
...Mumpung suasana hati aku lagi berbunga-bunga kek kelopak mawar di pagi hari....
...Ini part aku update khusus untuk kalian, para pendukungku😘...
...Makasih yah atas hadiahnya...
...yok langsung cekidot!...
...(**Aku enggak nemu foto visual Kavin yang kek panik, jadi libur yah visualnya)...
..."Jangan secepat ini untuk pergi. Aku mohon, akan aku lakukan apapun agar kau tetap di sini, di sebelahku. Tidak perduli aku kau buat kesal, yang jelas tetap di sini. I will save you, oh my heartbeat**"...
...(Alfarizi Kavindra)...
...***...
Kavin langsung berlari dengan kecepatan penuh. Dia tidak peduli dengan keadaan orang-orang yang tadi tak sengaja tersenggol olehnya. Satu hal yang Kavin pedulikan saat ini, dan detik ini hanyalah sosok Mika.
Sekarang pikirannya dipenuhi oleh keadaan Mika. Bagaimana nasib gadis malang itu? Terlebih lagi, saat tadi dia mendengar nama Rina disebut-sebut, membuat pikiran Kavin, langsung melayang mengingat seorang wanita gila, yang tiga hari lalu memukuli Mika.
"Hi— what are you doing?!" tanya marah seorang wisatawan asing saat, tadi Kavin menyenggol pundaknya.
Kavin langsung menolehkan kepala, "Sorry, but now i'm in a hurry." Tanpa menunggu jawaban dari wisatawan asing itu. Kavin langsung berlalu pergi, dan masuk ke kawasan pantai yang sore hari ini masih ramai oleh pengunjung.
"Mika! Mika!" Teriakan Kavin mampu membuat seluruh pengunjung, baik itu dalam negeri atau luar negeri mengarah kepadanya.
Namun, itu tidak membuat Kavin merasakan malu. sikap gengsi yang mendarah daging miliknya itu, mampu terkalahkan oleh rasa panik yang sekarang memenuhi benaknya, "Mika! Kau dimana?!" teriak Kavin bak orang gila, yang tak perduli kalau sekarang dia menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
Kavin berlari semakin masuk ke tempat wisata itu, membuat seluruh wisatawan merasa takut, karena mereka mungkin mengira kalau Kavin itu orang gila.
"Mika! Mika!" teriak Kavin semakin menggema memenuhi kawasan pantai Kuta, membuat embusan angin laut semakin gencar untuk berembus. ia seolah berniat membantu suara Kavin, agar terdengar ke seluruh penjuru pantai.
Namun nihil. Semua yang Kavin lakukan itu hanya akan menghabiskan tenaganya, karena walaupun Mika mendengar teriakan itu. Dia tidak akan pernah bisa membalasnya, karena bisu, terlebih lagi keadaan gadis itu entah seperti apa.
Mungkin sekarang dia sudah terbawa oleh ombak, hingga ke tengah laut. Atau, mungkin juga dia terkapar di bibir pantai dengan keadaan yang juga entah selamat, atau tidak. Banyak kemungkinan yang akan terjadi.
"Mika! Mika!" teriak Kavin semakin keras, membuat urat-urat lehernya tercetak jelas. Bisa dipastikan, kalau setelah ini dia akan kehabisan suara, tapi Kavin lagi-lagi tidak peduli akan hal itu.
Kavin mulai bergerak meronggoh saku celananya, dan dia langsung mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam sana. Dengan tangan gemetar, Kavin memainkan benda pipih itu, dan dia langsung berlalu mendekati pengunjung, saat ponselnya sudah memamerkan foto Mika.
"Pak, Bu. Apa kalian pernah melihat gadis ini? Namanya Mika, dia gadis yang sangat manis. Apa kalian pernah melihatnya?" Kavin bertanya dengan ceplas-ceplos. Padahal dia sudah menunjukkan foto Mika, tapi mulutnya bergerak sendiri untuk mengucapkan kriteria gadis yang dia cari itu.
