
...(Gini loh, tadi Mika janji mau traktir Kavin es. nah si Kavin nunjukin tuh es yang diam mau. Mika yang baru pertama kali lihat mengangguk-ngangguk aja karena kagum. Nah si Kavin salah tangkap, dan kira Mika mau beliin es itu)...
...***...
Pantai Kuta, 12.30
Setelah bosan berjam-jam mengelilingi pantai. Sekarang Agler dan juga Zaly sudah berada di sebuah warung semi outdoor yang bernama, warung flora.
Letak warung flora, dengan pantai Kuta tidak begitu jauh. Sehingga Agler dan Zaly ke mari hanya dengan berjalan kaki. Sebelum Agler mengajaknya menuju ke warung flora. Zaly sempat berpikir, kalau tempat itu pasti murahan, dan tidak higienis, karena ada kata warung di kalimat utamanya.
Namun, ternyata ekspektasi Zaly salah setelah sampai di temapt itu. Zaly yang awalnya mengira tempatnya akan sepi, dan tidak higienis. Malahan dibuat kagum, karena suasana hijau warung flora itu.
Zaly juga tadi sempat mengira kalau tempat itu pasti sepi. Tetapi, perkiraannya itu salah, karena setiap harinya warung flora selalu ramai dengan pengunjung. Entah itu pengunjung dari dalam negeri, maupun luar negeri. Semua berkumpul di tempat itu.
Terlebih lagi tempat duduknya diletakkan di bawah pohon palem, membuat nuansa alam di tempat itu semakin terasa.
"Terkesannya cukup segitu aja kali Zal," celetuk Agler membuat Zaly tersadar dari rasa kagumnya akan tempat yang sekarang mereka datangi ini.
"Sumpah— ini mah bagus banget Lio. Kau tahu tempat ini dari mana?" puji Zaly dengan raut kagum yang begitu kentara di wajahnya.
"Aku kemarin tidak sengaja berkeliling, dan terdampar di tempat ini," jawab jujur Agler dengan mengangkat kedua bahunya.
Pembicaraan mereka terhenti saat seorang pelayan wanita menghampiri mereka, dengan kedua tangan mengangkat sebuah nampan, "Permisi Mas, Mbak. Ini pesanannya," ujar pelayan wanita itu dengan sopan, sembari bergerak meletakkan dua porsi ayam taliwang spesial nasi ke atas meja mereka, dan pelayan itu juga tak lupa meletakkan dua gelas jus jeruk.
"Oh iya Mbak. Kalau boleh tahu, makanan ini namnya apa?" tanya Zaly, membuat Mbak pelayan itu kembali menyungging senyum.
"Ini namnya ayam taliwang mbak, makanan khas Lombok," jawab Mbak pelayan itu dengan terus mempertahankan senyumnya.
...(Ayam bakar taliwang spesial nasi dan tumis sayur. Itu salah satu makanan terfavorit yang ada di warung flora)...
Mendengar itu, Zaly hanya membulatkan mulut dengan kepala yang mengangguk, "Ada lagi yang Mbak tanyakan?" tanya pelayan wanita dengan penuh hormat.
"Sudah tidak ada lagi Mbak," jawab Zaly, dan wanita itu tidak lupa menyungging senyum.
"Kalau begitu saya permisi dulu. Mas, Mbak, selamat menikmati makan siangnya." Setelah berpamitan, pelayan wanita itu langsung berlalu pergi meninggalkan Agler dan Zaly.
"Silahkan dinikmati, dan aku berani jamin kalau kau bakalan ketagihan," celetuk Agler, membuat rasa penasaran Zaly kepada makanan yang sedari tadi Agler puji ini, muncul.
__ADS_1
Zaly bergerak ingin mengambil garpu dan juga pisau makan, "Ehh tunggu-tunggu," imbuh Agler membuat gerakan. Zaly terhenti.
"Ada apa lagi sih Lio?" tanya Zaly merasa kesal, dan Agler yang melihat itu hanya cekikikan.
"Biar lebih nikmat. Kita makan pakai tangan saja," jawab Agler dan pria itu bergerak menyuap makannya.
