Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
Part 39. Perkara memotret diam-diam.


__ADS_3


...(Ganti cover gays)...



...Gays aku sudah publihs cerita baru, dan cerita ini sudah Tamat, karena aku tulis itu di puasa kemarin. Sebenernya aku takut untuk publish, tapi karena melihat kalian open dengan ceritaku yang ini, aku jadi berani publish. dari pada karatan kan? mending publihs untuk dinikmati orang xiixiix. jadi kalian tunggu aja yah. aku update sehari tiga episode. Siapa tahu suka cerita religi, tapi bukan ala Indosiar xixixixixi....


...Pokoknya bagus deh ceritanya. Ditunggu kunjungannya yah....



...(Ini gue lagi marah, karena gadis desa itu memergoki gue ambil foto wajahnya diam-diam. Nah yang buat gue marah itu, dia kegeeran. Untung gue pinter buat kegeerannya hilang.)...


...***...


Senja sudah terbit di ujung barat. biasan jingganya seolah mengusir hawa panas yang siang tadi mengepung kawasan persawahan ini. Malahan saat ini hawa dingin mulai menghangatkan panas untuk mengepung persawahan tempat di mana, Mika dan juga orang-orang tua lainnya berkemah.


Tidak terasa mereka sudah menyelesaikan pemanenan padi satu sawah, dan besok tinggal satu persawahan lagi. Mereka akan pulang. Paling mereka akan menyelesaikan itu dalam waktu satu setengah hari. satu hari mereka akan melakukan pemanenan, dan setengah harinya mereka akan memisahkan butiran padi dari batangnya.


Saat ini jam sudah menunjukkan pukul lima lebih dua puluh lima sore yang akan sebentar lagi menjelang petang. Terlihat Mika yang sudah rapi dengan rambut basah, karena baru selesai mandi, dan jangan lupakan pakaiannya yang sudah berubah menjadi baju kaos yang dipadukan celana jeans.


Sekarang wanita itu sedang melipat sebuah terpal yang siang tadi dia gelar bersama Kavin. Di tengah-tengah terpal itu, terdapat sekumpulan butiran-butiran padi, yang sudah terpisah dari batangnya.


Dan butiran-butiran padi itu, Mika dan Kavin dapatkan dari panen kemarin siang, dan pagi tadi. Sekarang Mika sedang melipat terpal itu, untuk menutup butiran-butiran padi agar tidak basah terkena embun, dan terlebih lagi Mika tidak mau butiran-butiran padinya di makan burung pagi nanti.


'kemana pria kota itu? kenapa sampai jam segini dia belum balik juga?' batin Mika bertanya, dan dia mulai khawatir.


Iya, sedari sore tadi. Kavin belum kembali. Katanya tadi dia mau minta singkong, tapi sampai sekarang pria kota itu belum balik juga. Terlebih lagi Kavin dari tadi pagi belum mandi, tapi anehnya di pandangan Mika. Pria itu tetap tampan.


Baru saja Mika memikirkan Kavin, dan mata Mika langsung melihat Kavin yang berjalan dengan menenteng sebuah tas plastik hitam, 'nah baru aja dipikirin, orangnya udah nongol. Mana tampangnya selengean pula. Bikin gedek tau enggak,' batin Mika yang sudah selesai melipat sisi-sisi terpal.


"Aku pulang," tutur Kavin dengan penuh keceriaan, membuat Mika menyungging senyum, "Ini sesuai pesananmu," imbuh Kavin sembari menyodorkan sepelastik singkong yang masih dipenuhi oleh tanah.


Mika berjalan mendekat ke tenda, di mana, di depan tenda sudah tergerai sebuah tikar, dan Mika langsung mendudukkan pantatnya di sana, "Kau sudah mandi?" tanya Kavin, dan Mika bergerak menunjukkan rambutnya yang sudah basah.


"Kenapa kau tidak mwnungguku?" imbuh Kavin, dan bergerak duduk di sebelah Mika.


