Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
82. Hanya Bayang Semu.


__ADS_3

...Sesuai janji, aku double update karena hadiah berhasil mencapai 10.500....


...Mau tripel update? Yok capai hadiah 10.800 Bisa enggak yah? Kalau bisa aku, akan tripel update untuk sahabat paris. Yok push hadiahnya agar dapet tripel update yok.....


...****************...


Cekrek!


Mika bergerak menutup pintu, saat beberapa menit yang lalu. Dia melepas kepergian Kavin. Saat ini gadis ayu itu, masih berdiri menghadap ke arah pintu dengan kepala menunduk.


Tidak ada tangis, tidak ada rasa sedih, karena semua itu Mika simpan di dalam hati. Sebenarnya dia bisa saja egois untuk meminta Kavin tetap di sini, tapi Kavin bukan siapa-siapa dalam hidupnya. Dia adalah seorang wisatawan yang hanya berlibur ke desa tempat tinggalnya, dan itu tidak lah lebih.


Akan atau enggan? Mika kembali mengingat isyrat tangan yang tadi spontan dia keluarkan saat Kavin hampir beranjak pergi meninggalkan rumah sederhana yang diberikan oleh Kavin sebagai kenang-kenangan.


'Aku pegang janjimu Kavin. Aku akan menunggu kedatanganmu lagi. Jadi, aku harap cepatlah kembali. Karena jujur, aku sekarang sudah mulai merindu lagi,' batin Mika, dan gadis dua puluh tiga tahun itu bergerak memutar tubuhnya, dan langsung mengayunkan langkah beranjak dari depan pintu.


"Gadis desa! Gadis desa! Buka pintunya!" Mika menghentikan langkah, saat gendang telinganya menangkap sebuah suara yang begitu sangat dia kenali.


"Mika! Aku bilang buka pintunya bodoh!" Mika mencoba menajamkan telinganya, dan lagi-lagi dia mendengar suara yang sama.


Tanpa sadar kedua sudut bibir Mika tertarik membentuk seutas senyum. Baru saja dia sampai di ruang keluarga, dan tanpa ada rasa terpaksa. Dia kembali memutar tubuhnya, dan berjalan cepat ke arah pintu


Mika masih dengan tersenyum meraih ganggang pintu, memutarnya, 'Kavin' batin Mika, dan dia langsung menarik pintu itu ke dalam untuk membukanya.


embusan angin membuat Mika terpaksa memejamkan mata, dan dengan perlahan dia kembali bergerak membuka matanya.


Deg!


Sepi— itulah yang saat ini kedua matanya lihat. Mika mencoba melangkah keluar dari dalam rumah, dan setelah berada di luar. Gadis itu bergerak memindai seluruh kawasan kebun yang saat ini mulai menggelap.

__ADS_1


Mika terus mengedarkan pandangannya dengan mulut yang terlihat seperti sedang berbicara, tapi karena gadis itu bisu. Hanya keheningan yang keluar dari mulutnya yang bergerak-gerak, tapi dari gerakan bibir, dan raut wajahnya. Mika saat ini mengatakan, "Kavin keluarlah. Aku tahu kau tadi memanggilku kan? Jadi, keluarlah."


Namun, nihil. sejauh manapun matanya memandang. Kehadiran Kavin tidak ada di tempat itu. Padahal tadi Mika mendengar jelas suara teriakan Kavin yang memanggil namanya dengan sebutan gadis desa. Jadi, apa itu semua hanyalah suara semu?


Tanpa Mika sadari, satu butir air matanya keluar, dan entah kenapa gadis itu malah menyungging senyum, 'Apa ini rasanya rindu?' batin Mika, dan gadis itu kembali masuk ke dalam rumah, menutup pintu, dan tidak lupa dia juga menguncinya.


Dengan perlahan Mika kembali mengayunkan langkah ke tempat ruang keluarga yang ada di rumah sederhana miliknya. Mika tepat menghentikan langkah, di belakang sofa yang beberapa menit lalu dia duduki dengan Kavin.


Gadis desa, lihat. Aku pandai kan membersihkan piring bekas makanku sendiri? Mika mengeluarkan kekehan saat dia mulai melihat bayang-bayang kejadian siang tadi, di mana saat ini kedua matanya melihat jelas kehadiran Kavin di dapur, dan pria itu sedang membersihkan piring bekas makannya.


Dia bukan hanya melihat Kavin, tapi di sana ada dirinya juga yang sedang merapikan alat-alat memasak yang juga sudah di cuci bersih oleh Kavin.


Beri aku pujian, gadis desa, Lihat Mika bahkan masih bisa mendengar suara songong Kavin, dan tiba-tiba saja Mika memegang tubuh bagian dadanya. Kedua matanya terpejam, dan dia langsung menangis dengan mulut yang terlihat terbuka, tapi tidak mengeluarkan suara.


Bertepatan dengan Mika yang menangis. Bayang-bayang kejadian yang ada di dapur juga menghilang, tapi Mika kembali mendengar suara.