Zaly langsung mengikuti cara makan Agler, tapi bedanya. wanita cantik itu mengambil ayamnya dulu, lalu mengepal nasinya, dan menyuapinya ke dalam mulut, "Gimana?" tanya Agler yang mulutnya sekarang di penuhi oleh nasi.
Zaly yang mendengar pertanyaan itu, tidak bisa berkata-kata, dan dia malah menganggukan kepalanya, "Andai saja Kavin mencoba makanan ini. Pasti dia akan ketagihan," celetuk Zaly, dan wanita itu kembali menyuap nasinya. Dia tidak menyadari kalau apa yang dikatakannya tadi, membuat raut sinis di wajah Agler tercetak jelas.
"Buat apa sebut-sebut Kavin sih. Lagian tuh orang pasti sedang menikmati liburannya yang entah berada di mana," ujar Agler, dan setelah itu mereka tidak melakukan percakapan lagi.
***
Kute barat, pemukiman warga, 12..30am
Di waktu yang bersamaan tapi, di beda tempat. Kavin yang sekarang sedang duduk di sebuah bangku panjang terbuat dari kayu, yang berada di pinggir jalan merasakan mata kirinya bergerak-gerak sendiri.
"Pasti gadis desa iinj sedang membicarakan aku dibelakang nih," gumam Kavin menuding Mika yang saat ini sedang berbelanja di sebuah warung sederhana.
Iya, sesuai perjanjian di sawah tadi, kalau sehabis sholat Dzuhur. Mika akan mentraktir dirinya es, dan sekarmag Kavin sedang menunggu itu. Sekarang Kavin yang sudah kembali memakai sarung, dan kemeja hawai bermotif pohon kelapanya. Sedang menunggu Mika.
Sekarang pikiran pria itu, sedang berkelana menerka-nerka minuman apa yang akan Mika belikan untuknya. Tadi sewaktu masih di sawah, Kavin menunjukkan foto sebuah minuman segar yang ada di ponselnya. Nah pada saat dia menunjukkan foto itu, Mika menganggukkan kepala, dan membuat Kavin berpikir kalau dia akan dibelikan minuman seperti itu.
Sementara Mika. Saat ini dia sedang duduk menunggu pesan es yang dia beli dibuatkan, "Neh— due ribu total ne (ini— totalnya jadi dua ribu)." Pemilik warung itu sembari menyodorkan dua buah plastik berisikan air berwarna, yang ditambahkan beberapa butir es batu.
Mika yang melihatnya, langsung mengambil alih dua plastik itu, dan dia ganti dengan menyodorkan uang kertas senilai dua ribu rupiah, "Makasih," ujar pemilik warung itu, dan Mika hanya membalas dengan anggukan saja.
Gadis ayu berkulit hitam manis itu, berlalu pergi, dan mengayunkan langkah mendekat ke arah Kavin yang sedang memukul-mukul permukaan kursi, dan itu menimbulkan sebuah suara pukulan membengkakkan telinga.
Sebelum lebih dekat dengan Kavin. Mika bergerak menyembunyikan apa yang baru saja dia beli, di balik punggungnya. Baru setelah itu, dia mengayunkan langkahnya dengan cepat untuk mendekati Kavin yang kebetulan menoleh ke arahnya.
"Nah— nongol juga batang hidung peseknya," gumam Kavin, dan langsung berdiri dari duduknya, dan otomatis menghentikan aktivitas memukul-mukul permukaan bangku yang tadi dia duduki, 'Hei buruan! lelet bener dah," panggil Kavin yang sudah lelah menunggunya sedari tadi.
Mika yang melihat itu, mempercepat langkah kakinya, dan dia berhenti tepat di hadapan Kavin, "Kenapa? kau tidak sakit kan?" tanya Kavin yang melihat Mika senyam-senyum seperti orang gila.
Mika yang mendengar pertanyaan itu, langsung menggelengkan kepala, dengan terus menyungging senyum, "Lalu— kenapa kau senyam-senyum seperti orang gila?" tanya Kavin kembali, dan Mika hanya menggelengkan kepala untuk menjawabnya.
