Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
114. Rencana Ke Rumah Sakit.


__ADS_3

...Aku come back all...


...Apa kabar kalian semua😂😂....


...Akhirnya tadi siang ceritaku yang ada di sebelah udah kelar, dan bisa nengok cerita ini lagi....


...Nungguin yah?...


...Langsung aja yok, stay toon....


***


"Apa kalian pegawai baru di apartemen ini?" Kavin yang sekarang berdiri dengan pundak kanan menyandar di ramon pintu kamar mandi, bertanya dengan mulut yang mengunyah buah apel.


"Iya tuan— kami berdua pegawai air baru di apartemen ini," jawab salah satu pria berkulit hitam yang menyenggol Kavin di lobi.


Kavin yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya, pun dia kembali menggigit buah apel yang ada di tangannya, "Udah lama bekerja seperti ini?" tanya Kavin kembali, membuat pria berkulit hitam itu menggeleng dengan cengengesan.


"Saya baru-baru ini, Tuan. Tetapi, temen saya yang ini udah berpengalaman. Saya mah ngikut aja, asal enggak nganggur di rumah," jelas pria itu dengan telunjuk tangan kanan menunjuk ke arah salah satu temannya yang saat ini memeriksa bagian bawah wastafel rumah sakit.


"Itu lebih baik. Dari pada di rumah, kena maki istri, iya kan?" Kavin berbicara dengan nada terkekeh ramah. padahal, sebelum menikah dengan Mika. Kavin tidak pernah berbicara dengan gaya dan nada sesantai ini.


"Iya— gitulah, Tuan." jawab pria berkumis, dan berkulit hitam itu dengan cengengesan serta kepala bergerak ke kanan kiri.


"Udah nikah?" tanya Kavin, dan pria di depannya itu menganggukkan kepalanya.


"Udah, Tuan. Udah punya dua anak juga." jawab pria itu, dengan malu-malu.


"Weh kenceng yah. Udah nikah berapa tahun?" Kavin mulai suka dengan obrolan antara dirinya dan pegawai ledeng yang ada di depannya ini.


"Saya nikah pas usia dua puluh tahun, Tuan. Punya anak pertama pas usia dua puluh lima, dan anak kedua baru aja lahir," ujar pria pegawai ledeng itu, membuat Kavin tersenyum.


"Sekarang usia kau berapa, emang?" tanya Kavin santai, sembari membuang sisa apelnya ke dalam keranjang sampah yang ada di kamar mandi.


"tiga puluh tiga tahun, Tuan." Kavin membulatkan kedua matanya terkejut, karena dia tidak mengira kalau orang yang ada di depannya ini berusia begitu teramat jauh ketimbang dirinya.

__ADS_1


"Jadi, saya harus panggil, Bapak nih. maaf ya, Pak. Saya tadi enggak sopan." Dengan nada menyesal, Kavin mengucap kata maaf, membuat pegawai ledeng itu nyengir.


"Panggil Setiaji aja, Tuan." tutur pegawai ledeng itu, meminta Kavin untuk memanggil dirinya dengan nama Setiaji.


"Baiklah pak, Set- aww!" Kavin menghentikan ucapannya, dan pemuda itu malah menjerit, saat dia merasa kakinya diinjak oleh seseorang.


Kavin menoleh ke belakang, dan tatapan mata tajam istrinya yang saat ini tengah membawa nampan berisikan dua gelas minuman berwarna menjadi objek pertama yang dia lihat, "Sayang, ada tamu loh. Bukannya manis-manis ini malah kasar. Sakit tau." Kavin mengeluarkan protesan dengan nada yang tidak terdengar marah.


Mika yang melihat itu, semakin menajamkan tatapan matanya, dan menggerakkan kepalanya ke kiri seolah meminta sang suami menyingkir.


Kavin yang mengerti akan hal itu, bergerak menempelkan punggungnya di dinding, seolah ingin memberikan jalan untuk sang istri, "Silahkan, ndoro Ayuku, atiku, cinta matiku." Kavin berucap dengan nada terdengar sangat hormat.


Sedangkan Mika yang mendapati perlakuan sang suami seperti itu, hanya bisa melengos, dan berjalan masuk ke dalam toilet.


Bertepatan dengan masuknya Mika, Setiaji— teman bicara Kavin tadi entah kapan sudah tiduran dibawah lantai, dan sedang memeriksa wastafel.


Sedangkan seorang pria yang beberapa waktu lalu selalu memerhatikan Mika, sudah berdiri menjulang tinggi, dengan wajah yang semakin menghitam. Mika yang melihat orang itu hanya menganggukkan kepalanya, sembari bergerak menyerahkan nampan yang dia bawa.


