Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
120. Kepergian dan Kehancuran.


__ADS_3

Salah satu laki-laki bertubuh gelap dengan kumis tebal bergerak memutar tubuhnya menghadap ke pintu apartemen yang tadi sudah dia tutup.


Laki-laki itu mengulurkan tangan ke sebuah kunci yang masih tertancap di tempatnya. Dia memutarnya dengan gerakan perlahan dan setelah bunyi khas pintu yang dikunci menggema.


"Halo cantik," sapa seorang laki-laki yang garis wajahnya terlihat lebih muda ketimbang dari pria yang saat ini kembali bergerak memutar tubuhnya dengan tangan melempar kunci.


"Kau buat dia takut, Ki." Dengan masih melambungkan kunci laki-laki bertubuh gelap dengan kumis tebal itu berucap memanggil, pria yang saat ini menatap Mika dengan kerlingan mata nakalnya.


"Benar begitu, istriku?" Laki-laki berkumis tipis dan berkulit gelap yang tadi dipanggil Ki itu bertanya dengan tersenyum nakal ke arah Mika yang sudah sedari tadi ketakutan pun berkeringat dingin.


"Berhentilah panggil dia istrimu, Ki. Kita sudah berhasil masuk ke sini dan sudahi aktingmu itu." Dia— Setiaji berucap dengan kerlingan mata yang sama nakalnya seperti Rifki— laki-laki yang sekarang berdiri di sebelah kirinya.


Iya— mereka berdua itu adalah Setiaji dan juga Rifi. Laki-laki yang beberapa hari lalu menyamar jadi tukang ledeng.


Sebenarnya mereka berdua bukanlah tukang ledeng, tapi mereka adalah seorang preman yang sering disewa oleh orang-orang untuk melakukan pekerjaan seperti, membunuh.


Namun, untuk pekerjaan kali ini. Merek tidak disuruh membunuh ataupun melakukan hal-hal yang meregang nyawa. Tetapi, mereka ditugaskan oleh orang yang menyewa jasanya untuk menyerang mental Mika— wanita bisu yang saat ini melangkah mundur dengan kodisi tubuh gemetar.


b**uka pintunya, sayang


Setiaji dan Rifki tertawa dengan suara yang tidak terlalu kencang saat dia kembali memutar rekaman suara Kavin— suami dari korban yang akan mereka rusak mentalnya.


"Kau memang gadis desa bodoh yang bisa dikadali dengan sebuah rekaman seperti ini," ejek Rifki sembari jempol tangannya menekan tanda pause yang ada di ponselnya, membuat rekaman suara milik Kavin itu terhenti.


"Enggak sia-sia kita ngikutin mereka beberapa hari terakhir ini dan lu cerdas juga bisa kepikiran rekam tuh suara lakinya dia." Setiaji memuji membuat Rifki menyeringai penuh bangga.


Sedangkan di sisi Mika. Saat ini wanita itu masih bergerak untuk melangkah mundur dengan sekujur tubuh yang bergetar hebat, kalian mau apa? batin Mika bertanya dengan tatapan mata yang memancarkan ketakutan.


"Kira-kira bagaimana caranya kita menghancurkan mental wanita malang ini?" tanya Setiaji basa-basi walau sebenarnya sebelum masuk ke sini. Mereka sudah memutuskan cara agar wanita yang tengah bersandar di sebuah rak kayu ruang keluarga.


Tanpa disadari Mika sudah berada di ruang keluarga Apartemennya. Wanita yang sekujur tubuhnya gemetar itu membuka mulut untuk membantu hidungnya bernapas, karena tiba-tiba saja dia merasa oksigen yang ada di sekitarnya lenyap.


"Bukankah kita tadi sudah memutuskannya di luar?" cicit Rifki sembari menatap ke arah Mika dengan sorot mata yang dipenuhi *****.


"Kau yakin akan melakukan itu?" tanya Setiaji yang juga mulai merubah raut wajah yang tadinya sangar berubah mesum pun tatapan matanya tak jauh berbeda dengan milik Rifki.


"Tentu saja aku yakin, Ji." Setiaji menyeringai senang saat mendengar jawaban yang keluar dari mulut Rifki.


Padahal beberapa hari yang lalu laki-laki itu bimbang antara ingin melakukannya atau membatalkan. Tetapi, setelah berpikir panjang. Dia memutuskan untuk menerima pekerjaan ini, karena situasi memaksanya.


Sebenarnya Rifki tidak pernah di serang rasa bimbang saat ada orang yang menyewanya, tapi untuk baru pertama kali ini dia merasakan itu karena. Wajah korbannya sangat-sangat mirip dengan Princess Liora— model busana idolanya.