Sebenarnya Kavin yang tadi sudah berniat tidak ingin bicara, dengan terpaksa mengurungkan niatnya itu, karena gadis desa di depannya ini, "Gadis desa— aku itu haus. Di sini, aku butuh minuman, dan bukan senyum jelek kau itu." Mika menganggukkan kepala, membuat Kavin menjulurkan tangan seolah ingin meminta apa yang Mika janjikan tadi.
"Sesuai perjanjian. Mana jus pesanku tad-" Belum selesai Kavin mengeluarkan kata-katanya, tiba-tiba saja suara pria dua puluh tujuh tahun seperti tertahan di tenggorokannya.
__ADS_1
"Apa ini? Kau jangan bercanda gadis desa," lanjut Kavin akhirnya dengan nada seolah tidak percaya.
Mika yang mendengar itu hanya membuka mulutnya seolah ingin menciptakan sebuah tawa, tapi yang terdengar malahan hanya sebuah keheningan, "Hai—" ujar Kavin dengan kedua alis yang tertempel, dan itu dapat menggambarkan kalau pria di depannya ini sudah mulai marah.
Mika yang mulai merasakan ada sinyal bahaya, langsung saja membungkam mulutnya kembali. Gadis ayu itu, langsung menyerahkan satu minuman berwarna, yang dibungkus plastik bening ke tangan kanan Kavin.
Pria itu menggenggum apa yang diserahkan oleh Mika, "Nikmati es pinto rasa jasjus jeruknya yah Tuan." Mika melakukan isyrat tangan setelah menyerahkan satu minuman berwarna kuning itu ke tangan Kavin yang terulur.
Setelah melakukan isyrat tangan itu. Mika langsung mengayunkan langkah melewati Kavin yang masih terdiam mematung, "Gadis desa...." panggil Kavin, membuat Mika yang sudah menyedot es berwarna yang dikenal es pinto harga seribuan itu, menoleh, dan bergerak menaik-turunkan alisnya.
"Kau bercanda bukan?" tanya Kavin dengan nada bicara yang masih tidak ingin mempercayai minuman yang ada di tangannya ini.
Mika yang mendengar itu menaikan satu alisnya bingung, dengan pertanyaan Kavin tadi, "Ini loh. Bukankah tadi aku menunjukkan gambar minuman yang aku mau? Tapi kenapa kau malah memberikanku minuman bocah kek gini?" tanya Kavin dengan nada merengek.
"pokoknya aku tidak mau minum ini. Aku maunya jus jeruk, dan bukan minuman tidak sehat seperti ini," imbuh Kavin semakin merengek.
"Kalau anda tidak mau minum es pinto itu. Sini berikan padaku." Mika melakukan Isyarat tangan, yang membuat rengekan Kavin mereda.
Pria itu malah menelan ludahnya saat melihat Mika menyedot minuman berwarna yang sama dengannya, dan itu terlihat sangat menyegarkan, "Baiklah aku terima. Tetapi, aku tidak mau berterima kasih, karena minuman ini tidak sesuai yang aku inginkan."
Akhirnya dengan terpaksa Kavin menerima minuman berwarna kuning yang dihasilkan dari bubuk jasjus jeruk seharga seribuan itu. Mereka berdua berjalan beriringan kembali ke persawahan, dengan Kavin yang seperti tidak ikhlas menerima minuman pemberian Mika.
Sedangkan Mika begitu puas melihat ekspresi menyedihkan, dan menderita yang tercetak di wajah Kavin.
...T.B.C...
...Gimana part ini gays?...
...ohh iya, aku mau nanyak. Di daerah kalian nama minuman dibawah ini apa yah? kalau di daerahku sih namanya es Pinto. Tetapi di daerah kalian, namanya apa yah?...
...(Minuman yang Mika belikan untuk Kavin. kasihan sekali pria kota itu.)...
...Ada kata buat:...
...Kavin?...
...or...
...Mika?...
__ADS_1
...see you next part...