Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
109. Ini Nyata Kah?


__ADS_3

...Maaf😳😳😳, hanya itu yang bisa aku katakan 🙏. Aku bukannya mau sok berlagak jumawa, but kemarin enggak bisa update karena berpergian, pun banyak deadline yang aku kejer. Jadi, aku sangat-sangat minta maaf....


...Stay reading yah😰...



..."**Pandainya kamu bersandiwara...


...Pura-pura cinta padaku...


...Lihatlah aku terjatuh-jatuh...


...Kau permainkan cinta ini**....


...*...


...Apa setega ini kamu sakiti aku sesakit ini...


...Aku yang sangat menyayangimu...


...Kau lukai seluka ini."...


...•...


...(Hijau daun— Sandiwara Cintamu)...


...****************...


Prang!


Bukan nampan Mika yang terjatuh, tapi suara itu terdengar dari dalam ruang kerja. Dari bunyi pecahannya Mika dapat menebak, kalau seseorang yang ada di dalam sana, melempar sebuah gelas.

__ADS_1


'aku tidak mengerti maksud semua ini?' tanya Mika dalam hati sembari, dia terus saja bergerak mundur hingga punggungnya menempel di dinding, 'kenapa Kavin mengatakan kata-kata itu kepada wan-'


"Katamu sayang, tapi saat Papa dan Mama tirimu menghinaku, kau hanya diam. Kau diam, di saat mereka mengatai aku yang tidak bisa memberikan keturunan!" Mika lagi-lagi tersentak kaget saat mendengar suara teriakan Zaly yang menggebu.


Bahkan sekarang kedua matanya terbelalak seolah masih tak percaya, "Itu bukan hinaan, tapi itu kenyataan. Sudah sekian tahun kita menikah, tapi kau masih belum bisa memberikan aku keturunan. Wajar papaku mengatakan itu bukan?* Mika kembali mendengar suara pembelaan yang keluar dari mulut Kavin— suaminya, dan entah kenapa dia tiba-tiba saja mengeluarkan air mata.


Kata-kata Kavin yang mengucapkan "Aku hanya menyayangimu, dan kamu wanita satu-satunya dalam hidupku" saja masih memberikan perih di hatinya. Sekarang satu fakta kembali dia dapatkan, dan pikiran yang beberapa bulan ini hinggap di kepalanya pun kembali masuk secara tiba-tiba*.


'*apa mereka berdua suami istri?' batin Mika dengan napas yang semakin sesak, dan mulut yang tiba-tiba terbuka untuk mengeluarkan suara isakan, yang tentu saja akan bisu.


Entah kenapa malam ini, dia bahagia dengan kebisuannya. Karena keadaanya yang sepeti itu, Mika tidak takut mengeluarkan tangis yang akan membuat dua orang di dalam ruang kerja itu menyadari keberadaannya.


Mika mencoba menegaskan diri. dia kembali melangkah hanya untuk mengintip dari celah pintu yang tadi dia ciptakan. Kosong, tidak ada yang nampak dari celah pintu itu, kecuali siluet tubuh Kavin yang berdiri tegak, dengan kedua tangan menjambak sisi rambutnya.


Sedangkan siluet yang satunya lagi, terlihat seperti punya Zaly, "Aku ingin kau yang dulu. Aku ingn perhatianmu, dan bukan perhatian sahabatmu. Aku juga ingin kasih sayangmu, dan bukan sikap acuh tak acuh seperti yang engkau lakukan di Lombok berbulan-bulan yang lalu." Zaly berucap dengan nada yang terdengar lelah.


"Tidak bisa sekarang, tapi sembilan bulan lagi. Kita akan kembali tinggal bersama. Bukan hanya kita, tapi ada anak kecil juga yang akan bersama dengan kita, sayang. Jadi, aku mohon bersabarlah sembilan bulan lagi." Kavin menjawab dengan nada yang terdengar sangat gembira di telinga Mika.


Rasa sesak semakin Mika rasakan, dan air matanya terus saja mengalir tanpa mau berhenti sedikitpun seperti hujan yang ada di luar sana, 'tidak— ini tidak nyata bukan? Kavin menikahiku, karena dia mencintaiku bukan? tidak— aku tidak percaya ini," Mika berucap dalam hati. kedua tangannya yang masih setia memeggang nampan, mulai bergetar.


"Maafkan aku, sayang. Ini semua kemauan papa, dan aku tidak bisa menolaknya. Tetapi, percayalah. Aku hanya mencintaimu, dan itu tidak akan berubah." Suara serak Kavin kembali terdengar jelas di telinga Mika.


