
...Uwu udah 2000 hadiah aja...
...Makasih yah yang udah kasih hadiahnya, yok 2100 hadiah aku update hal yang menegangkan entar malam....
...Bisalah yah 2100 hadiah....
...(Entah kenapa aku mulai ragu dengan keinginanku untuk pergi. Entah kenapa aku juga ingin tetap berada di sini, bersamanya. Tetapi, itu hanyalah sebuah keinginan yang tak bisa aku utarakan, karena rasa gengsi yang mengesalkan)....
...***...
waktu terus berjalan, hingga tak terasa mobil yang sekarang Kavin, Mika, dan teman-teman tumpangi sudah hampir sampai ke tempat tujuan. Yaitu, Kuta beach Mandalika, di mana. keenam orang itu berasal.
Sedari tadi suasana di atas mobil pick up, tidak pernah sepi. Terlebih lagi jika Amak Kasim yang sudah mengeluarkan suara untuk mengejek-ngejek Kavin yang saat ini tiduran, dengan kepala berada di pangkuan Mika.
"Jadi— kalian berdua sudah pacaran?" celetuk Amak Kasim membuat Kavin yang saat ini menutup wajahnya, dengan topi petani milik Mika. Mulai bergerak mengangkatnya.
"Enggak," jawab singkat Kavin, dan Mika yang mendengar itu menganggukan kepala seolah membenarkan ucapan Kavin tadi, 'tau juga,' lanjutnya dalam hati.
"Gadis desa— apa kau menyukaiku?" tanya Kavin, dan dengan cepat Mika menggelengkan kepala, untuk menjawab pertanyaan Kavin tadi, "tuh kalian lihat sendiri kan dia tidak menyukaiku. Tetapi Mika, apa sekarang jantungmu berdetak cepat?" tanya Kavin, dan Mika yang mendengar pertanyaan itu menganggukkan kepala.
"Kau sendiri? apa kau menyukai Mika?" celetuk Amak Udin, Kavin hanya menjawab dengan mengedikkan bahu acuh, seolah dia bingung mau menjawab apa.
Di satu sisi hatinya ingin menjawab iya. Tetapi, jawaban itu tertahan oleh sebuah rasa yang bernama ego. alhasil dia hanya bisa mengedikkan bahu, "Loh kok jawabannya gitu sih Vin," celetuk Inak Hayati, membuat Kavin kembali mengangkat bahunya.
"Gadis desa itu aja enggak teguh pada pendiriannya. Tadi pas Amak Kasim tanya, kau suka enggak sama Kabin. Dia geleng-geleng, ehh pas di tanya jantungnya berdegup cepat, dia ngangguk," jelas Kavin panjang lebar, dan pria itu hendak kembali menutup wajahnya menggunakan topi petani. Tetapi, gerakannya terhenti saat dia melihat kening Mika di penuhi oleh peluh keringat.
Kavin bergerak memasangkan topi kerucut itu, ke atas kepala Mika, "Karena aku baik, kau pakai saja. Tetapi, sebagai gantinya. Kau elus rambutku," ujar Kavin dengan nada songong, tapi percayalah kalau batin pria itu sekarang bersorak kegirangan.
Mendengar itu, Mika hanya melongo terdiam. Otak kecilnya serasa lama hanya untuk mencerna ucapan Kavin tadi, "Kau kenapa bengong gadis desa? Jangan bilang kau ingin menolak, karena itu tidak akan bisa," ujar Kavin, karena melihat Mika masih terdiam. Tetapi, saat Mika mendengar perkataan Kavin tadi. Dia langsung mengangkat satu alisnya, seolah bertanya kenapa.
__ADS_1
"Ya karena kau sudah memakai topi yang aku berikan padamu. Jadi, itu bisa di artikan kita sudah membuat perjanjian, yang tidak akan bisa diingkari," imbuh Kavin seolah sudah mengerti, maksud dari satu alis Mika yang terangkat.
Mendengar penuturan Kavin, Mika hanya menganggukkan kepala seolah percaya. Malahan, dia mulai menggerakkan tangannya untuk mengelus-elus lembut rambut Kavin, membuat pria itu memejamkan mata.
Sementara keempat orang tua yang melihat itu, hanya bisa menggelengkan kepala. Di satu sisi, mereka merasa kasihan karena Mika begitu mudah dibodohi, dan di sisi lain. Mereka ikut senang, saat melihat Kavin menarik kedua sudut bibirnya, untuk membuat seutas senyum kecil.
***
Beberapa menit telah berlalu, dan mobil pick up yang tadinya melaju itu. Sekarang sudah berhenti di tepi jalan raya. Tepatnya di sebuah gapura yang menunjukkan, kalau tempat mobil itu berhenti adalah kawasan wisata Kuta Mandalika.
Mika yang sedari tadi mengelus-elus rambut Kavin, mulai bergerak untuk menepuk pelan pipi pria itu, dan itu membuat dia langsung terbangun dari tidurnya, "Apa sudah sampai?" gumam Kavin dengan mulut menguap, dan bergerak bangun dari tidurannya. Jujur saja, kalau sekarang pria itu masih sangat mengantuk.