Pijat kebawah dikit, gadis desa. Iya di situ. Terus, tekan yang keras bodoh! Ini semua karenamu. Kakiku pegal-pegal karena, menggendong mu tadi pagi. Jadi, kamu harus memijatnya hingga rasa lelahnya hilang, Mika kembali menangis, dan bahkan saat ini dia sedang menggenggam erat baju yang ada di bagian dadanya.


...****************...


Sementara di sisi lain. Kavin saat ini sudah berada di dalam mobil, dan dia sekarang sedang duduk di kursi penumpang bagian belakang dengan mata yang terpejam.


Puk! Puk! Puk!


"Hentikan, gadis desa. Biarkan aku istirahat." Kavin dengan masih memejamkan mata mulai meracau, dan ini sudah kesekian kalinya pria itu mengucapkan kata-kata yang sama.


Bahkan sopir yang diutus oleh Papa Kavin, sampai tidak habis pikir dengan sikap Tuan mudanya itu. Dia hendak menegur, tapi dia tidak mau mengambil resiko, karena sopir paruh baya itu sangat mengenal sikap anak pertama Tuannya itu.


Akhirnya, sang sopir itu memilih untuk fokus mengendarai mobilnya agar cepat sampai ke Bandara Internasional Lombok, karena beberapa jam lagi pesawat yang membawa Tuan mudanya kembali ke ibu kota akan lepas landas.

__ADS_1


Puk! Puk! Puk!


Kavin lagi-lagi merasakan sebuah tepukan, yang tidak asing di pipinya, "Jika kau melakukan itu lagi, aku bersumpah ak-" Kavin menghentikan ucapannya, dan pria dua puluh tujuh tahun itu langsung membuka matanya lebar-lebar.


Kavin menoleh ke kiri, dan dia tidak menemukan si pelaku yang menepuk pipinya itu. Pria dua puluh tujuh tahun itu terkekeh, dan kembali menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil. lengan kananya langsung bergerak menutup kedua matanya, "Kau membuatku terlihat seperti orang gila, gadis desa," gumam Kavin, dan satu butir air mata terlihat mengalir di pipinya. Itu sukses memberitahukan kalau sekarang, dia juga tengah merasakan apa yang saat ini Mika rasakan.


...****************...


Sekarang Kavin sedang duduk rapi di ruang tunggu bandara. Sedari tadi pria itu menghela napas, dan entah apa arti helaan napas itu.


Kavin lagi-lagi menghela napas, dan pria dua puluh tujuh tahun itu bergerak menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang terasa sangat dingin. Terlebih lagi AC di ruangan itu, sangat terasa menggelitik kulit Kavin.


Kavin bergerak meraup wajahnya, untuk menghilangkan raut kusut yang sedari tadi dia tunjukkan. Dia bergerak mengangkat lengan kanannya, melirik arloji yang melingkar rapi di pergelangan tangannya, "Aku yakin, dia pasti sudah tidur sekarang. Pasti ekspresinya akan terlihat menggemaskan sangat tidur," gumam Kavin saat setelah dia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan.


Kavin terkekeh, dan secara tiba-tiba satu air hangat lolos dari pelupuk matanya. Tetapi, dengan cepat pria itu menghapusnya, karena dia tidak ingin orang-oeang tahu. Kalau sekarang dia sedang dilanda gundah gulana.


Kavin merubah posisi duduknya, menjadi menundukkan kepala, dan tiba-tiba saja pria itu mengeluarkan satu buah iskaan, "Apa yang engkau lakukan sekarang ini, Mika?" gumam Kavin dan pria itu tiba-tiba mengeluarkan tawa, hanya untuk menyamarkan suara isakan tangisnya yang semakin menjadi.


"Apa kau merasakan sesuatu yang sama, seperti yang saat ini aku rasakan? Apa sekarang kau sedang merindukan aku, seperti aku yang saat ini merindukan kau? enggak, kau itu gadis bodoh, dan kau mana tahu apa itu rindu?" Kavin mulai meracau dengan suara pelan, sembari air mata terus mengalir keluar dari pelupuknya.


"Kau bodoh Mika. Kau bodoh, dan aku menyukainya. Kau itu juga jelek, dan aku menyukainya. Aku menyukai semua yang ada dalam dirimu. Aku menyukai tawa bisu mu, aku menyukai senyum lebar mu, aku menyukai tepukan tangamu di pipiku, dan ak-"


Tiba-tiba gumaman Kavin terhenti, saat suara seorang wanita yang mengatakan kalau penerbangan ke Jakarta akan segera berangkat, menggema memenuhi bandara. Kavin melihat sebuah layar yang terpasang di tiang ruang tunggu. Dia bergerak bangkit dari duduknya.


Tidak lupa Kavin meraup wajahnya, dan pria dua lukuh tujuh tahun itu lagi-lagi menghela napas, dan....


"Sampai jumpa, Mika," gumamnya, dan Kavin langsung mengayunkan langkahnya pergi dari ruang tunggu.


...T.B.C...

__ADS_1


...1244 kata gays....


...Yok 10700 Hadiah, Aku update lagi. Yakin enggak penasaran dengan part selanjutnya? Yok makanya phus dulu hadiahnya hingga 10800...


__ADS_2