
...(Hari kepulangan yang aku tunggu, but i feel sad. What actually happened to me? shouldn't I be happy, but why am I feeling sad? Is it because I'm going to break up with him soon? yes she is)....
...Maaf update tak sesuai jadwal, but ada yang cariin cerita ini?...
...kuy langsung aja baca, tapi setelahnya komen yah....
...***...
Adzan Dzuhur sudah sedari tadi berkumandang, malahan semua orang yang ada di Kuta barat, juga sudah selesai melakukan ibadah wajibnya sebagai umat muslim.
Begitu juga dengan Amak Kasim dan kawan-kawan. Sekarang mereka berenam sudah tidak ada lagi di kawasan perumahan. Melainkan mereka berenam sudah berada di pinggir jalan, tempat turun mereka tiga hari yang lalu.
Raut bahagia terlihat sangat jelas di wajah mereka, karena berhasil menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Iya, pekerjaan ngerampek yang mereka lakukan telah usia seperti perkiraan Amak Kasim.
Namun, mereka tidak menyangka pekerjaan yang mereka lakukan berakhir begitu sangat cepatnya. Sekarang di sinilah mereka berada, di pinggir jalan tepat di sebelah gapura selamat datang.
puk! puk! puk!
Mika menepuk pelan pipi Kavin yang sedari tadi hanya melamun, membuat sang empunya tersadar, dan langsung mendelik, "Kenapa kau suka sekali menepuk pipiku sekarang hah?" tanya Kavin dengan nada sinis dan tatapan mendelik.
__ADS_1
Mika yang mendengar itu, langsung melakukan isyrat tangan, "Tuan lupa dengan perjanjian kita waktu di atas jembatan itu? Coba ingat-ingat kembali Tuan."
Kavin memutar-mutar ingatan-ingatan ke kejadian sore di atas jembatan, dan setelah pria itu mengingatnya. Dia langsung mengeluarkan decakan, "Kau menyebalkan," ujar Kavin pada akhirnya membuat Mika terkekeh.
Entah kenapa dari kemarin sikap Kavin begitu manja pada dirinya. Mika, juga sudah beberapa kali menggeleng-gelengkan kepala karena melihat sikap Kavin seperti itu. Tetapi, biarpun begitu. Entah mengapa, Mika merasa senang, dan jantungnya selalu saja berdetak cepat.
"Gadis desa," panggil Kavin sembari menoleh ke arah Mika.
Mika yang mendengar panggilan itu, langsung menaikkan satu alisnya seolah bertanya apa, "Aku mengantuk, lelah, letih, capek, pokoknya komplit," rengek Kavin dengan raut wajah menyedihkan membuat Mika terkekeh.
"Kau malah tertawa. Emang kau tidak pernah bisa berterima kasih," imbuh Kavin dengan wajah dibuat sebal, dan pria itu kembali menyandarkan kepalanya di tiang gapura.
"Tau ah," jawab singkat Kavin, dan pria bergerak menyilangkan kedua tangannya di dada, dan dia mulai memejamkan matanya, 'jika itu tidak aku lakukan, pasti tidak ada waktu untuk kita mengobrol seperti itu,' lanjut Kavin hanya bisa di dalam hati.
'kenapa tiang gapura ini sangat keras,' gerutu Kavin dalam hati, karena kepalanya begitu terasa sakit. Tetapi, sedetik kemudian pria itu membuat sebuah seringai, tepat setelah dia melirik sekilas ke arah Mika.
"Aw!" Kavin meringis dengan tangan mengelus kepalanya, membuat pandangan semua orang terfokus padanya.
"Kau kenapa Kavin?" tanya amak Kasim, membuat Mika yang saat ini langsung terkena sengatan khawatir. Langsung menganggukan kepala, seolah pertanyaan yang tida bisa dia utarakan tersampaikan, karena amak Kasim.
"Tidak ada apa-apa. Hanya saja, kepalaku sakit saat mencoba menjadikan tiang ini, menjadi bantal tidur," mereka semua terkekeh, tapi tidak untuk Mika.
__ADS_1
Mika malah terlihat kasihan kepada pria yang saat ini mengelus-elus kepalanya. Hingga tanpa dia sadari, tangan Mika dengan sendirinya bergerak menepuk pelan pipi Kavin.
"Apa? Kau mau tertawa? tertawa saja, gadis desa," sinis Kavin yang selalu saja negatif thinking kepada Mika.
Mika yang mendengar itu, langsung menggelengkan tangan, dan dia bergerak membuat Isyarat tangan, "Apa kau benar-benar ngantuk?"
Kavin hanya menganggukan kepala, karena apa yang Mika katakan lewat isyrat itu benar adanya. Melihat itu, Mika kembali melakukan Isyarat tangan, "Kalau begitu. Sini, jadikan pundakku bantal kepalamu. Tetapi, itu jika Tuan mau saja sih."
Kavin tanpa berpikir lama, langsung menyandarkan kepalanya di pundak Mika, "Aku tidak mau berterima kasih, karena ini bukan keinginanku. Kau sendiri yang menawarkan pundakmu, dan sebenernya aku sih enggak ingin. Tetapi, karena aku mengantuk. Aku tidak punya pilihan lain," ujar Kavin panjang lebar, dan setelahnya dia memejamkan mata dengan sedikit menyungging senyum kecil.
Mika yang mendengar itu, hanya bisa memutar kedua bola matanya, karena dia sudah kebal dengan ucpaan-ucpaan Kavin yang seperti itu, 'terserah Tuan saja,' batin Mika jengah.
...T.B.C...
...Mau tripel update?...
...genapin hadiah jadi 2000 aku akan tripel update untuk kalian malam Minggu ini....
...Jadi ayok, kirim hadiah untuk Mika dan Kavin....
...Kesan kalian setelah baca part ini apa?...
__ADS_1