Kata-kata yang penuh akan cinta, di mana. Pria itu selalu utarakan untuk Mika, tapi sekarang kata-kata itu juga keluar untuk wanita lain yang sekarang Mika tahu adalah istri Kavin. Lalu, siapa dirinya di hidup Kavin? Apakah pernikahan yang dihadiri oleh banyak orang tiga bulan lalu itu semuanya palsu?


"Tapi tetap saja, aku merasakan sakit, mas. Sakit saat harus memanggilmu dengan sebutan nama, di depan keluarga, dan lebih sakitnya lagi saat aku melihat suamiku sendiri, begitu perhatian dengan wanita lain, yang di mana adalah istri keduanya."


"Jangan pernah mengatakan si bisu itu istriku. Bagiku, tidak ada istri kedua, karena kamu lah istriku satu-satunya. Kamu yang tadi mengatakan gadis desa itu, istriku tidak lebih dari seorang wanita penyumbang rahim. Kamu tahu sendiri, kalau aku menikah dengannya hanya untuk mendapatkan anak yang akan kita rawat kelak." Kavin berucap tanpa ragu, dan itu berhasil membuat semua pertanyaan Mika yang bersarang di kepalanya terjawab habis.


Seketika tubuh wanita itu limbung, dan ....


prang!

__ADS_1


***


Mika terbangun dari mimpi buruknya. Mulutnya yang selalu tertutup, tiba-tiba menganga diikuti dengan gerakan dada yang naik turun sangat cepat. Jangan lupakan keringat dingin yang bercucuran di wajahnya, 'syukurlah hanya mim-"


Ucapan batin Mika terhenti, saat dia melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul, sepuluh malam tepat. Dia menoleh ke sisi ranjang bagian kiri, dan kosong. Kavin tidak ada di sana, karena beberapa jam yang lalu pria itu berpamitan untuk lembur di ruang kerjanya.


Seketika, Mika Anya Kavindra. Wanita yang sudah menjadi istri sah Kavin selama tiga bulan itu, mulai terserang ketakutan. Terlebih lagi dia mendengar rintikan hujan di luar sana, dan itu semakin membuat ketakutannya begitu terasa nyata.


'apa jangan-jangan yang ada di mimpi itu nyata?' batin Mika bertanya, tapi dia seketika menggelengkan kepalanya, 'tidak. Itu sudah jelas mimpi, karena di sana aku dalam kondisi hamil, sedangkan aslinya tidak,' batin Mika kembali seolah ingin menghempas ucapan sebelumnya.


Mika bergerak menjambak sisi-sisi rambutnya, karena malam ini dia terlihat sangat prustasi. Satu sisi dia tidak ingin percaya dengan mimpi itu, dan satunya lagi, keadaan malam ini memaksa dirinya untuk percaya.


Pada akhirnya, Mika yang sudah kelewat bingung. Bergerak turun dari atas ranjang. Wanita yang sekarang membalut tubuhnya dengan gaun tidur warna pink itu bergerak memakai sendal rumah, dan langsung mengayunkan langkah keluar dari dalam kamar.


Dia berniat akan menemui Kavin yang sekarang berada di lantai dua, di mana ruang kerjanya berada. Sesampainya dia di luar kamar. Mika langsung mengayunkan langkah berjalan cepat ke arah tangga, menuruni anak tangga demi anak tangga hingga tepat saat dia menapakkan kaki di marmer lantai dua.


Mika berdiri mematung saat melihat embok Erma juga baru naik ke lantai dua, dengan kedua tangan yang membawa sebuah nampan berisikan dua cangkir kopi yang masih mengepulkan asap, "Eh— Nyonya belum tidur?" tanya embok Erma basa basi.


Namun, Mika yang sekarang semakin meras rakit, langsung bergerak mengambil alih nampan itu, dan berjalan pergi dari hadapan embok Erma.


Embok Erma hanya menganga, melihat tingkah Nyonya muda rumah itu, "Ada apa dengan Nyonya?" gumam embok Erma sembari terus memandangi punggung Mika yang perlahan menghilang.


Sedangkan Mika. Wanita itu langsung menghentikan langkah tepat di depan pintu kerja suaminya. Pertama-tama, dia bergerak mengatur napasnya yang entah kapan tidak teratur.


Mika bergerak meraih ganggang pintu, dengan tangan kanannya, dan dia langsung saja memejamkan mata saat hawa dingin merambat ke seluruh tubuhnya.


Ceklek!


Mika memutar ganggang pintu, dan langsung mendorongnya ke belakang dengan cepat, dan ....


"Iya— kamu harus melakukan itu."

__ADS_1


...T.B.C...


...1124 kata untuk kalian yah...


__ADS_2