
Beberapa jam sudah berlalu, dari setelah sarapan di kediaman keluarga besar Bagaskara. Sekarang Kavin tengah mengendarai sebuah mobil hitam, dan dia baru saja masuk ke kawasan sebuah gedung apartemen yang jaraknya terbilang cukup jauh dari kompleks perumahan di mana seluruh keluarga besarnya tinggal.
Namun, biar begitu. Kawasan apartemen yang baru saja Kavin masuki, masih berada di pusat kota Jakarta. Bahkan gedung tempat tinggalnya terbilang cukup strategis karena, tepat di seberang jalan ada sebuah restoran, sedangkan di belakang gedung pencakar langit berlantai 50 itu ada sebuah pusat perbelanjaan.
Jadi, itulah kenapa terbilang tempat ini cukup strategis karena, jika malas memasak Kavin biasanya pergi ke restoran yang ada di seberang jalan, dan jika ingin membeli sesuatu dia tinggal sedikit berjalan ke belakang maka akan ada pusat perbelanjaan yang sangat terkenal.
Terlebih lagi, jarak antara apartemen dan kantor tempat dia bekerja. Lumayan dekat, dan palingan bakalan menghabiskan waktu beberapa menit jika berkendara ke sana. Kalaupun jalan macet, itu tidak masalah.
Kavin mematikan mesin mobilnya saat dia sudah memarkirkan kendaraan roda empat itu, tepat pada tempatnya, "Ayok," ajak Kavin membuat Mika yang sedari tadi hanya menelisik sudut demi sudut halaman depan kawasan apartemen tersentak kaget.
Kavin yang tadinya berbicara sembari tangan bergerak membuka sabuk pengaman, pun terhenti. Dia sekarang malah fokus menatap istrinya di dalam keterdiaman, pun kedua sudut bibir yang sedikit terangkat.
Sedangkan Mika yang setelah mendengarkan ajakan Kavin hendak membuka pengait sabuk pengamannya, tapi dia urungkan karena ia merasa saat ini sedang ada orang yang menatapnya.
Mika menegakkan kepalanya, dan kedua matanya langsung terarah melihat ke wajah Kavin yang di mana, kedua mata coklat itu tengah fokus menatapnya.
Mika bergerak menaikkan satu alisnya diselingi dengan gerakan kepala yang dia naikkan ke atas seolah bertanya, "Ada apa?"
Sedangkan Kavin yang melihat itu, hanya menggelengkan kepalanya. Pun kedua tangannya yang tadi hendak membuka pengait sabuk pengaman entah sejak kapan terulur untuk mencubit kedua pipi Mika.
"Menggemaskan," ucapnya sembari terus mencubit lembut pipi Mika, membuat sang empunya mengerucutkan bibirnya dengan kedua mata sedikit terpejam.
Kavin yang melihat ekspresi sang istri yang semakin menggemaskan tidak bisa menahan diri. Pria dua puluh tujuh tahun itu bergerak memajukan kepalanya, dan...
__ADS_1
Cup!
"Berhenti ...." Kavin menjeda ucapannya hanya untuk kembali mengecup bibir basah istrinya, "berekspresi seperti ini sayang," imbuhnya, dan setelah itu dia melepas cubitan kedua tangannya pada pipi-pipi istrinya.
Sedangkan Mika yang mendengar itu, langsung menganggukkan kepala, seolah mengiyakan permintaan suaminya. Kavin yang melihat itu, bergerak mengacak-acak rambut hitam sang istri.
"Istriku memang penurut. Aku melarangmu melakukan itu, karena kamu terlihat menggemaskan sayang. Gimana kalau nanti orang lain tergoda saat melihatmu? Jika itu terjadi, aku tidak akan bisa terima, karena eksepsi menggemaskanmu itu hanya milikku. Jadi, kau bisa mengeluarkannya jika bersama denganku di dalam rumah. Jika di luar rumah, kau jangan melakukan itu, paham?" Kavin memberi wejangan untuk Mika dengan hanya satu tarikan napas.
Sedangkan yang diberikan wejangan malah hanya menganggukkan kepala sebagai jawabannya, "Bagus, itu baru Nyonya Kavindra." Kavin memuji sembari bergerak melepaskan kaitan sabuk pengaman milik sang istri.