Mika yang mendengar pertanyaan Kavin., hendak mengeluarkan isyrat tangan, "Tunggu dulu! Mataku masih belum bisa melihat gerakan tanganmu dengan jelas," protes Kavin, membuat gerakan tangan Mika menggantung di udara.
"Kavin, cepat turun. Kau kan tidak pulang ke pemukiman kami," tutur Amak Kasim, membuat tatapan mata Kavin fokus ke arahnya.
"Maksud Amak?" tanya Kavin masih belum mengerti, apa maksud pria tua itu.
"Iya, lalu?" jawab Kavin singkat, dan pria itu kembali bertanya.
"Nah— biar kau tidak berjalan cukup jauh. Tadi amak bilang pada sopirnya untuk menurunkan kau di sini. Lagian, sekarang kau terlihat sangat mengantuk, dan kayaknya harus cepat-cepat beristirahat," jelas amak Kasim dengan logat sasak yang begitu kentara di setiap kalimatnya.
"Tapi— gadis desa ini gimana?" tanya Kavin sembari menunjuk, dan sedikit melirik ke arah Mika.
"Dia akan ikut bersama kita, dan sekalian dia akan mengambil bagian beras miliknya," jawab amak Kasim.
"Kalau begitu aku juga ikut. Nanti jika gadis desa ini kenapa-napa gimana?" ujar Kavin dan dia tidak lupa terus menunjuk ke arah Mika.
Mika yang melihat itu, bergerak menepuk pelan pipi Kavin. entah, dia begitu sangat suka melakukan itu. Kavin yang mendapatkan tepukan lembut, langsung menoleh ke arah Mika, "Kenapa? Apa kau kira aku khawatir tentang keselamatanmu? jika kau mengira seperti itu, buanglah jauh-jauh, karena aku tidak pernah berpikir seperti itu. Aku hanya takut nanti, kau kenapa-napa di jalan pulang," ceriwis Kavin panjang lebar, membuat Mika jengah mendengar itu semua.
Mika mulai melakukan isyrat tangan, "Anda jangan keras kepala Tuan, dan turunlah cepat! Apa anda tidak melihat, kalau mereka semua terlihat sangat kelelahan?"
__ADS_1
Setelah melihat isyrat tangan Mika. Kavin melihat wajah-wajah orang tua yang saat ini memang merasa sangat lelah.
"Tap-" Mika menutup mulut ceriwis Kavin demgan telapak tangan kanannya. Gadis desa itu, langsung menggerakkan kepala seolah meminta Kavin untuk turun.
Seketika Kavin terdiam. Kepalanya langsung mengangguk, seolah mengiyakan permintaan Mika. Sementara Mika, gadis itu langsung menarik kembali tangannya, dan dia mulai bergerak membuat isyrat tangan, "Turunlah."
Kavin yang mengerti akan maksud isyrat tangan itu, dengan berat hati bangkit dari duduknya. Saat ini mata merah yang mengandung rasa kantuk itu, sangat fokus melihat Mika.
Entah kenapa, keinginan untuk turun dari atas mobil pick up ini, sangatlah berat. Padahal tiga hari yang lalu, dia begitu dibujuk untuk naik ke atas sini, tapi sekarang malah sebaliknya, "Gadis desa...." panggil Kavin yang sudah berada di pembatas mobil pick up bagian kanan.
Mika yang di panggil, hanya bisa menyungging senyum, "Apa kau yakin?" tanya Kavin, dan Mika menganggukan kepalanya, dan itu membuat Kavin semakin berat untuk turun dari atas mobil pick up ini.
"Biarkan aku ikut dengan kau. aku tahu, kau pasti akan membutuhkanku untuk mengangkat alat itu," ujar Kavin saat melihat alat perampek milik Mika.
"Tidak perlu. lagian itu milk Amak. Jadi nanti biar amak dan Inak yang bawa," jawab Amak Kasim, dan membuat harapan Kavin agar tetap ada di atas mobil ini pupus.
Kavin bergerak meloncat turun dari atas mobil pick up, dan mendarat tepat di trotoar jalan. Setelah mendarat dengan sempurna, Kavin bergerak cepat memutar tubuhnya menghadap ke mobil pick up, yang perlahan mulai kembali melaju.
"Gadis desa!" teriak Kavin, membuat Mika menolehkan kepala ke arahnya, "ini bukan perpisahan! Jadi, aku akan menunggu traktiran yang sudah kau janjikan itu. besok temui aku di motel, karena aku masih dua hari lagi di pantai Kuta ini!" teriak Kavin, tapi Mika hanya menaikkan satu alisnya karena dia tidak begitu mendengar teriakan Kavin.
...T.B.C...
...Gimana part ini?...
...2100 hadiah, aku akan update lagi untuk kalian....
...Jadi ayok kirim mawar atau enggak kopi untuk Kavin dan Mika...
...Jangan lupa bantu SHARE YAH!...
...see you next part!...
__ADS_1