
Kembali ke hari kejadian.
Kavin masih berdiri mematung dengan air mata yang semakin gencar keluar. Kesunyian menyelimuti ruang kamar yang entah sejak kapan terasa mencekam dan juga gelap, walau lampu bersinar sangat terang menyinari sudut-sudut kamar.
"Ini pasti mimpi," Kavin bergumam sembari bergerak memejamkan mata pun kepala yang menggeleng seolah tidak ingin mempercayai semua yang dia lihat tadi.
Di luar hujan semakin turun dengan derasnya, membuat hawa dingin menyeruak dan perlahan menggerogoti sekujur tubuh Kavin yang masih berdiri tanpa melakukan gerakan sedikitpun, kecuali kepalanya.
Kavin membuka matanya kembali dan dia masih melihat hal yang sama yaitu, tubuh pucat istrinya dengan darah kering di sekitar perut, "Tidak— ini semua tidak benar. Ini bohong kan. Aku pasti berhalusinasi. Ini semua tidak benar kan?"
Laki-laki itu mulai mercau dengan kepala yang semakin gencar untuk bergerak ke kanan dan kirinya, pun matanya kembali dia pejamkan.
Kavin kembali membuka matanya dan hal yang sama langsung menyambut inderanya, "Tidak," tolak Kavin sembari memejamkan matanya tapi sedetik kemudian dia kembali membukanya.
Itu dia lakukan berulang kali hanya untuk menolak apa yang sekarang ini dia lihat. Tetapi, itu percuma saja karena apa yang dia lihat sekarang memang kenyataan.
Mau bagaimana pun dia mencoba menolak dan berteriak-teriak bilang tidak. Wanita yang tengah terpejam dengan wajah yang teramat damai itu tidak akan tiba-tiba bangkit, dan memberikan tatapan penuh cinta kepadanya.
Kavin bergerak memposisikan diri untuk duduk di sisi ranjang. Tangan kanannya mulai dia gerakkan untuk mencabut pisau yang tertancap tajam di perut sang istri dengan sedikit kesulitan, tapi biar begitu. Mata pisau yang dipenuhi darah kering itu berhasil dia cabut dan langsung dia lempar asal.
Tidak ada darah yang keluar, karena didalam tubuhnya sudah tidak ada lagi setetes darah yang tersisa. Bahkan sekujur tubuh wanita itu sudah pucat.
"Sayang, bang-"
Ucapan Kavin tiba-tiba tertahan saat dia mencoba untuk menangkap wajah Mika yang terasa sangat-sangat dingin. Saking dinginnya, Kavin kembali menjauhkan tangannya.
"Kenapa kamu begitu sangat dingin, kamu baik-baik saja bukan?" tanya Kavin dengan air mata yang semakin keluar sangat derasnya, bahkan jika disamakan dengan hujan yang ada di luar sana. Air mata Kavin lebih cepat mengalir.
"Sayang, bangun. Lihat aku sudah pulang sesuai yang kamu inginkan, bukan?" Kavin bergerak membawa tubuh Mika ke dalam dekapannya, "Aku akan memelukmu, agar kamu merasa hang-"
__ADS_1
Kavin membulatkan mata sempurna saat dia tidak merasakan ada embusan napas yang keluar dari mulut Mika, saat dia tadi menempel pipinya di atas kepala Mika.
"Mika, sadar." Kavin mulai mengguncang tubuh istrinya, mencoba membangunkan wanita yang sudah terbaring lemas tak bernyawa.
Namun, biar begitu. Kavin tidak mau menyimpulkan sesuatu yang buruk walau dalam kepalanya dia sudah memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Kamu jangan bercanda sepeyi ini, Mika. Bernapas lah. Ayok bernapas." Dengan berlinang air mata dan suara isak tangis, Kavin terus saja mengguncang tubuh istrinya berharap dengan itu dia bisa membangunkan istrinya yang dia duga sedang bercanda.
Padahal sudah jelas dia lihat lubang di perut istirnya yang menganga lebar. Terlebih lagi darah sudah memenuhi ranjang pun baju Mika sudah berubah warna menjadi merah.
"Aku akan menyelamatkanmu. Aku akan membawamu ke rumah sakit" Kavin berucap sembari bergerak memposisikan tubuh Mika yang sudah lemah duduk.
