
"Mau pesan apa Pak— Bu," tutur seorang pelayan warung makan lalapan pinggir jalan. Dari peras wajahnya, pelayan itu masih terbilang cukup muda.
"Enak aja kau panggil saya dengan sebutan pak-pak. Emang wajah saya terlihat seperti orang tua hingga kau memanggil saya seperti itu?" sinis Kavin tidak terima dirinya yang masih terbilang cukup muda itu, dipanggil dengan sebutan bapak-bapak.
Mendengar penuturan sinis dari pengunjungnya. Pelayan wanita itu langsung menundukkan kepala seolah merasa malu, "Maaf Mas— Mbak. Saya tidak tahu, tolong maafkan saya," tutur pelayan wanita itu penuh dengan rasa bersalah.
Kavin yang mendengar itu hanya mendengus kesal. Jujur saja hatinya masih dongkol saat dia mengingat kata-kata panggilan yang keluar dari mulut pelayan wanita itu.
Namun, dia harus menyudahi kemarahannya karena Mika sedari tadi memicingkan mata kepadanya, "Sini kan buku menunya," pinta Kavin dengan masih bernada sama, tapi setelah melihat wajah Mika. Pria itu bergerak menyungging seutas senyum.
"Maaf saya tidak butuh buku menu ini, karena saya tahu apa yang harus saya pesan di tempat seperti ini." Baru saja pelayan wanita itu menyodorkan buku menu kehadapan Kavin, dan pria itu langsung menolak untuk mengambil buku itu.
Pelayan wanita yang mendengar itu hanya menyungging senyum dengan kepala terus saja menunduk, "Baik Mas. Kalau boleh tahu, Mas dan Mbak ingin makan apa?"
"Bawakan kami dua porsi nasi putih ukuran sedang, dua goreng ayam, dan jangan lupakan lalapannya. Satu lagi. Untuk minumnya saya pesan jeruk panas, dan es teh manis." Kavin berucap tanpa sedikitpun menjeda ucapannya, dan itu berhasil membuat pelayan wanita itu kelimpungan untuk mencatat pesanan Kavin.
"Hanya itu?" tutur pelayan wanita itu.
"Iya, dan kau pergi dari hadapanku secepatnya!" usir Kavin tanpa hati, dan itu sukses membuatnya mendapatkan satu cubitan keras di perut berototnya. Kavin yang mendapatkan perlakuan KDHG (Kekerasan Dalam Hubungan Gantung) itu hampir saja meringis, tapi pria itu urungkan karena di depannya sekarmag masih ada wanita pelayanan itu.
Sementara wanita pelayan yang mendengar kata-kata pengusiran yang keluar dari mulut Kavin, hanya bisa menyungging seutas senyum, "Kalau begitu saya permisi. Mas dan Mbak tunggu sebentar yah."
__ADS_1
Setelah mengatakannya, sang pelayan wanita langsung pergi meninggalkan meja Kavin berukuran kecil. Sementara Kavin yang melihat pelayan itu sudah pergi, langsung memiting leher Mika, "Maksud kau tadi apa cubit-cubit perut aku. Kau ternyata sudah berani yah sama aku," ujar Kavin dengan masih menjepit leher Mika menggunakan lengan kananya.
Mika yang mendapatkan serangan itu, kembali bergerak mencubit perut berotot Kavin. membuat sang empunya sedikit meringis.
"Mika sakit loh. Jangan main cubit seperti itu lagi," protes Kavin, tapi Mika malah menjulurkan lidahnya mengejek pria yang sekarang menunjukkan raut masam miliknya.
Beruntunglah keadaan warung makan lalapan itu sepi tidak ada pengunjung. Jadi, itu membuat Kavin dan juga Mika bebas mengeluarkan sifat kegilaan yang mereka punya.
Mika yang masih melihat raut masam Kavin, langsung bergerak melakukan isyrat tangan, "Habisnya aku suka jika cubit perut keras Kavin."
Kavin yang melihat isyrat tangan itu hendak menjawab, tapi perkataan yang akan keluar dari dalam mulutnya tertahan karena sering ponselnya menggema memenuhi seisi warung lalapan, tempat sekarmag mereka berada.
"Siapa sih ganggu aja malam-malam gini," gerutu Kavin dengan raut wajah kesal, membuat Mika menggelengkan kepala melihat Kavin menggerutu seperti itu.
Kavin menaikkan satu alisnya, "Ini dari kantor polisi," gumam Kavin saat melihat beberapa nomer yang dia tahu milik dari kantor polisi.
Mika yang mendengar itu hanya menaikkan satu alisnya. Tanpa banyak bicara dan menunggu lama lagi. Kavin langsung menerima panggilan suara itu, "Halo selamat malam. Apa ini dengan Tuan Kavindra?" tanya seorang pria bernada tegas dari seberang sana.
Kavin yang mendengar itu, langsung merubah raut wajahnya menjadi serius. Seketika dia mengingat kalau saat masih berada di rumah sakit lalu. Kavin pernah meminta untuk mencari pelaku dibalik kekerasan yang menimpa Mika.
"Iya— ini dengan saya sendiri," jawab Kavin dengan nada tegas dan wajah yang memancarkan keseriusan.
__ADS_1
"Maaf mengganggu waktu malam Tuan, karena apa yang akan saya laporkan ini sangat penting. Isi laporan ini juga menyangkut pelaku dibalik kekerasan yang dialami Nona Mika," tutur pria dari seberang sana membuat Kavin menganggukkan kepala sembari terus melihat ke arah Mika yang saat ini seperti orang yang sedang penasaran.
"Katakan!' perintah Kavin, dan itu berhasil membuat pria yang ada di seberang sana berdeham.
"Begini Tuan. Kami sudah menemukan pelakunya, dan orang yang menganiaya Nona Mika itu adalah dua orang gadis gila. Kenapa saya menyebut mereka gila, karena saat diinterogasi tadi. Mereka berdua mengakui kejahatan mereka. Bahkan mereka mengatakan itu dengan tertawa." Suara seorang pria yang ada di seberang sana terdengar sangat serius, dan itu berhasil membuat Kavin menganggukkan kepala.
"Terus?"
"Saat menelepon juga ingin mengabarkan, kalau Nona Mika tidak perlu datang ke kantor polisi. Karena kami sudah menindak lanjuti kedua tersangka itu."
Kavin yang mendengar itu langsung mengembuskan napas lega, dan dia tidak lupa melempar senyum untuk Mika yang sedari tadi melihat ke arahnya, "Mungkin hanya itu yang dapat saya laporkan, dan sekali lagi saya mohon maaf karena mengganggu waktu malam anda."
"Tidak apa-apa pak. Saya juga ingin berterima kasih kepada bapak, karena sudah melakukan pekerjaan dengan baik," tutur Kavin dengan kedua sudut bibir masih setia terangkat membentuk sebuah garis lengkung yang bernama senyum.
"Kalau begitu saya sudahi panggilan ini, dan selamat malam."
...T.B.C...
...Maaf jika ada taypo, karena aku tulis ini di jam setengah satu gays 😳...
...Jadi, yok kirimkan hadiah, tiket vote, bantu share, dan jangan lupa komentar kalian yah...
__ADS_1