Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
124. Kejutan.


__ADS_3

Rintik hujan tiba-tiba turun dari langit yang tadinya dipenuhi bintang dan entah sejak kapan awan mendung datang menyelimuti mereka.


Butiran-butiran kecil yang turun dari atas langit itu perlahan melembabkan tanah yang tadinya kering. Bunyi-bunyi jangkrik yang tadi tertangkap oleh gendang telinga Kavin saat dia memasuki sebuah perdesaan asri yang jaraknya tidak jauh dari bandar udara internasional Soekarno-Hatta, entah sejak kapan menghilang.


Saat ini Kavin tengah berdiri di beranda rumah sederhana dengan tangan kiri membawa sebuah keranjang yang dipenuhi aneka kelopak bunga warna-warni, dan tangan kanannya sekarang terulur ke depan untuk menikmati dinginnya air hujan.


Kavin memejamkan mata saat hawa dingin mulai menggerogoti tubuhnya dan bersamaan dengan itu otaknya tiba-tiba memutar sebuah kenangan konyol saat dia dan sang istri merayakan hari valentine dua bulan yang lalu.


Lebih tepatnya saat mereka masih awal-awal menikah. Kenapa dia mengatakan kenangan konyol? Karena pada saat malam valentine.


Kavin pergi membawa Mika ke sebuah restoran outdoor. Dia sudah membuat segala macam persiapan seperti menyalakan lilin aroma terapi, makanan, dan coklat semua dia siapkan untuk istri tercintanya, tapi semua itu sia-sia karena tiba-tiba hujan menguyur mereka dan membuat seluruh persiapan Kavin hancur.


Biar begitu. mereka masih bisa menikmati hari valentine dengan berdansa di tengah hujan di saat semua orang yang ada di restoran itu memilih pergi.


Kavin terkekeh pelan sembari kepalanya menggeleng, "Aku merindukanmu," gumamnya sembari kelopak matanya perlahan terbuka.


Dia sedikit menundukkan kepalanya untuk melihat ke arah keranjang yang berisikan aneka kelopak bunga warna-warni, "Aku yakin kau pasti akan terkejut, melihat suamimu ini dan kau akan menganga," imbuhnya ditengah-tengah suara hujan yang membentur atap rumah.


"Sepertinya hujan akan turun sangat deras, Tuan." Kavin menolehkan kepala saat dia mendengar suara seorang laki-laki paruh dari belakang.


"Iya, Tuan. Sebaiknya kalian berteduh aja di sini dulu. Takutnya nanti ada pohon yang tumbang di tengah jalan dan buat kalian celaka," timpal seorang wanita paruh baya, kakak dari si sopir taksi sekaligus orang yang Kavin bangunkan untuk membeli kelopak bunga di jam empat dini hari.


"Kita lebih baik langsung berangkat saja, kalau kelamaan di sini. Istriku di rumah pasti akan mengomel," jawab Kavin dengan tutur kata sopan.


Si sopir taksi yang mendengar itu hanya bisa menganggukkan kepala, "Kalau begitu. Tuan tunggu di sini dulu. Saya akan ke mobil untuk mengambil payung." Si sopir taksi paruh baya itu langsung berlari menerjang derasnya hujan di penghujung bulan April.


Sementara Kavin hanya berdiri diam sembari terus memikirkan ekspresi Mika yang dia yakini pasti akan terkejut, karena dia pulang tidak seperti yang dia katakan di chat kemarin.


"Mari, Tuan," tutur sopir paruh baya itu yang sudah berdiri dengan payung.


Kavin yang melihat itu menganggukkan kepalanya, tapi sebelum dia melangkah keluar dari beranda rumah. Dia menyempatkan diri untuk tersenyum ke arah wanita paruh baya yang terpaksa dia bangunkan, untuk membeli beberapa kelopak bunga yang dipesan istrinya.


"Makasih dan mohon maaf sudah mengganggu waktu istirahat, Ibu," tutur Kavin membuat wanita paruh baya yang ada di depannya itu mengulas senyum.


"Enggak apa-apa, Tuan. Semoga istri Tuan nanti senang menerimanya yah. Mohon maaf cuma ada kelopak mawar dan kemboja," ujar si ibu penjual dan Kavin yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu saya permisi dulu, assalamu'alaikum."


***

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan pukul lima lebih sebelas menit. Berarti, Kavin menghabiskan waktu tujuh belas menit untuk sampai ke kawasan apartemennya. Saat ini laki-laki itu tengah berjalan mendekati lift yang tersedia di gedung apartemennya untuk menuju ke lantai di mana, tempatnya tinggal bersama sang istri.


Kavin berdiri di depan pintu lift. Tangannya terulur menekan tombol untuk membuka pintu besi itu dan setelah terbuka. Kavin melangkah masuk dengan membawa serta kopernya.


Sedari tadi laki-laki itu tidak bisa berhenti untuk menyungging senyum. Terlebih lagi dia tidak ada hentinya untuk menyesap aroma harum yang keluar dari kelopak bunga mawar dan Kamboja.


Bunyi khas lift tertangkap oleh indera pendengarannya dan sedetik setelah itu pintu besi yang tadinya tertutup dengan rapat, mulai terbuka sendiri.


Kavin menarik pegangan kopernya dan laki-laki itu langsung berjalan keluar dari dalam lift dengan langkah lebar miliknya.


Langkah kaki Kavin terhenti di pintu masuk apartmentnya. Dia bergerak untuk melepas genggaman tangannya dari pegangan koper dan dia langsung mengetuk pintu.


