
...(Mangsial-mangsial Apa tidak ada tempat mandi selain sungai? Nanti jika ada yang ngintip gimana? Duh ini gadis desa minta dikarungin, dan dibawa ke Jakarta saja. ehh enggak-enggak kenapa harus aku bawa? Mana mau aku bawa si Mika ngeselin yang ada entar dia nyusahin lagi)...
...***...
Sore yang tadinya masih terlihat cerah, kini sudah terganti menjadi remang-remang, karena cahaya matahari sudah bersiap-siap untuk menenggelamkan diri di ujung barat sana. Walaupun hari sudah mulai menggelap, Kavin dan Mika sekarang sedang berada di sebuah sungai, yang tidak jauh dari tempat mereka ngerampek.
Iya, mereka sudah tiga puluh menit berada di sungai yang sisi kirinya itu, banyak ditumbuhi pohon akasia, dan beberapa pohon kelapa. Padahal ini mereka sudah sampai tiga puluh menit yang lalu saat jam masih menunjukkan pukul lima.
Namun, karena Kavin yang sering melakukan drama, membuat mereka baru saja mandi. Itupun karena Mika memaksanya, dan sialnya kenapa dia mau sekali menuruti perintah Mika, yang notebenenya bukan siapa-siapa.
Dan di sanalah Kavin. Sekarang pria kota itu berada di tengah-tengah sungai yang tidak terlalu dalam menurut Kavin, karena airnya hanya setinggi dada Kavin.
Sedari tadi pria kota itu terlihat uring-uringan. Bagaimana tidak? Ini itu pertama kalinya Kavin mandi di alam terbuka, dan bukan di dalam shower. Saking was-wasnya, dia sedari tadi tidak henti-hentinya mengedarkan pandangan kesepenjuru sungai, berharap tidak ada yang mengintip dirinya.
Karena sekarang Kavin mandi di sungai itu tidak mengenakan baju, ataupun celana. Palingan ditubuhnya sekarang hanya ada seutas kolor berwarna putih, yang mungkin sudah berubah kecoklatan karena kelakukan mereka tadi.
"Kenapa juga harus mandi di sini? Aku yakin pasti airnya banyak kotoran," gerutu Kavin, dan kedua tangannya mulai mengambil air untuk memeriksa, apa airnya kotor sesuai dugaannya tadi atau jernih.
"Sialan kenapa airnya bening sekali," gerutu Kavin saat dia tidak melihat satupun yang ada di air itu. Kavin membuang kasar air di tangannya itu, dan dia mulai memejamkan mata.
"Ya Allah semoga tidak ada yang mengintipku?" ujar Kavin memanjatkan doa, dan setelahnya dia bergerak menenggelamkan seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"hwaaa! Kenapa dingin sekali," protes Kavin, dan kedua tangannya langsung dia silangkan di dada, karena jujur saja. Air yang ada di sungai itu sekarang tengah dingin-dinginnya. Terlebih lagi hari sudah mulai petang.
"Ohh iya— di mana gadis desa itu berada? Apa dia masih mencuci pakaianku?" Sembari berucap, Kavin menolehkan kepala ke sisi kanan, dan matanya langsung melihat sosok Mika.
Sekarang gadis itu sedang duduk di sebuah batu kecil. Sekarang wanita itu hanya memakai sebuah sarung, yang ujungnya diikat di tengkuk, agar sarung itu terkait, dan tidak mudah lepas, 'Ayo Alfarizi Kavindra. Sekarang giliran dirimu yang menjahili gadis desa itu,' bisik iblis jahat yang ada di tangan kiri Kavin, membuat pria itu menyeringai.
Tanpa berlama-lama lagi, Kavin kembali menyelam. Dia tidak memperdulikan hawa dingin yang saat ini menggerogoti sekujur tubuhnya. Sekarang, dipikiran pria itu hanya satu, menjahili Mika, yang tadi juga menjahili dirinya.
Sementara di sisi lain, Muka yang sekarang sedang menyikat pakaian miliknya dan milik Kavin, tidak terlalu peduli dengan sekitar, dan hanya fokus ke arah kerjaan yang dia lakukan. Tetapi, beberapa detik kemudian. Wanita itu merasa kalau ada sesuatu yang aneh di sekalilingnya.
Dia mencoba menoleh ke arah belakang, dan....
"Hoaummmmm! Akulah penunggu sungai in-"
Puk!
"gadis desa!" murka Kavin menggema ke seantero sungai, membuat burung-burung yang mulainya hinggap di dahan pohon, malah kembali terbang, "an*jing mataku kemasukan busa bodoh," gerutu Kavin, dan setelahnya dia langsung menenggelamkan diri.
'salah anda sendiri Tuan,' batin Mika. Wanita itu kembali menyikati baju kemeja lengan pendek Kavin, bermotif pohon kelapa yang harganya jutaan ribu. Tetapi, lihatlah nasib kemeja yang di impor dari Hawai itu sekarang sedang di diliat bersih oleh Mika, dan sialnya itu menggunakan sabun seharga seribuan.
Kavin memunculkan kepalanya ke permukaan, dan mata pria itu sekarang fokus memperhatikan Mika, yang telaten menikmati bajunya. Kalian harus tahu ini, kalau tadi Kavin sudah melarang Mika untuk membersihkan bajunya dengan sabun cuci pakaian murahan. Tetapi, Mika begitu keras kepala, membuat Kavin dengan berat hati merelakan salah satu bajunya merasakan kasarnya sabun seharga seribuan.
Saking fokusnya melihat Mika, tanpa sadar Kavin menyungging senyum, "Kau ternyata sudah cocok menjadi istriku," gumam Kavin asal, membuat Mika menoleh ke arahnya dengan satu alis terangkat.
__ADS_1
Mika menaikkan kepalanya seolah bertanya kepada Kavin, kalau tadi dia mengatakan apa. Sontak Kavin yang juga baru menyadarinya langsung kelabakan, dan bergerak meraih sabun seharga tiga ribuan yang masih terbungkus rapi.
"Tuan— tadi apa yang anda kat-" balun sempat Mika mengakhiri isyrat tangannya, Kavin sudah terlebih dulu menarik salah satu lengannya, membuat dirinya tersungkur jatuh ke dalam air.
"Jangan kegeran kau gadis desa," desis Kavin, dan pria itu kembali berenang menuju ke tengah-tengah sungai, 'Apa kau sadar tentang yang kau katakan tadi Kavin?' batin Kavin merutuki omongan sepontannya tadi.
Sementara Mika yang sudah berdiri dengan sarung basah kuyup, langsung saja mendelik kan mata menatap tajam ke arah Kavin, dengan mulut yang sudah ditumbuhi sungut, 'jika saja aku tidak bisu. Aku mungkin sudah menyumpah serapahimu pria kota ba"ingan,' gerutu Mika dalam hati, dan wanita itu kembali melanjutkan aktivitasnya menyikat baju Kavin, tapi dengan tempo cepat, dan terdengar kasar.
...T.B.C...
...Niatnya mau upedate part ini tadi malam, but ada sebuah problema yang tidak bisa aku tunggal....
...Semoga feelnya dapet yah...
Kasih kopi, atau sepucuk mawar dong. Sekalian juga jangan lupa kasih tiket Vote, kasih share ini cerita. Yang lebih penting Like dan Komen yang banyak yah.
...30 like + 10 komen aku up lagi....
...Bisa nggk yah 30 like?...
...Ada kata buat:...
...Kavin?...
__ADS_1
...or...
...Mika?...