agler langsung menjawab dengan gelengan kepala.
"Aku tidak menyukainya, tapi aku perihatin kepada kondisinya," jawab Agler jujur karena memang dia tidak punya perasaan apapun kepada Zaly, 'malahan aku menyukaimu Zaly,' imbuh Agler dalam hati dengan seutas senyum sendu.
***
Kuta barat, kawasan persawahan, 16.25pm
"Gadis desa...." Mika menoleh lemah ke sisi kananya dengan masih bergerak memukul-mukul batang padi ke alat perampek, "boleh yah," imbuh Kavin dengan raut wajah memelas.
Mika bergerak melempari batang padi yang sudah tidak ada lagi butiran padinya. Mika bergerak memutar tubuhnya agar berhadapan dengan Kavin, dan setelahnya dia langsung melakukan isyrat tangan. Lelah memang, tapi hanya itu yang bisa dia gunakan untuk berkomunikasi.
__ADS_1
"Anda jangan meminta yang aneh-aneh Tuan."
Melihat isyrat tangan yang dilakukan oleh Mika. Kavin lansung melempar batanga-batang padi yang sudah tidak berisi itu, menjadi ke sebelahnya. Di mana, di sana juga ada sekumpulan batang-batang padi, yang seringkali disebut oleh orang dengan nama jerami.
"Aku tidak meminta yang aneh-aneh gadis desa. Aku hanya minta kau membuat singkong rebus lagi," ujar Kavin dengan nada bicara khasnya, membuat Mika sudah menghela napas kesekian kalinya.
Iya, sedari pulang shalat ashar. Kavin merengek dibuatkan singkong rebus, dan dia juga tidak tahu kenapa dirinya ingin sekali memakan makanan tradisional itu.
Mika kembali melakukan isyrat tangan, "Masalahnya— kita tidak memliki singkong Tuan. Apa Tuan masih belum paham juga?"
"Jika kita tidak punya, yah kita minta aja. Lagian di sini ada banyak pohon singkong. Jadi, kau tidak perlu khawatir, urusan itu serahkan padaku." kekeh Kavin, dan dengan terpaksa Mika kembali melakukan isyrat tangan.
"Lalu— kita apakan kangkung itu?"
"Kita makan besok saja," ujar Kavin, membuat Mika menghela napas, "jadi, kau mau kan gadis desa?" imbuh Kavin bertanya, dan Mika hanya bisa menganggukan kepala.
Kavin yang melihat anggukan kepala itu, langsung girang, dan tanpa sadar dia mengecup kilat kening Mika, "Tunggu di sini. Aku akan membawakan banyak singkok untuk kau rebus." Kavin langsung berlari, dan dia masih belum menyadari kalau Mika sekarang.sedang diam mematung, dan jantungnya berdetak cepat, karena kecupan Kavin yang ada di keningnya.
...T.B.C...
...Gimana Part ini?...
...Jangan lupa kasih hadiah ❤️ dan juga ☕ jika perlu kasih💺biar aku semangat lanjutin cerita ini....
...Makasih yang udah berkenan mampir, dan maaf jika banyak typo, kesalahan penempatan tanda baca, dan juga lainnya, karena saya masih pemula yang sedang menempa diri menjadi lebih baik....
...Ada kata buat:...
...Kavin?...
...or...
...Mika?...
...See you next part...
__ADS_1