Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
106. Hari Yang Ditentukan Datang.


__ADS_3

...Maaf banget gays😭...


...Aku udah berusaha kejer deadline cepet-cepet, but tetap aja enggak bisa update cerita ini....


...Dan sialnya baru bisa update sekarang....


...Stay reading yah....



..."Apa ini rasanya menjadi cantik? Gaun yang sederhana, tapi indah di mata Kavin."...


..."Mika Anaya"...


...****************...


Dua hari kemudian, Kediaman Bagaskara, 10.30am


Pernikahan— Apa yang kalian ketahui tentang sebuah pernikahan? Bersatunya antara laki-laki dan perempuan yang saling mencintai kah? atau apa?


Yang jelas— Pernikahan adalah langkah awal yang harus dilalui setiap insan manusia yang ingin hidup bahagia bersama pasangan yang teramat di cinta.


Katanya pernikahan terjadi karena dua pasang manusia saling mencintai. Ironi, jika memang pernikahan terjadi karena mereka saling mencintai, lalu kenapa masih saja terdapat orang yang saling melukai di dalam hubungan pernikahan ini? Bahkan tak jarang kita melihat retaknya sebuah pernikahan hanya karena datangnya orang baru di dalam kehidupan mereka.


Bahkan kita sering kali juga menemukan orang yang cerai, karena salah satu dari pasangannya main belakang, atau sederhananya membawa orang baru di dalam hubungan yang mulanya harmonis, atau lebih singkat lagi selingkuh.


Jadi, apa benar pernikahan terjadi karena saling mencintai? Entah lah, setiap orang pasti punya pemikiran sendiri tentang sebuah pernikahan. Seperti gadis yang bernama Mika Anaya.

__ADS_1


Saat ini dia sedang berdiri di depan sebuah cermin. Melihat dirinya yang sudah terbalut sebuah gaun, entah itu gaun pernikahan atau apa, yang jelas kain itu sangat cocok di tubuhnya. coklat keemasan warnanya, dan warna itu terlihat pas dengan kulitnya.


Sedari tadi dia tidak berhenti menyungging senyum. Entah karena senang, atau karena apa dia tak tahu. Yang jelas, dia saat ini sangat bahagia karena datangnya hari ini.


Polesan make up begitu nyata di wajahnya, membuat kata-kata cantik sangat cocok untuk memuji paras gadis desa itu. Mika saja terkejut melihat rupanya yang terbalut make up, dan gaun mahal seperti ini, karena dia tidak pernah percaya kalau bisa memakai semua ini dengan tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.


Termasuk menikah. Dalam hidup, Mika tidak pernah memikirkan tentang hal itu. Tetapi, buktinya sekarang dia akan melakukannya, dengan seorang pria yang dia temui di daerahnya. Awalnya Mika menolak, tapi si Pria itu— Alfarizi Kavindra, bisa membujuk Mika untuk menerimanya karena embel-embel cinta katanya.


Namun, entahlah apa benar laki-laki itu tulus mengatakan cinta, Mika tidak tahu. Tetapi, satu hal yang Mika tahu tentang laki-laki itu. Dia sangat baik. Iya, Mika tidak pernah bertemu dengan orang sebaik Kavin, dan itulah yang membuat Mika menerima laki-laki itu.


"Mika ...." Gadis itu menoleh saat suara wanita yang terdengar sangat ceria memanggil namanya, "Mari— Kavin susah menunggu di bawah," ajak dia— Zaly yang saat ini berdiri di depan pintu dengan gaun tertutup yang tidak kalah cantik dengan milik Mika.


Sedangkan di sebelah Zaly ada seorang gadis yang lumayan cantik. Tania Megan Adelio namanya, adik Agler sekaligus anak kedua keluarga Adelio yang saat ini hanya menyunggingkan seutas senyum ke arah Mika.


"Kenapa malah diam? Ayok buruan." Zaly mulai memaksa seolah dia tidak sabar untuk melihat Mika yang akan bersanding dengan sahabatnya sekaligus pujaan hatinya.


Awalnya Mika merasa aneh dengan sosok Megan yang hanya tersenyum ramah. Tetapi, pikiran-pikiran aneh itu menguap kala Zaly berbicara dengan Megan menggunakan bahasa isyrat. Dan Mika mengetahui kalau gadis itu adalah seorang tuna rungu.