Tiga kali ketukan Kavin lakukan untuk memberi tahu orang yang ada di dalam sana. Kavin menunggu dengan kepala celingukan ke kanan dan kiri untuk melihat situasi apartemen yang selalu sepi di jam segini.


"Kenapa dia selalu lelet. Aku yakin dia sudah bangun dan sedang bersiap-siap untuk shalat Duha," ucap Kavin dengan nada yang mulai kesal.


"Sayang, buka pintunya!" Kavin sedikit berteriak sembari mengetuk pintu agar orang yang ada di dalam sana bisa mendengar.


"Sayang!" panggil Kavin lagi saat dia belum melihat tanda-tanda pintu dibuka dari dalam.


"Tidak seperti biasanya Mika susah bangun. Apa lagi ini sudah jam lima," gumam Kavin sembari tangannya bergerak terulur untuk memegang gagang pintu dan langsung memutarnya.


Pintu terbuka, membuat Kavin menaikkan satu alis matanya, "Kenapa dia begitu ceroboh hingga lupa mengunci pintu." Kavin mengomel sembari bergerak mendorong pelan pintu ke dalam.


Setelah pintu terbuka lebar. Kavin langsung melangkah masuk dengan masih menyeret kopernya.


***


"Ya ampun, Mika. Apa yang kau lakukan selama aku pergi? Kenapa lampu ruang tengah kau tidak matikan." Kavin lagi-lagi mengeluarkan omelan saat dia baru saja masuk ke dalam rumah dan melihat lampu ruang tengah menyala.


Kavin menghela napas lelah dia mengedarkan pandangannya ke sudut-sudut rumah, "Mika!" Kavin mulai berteriak memanggil istrinya sembari dia bergerak untuk duduk di sofa.


"Sayang!" panggil Kavin kembali dan tangan kirinya bergerak untuk meletakkan keranjang kecil berisikan kelopak bunga yang tadi dia beli.


"Sa-"


Suara kucing yang mengeong membuat Kavin menggantung ucapannya. Laki-laki itu tersenyum saat dia melihat Mira mengeong dan bergerak lincah mundur maju, seolah dia ingin mengatakan "ikuti aku."


"Kau mau menunjukkan apa?" tanya Kavin yang sepertinya tahu maksud dari kucing peliharaannya itu.

__ADS_1


Sedangkan Miranda yang mendengar itu hanya mengeong dan mulai membaringkan tubuhnya di lantai, kemudian berguling-guling ke kanan dan kiri.


"Baiklah, ayok tunjukan pada Papa." Kavin bergerak bangkit dari duduknya dan dia juga tidak lupa kembali membawa keranjang berisikan bunga itu bersama dengannya.


Miranda yang melihat sang majikan sudah berdiri langsung ikut bangkit dari tidurnya dan berjalan cepat menuju lorong yang di mana, akan membawa mereka ke bagian kamar.


Kavin mengayunkan langkahnya mengikuti Miranda, "Miguel!" Kavin berteriak saat dia melihat bangkai tokek peliharaannya terkapar di antara pintu kamar bagian kiri dan pintu kamar bagian kanan.


Kavin bertekuk lutut dan dia langsung mengangkat tubuh Miguel yang tentu saja beraroma sangat busuk, karena tokek itu mati dari lima hari yang lalu.


"Kenapa dia bisa begini?" Kavin bertanya kepada dirinya sendiri dan dia langsung menolehkan kepalanya ke pintu sebelah kanan.


"Apa yang Mama kalian kerjakan, hingga dia tidak mengetahui, Miguel mati?" imbuh Kavin sembari bergerak bangkit dari duduknya.


Dia sedikit membungkukkan tubuhnya untuk meraih keranjang kecil berisikan kelopak bunga yang tadi dia beli dan setelahnya. Dia bergerak cepat untuk meraih gagang pintu kamar miliknya dan istrinya.


Kavin mendorong kasar pintu itu dan dia langsung berdiri dengan pandangan mata tak percaya saat kedua matanya melihat, Mika yang tidur dengan posisi sedikit menyandar di kepala ranjang dan jangan lupakan kedua sudut bibirnya yang tersenyum begitu terlihat sangat damai.


Kavin berjalan cepat mendekati ranjang tempat di mana istrinya tertidur, "Pantesan aku panggil dari tadi enggak menyahut, karena ini," ucapannya sembari berkacak pinggang di sisi ranjang.


"Mika," Kavin memanggil menggunakan pelan, tapi wanita yang tengah tiduran dengan selimut yang hampir menutupi seluruh tubuhnya itu tidak ada tanda-tanda untuk bangun.


Kavin yang melihat itu mulai habis kesabaran. Dia bergerak untuk meletakkan keranjang berisikan kelopak bunga itu di atas ranjang dan setelahnya. Dia langsung bergerak menyingkap selimut Mika.


"Bang-"


Suara Kavin tiba-tiba tercekat, kedua matanya membulat sempurna, dan tubuhnya terhuyung ke belakang saat dia melihat sebuah pisau tertancap dalam diperut Mika.


"Mika!" Kavin berteriak histeris dengan kedua mata yang tiba-tiba mengeluarkan butiran-butiran air hangat.


Berbarengan dengan keluarnya air hangat dari kelopak mata Kavin, keranjang yang berisikan kelopak mawar dan juga kemboja itu terjatuh hingga berceceran di lantai.


...T.B.C...


...Enggak ada yang nangis kan?...


...Karena ini bukan part untuk nangis-nangis dulu, okey. ...


...Besok siapkan tisu, untuk membantu kalian menyeka air mata, okey👍👍...

__ADS_1


__ADS_2