
...GaysðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜...
...Boleh minta tolong bantu share cerita ini enggak?ðŸ˜...
...Boleh dong, biar banyak yang baca, dan aku tambah semangat 💪...
...Jika kalian berkenan untuk bantu share. kalian bisa bagikan cerita ini ke Grup chat tempat anda bergabung, dan sosial media kakak. Seperti, Instagram (jgn lupa tag "suka_paris"), Facebook (jgn lupa tag "liked paris"), dan sosial media lainnya....
...Jika kalian tidak berkenan, juga tidak apa-apa. Terima kasih yang sudah setia baca cerita ala-ala dariku ini, dan apalagi yang sering komen. Berkata komentar kalian, moodboosterku langsung naik, wkwkw....
...Tuh kan, aku keterusan curhatnya wkwkkw....
...Selamat reading aja gays!!!...
...(Tempat yang indah, terlebih lagi aku melihat ini bersamamu. Iya, bersamamu.)...
...***...
"Kavin! Mika! Kalian mau kemana!" teriak Amak Kasim yang tidak sengaja melihat dua anak muda mudi itu berlari meninggalkan perkemahan, atau lebih tepatnya. Sekarang Kavin tengah dibawa kabur oleh Mika.
Mika yang sekarang tengah menyeret Kavin, dengan tangan kiri menggenggam erat tangan Kavin, bergerak memutar setengah tubuhnya ke arah belakang.
Otomatis Kavin yang saat ini sedang berlari pelan di belakang Mika, memejamkan mata karena rambut hitam gadis itu terbang diterpa angin, dan itu membuat wajah Kavin terhalangi.
Tidak ada aroma harum yang menyeruak dari rambut Mika. Tetapi, entah kenapa Kavin begitu nyaman mencium bau yang dari rambut hitam legam itu. Sementara Mika, langsung melambaikan tangan, untuk membalas teriakan Amak Kasim.
"Ingat cepatlah kembali!" teriak Amak Kasim, dan Mika yang mendengar itu langsung menganggukkan kepala.
__ADS_1
Mika kembali menegakkan tubuhnya menghadap ke depan, membuat kedua mata Kavin kembali terbuka, dan jujur saja. Pria itu sekarang merasa kehilangan sesuatu, saat rambut Mika tidak lagi menerpa kulit wajahnya.
"Sebenarnya kita mau pergi ke mana?" tanya Kavin sudah kesekian kalinya, tapi Mika tetap saja bungkam, seolah enggan untuk menjawab pertanyaan itu.
"Baiklah— untuk sore ini. Aku akan mengikuti kemana pun kau pergi gadis desa," imbuh Kavin dan membuat kedua mulut Mika terbuka, seolah ingin mengeluarkan cekikikan hening miliknya.
Iya, hari sudah menjelang sore, dan Kavin beserta Mika saat ini sedang berlari ke sebelah barat, tepat di mana. Sekarang, matahari tengah berada.
Padahal jam saat ini sudah menunjukkan pukul lima lebih dua menit sore, tapi bukannya mereka pergi mandi. Malahan Mika langsung menarik Kavin untuk ikut dengannya.
Awalnya Kavin tadi sempat berontak, tapi saat melihat kesungguhan Mika. Dia dengan terpaksa untuk ikut. Padahal, tadi dia ingin pergi mandi bersama Amak Kasim, dan juga Amak Udin. Tetapi, demi menyenangkan hati Mika dia akhirnya ikut juga.
'awas saja jika kau membawaku ke tempat yang tidak-tidak,' batin Kavin, dan pria itu sekarang sedang menikmati genggaman tangan mungil Mika, di tangan besarnya.
***
Setelah berlari cukup jauh. Mika dan Kavin akhirnya berhenti di sebuah tanah lapang, yang di mana. Di depan mereka, terdapat sebuah danau yang sekarang tengah membiaskan sebuah cahaya jingga, dari sang surya yang perlahan menenggelamkan diri di ujung barat.