Mika menatap ke arah Kavin, dan tangannya langsung bergerak membuat isyarat, "Jika saya menunggu anda. Saya akan terlambat."

__ADS_1


"Tapi tetap aja kau harus mwnungguku." kekeh Kavin, membuat Mika kembali melakukan isyrat tangan.


"Anda juga sudah terlihat tampan, walau tidak mandi."


Seketika satu sudut bibir Kavin terangkat, bersiap menunjukkan tampang songong miliknya, "Kau baru sadar sekarang yah. melihat Isyarat tanganmu itu, roman-romannya kau mulai tertarik padaku nih. Tetapi, maaf, kau harus bersiap-siap patah hati, karena aku tidak mungkin menerimamu. Jangan bertanya kenapa karena sudah jelas kau itu jelek, ngeselin, dan terlebih lagi kau bukan tipeku," tutur Kavin panjang lebar, dengan mulai mengeluarkan kepedean miliknya.


Mika yang mendengar itu, hanya mengangkat bahu acuh, dan dia lebih memilih untuk melihat singkong yang Kavin bawa, 'banyak juga? Aku penasaran gimana cara dia mendapatkan ini semua,' batin Mika dan kembali menolehkan kepala untuk melihat Kavin yang masih berpose membanggakan dirinya, karena mendapatkan pujian dari Mika.


Melihat itu, Mika hanya memutar bola matanya, dan dia langsung menepuk bahu Kavin, "Ada apa? Apa kau mau mengutarakan perasaanmu?" ujar Kavin, dan Mika langsung menggelengkan kepala.


Gadis ayu itu mulai membuat Isyarat tangan, "Saya penasaran, bagaimana anda bisa mendapatkan singkong sebanyak ini?"


"Mudah saja. Aku menggunakan cara seperti saat aku meminta mangga," jawab Kavin dengan masih memamerkan tampang yang sama.


Mika kembali membuat isyrat tangan, "Emang gimana cara anda mendapatkan mangga tadi siang?"


"Dengan menjual namamu lah," jawab Kavin tanpa sadar.


***


Sore yang tadinya dihiasi oleh biasan jingga, sekarang sudah tergantikan dengan suasana malam. Inilah yang Kavin tunggu-tunggu kedatangan.


Seperti biasa, sekarang Kavin kembali memakai sarung yang atasannya masih sama seperti siang tadi, yaitu kemeja Hawai kebanggaannya, 'Di foto enak nih,' batin Kavin, dan pria itu mulai merangkak masuk ke dalam tenda, untuk mengambil ponselnya yang tadi dia tinggalkan, karena pergi ke musholla.


Mika uang melihat tingkah itu, tidak mau menyeletuk. Jika, dia melakukan itu, maka dia harus bersiap-siap mendengar cicitan Kavin yang tidak ada habisnya, 'Aku tidak akan peduli apa yang pria kota aneh itu lakukan,' batin Mika. Dia bergerak menaikkan mekenahnya, dan setelah itu dia melanjutkan aktivitasnya membersihkan tanah-tanah yang melekat di kulit singkong.


Kavin kembali keluar dari dalam tenda dengan cara merangkak, pria itu langsung mengehentikan gerakannya tepat di belakang Mika, dan dia memposisikan duduknya menyerong.


Dalam diam, Kavin mulai membuka aplikasi kamera di ponselnya, dan dia langsung mengarahkannya tepat menyorot wajah Mika yang menunduk, dan sedang fokus melakukan pekerjaannya.


Kavin mulai menggerakkan ibu jarinya untuk menekan tombol ambil gambar, dan tepat setelah itu. blitz kamera ponselnya menyala otomatis, dan sontak Kavin langsung terserang kepanikan.


Sementara itu, Mika yang terpapar cahaya terang dari blitz langsung memposisikan lengannya tepat di depan mata, dan setelahnya. Dia langsung berdiri dari duduknya, dan menatap nyalang ke arah Kavin yang mulai kalang kabut, 'nah kan, masalah nih,' batin Kavin, dan sedetik kemudian Mika langsung menyambar benda pipih milik Kavin.


