
...Padahal ini part udah aku siapin kemarin malam, untuk aku update jika capai target 6000 hadiah. Tetapi enggak capai target, makanya aku up hari ini....
...Tidak apa-apalah, Mungkin 6000 terlalu membeludak. Tetapi, jika capai 4500 hadiah bisa enggak yah?...
...Jika target 4500 tercapai, aku update lagi. Makanya kasih hadiah yok!...
...(Tidak ada isak tangis, tidak ada air mata, dan tidak ada rasa sakit. Biarkan semua rasa itu terbawa arus ombak, yang menghantam diriku. Aku tidak merasa sakit, karena perih di hatiku, lebih nyeri dari pada hantaman ombak yang membuat punggungku terbentur kerasnya batu karang)....
...***...
Mika terus berjalan dengan mata yang memerah, karena sedari tadi menangis. Terlebih lagi, embusan angin tak henti-hentinya menerjang matanya, membuat dua indera pengelihatannya itu merah karena kering.
Mika nampak berjalan dengan keadaan wajah cemong di penuhi oleh warna menghitam, karena itu pula, dia sedari tadi menjadi pusat perhatian para wisatawan saat dia mulai memasuki kawasan pantai.
Mika tidak peduli akan hal itu. Yang sekarang memenuhi pikirannya ada sosok wanita bernama Rina, yang menjadi pelaku atas hancurnya tempat bernaung, dan berteduh Mika selama tiga belas tahun terakhir ini.
Andai saja dia bisa mengeluarkan suara, mungkin wanita itu dengan lantang menyerukan nama Rina, hingga sang empunya nama mendengar betapa marah, dan kesalnya dia saat ini.
Mika kembali menjatuhkan air matanya, saat dia mengingat keadaan gubuknya yang sudah menjadi bangkai. Padahal saat dia meninggalkan tempat itu, dia masih bisa melihat gubuk itu berdiri, walau tidak kokoh.
Namun, dia masih tidak percaya akan apa yang tadi dia lihat. Dia berharap kalau itu semua, hanyalah mimpi, 'sudah cukup aku diam selama ini,' batin Mika sembari mengehentikan langkah.
Wanita itu mengedarkan pandangannya, untuk mencari di manakah gerangan keberadaan Rina. Tetapi, sejauh matanya memandang. Dia tidak menemukan sosok Rina yang menjajarkan dagangannya sedikitpun, di banyaknya pengunjung pantai.
__ADS_1
Mika bergerak menyeka air matanya menggunakan lengan. Tetapi, sedetik kemudian, wanita itu menganga, dengan lidah menjulur keluar, karena dia merasakan ada seseorang yang menarik bajunya dari belakang.
"Lo cari gue yah. Baguslah," ujar dia— Rina, pelaku penarikan baju Mika dari arah belakang.
Mika semakin menganga, dengan kedua tangan berada di leher, karena sekarang wanita itu merasa seperti tercekik.
"Ehh nak temen kamu kesakitan loh," celetuk salah satu pengunjung yang menyadari, kalau Mika tengah merasakan sakit.
"Mika— kenapa kau tidak bicara kalau kesakitan," ujar Rina dengan nada dibuat-buat terkejut, "terima kasih karena sudah memberitahu saya Bu. Temen saya emang gini Bu, dia suka sekali jika di paksa seperti itu," imbuhnya dengan mengukir senyum sangat lebar, tapi entahlah senyum itu palsu atau tidak, hanya dia yang tahu.
"Ohh gitu yah, tapi kasihan loh temennya dek," celetuk ibu pengunjung itu dengan raut khawatir.
"Dia udah terbiasa kok Bu. Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu Bu. Selamat menikmati keindahan wisata kami yah." Rina berucap, dan wanita dua puluh tiga tahun itu. Langsung, berlalu dengan tangan bergandengan dengan Mika.
***
Suara punggung Mika yang beradu dengan batu karang, begitu terdengar sangat jelas memenuhi kawasan paling ujung pantai Kuta, dan tempat itu selalu sepi. Terlebih lagi, banyak batu karang, yang akan membuat aksi Rina tidak diketahui oleh orang-orang.
Mika sedikit membuka mulutnya, untuk mengeluarkan sebuah suara kesakitan bisu. Tetapi, itu hanyalah sesaat, dan Mika langsung bangkit dari tersungkurnya.
Dia menatap tajam ke arah Rina, dan membuat wanita itu menaikkan satu alis matanya, "Kenapa Lo? Mau ngelawan?" tanya Rina dengan nada meremehkan, dan kedua tangan menyilang di dada.
Mika tidak menggeleng, ataupun mengangguk. Gadis itu hanya menatap tajam ke wajah Rina yang sekarang terlihat sangat meremehkan dirinya, "Turunkan pandanganmu!" perintah Rina, tapi Mika tidak bergeming.
"Sundel! turunkan pandanganmu!" perintah Mika kembali dengan diawali umpatan. (Sundel itu umpatan orang NTB yah xixiixix 🙏).
__ADS_1
Mika masih tak bergeming, dan itu berhasil membuat Rina naik pitam. Wanita itu, langsung bergerak menekan puncak kepala Mika, agar dia menunduk. Tetapi, Mika justru kembali menaikkan tatapannya.
"Anj-" Mika mulai bergerak mendorong tubuh Rina, dan membuat ucapan yang hendak dilontarkan wanita itu terputus.
Mika kembali mendorong tubuh Rina, diikuti dengan gerakan mulutnya yang seolah sedang berbicara. Tetapi, bedanya tidak ada suara yang keluar dari dalam sana, dan itu membuat Rina menyeringai.
Mika yang melihat seringai itu, semakin membuka lebar mulutnya, seolah ingin meneriaki pertanyaan, 'kenapa kau lakukan itu?'
Namun, Rina tidak bisa menangkap maksud itu, "Hai Bis-"
Plak!
Mika memberikan tamparan sangat keras di pipi Rina, dan setelahnya dia kembali berteriak seolah ingin berbicara. Tetapi, Rina yang baru saja mendapatkan sebuah tamparan, langsung mengepalkan tangannya, "Kurang ajar ka- akhhhh!" Ucapannya langsung terganti dengan sebuah jeritan, karena Mika langsung menjambak rambut wanita itu dengan brutal.
"Sialan lepas!" teriak Rina sembari mencoba menjauhkan tangan Mika yang sudah menempel seperti lem di rambutnya, "Jika ini lepas, gue bakalan bunuh Lo anjing! akhhhh!" Mika semakin memperkuat genggaman tangannya di rambut Rina..
Namun, tiba-tiba saja kedua tangannya dicekal oleh sebuah tangan hitam, "Hai manusia cacat. Lo tahu, siapa yang sekarang Lo Jambak itu?" Rina yang masih dalam posisi menunduk menyeringai saat dia mendengar suara seorang wanita, yang sangat familiar di telinganya.
...T.B.C...
...Gimana Part ini?...
...Mau Dauble updated? Yok capai target 4500 hadiah dulu.....
...Atau enggak, Capai tiket Vote 35 aja. Aku Update lagi....
__ADS_1
...Kira-kira siapa yang datang yah?...
...Ada yang kasihan dengan Mika?...