"Aku kira kau masih nolak, karena wajah si bisu ini kembar dengan princess kita." Setiaji berucap dengan kedua sudut bibir semakin tertarik ke atas.


Sedangkan Mika yang sudah dipenuhi rasa takut, mulia melirik ke sebelah kanan, tepat ke lorong yang akan membawanya ke ruang kamar.

__ADS_1


Rifki yang menyadari kalau korbannya akan melarikan diri hanya tersenyum miring, dan pura-pura tidak melihat ke arahnya.


"Menolak? Barang secantik ini akan ditolak? Tentu saja tidak." Rifki langsung meraih pergelangan tangan kiri Mika yang tadi hampir berlari.


"Mau lari ke mana, istriku?" tanya Rifki dengan nada bicara, tatapan mata, dan senyum yang tiba-tiba menjadi nakal. Pun sekarang laki-laki itu sedikit memelintir tangan Mika, membuat wanita itu menganga untuk mengeluarkan ringisan bisu disertai air mata yang mulai mengalir keluar.


Mika menangis— wanita itu sekarang tengah ketakutan dan ingin sekali berteriak untuk meminta pertolongan, tapi itu tidak bisa dia lakukan.


Sekuat apapun dia mencoba ingin berteriak, tapi yang keluar dari dalam mulutnya hanya embusan angin tanpa ada sedikitpun suara yang ikut keluar.


"Tolong! tolong! tolong aku!" Setiaji yang melihat mulut Mika yang terbuka lebar mengejek dengan mengeluarkan teriakan minta tolong.


"Aku harap, Nyonya tidak banyak melawan yah." Setiaji yang entah sejak kapan sudah berada di depan Mika.


Malahan sekarang laki-laki yang berusia tiga puluh tiga tahun itu mulia meraba wajah Mika dengan gerakan tangan seringan kapas. Mika yang merasakan rangsangan semakin bergidik ngeri. pun keringat-keringat dingin bercucuran dari keningnya seolah ingin berlomba dengan butiran air hangat yang keluar dari matanya.


Sementara Rifki. Saat ini dia sudah memposisikan telapak tangan kiri Mika berada di pahanya yang masih terbalut celana jeans. Laki-laki itu perlahan menarik pergelangan tangan Mika dan membuat tubuh belakang wanita bisu yang tidak berdaya itu perlahan menempel ditubuh bagian depannya.


Kepalanya pun sudah entah sejak kapan mulai bermain di tengkuk Mika yang terlindungi surai hitam panjang milik wanita itu.


Mika semakin dilanda ketakutan. Wanita itu mulai menggerakkan tubuhnya untuk meronta, tapi itu justru membuat Rifki menyeringai, "Kau gatal juga, J*l*ng," bisik Rifki sembari tangan kiri menggerakkan tangan Mika untuk meraba pahanya yang membuat dia memejamkan mata.


"telapak tanganmu lembut juga," bisik Rifki kembali sembari menjulurkan lidahnya untuk menjilati daun telinga Mika.


Mika semakin dibuat ketakutan sekaligus panik. terlebih lagi sekarang dia mulai melihat wajah Setiaji yang semakin dekat dengan mukanya.


Setiaji semakin memajukan wajahnya bersiap untuk mencium bibir Mika, tapi sebelum dia berhasil melakukan itu. Mika lebih dulu meludahi wajah laki-laki tiga puluh tiga tahun itu.


Mika yang melihat Setiaji terkejut bergerak mengangkat kakinya dan langsung menendang tepat ke perut Setiaji membuat laki-laki itu mundur.


Sedangkan Rifki yang sedari tadi asik bermain-main dengan leher Mika bergerak menegakkan kepalanya dan betapa terkejutnya dia saat melihat Setiaji terhuyung ke belakang.


"Kau-"


Belum sempat Rifki mengeluarkan perkataannya. Mika langsung bergerak meremas kasar ******** milik pria itu, membuat Rifki mengeluarkan teriakan histeris.


Bertepatan dengan teriakan histeris itu, dari arah dapur terdengar banyak barang-barang yang berjatuhan disertai suara kucing yang mengeong. Sedangkan dari arah lorong tempat di mana dua kamar di apartemen itu berada, terdengar suara tokek yang menyebut namanya sendiri dengan kerasnya.


Mika yang berhasil terbebas dari dua laki-laki itu menarik napas dalam-dalam dan setelahnya dia hendak berlari masuk ke dalam kamar kembali.


Namun, gerakan kakinya menggantung di udara dan rasa perih tiba-tiba menjalar di sisi-sisi kepalanya saat Setiaji tanpa hati menjambak rambutnya.


"Mau kemana kau, J*l*ng sialan!" Setiaji menarik kasar rambut Mika membuat wanita itu bergerak mundur dan langsung menghantam tubuh bagian depannya.


