
..."Why?! Why doesn't he come back, just like what he said papa? Why did he lie to everyone? Is it because he doesn't want to see me, papa?"...
...*...
..."Zalynda Adora Atmaja"...
...***...
Jakarta pusat, 23.05pm
Prang! Prang! Prang!
"Akhhhh! brengsek! jerk! bastard! akhhh!" Zaly berteriak histeris. Dia bak orang kerasukan melempar barang-barang yang ada di kamarnya.
Padahal wanita itu baru saja masuk ke dalam kamar, dan secara tiba-tiba. Dia langsung meraih vas bunga, dan langsung melemparkannya ke sembarang.
Wanita itu tidak melakukannya sekali. Malahan dia melempar seluruh barang pecah belah seharga jutaan rupihnya begitu saja, hingga pecah, dan berceceran di lantai.
"Aku benci kau Kavin! I really hate you bastard!" Setelah berteriak seperti itu, Zaly langsung terduduk jatuh di lantai, dengan air mata yang sudah sedari tadi keluar.
Terlihat jelas dadanya yang sekarang naik turun secara cepat, "Tapi, aku juga mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, heh— heh—" imbuh Zaly dengan napas terengah-engah.
__ADS_1
Wanita itu terlihat sedikit tenang, tapi saat ingatannya memutar kejadian beberapa jam lalu yang terjadi di rumah utama keluarga Kavin terlintas.
Prang!
Dia kembali melempar ponselnya tepat menghantam sebuah cermin yang sedari tadi menampilkan pantulan dirinya, "Akhhhh! Yang jelas hari ini aku membencimu Kavin! Aku membencimu!" tapi aku juga mencintaimu." Zaly mulai mercau bak orang gila sembari terus menjambak rambutnya sendiri.
"Sayang, Zaly. Kamu kenapa nak." Seorang pria paruh baya berperawakan tinggi dengan warna kulit putih, sisi-sisi rambut yang juga putih, dan beberapa kerutan di wajahnya. Pria paruh baya yang mempunyai nama— Bagas Putra Atmaja itu, terlihat masuk ke kamar Zaly— anak semata wayangnya, dengan tergopoh-gopoh.
Bagas langsung bertekuk lutut di sisi anaknya, dan dia langsung merangkul wanita satu-satu dalam hidupnya, setelah kematian sang istri, "Sayang, why are you like this baby? beritahukan kepada Papa, kau kenapa?"
Zaly tidak menangapi, malahan wanita cantik itu semakin menggila. Bagas yang melihat itu, langsung membawa sang anak kesayangannya ke dalam pelukannya, "Berhenti seperti ini Zaly. Jangan buat Papa sedih, karena kau seperti ini," ujar Bagas dengan mengelus punggung Zaly yang bergetar.
Zaly yang mendapatkan perlakuan hangat itu, bisa sedikit tenang. Tetapi, tangisnya masih belum mereda. Bagas yang mengetahui hal itu, bergerak mengurai pelukannya, dan langsung membingkai wajah sembab anak semata wayangnya.
Namun, malam ini. Zaly menangis histeris, dan Bagas tahu penyebab dari semua ini adalah Alfarizi Kavindra. Tidak ada yang bisa membuat anak kesayangannya menangis seperti ini, kecuali anak dari sahabat almarhum istrinya.
"Aku benci Kavin Papa! Aku benci Kavin!" adu Zaly dengan masih bernada sesegukan, "tapi aku juga cinta Kavin."
"Iya, nak. Papa tahu itu," jawab Bagas sembari terus mengelus punggung bergetar anaknya.
"Papa sayang Zaly bukan? Papa dari dulu selalu memenuhi permintaan Zaly, tapi kenapa permintaan Zaly yang ini tidak bisa Papa penuhi? Apa Papa sudah tidak sayang Zaly lagi?"
"Hussss! Jangan katakan seperti itu sayang. Papa dari dulu hingga saat ini selalu sayang kepada Zaly."
__ADS_1
"Tapi kenapa Papa tidak bisa mendapatkan Kavin untukku?" Zaly menjauh dari pelukan Papanya, dan dia langsung melayangkan tatapan tajamnya untuk pria paruh baya itu.
"Padahal Zaly hanya minta Kavin, Papa! Hanya Kavin! Tapi, Papa tidak bisa mendapatkannya untuk Zaly, hiks— hiks," imbuh Zaly dengan nada yang meninggi.
"Bukankah begitu sayang. Tadi kita juga pergi ke rumah orang tua Kavin-"
"dan itu sia-sia saja Papa. Kita tidak mendapatkan apa-apa di sana," potong Zaly dengan gerakan tangan terbuka lebar.
"Papa sudah berusaha," ucap Bagas membela diri.
"Tapi, usaha Papa tidak membuahkan hasil sama sekali. Jadi, ini yang Papa maksud kalau. Papa masih sayang Zaly? Dengan buat Zaly menangis seperti ini?"
"Tidak sayang. Bukan seperti itu."
"Lalu seperti apa Papa? Seperti apa?" Bagas tidak bisa menjawab pertanyaan sang anak. Pada akhirnya, dia hanya bisa memejamkan mata dengan tangan terkepal.
'anakku seperti ini karena anakmu, Rama. Aku tidak mau tahu, kau harus bertanggung jawab atas semua ini,' batin Bagas, dan dia kembali menarik putri kesayangannya itu ke dalam pelukan hangat miliknya.
"Papa janji akan memenuhi keinginanmu sayang. Bukan kah tadi papa Kavin mengatakan, kalau kau disuruh menunggu dua hari lagi?" Bagas menjeda ucapannya, dan dia mengelus sayang rambut sang anak, "jadi, kita akan menunggu dua hari lagi."
"Aku hanya ingin Kavin Papa. Aku hanya menginginkan Kavin mencintaiku, seperti aku mencintainya."
"Iya, sayang. Papa akan melakukan itu untukmu."
__ADS_1