Setelah itu, matanya langsung menangkap sebuah gambar mini yang berada di pojok kiri. Mika yang baru pertama kali memainkan ponsel, menekan foto mini itu, dan matanya langsung disambut oleh sebuah foto lengan berwarna kecoklatan yang dia yakini itu miliknya.


Mika langsung menempelkan ujung alisnya, dan jempolnya tidak sengaja menyentuh layar ponsel itu, hingga foto tangannya, langsung berubah menjadi foto dia yang sedang memukul batang padi.


Awalnya Mika tidak tahu kenapa gambar tangannya itu berubah, dan dia mencoba menyentuh layar ponsel, tapi gambar dirinya yang memukul batang padi, tidak berganti.

__ADS_1


Namun, dia mencoba untuk mengelus layar ponsel ke kiri, dan foto Mika yang sedang memukul padi itu, langsung terganti dengan gambar Mika yang sedang menyeka keringat menggunakan lengannya. Melihat dua foto itu, membuat Mika semakin menghunuskan tatapan tajamnya untuk Kavin.


Sementara Kavin, yang sudah tidak bisa mengelak bergerak berdiri, dan dia malah membuat wajahnya menjadi terlihat seperti sedang marah, "Kembalikan," ujar Kavin dengan menyambar ponsel miliknya, dari tangan Mika.


"Apa maksud semua ini?" tanya Mika menggunakan bahasa isyarat, dan jangan lupakan tatapan matanya yang tajam itu.


"Apa— ya itu." Kavin berbicara gelagapan, dan sekarang pria itu sedang bingung mencari alasan apa yang cocok untuk situasinya saat ini.


Mendengar nada gelagapan itu, Mika kembali membuat isyrat tangan, "itu apa?"


Melihat itu, raut kebingungan Kavin, menguap, dan tergantikan dengan wajah yang ditekuk, "Kau jangan kepedean yah. Mentang-mentang aku mengambil foto kau, terus kau mengira aku tertarik kepada kau?"


Mika mengerutkan keningnya, karena dia tidak mengerti, apa yang sekarang Kavin jelaskan. Apa lagi caranya menjelaskan itu dengan nada bersungut-sungut, "Nih lihat, kau enggak usah takut. Aku bakalan hapus foto jelek kau ini dari ponselku," imbuh Kavin dan mulai memilih-milih foto Mika yang berjumlah sepuluh itu.


"Lihat ini," perintah Kavin, dan Mika menganggukan kepala. Kavin bergerak menekan titik tiga yang ada di pojok atas, memilih tap pindah foto, lalu menekan pilihan memori SD, dan foto pun hilang dari galeri, "lihat aku sudah menghapusnya, dan kau buruan lanjutkan pekerjaanmu sebelum adzan Isa soalnya, setelah Isa, aku akan memakan singkong rebus itu," imbuh Kavin, dan Mika yang memang tidak bisa membaca hanya mengangguk percaya.


Pasalnya seluruh fotonya langsung hilang, dan dia mengira itu sudah di hapus. Tetapi aslinya Kavin memindahkan tempat penyimpanan foto itu. Mika tanpa mau banyak tanya lagi kembali duduk, sebelum itu. Tadi, dia sempat mengancam Kavin, agar pria itu tidak mengambil gambarnya secara sembunyi-sembunyi.


Kavin yang mendapatkan ancaman itu hanya menganggukan kepala, dan dalam hati dia sedang ruang serta gembira, 'hampir saja,' ujarnya dalam hati, dan setelah itu. Dia kembali duduk di sebelah Mika.


...T.B.C...


...Bagaimana Part ini?...


...Seperti biasa yah. Jangan lupa kasih hadiah ❤️ atau kopi, atau bisa juga kursi....


...Apa ada kata buat:...


...Kavin?...


...or...


...Mika?...


...See you next part!...



...(Tinggalkan jejak komen yah) #maksa loh nih...

__ADS_1


__ADS_2