Sedangkan Mika. gadis itu hanya bisa menyungging senyum kala dia melihat netra coklat Kavin berbinar, 'anda pantas mendapatkan ini, setelah kerja keras yang anda lakukan tadi pagi Tuan,' batin Mika, dan gadis itu hendak menarik tangannya dari genggaman Kavin.
Namun, tanpa di duga. Kavin menguatkan genggaman tangannya, dan pria itu langsung menoleh melihat ke arah Mika, "Diam sebentar saja, dan biarkan aku merasakan desiran hebat di hatiku ini," gumam Kavin membuat Mika mengerutkan dahi tidak mengerti.
Iya, saat ini jantung Kavin tengah berdesir. Bahkan desiran saat ini, jauh lebih hebat dari hari-hari sebelumnya. Kavin bergerak memejamkan mata. Pikirannya sekarang sudah mulai berkelana menerka-nerka suatu hal, 'desiran ini sangat aneh. Yang lebih anehnya, kenapa ini selalu muncul saat aku bersama gadis desa ini? Apa desiran ini, ada karena aku mulai menyukainya?' batin Kavin mulai menerka-nerka.
Sama halnya dengan Mika. Saat ini, dia juga tengah mati-matina mengontrol degup jantungnya. Jujur saja Mika tidak mengerti maksud Kavin tadi. Tetapi, entah kenapa saat mendengar itu. Jantungnya tiba-tiba saja berdegup cepat.
"Gadis desa...." panggil Kavin dengan kepala menoleh ke arah Mika, "pejamkan matamu, dan coba rasakan sebuah desiran yang terjadi di sini." Kavin berucap sembari tangan kirinya, menunjuk ke arah jantungnya.
Mika menganggukkan kepala, dan gadis itu langsung bergerak memejamkan matanya, "Apa kau merasakan sesuatu?" tanya Kavin, dan Mika menggelengkan kepala, karena dia tidak merasakan apapun selain degup jantungnya yang saat ini berdetak cepat.
__ADS_1
Kavin berjalan ke depan Mika. Satu tangannya, masih setia saling bertautan. Kavin kembali meraih satu tangan Mika, dan pria itu langsung menggenggam jemari lentik Mika.
Sontak degup jantung Mika semakin terpacu hebat, "Apa kau sudah merasakannya?" imbuh Kavin, dan Mika kembali menggelengkan kepala. Jujur saja, kalau Mika sebenarnya tidak tahu apa namanya berdesir.
Kavin hanya menaikkan satu alis matanya, karena pria itu sekarang tidak percaya. Masak iya, Mika tidak merasakan apapun. Pria itu, mulai melangkah memajukan tubuhnya agar lebih dekat dengan Mika, "Sekarang— apa kau merasakan sesuatu?" tanya Kavin yang embusan napasnya langsung menerpa kulit wajah Mika, karena saking dekatnya jarak diantara mereka saat ini.
Mika dengan kaku, menggelengkan kepalanya, dan itu berhasil membuat kerutan tercetak di dahi Kavin, 'masa iiya, dia tidak merasakan apa yang aku rasa saat ini?' tanya batin Kavin.
"buka matamu," perintah Kavin, dan dengan perlahan Anna membuka kedua matanya.
Dan tepat, saat netra hitam legam itu terbuka. Pandangan mereka berdua saling beradu, hingga membuat mereka terdiam membisu. Mungkin sekarang, yang terdengar oleh gendang telinga mereka adalah embusan angin, kicauan burung, dan degup jantung mereka yang saling bersahutan satu sama lain.
"Apa jantungmu berdetak cepat?" tanya Kavin pada akhirnya.
...T.B.C...
...Gimana part ini? Apa ada yang laper? eh baper maksudku?...
...Kasih dukungannya dengan kirimkan sepucuk mawar, atau hati, atau kopi, atau hadiah lainnya agar aku semangat dong!...
...Apa ada kata untuk:...
...Kavin?...
...or...
...Mika?...
...See you next part!...
__ADS_1
...Ramaikan ceritaku yang satunya dong!...