Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
Part 22. Mobil Pickup


__ADS_3

...Update lagi! Tumben cepet yah, wkwkwk!...


...Biarlah walaupun tak capai target, tapi yok dong kasih semangat 😳😳. yang jadi silent reader kuy tunjukan hidung batang kau, eh maksudnya batang hidung kau🤣🤣....


...30 like aku bakalan double up hari ini. Jadi yok capai 30 like kalau mau double up!...



...(pakaian Kavin yang dia gunakan pergi ke sawah xixixixi! gimana ekspresi orang kota yang seumur hidupnya hanya menghabiskan waktu di dalam rumah, dan untuk terakhir kalinya pergi ke sawah. xixixixixi!)...


...Stay reading!...


"halo! kau sekarang ada di mana Kavin?" tanya Agler yang sekarang sedang berbicara dengan Kavin melalu sambungan telpon.


Kavin yang baru saja menempelkan benda pipih itu ke telinga, kembali bergerak menjauhkannya, "Hai gadis desa— kau jangan berani-berani meninggalkanku. Kau tunggu aku di sini." Kavin langsung melangkahkan kaki sedikit menjauh dari Mika untuk berbicara dengan Agler yang saat ini terdengar menyumpah serapahi dirinya lewat panggilan telpon, yang sudah sedari tadi terhubung.


Sedangkan Mika yang tadi mendapatkan perintah yang keluar dari mulut Kavin, hanya bis pasrah. Padahal, baru saja mereka berjalan keluar dari dalam kebun, tiba-tiba Kavin mendapatkan telpon. Iya, setelah beberapa menit yang lalu dia berdebat dengan Kavin, Mika kembali menyadari satu hal, kalau pria kota yang sampai saat ini belum dia tahu namanya itu. Memiliki sifat keras kepala, dan Mika sudah merasakan betapa keras kepalanya pria kota itu.


Sementara di sisi Kavin, pria itu terlihat tengah mengomeli Agler yang menelepon dirinya, hanya karena masalah yang sangat tidak penting, "Kavin cepatlah kembali. Zaly tidak mau jalan-jalan tanpa ada kau bro." Sudah hampir tiga kali lebih Agler mengatakan itu, tapi Kavin masih saja keras kepala, dan enggan untuk mengiyakan.


"Kenapa harus ada aku coba? bukankah kau bersama dengannya? Sudah lah aku sibuk, sampai jumpa lagi!" Kavin menjauhkan ponsel dari telinganya, memutuskan sambungan panggilan itu, dan langsung berbalik kembali ke tempat Mika saat ini menunggunya.


Setelah beberapa menit menunggu, Akhirnya Mika bisa menghembuskan napas lega saat melihat tubuh Kavin berjalan ke arahnya, 'kenapa pria kota itu berjalan seperti itu sih?' ejek Mika dalam hati saat melihat cara berjalan Kavin yang terlihat angkuh, dan penuh gaya.


"Hay gadis desa! Berhenti menatapku seperti itu, dan dengar ini baik-baik menggunakan telingamu...." Kavin menjeda ucapannya, untuk melihat reaksi Mika yang langsung menganggukkan kepala.


"Sebenarnya aku agak gimana yah untuk mengungkapkan ini." Kavin berucap dengan kedua tangan disilangkan di dada, satu alis mata terangkat, dan satu sudut bibirnya tertarik. Persis terlihat seperti orang yang sombong, dan penuh gaya di mata Mika saat ini.


Andai saja Mika bisa berbicara, dia ingin sekali mengatakan kata-kata sombong untuk menggambarkan pria kota yang berdiri di hadapannya ini, "Tadi aku berbicara dengan Lio, dan mengatakan kalau aku sedang bersama dengan kau," imbuh Kavin membuat kening Mika mengernyit tanda gadis itu tidak paham.

__ADS_1


'siapa Lio?'' batin Mika bertanya, tapi sedetik kemudian pertanyaan itu menguap, dan Mika kembali fokus mendengarkan kata-kata yang keluar dari mulut pria kota di hadapannya ini.


"Lio tadi mengatakan padaku, kalau dia lebih suka melihat rambutmu itu tergerai. Jadi, aku sebagai teman yang baik menyampaikan itu, walau sebenarnya aku tidak ingin mengeluarkan kalimat pujian itu untuk kau," imbuh Kavin, dan itu semakin membuat Mika tak mengerti.


Mika yang masih kebingungan memilih bertanya menggunakan bahasa isyarat yang berarti, 'Tuan— kalau boleh saya tahu, Lio itu siapa?' tanya polos Mika dengan isyarat tangan.


Melihat itu, Kavin langsung menoyor kening Mika, dan membuat kepala gadis terhuyung ke belakang, "Lio itu, Pria yang semalam kau antar pulang itu bodoh," sinis Kavin, dan gadis itu hanya menganggukan kepala.


