Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
Part 25. Gengsian.


__ADS_3

...Up nih xixixixixi! Niatnya aku mau double up hari ini, tapi doakan supaya aku inget yah....


...kalau perlu kalian bisa ingatkan aku lewat komen okeh 😜....


...Yang belum follow Ig aku, follow dulu dong. Biar kita bisa menjalin pertemanan sak....


...Langsung aja kali yah xixixixixi!...


Matahari semakin bersinar sangat terik. Terlebih sekarang jam sudah menunjukkan pukul satu siang, dan mereka berenam belum saja sampai ke tujuan mereka.


Sebenarnya tempat yang akan mereka datangi adalah selah satu desa yang tidak jauh dari Kuta. Tetapi, tadi di perjalanan, mereka terjebak kemacetan yang tidak terlalu padat, tapi cukup menguras waktu mereka yang mulanya akan sampai jam 10 pagi tadi. Belum lagi, tadi mereka berhenti sejenak di salah satu musholla untuk menunaikan ibadah Dzuhur, membuat Kavin mau tidak mau ikut melakukan ibadah itu.


Padahal di kota, Kavin sangat jarang shalat. Entah dikarenakan kesibukannya mengurusi perusahaan, atau karena memang dirinya yang tidak pernah berniat menunaikan ibadah yang wajib dilakukan seluruh umat Islam itu. Tetapi, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kavin kembali mengambil air wudhu, dan bersujud untuk memanjatkan syukur di tempat kediaman Tuhannya.


Setelah selesai menunaikan shalat Dzuhur, mereka semua kembali melakukan perjalanan ke desa yang mereka tuju, "Akhhh!" desah Kavin yang kulit wajahnya sudah sedari tadi berubah warna menjadi kemerahan, karena tidak bisa di pungkiri. Matahari yang bersinar terik siang ini, membuat kulit wajah, dan lengannya terbakar.


"Mika— lihat. Temanmu kepanasan," celetuk inak Icok, membuat Mika menoleh ke arah belakang.


Iya, setelah mendapatkan penjelasan beberapa jam yang lalu. Mereka yang sempat mengira Kavin dan Mika menjalin hubungan, sekarang sudah tidak lagi berpikiran seperti itu.

__ADS_1


"Apa lihat-lihat," sinis Kavin, dan kembali menjepit ujung baju bagian lehernya, untuk membuat angin, tapi itu tak mampu membuat hawa panas di tubuhnya tak menghilang.


"Sepertinya kau tidak pernah panas-panasan yah anak muda?" tanya Amak Udin yang duduk di sebelah kanan amak Kasim.


"Iya Mak. ini pertama kalinya," jawab Kavin apa adanya, membuat Amak Udin menganggukkan kepala.


"Kalau begitu, pasti di sana, nak Kavin bakalan kepanasan. Soalnya kita akan bekerja di terik matahari nanti," timpal Amak Kasim membuat Kavin bingung, tapi pria itu hanya bisa menganggukkan kepala.


'bukannya tadi Mika bilang mau pergi ngerampek? Sebenarnya apa itu ngerampek?' batin Kavin, tapi pertanyaan-pertanyaan itu langsung lenyap saat Mika tiba-tiba saja berdiri dari duduknya.


Kavin terus memandangi gerakan Mika, yang tangannya sekarang sedang membuka ikatan tali topi petaninya. Setelah ikatan itu terlepas, Mika bergerak melepas topi kerucut itu, dan tanpa Kavin duga Mika langsung memasangkan topi itu di atas kepala Kavin dengan sedikit menunduk, dan Kavin sendiri posisinya sedikit mendongak.


Dengan telaten, Mika mengikat tali topi itu agar tidak mudah terlepas. Sedangkan Kavin sendiri hanya tetap diam, tanpa bergerak karena matanya saat ini sedang memperhatikan wajah hitam manis milik Mika.


Melihat pria ceriwis yang tiba-tiba diam seperti itu, membuat Mika menlambai-lambaikan tangannya tepat di wajah Kavin. Sontak saja, pria kota itu langsung tersadar, dan membuang pandangan ke samping kanan untuk melihat. daun-daun yang terlihat bergoyang oleh angin, seolah sedang mengejek dirinya, 'kurang ajar! sudah dua kali kau kepergok seperti itu Kavin. pasti gadis desa itu besar kepala," batin Kavin yang mengira Mika memergoki dirinya. Tetapi, percayalah kalau Mika tidak berpikiran seperti itu, Kavin saja yang selalu berpikir aneh-aneh tentang Mika.


"Ada apa Gadis desa?" desis Kavin saat Mika mulai menepuk-nepuk pundaknya.


Mika yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas, dan dia mulai bergerak membuat isyrat tangan yang berarti, "Apa anda sudah tidak kepanasan lagi tuan?" tanya Mika.

__ADS_1


"Tidak," jawab Kavin singkat, padat, dan juga jelas.


"Syukurlah kalau begitu," balas Mika dengan isyarat tangan.


"Aku tahu. Kau pasti mengharapkan aku berterima kasih kan gadis desa?" tebak Kavin dengan mata memicing, membuat dahi Mika mengkerut, "mimpi saja jika kau mau aku berterima kasih. Aku tidak pernah memintamu untuk memberikan aku topi ini, jadi buat apa aku berterima kasih?" imbuh Kavin dengan nada songong miliknya.


Sebenarnya pria itu ingin sekali mengucapkan terima kasih, tapi rasa itu kalah melawan gengsinya, "Gadis desa! Lio tadi mengirimkan aku pesan. Dia mengatakan kalau rambutmu itu lebih baik diikat seperti tadi pagi saja. Itu akan membuatmu terlihat lebih cantik. Ini kata-kata Lio yah, bukan aku," ujar Kavin membuat Mika yang masih menolehkan kepala, menatap dirinya dengan satu alis terangkat.


"Dari mana Agler tahu kalau aku tidak mengikat rambut?" tanya Mika menggunakan isyarat tangan, membuat Kavin berpikir.


"Tadi aku yang mengatakannya. Jadi buruan ikat rambutmu. Aku sebagai teman yang baik harus menyampaikan apa keinginan temanku bukan?" Mika hanya menganggukkan kepala, dan gadis itu langsung saja mengikat rambutnya, membuat Kavin menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyum kecil.


...T.B.C...


...**Gimana part ini? ...


...Kavin bikin kalian gemes nggk?...


...Sekali lagi ingatkan aku untuk double up di kolom komentar yah....

__ADS_1


...Jangan lupa Giftnya, Tiket vote, dan juga bantu sharenya. ...


...See you next part**....


__ADS_2