Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
63. Sepiring Berdua.


__ADS_3

...Selamat pagi Sahabat Paris. Gimana kabarnya weekend ini?...


...Sahabat Paris yang nunggu ini cerita ada kah?...


...Yok absen, Sahabat Paris semua dari mana aja. Siapa tahu kita satu pulau yakan?...


...Seperti biasa, jika mau double update, yok target hadiah 8000 dulu....


...Bisa enggak nih, pasukan Sahabat Parsi capai target?...



...(Aku cari-cari visual Kavin, yang lagi makan, but tidak nemu. Jadi, aku pakai ini untuk mencuci mata kalian yah)...


...*...


..."Sepiring berdua? Tidak buruk juga."...


...*...


...(Alfarizi Kavindra)...


...***...


Masih dihari, waktu, dan jam yang sama. Sekarang Kavin masih berada di dalam ruang rawat Mika, dan pria dua puluh tujuh tahun itu, sekarang sedang sibuk mengumpulkan rambut hitam Mika.


"Mundur sedikit lagi!" perintah Kavin sembari menarik pelan rambut Mika. Biarpun pelan, gerakan Kavin tadi sukses membuat Mika membuka mulut, karena merasa sedikit kesakitan.


'kau kenapa? Apa aku menyakitimu?' panik Kavin bertanya dalam hati, "Dasar lebay. Cuma ditarik pelan aja, ekspresinya udah kek orang dijambak," cerca Kavin pada akhirnya, dan pria itu takut menanyakan pertanyaan yang ada dalam hatinya, karena rasa gengsi.

__ADS_1


Mika tidak berniat menjawab ataupun menanggapi perkataan Kavin. wanita yang sudah duduk membelakangi Kavin itu, mulai bergerak memundurkan pantatnya, "Sedikit lagi, gadis desa!' perintah Kavin. Saat ini melihat pantat Mika masih berjarak satu jengkal dengan kakinya, yang sudah dalam posisi bersila.


Mika yang mendengar itu kembali membuat satu gerakan mundur dalam posisi masih duduk, "ck— apa sulitnya kau bangun sedikit? Jika kau mundur seperti itu, kau akan memper- Anji*g!" Ucapan Kavin terpotong, dan pria itu malah langsung mengumpat, karena Mika yang bergerak mundur tidak sengaja, menabrak kaki Kavin yang diperban.


Mika yang mendengar umpatan itu tak bergeming. Malahan dia sekarang tersenyum, seolah merasa tak bersalah sedikitpun, 'padahal aku dan Agler, tidak begitu akrab. Tetapi, biar begitu, dia ternyata orang yang baik. Buktinya dia selalu menanyakan kabarku, lewat Kavin,' batin Mika merasa senang, tapi percayalah kalau saat ini. Dia hanya senang, dan tidak lebih.


Kavin yang melihat itu, langsung menoyor kepala belakang Mika, membuat sang empunya menoleh, dengan satu alis terangkat naik seolah bertanya, "Kenapa?"


Kavin yang niatnya ingin memarahi Mika, malah diam, :kenapa kau menggemaskan sekali,' batin Kavin, "Lo jelek," hina Kavin pada akhirnya. Tetapi, Mika udah kebal de gan itu, dan dia dengan menyungging senyum, kembali menghadapi ke depan, 'dia waras kan?'


Tanpa mau banyak bicara lagi, Kavin kembali melakukan aktivitasnya, untuk mengumpulkan rambut Mika. Padahal tadi niatnya dia ingin Mika duduk di pangkuannya, tapi malah dia sendiri yang kena batunya, "Selesai," ujar Kavin setelah berhasil mengikat kuncir rambut Mika, dengan gelang karet yang tadi dia minta di Lilis.


Mika bergerak sedikit maju, dan langsung memutar tubuhnya, "Diam seperti itu," perintah Kavin, membuat Mika terdiam, dengan posisi bibir sedikit monyong, dan alis saling bertautan. Padahal ekspresi itu terlihat sangat lucu, tapi Kavin menyukainya.


"Tahan sebentar. Aku akan mengirimkan ini ke Lio, agar dia tahu kalau amanatnya udah aku lakukan." Mendengar itu, Mika hanya bisa diam. Sementara Kavin, sekarang sedang fokus memainkan ponselnya.