"Jadi— cepat buka ikatan rambutmu itu, agar pesan yang dititipkan Lio kepadaku tadi, tersampaikan, dan kau lakukan." Dengan polosnya Mika menganggukan kepala, dan bergerak membuka ikatan cepol rambutnya.


Kavin yang sudah melihat rambut Mika yang sudah tergerai, tanpa sadar sedikit menarik sudut bibirnya membentuk seutas senyum kecil, "Ayok kita lanjutkan perjalanan." Mika menganggukkan kepala, dan wanita itu berjalan terlebih dahulu.


Baru setelah itu Kavin kembali mengangkat sebuah alat berbentuk segitiga yang terbuat dari papan dan bambu. Itu loh alat yang ada di foto kemarin, dan digunakan untuk ngerampek. Setelah mengangkat benda yang tidak terlalu berat itu, Kabin mengayunkan langkah mengikuti Mika yang sudah jauh di depannya.


***


"Hay gadis desa— kenapa kita belum sampai juga?" tanya sinis Kavin yang kesekian kalinya, membuat Mika merasa jengah, dan tidak ada niatan untuk menjawab pertanyaan itu.


Senyum Mika tersungging saat kedua matanya melihat sebuah mobil pickup yang sedang terparkir di pinggir jalan. Mika menolehkan kepala ke belakang dengan masih melukis senyum, dan setelah itu dia menunjuk-nunjuk mobil pickup warna hitam seolah ingin mengatakan, 'kalau kita sudah sampai,'


Perasaan-perasaan aneh mulai Kavin raskan. Terlebih lagi saat pria itu melihat Mika berhenti di mobil pickup yang sudah berisikan beberapa orang tau. Kavin mulai mengayunkan langkahnya dengan cepat, dan langsung berhenti tepat di sebelah Mika.


"Makam ngonek lalok (kenapa lama sekali)," celetuk seorang wanita paruh baya menggunakan bahasa NTB yang jelas tidak Kavin mengerti.


Mendengar celetukan itu, Mika hanya menundukkan kepala seolah meminta maaf, "Taek jelapan (naik cepetan)" perintah salah satu wanita paruh baya kembali menggunakan bahasa daerah NTB.


Mika yang mendengar perintah itu hanya menganggukan kepala. Melihat itu, dua orang laki-laki tua langsung turun dari atas mobil pickup, dan mereka berdua langsung berjalan mendekati Kavin.


"Sini tak bantu," ujar salah satu pria tua itu menggunakan bahasa Indonesia, tapi logat lomboknya masih bisa Kavin rasakan.

__ADS_1


Kavin hanya bisa menganggukan kepala, dan ketiga pria itu langsung bergerak menaikkan alat itu ke atas mobil pickup yang di mana, di sana juga sudah tersedia dua alat yang sama, "Makasih pak," ujar Kavin sopan.


"Sama-sama Tuan. Ayok kita berangkat sekarang," jawab salah satu pria tua itu, mengajak Kavin untuk naik.


'tidak— bukankah tadi gadis desa itu mengatakan mau pergi ngerampek? lalu kenapa aku harus naik,' batin Kavin, dan pria itu hendak menolak ajakan dari laki-laki tau itu. Tetapi, belum sempat kata-kata penolakan dia lontarkan, tiba-tiba saja kedua matanya melihat sosok Mika yang sudah berada di atas mobil pickup.


Kavin membulatkan mata lebar-lebar, dan sesekali dia mengerjap-ngerjapkan matanya seolah apa yang matanya saat ini lihat, bukan kenyataan. Tetapi, setelah Mika melambaikan tangannya, harapan pria itu menguap.


Kavin semakin dibuat terkejut saat dia melihat isyrat Mika yang menyuruhnya untuk naik ke atas mobil pickup itu, terlihat sangat-sangat nyata, 'seorang Alfarizi Kavindra yang sudah berpenampilan keren seperti ini, akan pergi dengan pickup? big no,' batin Pria itu menolak mentah-mentah.


"Tuan cepatlah naik! Kita sudah sangat terlambat!"


...T.B.C...


...xixixixixi, baru naik pickup aja si Kavin usah kaget. ckckck dasar orang kota. Gimana ekpresinya kalau nanti dia udah sampai di tujuan? xixixixixi...


...Jangan lupa buat bantu aku bersemangat up dengan hadiah yah! awas aja klo nggk kasih hadiah, aku bakalan ngambek!...


...Yok ada kata buat?...


...Kavin...


...or...


...Mika...



...(mobil yang buat Kavin kaget xixixixixi. maklum orang kaya kan, pilih-pilih, dan mana mau mereka naik mobil model beginian, sedangkan kendaraanya mobil mewah semua xixixixixi)...

__ADS_1


...see you next part!...


__ADS_2