Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
127. Maaf Untuk Segalanya.


__ADS_3

Suara derasnya hujan menggema memenuhi ruang rawat tempat di mana saat ini Kavin berbaring lemah.


Laki-laki itu berbaring dengan embusan napas teratur dan wajah yang sangat-sangat damai. Berbeda dengan tadi saat dia mendapati keadaan istrinya yang begitu tidak bisa dipercaya.


Perlahan Kavin membuat gerakan pun kelopak matanya mulai bergerak terangkat. Suara ringisan mulai terdengar keluar dari dalam mulut Kavin yang sedikit terbuka.


"Mika." Kavin mulai mengeluarkan racauan sembari tangan kanan bergerak memijat pelipis kanan kirinya. Laki-laki itu mulai bergerak bangkit dari berbaringnya dengan kedua mata yang sedikit terbuka.


Bertepatan dengan itu pintu ruang jawat terlihat bergerak terbuka dan dari arah sana seorang wanita dewasa berpakaian putih masuk dengan nampan di kedua tangannya.


Wanita yang bername tag Reha W itu langsung berjalan cepat mendekati brankar yang di mana, tempat Kavin tengah berbaring.


"Tuan," ujar lembut Reha— perawat wanita yang bekerja di rumah sakit ini.


Iya, sekarang Kavin sudah berada di rumah sakit setelah tadi kehilangan kesadaran di pinggir jalan yang di mana, tinggal sedikit lagi akan memasuki tempat sekarang dirinya berbaring ini.


Reha muletakkan nampan yang diatasnya sudah terdapat semangkuk bubur dan segalas air putih itu ke atas nakas, setelahnya. Dia hendak membantu Kavin yang begitu kesusahan untuk bangkit dari tidurnya.


"Singkirkan tangan kau, sialan!" Kavin berucap sembari menyingkap kasar kain yang menyelimuti tubuhnya.


"Aku harus bertemu Istriku. Dia pasti sudah menunggu suaminya. Jadi, menyingkirkan dari jalanku." Kavin bergerak untuk menurunkan kakinya dari atas brankar sembari mendorong tubuh Reha agar menjauh dari sisi kanan ranjangnya.


Baru saja Kavin memijakkan telapak kaki tanpa alasnya di atas lantai, tiba-tiba kepelanya kembali diserang kepeningan. Kavin memejamkan mata menikmati rasa nyeri itu.


Reha yang melihat itu hendak kembali memegangi Kavin, tapi laki-laki itu dengan cepat mengangkat tangannya membuat gerakan kedua tangan perawat wanita itu tergantung di udara.


"Di mana istriku berada?" tanya Kavin sembari menatap datar ke arah Reha, "Apa dia sudah kembali bernapas? atau apa dia sudah siuman? Kalian sudah memberikan dia sarapan kan? Satu lagi, tubuhnya sangat dingin, apa kalian sudah menghangatkannya?" Reha hanya bisa diam menatap Kavin dengan tatapan perihatin.


Kavin yang melihat itu membalas dengan tatapan mata yang sangat tajam, "Kenapa kau melihatku seperti itu brengsek. Katakan di mana istriku dirawat?" tanya Kavin kembali dengan nada bicara yang ditekan.


Reha yang mendengar itu langsung menundukkan kepalanya dan gerakannya itu membuat sebutir air mata jatuh dari pelupuk matanya, "Dokter meminta anda untuk ke ruangannya, Tuan. Tapi, sebelum itu Tuan harus sarapan terlebih dul-"


"Enyahlah dari hadapanku," potong Kavin sembari meodorong tubuh Reha ke samping, karena perawat wanita itu menghalangi jalannya.


"Di mana ruangan dokternya?" tanya Kavin ketus.


Reha yang mendengar itu langsung menghapus air matanya, pun dia juga bergerak menegakkan kepalanya, "Setelah keluar dari tempat ini. Tuan tinggal berjalan ke kanan," jelas Reha dengan mencoba tersenyum, karena jujur. Mendengar pertanyaan yang terlontar dari pasien tadi, dia sedikit merasa kasihan.


"Menyebalkan sekali," ujar Kavin dengan nada malas.


"Semoga anda bisa tegar, Tuan." Reha bergumam saat dia melihat tubuh Kavin sudah tertelan keluar dari dalam ruang rawat.