Dia bergerak bangkit dari duduknya dan langsung berjalan ke arah ranjang bagian depan dengan masih memegangi kedua tangan Mika. agar tubuh wanita itu terjatuh lagi.
"Kamu tidak boleh seperti ini. Kita sudah berjanji untuk selalu bersama. Kamu juga sudah janji bakalan selalu disampingku." Kavin duduk di ranjang bagian depan. Dia melingkarkan tangan istrinya di area leher, membuat kepala milik wanita itu tiduran di pundak kanannya.
Kavin langsung memposisikan satu tangannya di bokonng sang istri, dan setelah itu. Kavin langsung beranjak pergi dengan menggendong punggung, Mika yang sudah tidak mengembuskan napas sedikit pun.
***
Kavin berjalan di lorong sepi apartemen. Padahal jam sudah menunjukkan setengah enam, tapi para penghuni apartemen belum ada tanda-tanda keluar dari dalam gedungnya sendiri.
"Kamu pasti selamat, kamu pasti selamat, kamu pasti selamat." Kavin terus bergumam dengan mata memerah mengeluarkan air hangat yang tidak ada habisnya.
"Kamu itu wanita kuat, kan? Kamu istriku yang kuat, jadi bertahanlah. Sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit." Kavin mercau hanya untuk menenangkan dirinya yang diselimuti ketakutan.
Kavin bukan orang bodoh. Dia tahu kalau istrinya sudah tidak bernyawa. Terbukti dengan sekujur tubuhnya yang dingin, pucat, dan terlebih lagi dia tidak bernapas.
Namun, biar begitu dia masih tidak ingin mempercayai hal itu, dia tidak ingin percaya kalau istrinya sudah meninggal. Padahal baru kemarin dia mengobrol via chat, tapi kenapa hal ini bisa terjadi secepat itu.
__ADS_1
"Kita akan sampai dan kamu akan selamat." Kavin masuk ke dalam lift dengan masih menggendong tubuh Mika di punggung.
***
Langit ibu kota Jakarta masih diselimuti oleh awan mendung yang sedari tadi tidak berhenti menurunkan butiran-butiran air hujan dan di dalam derasnya guyuran hujan itu sosok laki-laki dewasa berjalan, dengan membawa tubuh seorang wanita di punggungnya.
Dinginnya guyuran air hujan, tidak membuat laki-laki itu berhenti barang sejenak pun. Dia berjalan walau tubuhnya serasa remuk, dan itu semua dia lakukan hanya untuk membawa tubuh tak bernyawa milik istrinya.
Jam sudah menunjukkan pukul enam kurang lima belas menit lagi dan jalanan yang beberapa jam lalu sepi, sudah mulai ramai di penuhi oleh mobil yang berlalu lalang.
Tak jarang satu mobil berhenti hanya untuk menawarkan tumpangan untuk, Kavin. Tetapi, laki-laki itu memilih untuk menulikan indera pendengarannya seolah dia tidak ingin menerima bantuan apapun.
"Rumah sakit sudah ada di depan. Jadi, cobalah bernapas kembali sayang. Bernapas lah." Dengan mata yang semakin memerah karena sedari tadi tidak berhenti menangis dan hujan yang turun deras di hari ini seolah ikut bersedih, atau mungkin langit sedang mengejek dirinya terlihat mencoba menentang tuhan.
"Rumah sakitnya sudah terlihat, Sayang."
Bruk!
Kavin terjatuh saat kakinya sudah tidak kuat lagi berjalan dan menopang dua tubuh. Terlebih lagi laki-laki itu belum memakan apapun sedari semalam, "Kita sudah mau sampai sebentar lagi." Kavin mencoba bergerak mendekati tubuh istrinya yang terlempar sedikit ke depan.
Dia bergerak menggunakan tangannya dan menyeret tubuhnya yang sudah kehabisan tenaga. Sementara itu, terlihat beberapa mobil menepi dan para pengemudi kendaraan itu langsung keluar menghampiri sepasang manusia yang terkapar tepat di depan rumah sakit.
"Kita akan sampai dan semua pasti menjadi baik-baik saj-" Kavin tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena kesadarannya tiba-tiba menghilang bersamaan dengan tangan kanannya yang berhasil meraih jemari dingin, Mika.
...**T.B.C...
...Semoga feel-nya sampai ke kalian**...
...Insyallah up lagi nanti, jika komen kalian geregetan...
__ADS_1