Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
58. Celetukan Di Malam Hari.


__ADS_3


...(Aku tidak sabar bertemu dengannya, dan melihat kondisinya)...


...*...


...(Alfarizi Kavindra)...


...***...


Jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari, membuat suasana rumah sakit terlihat sangat sepi sekali. Bahkan sekarang, Kavin melihat tidak ada satupun orang di lorong-lorong ruang tunggu.


Namun itu, tidak menyurutkan keinginan Kavin untuk mengunjungi ruang rawat Mika, membuat salah satu perawat pria yang bertugas malam, begitu kewalahan menghadapi keras kepalanya seorang Alfarizi Kavindra.


"Apa tuan yakin akan menemui gadis itu?" tanya perawat pria, dan Kavin yang sudah mendengar sepuluh kali pertanyaan itu, hanya menganggukkan kepala, dengan wajah dibuat sedatar mungkin.


"Kau banyak bertanya. Cepat dorong kursi rodaku, ke ruang rawat gadis itu," perintah Kavin dingin, dengan nada persisi seorang pemimpin, membuat perawat pria itu sangat sulit menelan ludahnya sendiri.


Tanpa banyak bertanya, dan mengeluarkan suara lagu. Perawat pria itu, langsung mendorong kursi roda yang diduduki Kavin saat ini, menuju ke ruang rawat Mika.


Iya, setelah sadar beberapa jam lalu, Radit tidak langsung menemui Mika. Dokter meminta dia untuk mengistirahatkan diri, dan tidak banyak menggerakkan kakinya, karena sekaramg di telapak kaki Kavin, banyak luka goresan ranting, tusukan beling, yang cukup parah. Hingga membuat kedua kaki itu di perban.


"Hai kau— bagaimana keadaan gadis desa itu?' tanya Kavin memecah keheningan lorong ruang tunggu rumah sakit itu.


Perawat pria itu tersentak kaget, "Keadaan gadis itu perlahan sudah membaik," jawabnya dengan nada gugup.

__ADS_1


"Saya sudah tahu itu bodoh. Tadi saya bertanya, apa gadis itu sudah dalam keadaan sadarkan diri, atau masih belum?" desis Kavin, membuat perawat pria itu berdecak dalam hati.


'seingatku Tuan tidak menanyakan itu, tidak sama sekali,' jawab perawat pria itu dalam hati, "Kau Bernai mengacuhkan pertanyaan saya?"


"Ti—tidak Tuan. Seingat saya, Gadis itu sudah siuman, dan beberapa jam yang lalu sudah sadarkan diri," jawab gagu perawat pria itu, dan itu langsung membuat Kavin menyungging senyum kecil. Tetapi, sedetik kemudian. Senyum itu luntur, saat dia menyadari satu hal.


"Hai kau," panggil Kavin dengan bernada bossy.


"I—iya tuan," jawab gugup perawat itu, dan diakhiri dengan menelan ludahnya kasar.


"Saya tadi mendengar, kslau kau memanggil pasien itu, dengan sebutan gadis. Apa aku tidak salah mendengar?" tanya Kavin dengan mendongakkan kepala, dan langsung memberikan tatapan tajam untuk perawat pria, yang saat ini tengah menahan kegugupannya.


"Anda tidak salah mendengar Tuan. Tadi saya memang memanggil pasien itu, dengan sebutan gadis. Apa ada yang sal-"


"Tentu saja salah bodoh! Panggilan gadis itu, hanya aku yang boleh mengeluarkannya, dan kau tidak berhak memanggil gadis desa itu, dengan sebutan itu," desis Kavin membuat perawat pria itu mengernyitkan dahinya.


"Jadi kau berani menyalahkan saya?" tanya Kavin dengan menekan setiap katanya.


Sontak perawat pria itu langsung menggelengkan kepala, "Tidak Tuan. Semua ini kesalahan saya, tol-'"


"Saya tahu kalau kau akan meminta maaf. Tetapi, karena saya sedang dalam kondisi bahagia. Tanpa kau mengatakan maaf, saya sudah memaafkan kau. Jadi, berbahagialah, dan dorong lebih cepat kursi roda ini, karena aku sudah tidak sabar melihat wajah manis gadis desa itu." Tutur Kavin panjang lebar, dan dia tidak menyadari kalau tadi. Dia mengeluarkan kata pujian untuk Mika


***


"Berhenti di sini," perintah Kavin, membuat perawat pria itu menghentikan aktivitas mendorong kursi rodanya, "Buka pintunya, dan jangan berani-beraninya kau mengintip ke dalam. Jika saja aku melihatmu mengintip, jangan salahkan aku mencongkel kedua mata itu, dan memberikannya kepada Miguel." Kavin berucap dengan nada mengancam, membuat perawat itu bergidik ngeri.

__ADS_1


"Tuan kok punya temen serem sekali sih, suka makan organ manusia," ujar perawat pria itu, membuat Kavin menajamkan tatapan matanya ke arah perawat pria itu.


"Enak aja kau mengatakan kalau saya berteman dengan tokek," desis Kavin tidak menerima ucapan perawat pria tadi.


"Siapa yang mengatakan kalau Tuan berteman dengan tokek? Bukankah tadi saya. katakan temen Tuan, yang namanya Miguel it-"


"Miguel itu tokek peliharaan saya, dan dia bukan teman saya. Walau kadang saya suka juga curhat ke dia, tali tetap saja dia bukan temen saya," jelas Kavin, dan entah kenapa malam ini. Pria dua puluh tujuh tahun itu sangatlah ceriwis.


"Kalau begitu, tol-'"


"Berhenti bicara, dan cepat bukakan pintunya," potong Kavin, membuat perawat pria itu menganggukkan kepala, dan hendak menggerakkan tangan untuk menggenggam handel pintu.


Namun, gerakannya terhenti saat suara Kavin lagi-lagi menyalami gendang telinganya, "Ingat merem,' ujar Kavin, membuat perawat pria itu menoleh, dan menunjukkan kedua matanya yang sudah merem.


'kenapa ada orang modelan seperti ini sih. takut bet punyanya dilihatin, tapi aku kok penasaran sih,' batin perawat pria itu. Dia mulai memutar handel pintu, memutarnya, dan langsung mendorongnya ke dalam.


Pintu pun terbuka, dan Kavin yang tidak mau berbicara lagi. Mulai menggerakkan kursi rodanya menggunakan kedua tangan, "Mengintip sedikit saja, habis kau," ancam Kavin, membuat perawat pria itu mengurungkan niatnya, untuk sedikit membuka salah satu matanya.


"Tutup pintunya," perintah Kavin kembali. Perawat pria itu hanya menganggukan kepalanya, dan dia langsung menutup rapat pintu ruang rawat Milik Mika.


...T.B.C...


...Seelah adegan mewek dan bikin khawatir, yok ketawa dulu melihat sikap Kavin....


...Jujur, Kalian suka karakter Kavin enggak?...

__ADS_1


...Jawab di kolom komentar yah, bay!...


__ADS_2