
...Update Agen all😙😙😙...
...Stay reading yah....
...Ditunggu komen-komen kalian lagi....
...****************...
Kavin bergerak membawa tubuh Mika yang mulai gemetar masuk ke dalam dekapannya. Pria dua puluh tujuh tahun itu memejamkan mata, "Calon istriku bisu."
Seketika dada Kavin terasa ditikam oleh ribuan belati tak kasat mata, saat dia dengan jelasnya mengatakan kalau sang calon istri BISU, "Maaf— maafkan aku. ini terakhir kalinya aku mengatakan itu, dan setelahnya. Aku janji. Aku berjanji tidak akan pernah mengatakan hal itu lagi, karena bagiku kamu tidak bisu. kamu tidak cacat, dan kamu itu gadis sempurna yang pernah aku temui." Kavin berucap dengan nada yang terdengar sangatlah sendu.
Dia semakin mempererat dekapannya ditubuh bergetar milik Mika. Kavin juga sedari tadi menciumi pucuk kepala calon istri berharap kata-kata yang dia utarakan tadi tidak akan menusuknya di hati.
Jujur saja. Setelah Kavin menyebut kekurangan calon istrinya. Hati pria itu benar-benar merasakan sakit. Bahkan mungkin bisa lebih sakit, dengan apa yang dirasakan Mika saat ini.
"A— apa Papa tidak salah dengar?" Rama menatap ke arah Kavin dengan tatapan penuh tanya, dan beberapa kerutan di dahinya.
Kavin tak bergeming. Pria itu malah terus memeluk istrinya yang saat ini sedang terisak, karena jujur saja. Mika yang mendengar ucapan Kavin, langsung tidak berani memperlihatkan wajahnya ke depan keluarga Kavin.
"Kavin— ini semua tidak benar kan? Apa yang Papa dengar tadi, tidak lah benar kan?" Rama kembali bertanya dengan nada bicara yang dia naikkan satu oktaf, dan itu berhasil membuat istri serta anak keduanya. Sadar dari keterkejutan mereka.
"Jangan minta Kavin untuk mengulangi perkataan yang akan membuat calon istri Kavin merasa terhina Pa. Bukankah tadi kalian semua sudah mendengar dengan jelas?" Kavin bertanya dengan menekan kalimat terakhir yang dia ucapkan.
Deg!
Mendengar penuturan dari putranya. Entah kenapa detak jantung Rama langsung bergemuruh. Dia yang tadinya memamerkan senyum sumringah, langsung diam tanpa ekspresi. Malahan sekarmag dia menundukkan kepala dengan tangan memijat hidung, "Jauhkan Putraku!" Seketika Rama langsung menaikkan pandangannya, dan kedua netra hitamnya langsung menatap ke arah istrinya yang tadi berteriak, dan sekarang tengah mencoba menarik Mika keluar dari dalam dekapan Kavin.
Kavin yang tadi melonggarkan dekapannya di tubuh Mika, mampu membuat mama tirinya menarik gadis itu, hingga berdiri, dan....
__ADS_1
Bug!
Tubuh Mika langsung tersungkur di lantai, kala Adena menghempasnya. Tatapan mata Kavin langsung terbelalak, saat menyaksikan tubuh calon istrinya terduduk jatuh di atas marmer dingin ruang santai.
"Kau— apa-apaan yang kau lakukan." Kavin bangkit dari duduknya, dan langsung duduk bersimpuh di samping calon istrinya yang sudah sedari tadi menangis.
Dia kembali membawa Mika ke dalam dekapannya, dengan pandangan mata menatap tajam ke arah Mama tirinya yang saat ini berdiri dengan gaya congkak, "Sayang, bangun. Kamu jangan menangis. Bukankah sudah aku katakan, kalau air ini tidak boleh keluar lagi dari mata indah itu?" Kavin berucap sembari membantu Mika bangkit dari tersungkurnya.
Dan setelah itu. Dia langsung menggerakkan tangannya yang sedang gemetar, untuk menghapus air mata yang mengalir di pipi calon istrinya itu, "Buka matamu Kavin. Buka mata, dan lihatlah baik-baik gadis yang saat ini ada di depanmu itu." Itu bukan suara Rama, karena pria itu masih duduk diam di sofa. Dan suara yang bernada penuh cemooh tadi keluar dari dalam mulut Adena— mama tiri Kavin.
Kavin tidak menanggapi perkataan mama tirinya. Malahan sekarang dia sedang gencar-gencarnya menghapus air yang semakin mengalir deras dari pelupuk mata Mika, "Nak, ada apa sebenarnya denganmu?"
"Ada apa denganku? Heh— seharusnya aku yang bertanya seperti itu brengsek. Apa maksudmu melakukan itu pada calon istrku?" Kavin mulai mengalihkan perhatiannya ke arah Adena.
"Mama lakukan itu, agar membuatmu sadar, kalau wanita kumuh yang sekarang kau dekap itu tidak cocok menjadi bagian keluarga Bagaskara. Dia Bisu— BISU, Kavin." Adena menjawab dengan nada congkak, dan itu berhasil membuat Kavin menajamkan pandangannya hanya untuk melihat senyum merendahkan yang dikeluarkan oleh wanita paruh baya itu.
"Memangnya kenapa? Emang kenapa jika calon istriku bisu?" Kavin bertanya dengan terus menatap tajam lawan bicaranya yang seolah tidak terintimidasi dengan tatapannya saat ini.
"Emang kau siapa Bernai mengatur hidupku, dan berani menentukan dengan siapa aku menikah?" Kavin bertanya dengan satu sudut bibir terangkat sementara sekarang. Dia semakin mempererat dekapannya ditubuh Mika.