"Ternyata J*l*ng kita ini suka main kasar ya." Setiaji berucap sembari tangan kiri memeluk pinggang ramping Mika dan tangan kanan memeluk tubuh bagian dada Mika.

__ADS_1


Mika hanya bisa membuka lebar-lebar mulutnya untuk mengeluarkan sebuah teriakan yang akan sangat nihil terdengar, "Ji, pegang yang erat yah."


Rifki yang sudah tidak lagi merasa sakit di area *********** langsung menatap Mika dengan sangat tajam dan tanpa ada pemberitahuan. Dia langsung melayangkan satu tamparan keras di pipi wanita itu, "Hukuman karena perlakuanmu tadi, J*l*ng." Rifki berucap dengan bibir menyeringai pun dia mulai menjilati ujung bibir Mika yang mengeluarkan darah.


Sedangkan Mika— saat ini dia terlihat berantakan. Rambutnya yang tadi tersisir rapi, sudah berubah acak-acakan. Dia mulai merasa tidak berdaya, dan hanya bisa mengeluarkan tangis pun napasnya mulai tersengal-sengal.


"Jika kau suka yang kasar mak-"


Rifki menghentikan ucapannya saat gendang telinganya mulai jengah mendengar suara bising di dapur. Dia menolehkan kepalanya untuk melihat ke arah belakang di mana, suara berisik itu berada.


"Kucing sialan! lu bisa diam enggak!" Rifki berteriak dengan nada tidak terlalu tinggi agar suaranya tidak sampai ke luar.


Sedangkan kucing yang tadi diteriaki malah semakin gencar mengeong pun kaki bagian depannya tidak henti-hentinya bergerak menendangi wajan untuk menciptakan kebisingan.


Rifki yang melihat itu mulai memancarkan tatapan penuh kemarahan. Laki-laki dua puluh sembilan tahun itu mengayunkan langkah ke arah kucing putih yang masih saja mengeong seolah tidak merasa takut.


"Lu berisik banget." Rifki berucap sembari menendang Miranda— kucing betina Kavin itu tepat di leher, membuat hewan itu terkapar di lantai, tapi mulutnya masih bisa mengeong walau dengan nada lirih.


"Diam begitu baru-" Rifki mengehentikan ucapannya saat mendengar Setiaji berteriak.


"Kurang ajar kau, J*l*ng!" Teriak Rifki saat dia melihat Mika ingin berlari setelah menginjak kaki Setiaji yang terbalut sepatu.


Mika yang mendengar teriakan itu bergegas untuk berlari, tapi dia tiba-tiba terjatuh ke lantai saat kaki kanannya ditarik dari belakang.


Mika semakin membuka suara pun tangannya mencoba meraih kaki sofa, tapi semuanya percuma karena tubuhnya langsung diseret oleh Rifki, "Padahal kami mencoba untuk lembut, tapi kau sendiri yang mau bermain dengan kasar, bukan?" Rifki berucap sembari menjambak rambut hitam Mika, dan menyeret tubuh wankta itu masuk ke lorong.


Setiji yang melihat itu bergerak mengikuti dari arah belakang dengan langkah tertatih, "Kita puaskan J*l*ng murah ini, dengan kasar. Ji." Ucap Rifki yang membuat Setiaji menyeringai.


Sementara Miranda— kucing peliharaan itu masih mengeong dengan nada yang begitu lirih dan setelah dia tidak mendapati lagi majikannya berada di ruang tengah. Miranda pingsan.


***


"Apa yang membuat dia tidak melihat pesanku?" Kavin menggerutu saat pesan yang dia kirim untuk sang istri hanya centang dua tanpa ada warna biru.


"Bukankah sudah aku bilang untuk tetap membawa ponsel, sayang," imbuhnya sembari terus melihat layar ponselnya yang beberapa menit ini masih tidak ada tanda-tanda centang dua dari pesannya berubah warna.


Kavin mengeluarkan decakan sebal, "Aku coba melakukan panggilan video aja kali yah." Baru saja Kavin ingin menekan icon kamera yang ada dibagian atas pojok kanan.


Namun, gerakannya terhenti saat suara Agler menyapa gendang telinganya, "Gate kita sudah dibuka, Tuan. Jadi, mari." Agler berucap dengan nada formal membuat Kavin menatap tajam ke arah laki-laki itu.


"Berhentilah bicara bodoh seperti itu, Lio." Kavin berucap sembari bergerak bangkit dari duduknya, pun dia tidak lupa mengaktifkan mode pesawat di ponselnya.


"Ayok." Kavin beranjak pergi berbarengan nasib naas yang akan menghancurkan istrinya.


...T.B.C...

__ADS_1


...Aku berat nulis ini🙈🙈🙈...


...Semoga feel-nya ngena yah...


__ADS_2