"Lelet banget sih," gerutu Zaly yang entah kapan sudah berada di sebelah kanan Mika, dan Megan yang juga susah berada di sebelah kirinya.


Mereka bertiga berjalan, dengan Mika yang diapit oleh dua wanita cantik, 'apa ini nyata?' batin Mika bertanya-tanya.


***


Sedangkan si halaman depan rumah besar keluarga Bagaskara sudah di penuhi oleh banyaknya tamu undangan. Aneh— padahal pernikahan ini terbilang cukup mendadak, tapi lihatlah dekorasi yang sangat indah, dan banyaknya tamu yang sudah duduk di kursi mereka masing-masing, terlihat seperti disiapkan jauh-jauh hari, tapi aslinya cuma tiga hari.


Namun, kalian janganlah terkejut karena apapun bisa terjadi dengan mengandalkan uang. Berpindah dari halaman rumah yang sudah dipenuhi banyak tamu undangan ke pelataran rumah.

__ADS_1


Di mana di sana, terdapat Kavin yang sudah duduk dengan pakaian yang kemarin dia kenakan. Tetapi, bedanya. Sekarang dia memakai peci hitam, dan sebuah dasi yang berwarna hitam pula.


Dia duduk berhadapan dengan seoeang pria paruh baya, yang sudah rapi dengan pakaian muslim. Dari cara berpenampilannya. Pria paruh baya itu lah yang akan menjadi penghulu.


Sedangkan di samping pria paruh baya itu, ada Amak Kasim yang juga baru datang dari hotel. Iya, semalam keluarga Bagaskara mengungsikan Amak Kasim ke hotel, dan entah apa alasannya Amak Kasim pun tidak tahu. Yang jelas sekarang dia sudah ditunjuk oleh pengadilan agama di daerahnya untuk menjadi wali hakim, karena keberadaan orang tua Mika belum diketahui.


Sedangkan tepat di ujung kanan meja sudah tersedia dua kuesi yang dimana satu kursi sudah diduduki oleh Agler, dan satunya lagi akan diisi oleh Zaly. Mereka berdua akan menjadi saksi dari pengucapan akad yang akan dilakukan oleh Kavin nanti.


Jujur saat ini Kavin merasa gugup, dan dia juga merasa tidak percaya kalau dirinya akan menikahi seorang gadis untuk pertama, dan terakhir kalinya. Baginya ini terjadi sangatlah cepat, karena jujur. Awalnya dia pergi ke Lombok untuk berlibur, tapi pas pulangnya malah membawa kabur anak gadis orang.


Dari tadi dia terlihat menoleh ke kursi kosong yang ada di samping kirinya, 'Kenapa kamu lama sekali, Mika,' batin Kavin yang seolah tidak sabaran.


Hening langsung memenuhi halaman depan rumah besar keluarga Bagaskara, saat mereka melihat sosok Mika yang begitu Ayu berdiri di depan pintu.


Terlebih lagi sekarang di samping kiri, dan kanannya ada dua sosok wanita yang tidak kalah cantik dengan calon mempelai wanitanya. Kavin tersenyum, dia bahkan sampai berdiri saat Mika menatapnya dengan seutas senyum manis.


"Lihat— wanita itu akan menjadi istri." Kavin mengumumkan dengan lantang tanpa ada kata malu, membuat semua tamu undangan bungkam, dan Mika yang langsung saja tersipu malu.


Zaly yang mendengar penuturan itu hanya bisa tersenyum getir, dan dia menoleh ke arah Mika, "Ayok," ajaknya, dan Zaly kembali menuntun Mika untuk mendekati Kavin yang sedari tadi sudah tidak sabaran untuk menyunting Mika.


"Kamu cantik," puji Kavin saat Mika sudah berdiri tepat di hadapannya. Zaly yang mendengar itu hanya mengulas senyum entah apa arti senyum itu dia tidak tahu.


"Baiklah— karena mempelai wanitanya susah sampai. Ada baiknya kita langsung memulainya." Penghulu mulai mengangkat suara.


Kavin yang mendengar itu mengangguk, dan langsung menuntun Mika agar duduk di kuris sebelahnya. Gugup? Tentu saja mereka berdua akan merasakan hal itu, karena setelah ini. Kehidupan baru akan mereka jalani, dan entah apa yang akan mereka lalu.


...T.B.C...

__ADS_1


__ADS_2