"Satu— dua— ti...ga."


ckrek!


"Selesai," ujar Kavin, dan Mika langsung merubah ekspresi wajahnya menjadi tersenyum dengan mata yang diperankan seolah merasa penat, "Eh— Lio balas, katanya dia mau fotomu lagi. Diam seperti itu," celetuk Kavin setelah melihat pose Mika, yang lagi-lagi menggemaskan, dan tentunya dia masih membawa nama Agler.


Mika yang mendengar itu, lagi-lagi terdiam, dengan pose mata terpejam, dan dua sudut bibir tertarik membentuk garis senyum, "Satu— dua— ti...ga."


ckrek!


"Sudah selesai," ujar Kavin sembari mengetikkan caption di foto Mika satu ini "Imut kan?" seperti itu caption yang Kavin tulis di foto kedua Mika, setelah foto pertama tadi dia menulis "Gadis siapa sih ini?"


Mika yang mendengar itu membuka mata, dan melirik bubur yang sudah beberapa menit lalu nangkring di sebelahnya. Dia bergerak menepuk pelan pipi Kavin, membuat fokus pria itu teralihkan, "Apa?" tanya Kavin sembari mematikan ponselnya, karena dia takut Mika akan tahu.

__ADS_1


Mika yang melihat Kavin sudah fokus terhadapnya. Langsung bergerak membuat Isyarat, "Sebenarnya kau ke sini mau apa?"


"Aku ke sini mau apa?" beo Kavin setelah melihat isyrat tangan Mika, "Sialan! Aku lupa gadis desa. Apa kau sudah merasa lapar?" Kavin mengumpat merutuki kebodohan yang bisa-bisanya dia melupakan tujuan awalnya.


Kavin bergerak meraih nampan yang berisikan semangkuk bubur, dan segelas air itu, dan dia meletakkannya tepat di tengah-tengah, "Buburnya susah dingin, gadis desa," ujar Kavin setelah melihat sudah tidak ada uap panas yang keluar dari bubur itu.


Mika yang melihat itu, hanya menyungging senyum, dan dia langsung bergerak melakukan isyarat tangan, "Tidak apa-apa Kavin. Aku akan memakannya, karena Kavin sudah membuatkan bubur ini untukku."


'apa? Membuatkan bubur ini untuknya? Ya tuhan, kwnaap gadis desa ini sangat bodoh. Apa dia tidak tahu, kalau ini bubur buatan rumah sakit? Tapi, ini kesempatan buat-'


Ucapan batin Kavin terhenti saat Mika menepuk pipinya, "Ahh iya. Kau tahu, aku membuat bubur ini dengan penuh...." Kavin menggantung ucapannya, membuat Mika menaikkan satu alisnya, 'penuh kasih dan sayang,' lanjut Kavin dalam hati, tapi yang keluar dari bibirnya adalah, "Penuh rasa kasihan. Jadi, karena aku kasihan padamu. Aku akan menyuapi dirimu, dan kau juga harus menyuapiku."


Mika lagi-lagi melongo, dan Kavin yang menyadari itu kembali membuka suara, "Kenapa? Apa aku tidak boleh menyuapimu, gadis desa? Padahal menyuapimu adalah syarat yang harus kamu penuhi, agar aku mengajarimu membaca dan menulis, tap-"


Mika yang mendengar kata syarat itu, langsung menganggukan kepala, dan itu membuat Kavin menyeringai, "Begitu dong. Kau harus tahu ini. Aku mengatakan ingin menyuapimu itu, hanya karena syarat, dan itu bukan keinginanku. Jadi, kau jangan besar kepala."


Mika hanya menganggukan kepala, dan gadis itu bergerak membuat isyarat tangan, "Tadi Kavin juga mengatakan, kalau aku harus menyuapi Kavin."


Melihat itu, Kavin menganggukan kepala, dan langsung mengeluarkan ekspresi songong miliknya, "Iya, karena aku belum makan. Lagian, sepiring berdua, tidak maslaah bukan?"


...T.B.C...


...Gimana part ini menurut, sahabat Paris?...


...Jangan senyam-senyum sendiri yah...


...Sahabat Paris suka karakter siapa sih?...


...Babang Kavin, atau Mika?...

__ADS_1


__ADS_2