"Ehh si Setiaji sejak kapan?" Kavin mengeluarkan suara saat dia sudah melihat Setiaji tiduran di lantai.


Pria itu mengambil nampan dengan sedikit menyentuh punggungan tangan Mika, membuat wanita yang sudah berstatus istri sah Kavin itu langsung menarik tangannya.


"Sayang— kamu kenapa?" tanya Kavin yang melihat tingkah kaget Mika.


Sementara itu, Mika yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya, dan langsung beranjak pergi dari toilet. Hal itu tak luput dari pengelihatan Pria berkumis bertubuh gelap itu.


"Maaf yah. Istriku bukannya orang yang seperti itu kok." Kavin meminta maaf, karena mungkin pria yang ada di depannya itu mengira kalau, Mika tidak sopan, dan mengacuhkan tamu.


"Enggak apa-apa, Tuan. Para wanita kan suka gitu. Istriku juga kalau ada tamu, sok jual mahal, dan sering enggak nyapa. padahal yang datang bertamu kerabat sendiri." Kavin yang mendengar penuturan pria tukang ledeng yang ada di depannya ini langsung menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya, anda salah paham. Isteri saya bukannya mau jual, mahal atau tidak menyapa tamu. Dia hanya sedikit punya gangguan di tenggorokannya." Kavin menjelaskan dengan memperlihatkan senyum di wajahnya.


Sedangkan Setiaji yang sudah selesai dengan tugasnya, bergerak bangkit dari tidurannya, dan langsung meraih gelas yang ada di atas nampan.


"Maksud, Tuan?" tanya Setiaji, dan setelahnya. Dia meneguk minuman berwarna yang ada di dalam gelasnya itu hingga tandas.

__ADS_1


"Dia tidak bisa bicara, atau singkatnya Bisu. Tetapi biar begitu. Saya sangat mencintai isteri saya, dan akan melakukan apapun untuknya." Kavin yang mendengar pertanyaan itu, tanpa ada garis keraguan menjawab, membuat dua pria berkumis berkulit sedikit gelap itu terkejut.


"Jadi— pak ...."


"Rifki, Dua puluh sembilan tahun," ucap Pria berkumis yang tadi mengatakan Mika sok jual mahal itu, memperkenalkan diri.


"Jadi, Kau jangan samakan istrimu dengan istriku yah. Soalnya, istriku itu limited edition. Dia wanita cantik, manis, baik hati satu-satunya yang ada d muka bumi ini." Kavin melanjutkan perkataannya yang tadi sempat terpotong dengan nada bangga.


Setiaji dan Rifki— pria yang terpaut usia dua tahun dengan Kavin itu mengangukkan kepala seolah mengerti, "Maaf, Tuan." ujar Rifki, dan Kavin hanya membalas dengan senyum lebar. Jujur, laki-laki itu sekarang sedang menahan amarahnya.


"Kalian sudah selesai kan?" Rifki dan Setiaji mengangguk secara bersamaan, "kalau begitu. bisakah kalian pergi? Soalnya masih banyak yang harus aku lakukan dengan istriku." Kavin mengusir dengan terang-terangan karena saking kesalnya dia dengan Rifki— pria yang tadi dia kiri berumur jauh lebih tua dari pada Setiaji.


***


Malam sudah menyelimuti ibu kota Jakarta. Sekarang Kavin dan Mika tengah duduk di sofa ruang keluarga dengan pandangan mata mengarah ke televisi.


"Sayang," Kavin memanggil dengan nada manja, pun kedua tangannya dia gerakkan melingkar di perut rata isterinya, dan dagunya sudah sedari tadi menempel di pundak Mika.


Mika yang mendengar panggilan Kavin, bergerak mengelus sayang pipi sang suami, seolah menjawab apa.


"Aku sudah membuat jadwal dengan dokter spesialis ...." Kavin menjeda ucapannya hanya untuk menoleh ke kiri melihat wajah Ayu sang istri.


"Kita akan pergi ke rumah sakit, untuk memeriksa keadaanmu," ujar Kavin kelewat santai, dan dia langsung saja tersenyum saat melihat ekspresi terkejut istrinya.


"Jadi, bersiap-siaplah. Besok aku akan mengantarmu ke rumah sakit."


...T.B.C...


...Besok lagi yah. ...


...Aku usahakan bakalan update 3 part atau lebih besok pagi, untuk permintaan maaf, karena sudah buat kalian menunggu lama. ...


...Akan coba yah, bukan beneran update tiga part lebih. Jadi, kita lihat aja besok. Jika enggak ada kesibukan, aku bakalan kasih kalian tiga part atau lebih....


...Well, see you again....

__ADS_1


__ADS_2