"Maaf mas, seperti kami tidak pernah melihatnya," jawab pasangan paruh baya itu, dan mereka langsung berlalu pergi dengan masih memandang aneh Kavin.
"Tunggu nak!" seru seorang wanita paruh baya, membuat langkah kaki Kavin terhenti dengan sendirinya.
Wanita paruh baya yang tadi berseru itu, langsung berlari tergopoh-gopoh ke arah Kavin, "Apa kau tadi meneriaki nama Mika?" Tanya wanita paruh baya itu, dengan ragu-ragu.
"I—iya, benar. Apa Ibu pernah melihat wanita manis ini? Lihat dengan baik-baik. Dia itu berbeda dengan wanita lainnya. Jika ibu pernah melihatnya, pasti ibu langsung mengenalnya," ceriwis Kavin dengan peluh yang sudah memenuhi seluruh wajahnya.
"Iya, tadi sebelum ashari. Ibu melihat dia pergi dengan temannya ke pantai bagian sana Mas," jawab wanita paruh baya itu, dengan menunjuk kawasan pantai paling ujung. Bahkan dari tempat ini, Kavin tidak bisa melihat ada apa di sana. Yang jelas di sana dia melihat beberapa batu karang berukuran cukup besar, saat matanya memicing.
Tanpa ungkapan terima kasih, Kavin berlari ke ujung pantai itu diiringi oleh tatapan aneh, seluruh pengunjung pantai.
***
__ADS_1
Sementara di sisi lain, saat ini Mika sudah terbaring lemah. Posisinya saat ini masih sama, yaitu terkapar di pasir pantai yang sudah basah, dengan keadaan punggung menempel di batu karang.
Sedari tadi napas gadis itu semakin melemah. Tetapi, dia masih sadarkan diri, walau sekarang sekujur tubuhnya memucat, dan juga bergetar.
Rasa sakit, perih, dan napas tersengal-sengal, sudah sedari tadi dia rasakan. Tetapi, biarpun begitu dia tidak merasakan tanda-tanda kesadarannya akan menghilang.
Mungkin, tuhan sekarang tengah menyiksa dirinya. Padahal setiap kali ombak besar menerjang tubuhnya, dia sangat berharap untuk dibawa ke tengah laut. Alasannya, karena gadis itu sudah merasa lelah, bukan. Tetapi, sangat-sangat lelah.
'tuhan bawa aku ke sisimu sekarang juga. Jangan biarkan aku merasakan rasa perih ini. Cepat, bawa ak-' batin Mika terhenti, saat deburan ombak kembali menerjang tubuhnya yang terkapar, dan ia juga ikut serta membawa darah-darah segar Mika ke tengah lautan.
Mika mulai berhalusinasi. Wanita itu mulai melihat sekelebat cahaya terang dari atas langit, 'Apa tuhan sudah menunjukkan jalan pulang untukku?' batin Mika bertanya dengan bibir menyungging senyum.
Rasa sakit semakin menjalar memenuhi tubuh pucat, dan menggigil miliknya. Dia kembali melihat cahaya di langit itu semakin terang, 'selamat tinggal dunia, selamat tinggal pria kota,' batin Mika, entah kenapa ditengah-tengah hampir menghilang kesadarannya itu, dia melihat wajah Kavin.
"Tidak— kau tidak boleh berakhir seperti ini gadis desa." Mika bahkan bisa mendengar jelas suara Kavin, yang terdengar begitu nyata, "aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkan dirimu, jadi kau bertahanlah." Itu kata-kata terakhir yang mampu Mika dengar, dan setelahnya kesadarannya menghilang, diikuti embusan napas yang perlahan mulai melemah.
...T.B.C...
...10.000 Hadiah yang mau next Update, dan penasaran. 🤣🤣🤣...
...Bisakah tercapai 10.000 Hadiah?...
...Ada kata-kata buat part ini?...
...Tulis aja di komentar yah....
...See you next part all!...
__ADS_1