__ADS_1


***


"Silahkan duduk, Tuan!" perintah Dokter dengan papan nama yang bertuliskan Dr. M. Zainal H saat melihat Kavin memasuki ruangannya dengan raut wajah yang terlihat malas.


Sedangkan Kavin yang mendengar perkataan dokter itu mengeluarkan decaka, "Langsung saja katakan apa yang ingin anda sampaikan, Dok." Kavin berucap dengan raut wajah dan tatapan mata yang sangat malas ke arah dokter.


Sedangkan Dokter Zainal yang melihat itu hanya memperlihatkan seutas senyum gugup. Padahal yang harusnya gugup adalah Kavin, tapi kenapa malah sebaliknya? Aneh memang.


"Katakan saya harus menebus obat apa saja untuk istri saya. Terus, berikan resep pemakaian obatnya juga dan satu lagi. Apa luka di perutnya tidak terlalu parah?" Kavin nyerocos sembari bergerak duduk di kuris yang di depan meja sang dokter.


"Mohon maaf, istri anda tidak selamat. Bahkan pas kalian pingsan di depan rumah sakit, istri anda sudah tidak bernyawa lagi, Tuan." Dokter Zainal berucap dengan nada ragu-ragu.


Terlebih lagi saat dia melihat ekspresi Kavin yang tiba-tiba berubah melongo. Padahal tadi laki-laki itu terlihat sedikit enerjik dan saat dokter mengatakan sepenggal kalimat yang mencoba dia enyahkan dari pikirannya itu membuat dia tidak bisa lagi untuk berpura-pura bloon.


"A— apa yang anda katakan? Jelas-jelas tad-"


Kavin tidak bisa meneruskan ucapannya karena dia bingung mau mengelak fakta itu dengan kata-kata apa lagi, "Dia tad— tadi memintaku untuk sarapan, Dok. Dia tadi jelas-jelas mem-"


Perkataan Kavin tiba-tiba tertahan saat laki-laki itu tiba-tiba saja terserang sesak yang bahkan bisa membuat kedua matanya berkaca-kaca.


"Anda bercanda kan? Aku sudah membawanya ke sini, jadi kenapa dia tidak selamat? Bukannya tempat ini untuk menyelamatkan orang? Tetapi, kenapa istri saya tidak baisa di selamatkan?" Kavin berucap dengan tangan yang memukul-mukul dadanya.


Laki-laki itu bergerak bangkit dari duduknya dengan mengeluarkan sebuah kekehan, "Istriku memang suka begitu, Dok. Jadi, percuma saja anda membohongi saya, karena itu semua sudah tidak mempan," Kavin mulai meracau dengan air mata yang tidak henti-hentinya bercucuran. Malahan intensitasnya mengalahkan hujan yang diluar sana mulai turun rintik-rintik.


"Tuan, kuatkan diri tuan. Ikhlaskan di-"


"Ikhlaskan? Saya baru bersama dengannya tiga bulan dan anda meminta saya mengikhlaskannya? Kami baru bersama selama tiga bulan, baru merajut kisah rumah tangga dan anda dengan enaknya meminta saya mengikhlaskan?" Kavin motong perkataan dokter Zainal dan membuat laki-laki paruh baya itu tidak bisa lagi berkata apa-apa.


"Katakan di mana kalian merawat istriku?" tanya Kavin sembari mencoba untuk menahan sesak yang menyerang dadanya, "aku akan mengejutkan dia. Anda tahu, aku mengatakan akan pulang di tanggal tiga puluh satu, tapi sebenarnya aku pulang kemarin, dan lihat dia pasti akan terkejut. Aku juga sudah membelikan kelopak bunga permintaannya." Kavin mulai meracau dengan nada bicara yang terdengar bahahgia, tapi sebenarnya laki-laki itu sekarang sedang menderita.


"Istri anda sudah berada di kamar mayat," ujar Dokter Zainal membuat Kavin melayangkan tatapan tajam ke arahnya.


"Brengs*k! Anda kira istri saya sudah mati, hah?!" Kavin mengeliarkan bentakannya membuat Dokter Zainal tersentak kaget.


Tanpa banyak ngoceh lagi, Kavin berjalan keluar dari ruang Dokter Zainal dengan kedua tangan terus bergerak menghapus kasar air mata yang mengalir di pipinya.