"Kau masih bertanya siapa aku? Aku Mamamu, Kavin. Aku nyonya di keluarga Bagaskara ini." Adena berucap dengan nada tidak tahu malu, dan itu berhasil membuat Kavin semakin menaikkan sudut bibirnya.
"Mama? Emang aku pernah menganggap kau ada di rumah ini? Asal kau tahu. Dalam hidupku. Aku hanya punya satu Mama, dan tidak akan ada Mama lain lagi. Apa lagi modelan kau, dan anak haram kau itu."
"Ka-"
"Aku belum selesai ngomong, Nyonya Adena Aurellia Bagaskara." Kavin memotong ucapan mama tirinya, dan itu berhasil membuat Adena meremas udara.
"Ingat satu hal ini Nyonya Bagaskara yang terhormat. Aku tidak memerlukan persetujuan dari kau, hanya untuk menikah dengan Mika. Aku datang ke rumahmu, karena ini semua permintaan dari calon istirku. Aku bisa saja tidak akan pernah kembali ke sini, dan mungkin sekarang aku sudah bahagia jika tidak datang ke mari." Kavin menjeda ucapannya hanya untuk menarik napasnya.
__ADS_1
Bersamaan dengan dia menarik napas. Tiba-tiba saja, hatinya mengeluarkan sebuah suara retakan di mana hanya dia yang bisa mendengar, dan merasakannya, "Tetapi, karena calon istriku saking inginnya bertemu dengan kalian semua. Aku terpaksa kembali, dan apa yang aku dapatkan ini? Apa begini caramu memperlakukan tamu, Nyonya Bagaskara?"
"Hormat? orang miskin, kampungan, jelek, dan cacat seperti dia tidak pantas mendapatkan hormat." Adena masih berbicara dengan congkaknya, dan itu semakin membuat Kavin terbakar amarah.
"Memang jika istriku Miskin, kampungan, jelek, dan cacat bukan seorang manusia? Berbeda dengan kau yang kaya raya, Berkelas, anggun, dan sempurna. Tetapi, itu semua percuma, jika sikap yang kau tunjukan begitu rendah seperti ini." Kavin mengeluarkan cemooh yang langsung menggores harga diri Adena.
"Tetap saja dia itu tidak pantas. Jika kau mau menikahnya, berarti kau sudah siap keluar dari keluarga ini."
"Konyol— emang sejak kapan aku menjadi bagian keluarga kalian? Apa selama ini aku meminta makan sama kalian? Apa selama ini biaya hidupku ditanggung oleh kalian? Dan apa Selama ini aku memakai nama keluarga kalian?" Kavin lagi-lagi menang, dan Adena semakin dibuat tidak bisa mengeluarkan kata-kata angkuh lagi.
"Jika kau tidak bekerja di perusahan Bagaskara. Kau tidak akan pernah bisa berbicara angkuh seperti in, Kavin. Jadi, bisa dibilang biaya hidupmu itu. Berasal dari kami." Seketika Kavin terkekeh mendengar penuturan Adena.
"Hai— aku di perusahaan kalian bekerja, dan bukan main-main. Wajar saja, kau harus membayar jerit payahku. Terlebih lagi, akulah yang membuat perusahaan kalian yang hampir bangkrut, berdiri kembali. Aku lah yang melakukan itu, hingga Papa menunjukku sebagai seorang Chief Ekskutif Officer, dan aku tidak mendapaykan posisi itu dengan percuma. Aku bekerja keras hanya untuk mendapatkan posisi itu." Kavin menjelaskan dengan panjang lebar, tapi biar begitu. Adena masih saja memperlihatkan raut wajah angkuh dan sok berkuasanya.
Sedangkan Rama. Sedari tadi pria paruh baya itu hanya diam, tak bergeming. Dia sedari tadi menyaksikan pertengkaran istri dan juga anak pertamanya, dengan pikiran yang sudah bercabang-cabang.
"Justru karena sekarang kau seorang CEO, kau harus baik-baik memilih calon istrimu. Kavin, kau itu belum genap satu bulan menjadi seorang pemimpin perusahan, dan kau sudah memutuskan pilihan yang tidak masuk nalar." Adena masih tidak mau mengalah, dan itu semakin membuat Kavin menyeringai.
"kenapa tidak masuk nalar? Aku mengira Mika cocok untukku. Dia baik, dan aku mencintainya." Kavin berucap dengan nada yang terdengar sangat bersungguh-sungguh.
"Tapi, jika kau memang mau menikahinya. Kau pasti akan menerima banyak hinaan, dan keluarga besar kita akan kena imbasnya, hanya karena satu orang cacat itu." Kavin yang mendengar itu, hanya mengeluarkan kekehan, dan dia bergerak mengurai dekapannya di tubuh Mika.
Kavin mulai bergerak menggenggam tangan istrinya, "Ini yang ingin kau lihat, sayang. Bukan kah sudah aku katakan, untuk tidak pergi ke sini? Jadi, kita sudah mendapatkan jawaban mereka yang tidak menyetujui pernikahan kita." Kavin menjeda ucapannya, hanya untuk menegakkan kepala Mika yang sedari tadi menunduk.
"Terima kasih atas perlakuan kau, dan juga keluarga besar kau. Mungkin sudah cukup saya berada di sini, dan semoga keluarga terhormat kalian bertahan lama." Kavin mempererat genggaman tangannya di jemari Mika, "Maaf, kami harus pergi sekarang, dan sekali lagi terima kasih." Setelah mengatakan itu. Kavin hendak beranjak dari ruang santai untuk pergi ke kamarnya di lantai satu.
"Kau mau pergi ke mana, Nak? Duduklah— kita akan membahas pernikahan kalian."
...T.B.C...
__ADS_1
...1378 kata gays...
...Hadiahnya dong. ...