
...Maaf kemarin cuma bisa update satu part🤕...
...Tapi enggak apa kan, untuk bulan ini aku usahakan cerita ini bakalan end. tinggal 14 part lagi yah....
...Udah bisa pada nebak konfliknya belum? udah pada tahu siapa dua laki-laki berkumis, dan berkulit hitam itu? (bukan rasis)...
...Dari pada main tebak-tebakan, langsung aja yok....
...Stay toon...
...***...
Tiga hari kemudian.
"Jadi gini, Tuan." Dokter yang tiga hari lalu memeriksa fisik Mika, sekaligus melakukan Rontgen itu berucap dengan menunjukkan sebuah foto bagian dalam tenggorokan Mika.
Si dokter spesialis itu mulai menunjuk gambar pita suara yang rusak, "Ini penyebab istri anda bisa, walau dia tidak mengalami gangguan pendengaran. karena ini." Dokter itu mengaskan perkataannya, membuat Kavin memfokuskan tatapannya ke arah yang ditunjuk si dokter.
Sedangkan Mika— wanita itu hanya menatap penuh bingung ke pada dokter, karena jujur. Dia tidak mengerti segalanya. Bagaimana dia bisa mengerti, sekolah aja tidak.
Kavin menganggukkan kepalanya, dan dia langsung melihat ke arah sang istri yang masih saja menunjukkan raut penuh kebingungan.
Pria itu bergerak merangkul istrinya, dan dia menghadiahkan satu kecupan singkat di kening wanita yang berhasil merebut hatinya itu, "Pasti ada jalan keluar, agar bisa mengobatimu, sayang." Kavin berucap seolah ingin memberikan sebuah harapan untuk, Mika.
Pasalnya dia tahu betul kalau istrinya dari tiga hari yang lalu, sudah menantikan hari ini. Tetapi, siapa sangka kalau Kavin akan mendapatkan kabar yang begitu buruk.
Kavin mengalihkan pandangannya kembali melihat ke arah dokter yang sekarang juga tengah melihat dirinya, "Kita pasti sering menjumpai orang yang tidak berbicara atau dalam tanda petik bisu, pasti dikarenakan gangguan pendengaran mereka." Dokter menjeda penjelasannya hanya untuk melihat ekspresi Kavin yang begitu fokus memperhatikannya.
"Namun, dikasusu istri anda ini. Dia tidak mengalami gangguan pendengaran, tapi pita suaranya." Dokter kembali menunjuk gambar laporan, pemeriksaan rontgen tenggorokan yang menunjukkan sebuah pita suara yang rusak.
"Istri Tuan tidak bisa bicara, karena. Pita suaranya rusak, dan-"
"Itu bisa disembuhkan kan, Dok?" Kavin memotong ucapan dokter, dengan nada bicara yang berat, dan penuh penekanan.
"Istri saya bisa disembuhkan kan, Dok?" imbuh Kavin kembali. Dia mulai sembari menguatkan genggaman tangan kirinya di otot tangan kiri sang istri, pun genggaman tangan kanannya juga ikut menguat di pundak kanan sang istri.
Sedangkan sang dokter yang mendengar ucapan penuh harapan itu, hanya bisa memperlihatkan tatapan mata redup.
Sementara Mika, biarpun dia tidak pintar. Dia tahu maksud dari pertanyaan suaminya, dan tatapan mata yang terpancar dari dokter itu.
Padahal dia sudah menunggu hari ini dengan penuh harapan, kalau dirinya bisa dapat mengeluarkan suara. Jujur— dia sangat penasaran seperti apa suaranya, tapi sudah lah. Dia memang terlahir untuk menyandang gelar seorang gadis bisu, dan inilah takdir yang Tuhan berikan kepadanya.
__ADS_1
Percuma dia berharap, percuma dia melakukan tes kalau hasilnya tidak ada seperti ini. Alhasil, dia hanya bisa menundukkan kepalanya, dan dia menutupnya dengan kedua tangan.
Menangis— iya. Mika menangis, dan itu wajar bukan? Terserah jika kalian mengira Mika cengeng, tapi dia akan tetap menangis. Kavin yang mulai merasakan punggung istrinya bergetar, langsung menolehkan kepalanya.