Dokter Zainal yang tadinya berniat memberitahukam laporan medis dari Mika, terpaksa mengurungkan niatnya. Melihat reaksi Kavin saat mengetahui istrinya meninggal aja sudah seperti itu, apa lagi kalau tadi dia benar-benar memberitahukan hasil pemeriksaan medis istrinya.


Bisa ditebak kalau pria itu akan menggila, "Sepertinya saya harus menunggu dia ten-"


Ucapan Dokter Zainal terhenti saat dia mendengar suara pintu ruangannya yang kembali terbuka, dan menampilkan sosok laki-laki berhoodie.

__ADS_1


***


Kavin menatap dua pasamg pintu yang di atasnya bertuliskan kamar mayat. Laki-laki itu dengan mata yang memerah terus saja memandangi pintu itu, tanpa ada tanda-tanda untuk menoleh sedikitpun.


"a**ku mau makan tempe dan tahu manis, kangkung tumis juga, sama ayam balado. kamu buatin yah?"


Air mata laki-laki itu kembali terjatuh dengan pelan saat kenangan-kenangannya dengan sang istri kembali terngiang di pikirannya.


"di ibu kota sana aku akan menjagamu dan tidak akan pernah membiarkanmu menitikkan air mata lagi. Bahkan jika ada yang mengganggu seperti di sini, aku akan memberikan orang itu pelajaran."


Kavin hanya bisa memejamkan mata kala ingatan saat dia mengucapkan janji untuk terus merawat Mika kembali terputar di otaknya.


Air matanya kembali bercucuran..Padahal di luar hujan sudah reda, tapi awan mundung begitu enggan untuk meninggalkan kelopak mata Kavin.


"Janji padaku untuk menungguku pulang, okey."


Kavin perhalan itu mendorong kedua pintu itu, hingga jalan untuk dia masuk ke kamar mayat itu sudah terbuka lebar.


Laki-laki itu membuka matanya dengan perlahan dan tatapan netra coklatnya langsung disambut oleh sebuah brankar yang di mana, di atasnya ada orang yang berbaring dengan kain yang menyelimuti seluruh tubuhnya.


Dengan langkah berat dan air mata yang semakin deras keluar, Kavin mulai memasuki kamar mayat itu. Punggungnya sudah sedari tadi bergetar, pun tangannya juga sama.


"Kamu jangan pernah kemanapun sendirian, okey. Jika kamu mau pergi, kasih tahu aku dulu dan aku akan mengentarmu,"


Kavin bersimpuh di lantai, saat dia hampir sampai di brankar. Kakinya seolah tidak kuat lagi untuk melangkah lebih jauh. Jika dia melakukannya, dia pasti akan merasakan rasa sakit yang lebih besar dari ini.


"Maaf ...." Kavin mulai berucap sembari menutup wajahnya yang terhias awan mendung dengan kedua tangan besarnya, "Maafkan aku karena tidak bisa menjagamu seperti yang sudah aku janjikan, maafkan aku karena belum bisa memberikanmu kebahagiaan yang juga aku janjikan, dan maafkan aku karena sudah meninggalkanmu pergi."


Kavin berucap sembari menangis tersendu. Sementara tepat di ambang pintu rumah sakit, keluarga besarnya entah sejak kapan berdiri di sana, dalam keadaan menangis.


Rama, Adena, Agam, Agler serta seluruh keluarga besarnya, dan Zaly beserta ayahnya terlihat menatap ke arah Kavin dengan linangan air mata.


Mereka semua bergegas pergi saat mendengar kabar tentang kejadian yang dialami oleh anak dan menantunya.


"Seharusnya aku tidak pergi, seharusnya aku tetap berada di sini, seharusnya ...." Kavin tidak bisa berkata-kata lagi, karena tiba-tiba dadanya serasa sesak lebih sesak dari sebelumnya.


Kavin memukul-mukul dadanya sendiri, "Aku suami yang tidak becus, Mika. Aku suami yang tidak berguna. Maaf— maafkan aku. Maafkan aku." Bersaman dengan itu, Kavin yang notebenenya masih memerlukan asupan makanan kembali tak sadarkan diri. Semua keluarga yang melihat laki-laki itu pingsan langsung berlari ke arah sang anak.


...T.B.C...


...Kalian butuh tisu kah?...

__ADS_1


__ADS_2