
...Sahabat paris 😙😙😙...
...Yok kita tenangkan hati kalian yang dag-dig-dug....
...wes kalem wae atuh teteh— akang😙😙😙...
...Semoga dengan part ini, kalian bisa terhibur, dan hilangkan pikiran-pikiran buruk di otak kalian 😙...
...****************...
"Ayok nak— silahkan duduk dan jangan malu-malu. masak iya, kamu malu sama calon mertua sendiri." Itulah kata-kata pertama yang didengar Mika, dan perkataan penuh akan kelembutan itu sedikit mampu membuat gadis berkulit hitam manis itu, menyungging seutas senyum.
Mika tidak berucap, melainkan dia menunduk penuh hormat dengan terus memperhatikan dua sudut bibirnya untuk terangkat, "Anakku emang tepat pilih calon." Rama mengeluarkan pujian, dan membuat dentingan jam yang tergantung di dinding ruang santai itu mengeras seolah sedang mengejek Rama.
Pasalnya, beberapa jam yang lalu. Jam masih mendengar jelas ucapan cemooh yang diutarakan Rama tanpa ada pemilter. Tetapi, tiba-tiba saja sekarang Adam bersikap sangat lembut. Bahkan dia saat ini sedang mengelus rambut hitam Mika saat gadis itu sudah duduk di sebelahnya.
Sementara Mika yang mendapatkan perlakuan teramat lembut dari seseorang yang belum dia kenal, hanya bisa menundukkan kepala, dan merasakan kehangatan yang entah sejak kapan menyelinap ke hatinya.
Sedangkan Kavin. Pria itu sudah duduk dengan gaya angkuh, yaitu punggung disandarkan di sandaran sofa, satu kaki dinaikkan ke atas lutut kaki kiri, dan satu tangan terentang di kepala sofa.
__ADS_1
"Nak— maafkan Papa yang tadi sempat berkata buruk padamu. Jujur Papa tadi tidak bisa mengontrol diri, karena tiba-tiba saja anak Papa pulang dengan seorang gadis yang dia akui akan menjadi istrinya." Rama menjeda ucapannya hanya untuk melihat ke arah calon mantu yang masih setia menundukka. kepala.
Melihat posisi duduk calon menantunya, Rama dapat menebak kalau, gadis berkulit hitam dengan pakaian kaos warna putih bermotif garis-garis hitam yang dipadukan rok kain lusuh bermotif bunga mawar itu sekarang sedang gugup.
"Awalnya Papa kira itu candaan Kavin, karena dulu waktu kecil. Kavin selalu bercanda hanya untuk membuat Papa melihat ke arahnya. Tetapi, siapa yang menduga kalau omongin anak datar Papa itu, benar." Rama melanjutkan ucapannya, tapi pria paruh baya itu langsung mengerutkan keningnya, saat dia tidak mendengar sepatah kata pun yang keluar dari mulut mungil calon mantunya.
Namun, Rama tidak berpikir buruk tentang itu. Dalam pikirannya, dia sekarang mengira kalau calon menantunya itu masih malu untuk mengeluarkan sepatah kata.
"Papa— tanya siapa namanya dong. Mama pengen tahu nama calon mantu pertama Mama," celetuk Adena yang Mika dengar sangatlah jelas.
"Papa lupa Ma. Nak— beritahu dong siapa namanya, biar Papa dan Mama tahu." Rama masih berbicara dengan sangat lembut, dan entah kenapa itu membuat Kavin merasa mual.
Bagi pemuda itu. Apapun yang keluar dari mulut adik tirinya tidak lah penting. Entah itu perkataan konyol, perkataan receh, perkataan apapun. Bagi Kavin suara itu tidak pernah ada dalam rumah ini, dan itu termasuk orang yang juga punya suara renyah tersebut.
"Apa kamu malu, Nak?" Pada akhirnya Rama bertanya, dan itu juga berhasil membuat tangan kanan Mika meraih ujung baju kaos berwarna bau rokok milik Kavin.
"Kau enggak usah malu seperti itu, Sayang. Lagian sebentar lagi kita akan menjadi keluarga, bukan begitu Mama?" Imbuh Rama, dan dengan antusiasnya Adena mengangguk.
"Mungkin calon mantu Mama mau minum dulu. Silahkan, ini Mama buat dengan penuh kasih sayang. Siapa tahu setelah minum ini, kamu enggak malu lagi, untuk mengatakan nama, dan mengeluarkan suaramu."
__ADS_1
Kata-kata wanita paruh baya yang saat ini tengah menyodorkan segelas minuman berwarna kuning, mampu membuat hati Mika serasa dicubit. Dan untuk pertama kalinya Mika merasa marah akan kondisinya yang saat ini tidak dapat bersuara, untuk menjawab pertanya-pertanyaan lembut yang keluar dari mulut keluarga Kavin.
"Mika Anaya— nama calon istri Kavin adalah, Mika Anaya. Dia berasal dari NTB." Pada akhirnya Kavin lah yang menawan pertanyaan seluruh keluarganya.
Namun, biarpun Rama sudah mendapatkan jawaban. Dia merasa tidak senang, karena yang menjawab tadi bukan calon menantunya melainkan anaknya.
"Papa mau mantu Papa yang jawab, dan bukan kau. Jadi, kau diam saja, dan biarkan calon mantu Papa yang mengenalkan dirinya sendiri. Bukan begitu, Ma, Gam?" Adena dan Agam menganggukkan kepala antusias, dan itu semakin membuat Mika ingin menangis.
Menangisi keadaan di mana seluruh keluarga Kavin menginginkan sebuah suara yang keluar langsung dari dalam mulut Mika. Tetapi, hal itu sangatlah nih untuk dikabulkan, karena seorang yang sudah terlahir bisu. Mana mungkin bisa mengeluarkan sepenggal suara.
"Nak— Apa kamu tak-"
"Dia tidak bisa bicara." Lagi dan lagi, Kavin lah yang menjawab pertanyaan Rama, dan itu berhasil membuat semua orang yang ada di sana mengerutkan dahinya.
Kavin bergerak membawa tubuh Mika yang mulai gemetar masuk ke dalam dekapannya. Pria dua puluh tujuh tahun itu memejamkan mata, "Calon istriku bisu."
...T.B.C...
...Penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya?...
__ADS_1