"Sayang ...." Kavin terkejut, karena dia tiba-tiba saja mendapati istrinya dalam keadaan menangis sesenggukan tanpa suara.
Dia kembali melihat ke arah sang dokter yang memperlihatkan tatapan mata penuh kasihan, "Aku akan membayar." Kavin berbicara dengan nada tegas, pun dan pandangan mata tajam.
"Aku akan membayar berapapun, asal kau bisa membuat istriku bicara, Dok," imbuhnya, dan itu hanya dibalas gelengan kepala oleh sang dokter.
"Tidak bisa, Tuan. Maaf." Hanya itu yang mampu dikatakan oleh dokter, membuat Kavin bangkit dari duduknya.
"Maaf? hey— kau itu seorang dokter, bukan?! Kau sudah belajar puluhan tahun, dan hanya kata maaf yang kau keluarkan?" Kavin berteriak marah, membuat sang dokter menundukkan kepalanya.
"Jika kau tidak bisa menyembuhkannya, tapi kenapa tiga hari yang lalu. Kau memberikan harapan kepada istriku, brengsek! Kau sudah membuat istriku berharap, dan sekarang."
Kavin tidak dapat melanjutkan perkataannya. Dia memilih menendang kursi yang tadi dia gunakan untuk duduk dengan tanpa hati, membuat Mika berdiri, dan langsung memeluk sang suami.
Wanita bisu itu menggelengkan kepalanya tepat setelah dia membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami yang terbalut kemeja kantor.
Iya, sepulang dari kantor. Kavin yang selalu membawa serta istrinya pergi bekerja, langsung ke rumah sakit, tanpa pulang terlebih dulu.
Dan itu sangat-sangat membuat Mika bertepuk tangan bahagia. Tetapi, lihatlah sekarang. Wanita yang beberapa jam lalu dipenuhi oleh kebahagiaan itu, sekarang sedang menangis tersendu di dada sang suami.
"Maaf— maafin, Mas." Kavin berucap dengan nada menyesal, karena dia juga turut andil memberikan Mika harapan bisa bicara.
Sedangkan Mika yang mendengar penuturan sang suami, langsung menggelengkan kepalanya, "Tapi, percaya sama, Mas. Mas tidak akan menyerah, untuk membuatmu bisa bicara. Mas, akan mencari rumah sakit yang bisa menyembuhkan kamu. entah itu diluar negeri sekalipun." Kavin kembali memberikan harapan untuk Mika, membuat istrinya itu menganggukkan kepalanya, walau dia tidak terlalu berharap seperti tiga hari yang lalu.
***
Suara pintu terbuka menyalami gendang telinga Mika yang sedari tadi hanya diam, dan tidak banyak bertingkah seperti biasanya.
"Ayok," ajak Kavin sembari melangkah masuk ke dalam apartemen miliknya, dengan ikut serta membawa sang istri.
Mika tersentak kaget, tapi dengan cepat dia menyunggingkan senyum, seolah ingin menutupi kesedihannya, "Kamu tutup pintunya yah. Aku mau mandi dulu, gerah." Kavin berjalan terlebih dulu, dan dia meninggalkan Mika sendiri di ambang pintu.
Mika yang mendengar perkataan sang suaminya, langsung menganggukkan kepalanya. Dia memutar kembali tubuhnya menghadap ke pintu apartemen yang masih terbuka.
Mika celingak-celinguk melihat situasi lorong apartemennya yang selalu saja sepi. Melihat itu, dia langsung menutup kembali pintu apartemennya.
Dan, bertepatan dengan pintu apartemen yang ditutup. dua orang pria berpakaian serba hitam keluar, "Apa kau masih mau mencari tahu, dan mengikuti wanita itu?" ujar dia— Setiaji bertanya kepada Rifki— Pria yang berdiri dengan sweeter hitam.