"Sudah— sekarang mari kita turun. Kamu pasti akan terkesima saat melihat apartemen yang dulu hanya milikku, tapi sekarang milik kita." Kavin berbicara dengan nada girang sembari bergerak melepaskan kaitan sabuk pengaman miliknya.
Setelah terbuka, Kavin keluar terlebih dahulu. Dia terlihat berjalan mengitari mobil, dan....
"Silahkan turun, Nyonya Kavindra," tutur Kavin dengan nada dibuat hormat, dan jangan lupakan gerakan menundukkan kepala yang terbilang cukup lebay itu.
Mika yang mendapatkan perlakuan itu, langsung mengangkat satu tangannya seolah minta dibantu. Hal itu dia pelajari dari Mama mertuanya.
Kavin yang melihat itu langsung saja menggenggam jemari lentik Mika, "Wow anda begitu elegan, Nyonya Kavindra. Pasti Tuan Kavindra sangat beruntung mempunyai istri seperti anda ini." Kavin memuji cara Mika turun begitu elegan, persis seperti wanita-wanita modis. Jangan lupakan cara pria dua puluh tujuh tahun itu bicara, persis seperti seorang pegawai yang memuji istri tuannya.
Sedangkan yang saat ini mendapat pujian malah cekikikan, dan langsung mengabadikan cubitan di perut Kavin, membuat sang empunya meringis, "Nyonya Kavindra, apa yang anda lakukan itu tid-"
Kavin yang saat ini sedang cosplay menjadi seorang sopir langsung menghentikan ucapannya saat melihat tatapan sangar Mika, "Becanda sayang, tapi yang tadi itu sakit, dan kamu harus menggantinya rasa sakit ini setelah sampai di apartemen nanti. Jadi, ayok." Kavin langsung mengayunkan langkah berjalan, sembari terus menggandeng sang istri.
__ADS_1
Namun, saat hendak memasuki gedung apartemen. Kavin tidak sengaja berpapasan dengan dua orang pria, dan kedua pria itu tidak sengaja menyenggol bahu kiri Kavin, membuat membuat sang empunya hampir saja terjatuh.
Kavin tentu saja langsung menoleh, dan kedua matanya langsung menatap tajam ke arah dua pria dewasa yang kisaran usianya tidak jauh dari dirinya. Tapi bedanya. Kedua pria itu berbeda tegap, pun warna kulitnya hitam, dan disertai kumis tebal, membuat mereka terlihat tua.
"Maaf Tuan— saya tidak sengaja. Tolong, maafkan saya." Bukan pria yang menyenggolnya meminta maaf, tapi teman ya g tadi berjalan di sebelah kanan si pria pelaku penyenggolan itu yang mencicit meminta maaf.
"Ohh it's okey. Saya baik-baik saja. Tetapi, tadi saya hanya kaget." Jawab Kavin ramah, "kalau begitu saya permisi dulu." Kavin kembali berjalan meninggalkan dua pria dewasa berbadan tegap, dan disertai kulit hitam itu.
Sedangkan Mika yang menyadari kalau sedari tadi si pelaku penabrakan itu menatapnya, hanya diam. Dia tidak berniat memberi tahu sang suami, takut kejadiannya akan semakin runyam.
Sedangkan dua pria dewasa itu, langsung membentuk senyum miring saat melihat Kavin tengah berbicara dengan pegawai lobi, "Gimana?" tanya pria yang tadi menyenggol Kavin dengan masih menunjukkan senyum miring.
"Kita terima saja." Pria yang tadi mengucapkan maaf menjawab, dengan menunjukkan seringai menyeramkan miliknya.
Setelah mengatakan itu, kedua pria dewasa itu berlalu pergi, dan itu bersamaan dengan masuknya Kavin serta Mika ke dalam lift.
...T.B.C...
...Sumpah deadlineku numpuk....
...makanya enggak sempat nulis cerita ini...
...tapi Alhamdulillah ada waktu hari ini, jadi aku tulis....
__ADS_1
...Semoga masih ada yang nungguin nih cerita🤭...