__ADS_1
Rifki mengeluarkan kedua tangannya dari dalam sweeter hitam, pun dia juga langsung menurunkan hoodie yang menutupi kepalanya, "Wanita itu sudah kita ikuti dari empat hari yang lalu, dan apa yang masih engkau pikirkan, Ki?" Setiaji kembali bertanya saat dia tidak mendapati jawaban dari Rifki.
Sedangkan Rifki yang mendengar penuturan Setiaji malau bergerak duduk di kursi panjang yang tersedia di samping jalan lorong apartemen. Kedua tangannya sudah meraup wajah yang dihiasi kumis tipis di atas bibirnya.
Rifki menghela napas, "Apa kita bisa melakukannya disaat wanita itu berwajah persisi seperti princess Liora? Apa kau bisa melakukan hal itu dengan orang yang berwajah seperti wanita idola, kita?"
Setiaji ikut mendudukkan pantatnya di kursi. Dia melakukan hal yang sama, yaitu meraup wajahnya.
"Mau tidak mau, kita harus melakukan itu, kawan. Kita akan dibayar dengan jumlah besar, jika mengambil pekerjaan ini." Setiji berucap dengan helaan napas di awal, membuat Rifki menoleh ke arahnya.
Pria itu menatap Setiaji dengan tajam, "Baiklah jika itu yang kau inginkan." Rifki bergerak mengeluarkan sebuah benda pipih dari saku celana jeans hitamnya, dan tanpa memainkannya cukup lama.
Dia langsung menempelkan benda pipih itu, di telinganya. Satu kali dering terdengar, hingga saat mencapai dering ketiga. panggilan suaranya diterima oleh seseorang yang ada di seberang sana.
"Kami akan menerima pekerjaan ini. Tetapi, sesuai perjanjian. Bayar kami dengan jumlah mahal."
***
Malam semakin larut. Sekarang Kavin, dan Mika baru saja selesai menunaikan ibadah shalat magrib, "Semoga kau jadi istri yang berbakti." Kavin berucap saat Mika— istrinya menyalami tangannya.
Saat ini mereka berada di dalam kamar. Duduk di lantai beralaskan sejadah, "Masak apa tadi?" tanya Kavin sembari melepas pecinya.
Mika yang mendengar pertanyaan Kavin langsung melakukan isyrat tangan, "Tumis kangkung, ayam, dan tempe manis. Mau makan sekarang?"
Kavin bergerak bangkit dari duduknya, "Kenapa tidak? Tapi, aku mau disuapin, dan kita makan sepiring berdua," ucapnya sembari membantu Mika untuk bangkit dari duduknya.
Baru saja dua pasutri muda itu berdiri. Dering telepon langsung memenuhi ruang kamar. Kavin berjalan mendekat ke arah ranjang yang di mana, di sana tempat dia meletakkan ponselnya.
"Papa." Kavin membaca nama yang terlihat di layar ponselnya, dan tanpa berlama-lama. Dia langsung menerima panggilan suara itu.
"Assalamu'alaikum, ada apa, Pa?" Kavin bertanya, dengan menjawab salam terlebih dahulu.
Sedangkan Rama. pria yang tadinya langsung berbicara pada intinya itu, terkekeh, "Waalaikumsalam, Nak."
"Iya— aku mendengarkan." Kavin menjauhkan ponselnya dari telinga. dia bergerak untuk mengaktifkan loud speaker, agar istrinya juga dapat mendengar.
"Gini. Sabtu ini Papa, dan keluarga Adelio, serta Papanya Zaly akan mengadakan acara makan malam. Kamu, dan menantu Papa, datang juga yah. Ini acara yang sangat penting tentang perusahaan, kita." Rama menjelaskan tujuannya menelepon, membuat Kavin menolehkan kepalanya melihat ke sang istri.
Mika yang mendengar itu, dan melihat tatapan suaminya langsung menganggukkan kepala. Kavin kembali menatap layar ponselnya, "Akan Kavin lihat besok." Pria itu langsung mematikan panggilan suaranya dengan sepihak, membuat Mika menggelengkan kepalanya.
"Menggangu saja, yok."
__ADS_1
...T.B.C...
...Update sehari satu bab, tapi 1430 kata, tidak masalah bukan?...