
...Sahabat Paris! Aku ada kabar gembira untuk kalian....
...Akhirnya setelah beribu purnama, novelku yang ada di sebelah sudah tanda tangan kontrak, dan otw daily update bulan depan....
...Senengnya aku😭😭😭...
...Terus gimana dengan cerita ini?...
...Tenang😁 cerita babang Kavin sama teteh Mika tetap lanjut di sini, tapi untuk bulan depan. Aku tak menjamin akan update sesering ini yah....
...Tapi tenang. cerita ini akan tetap berlanjut...
...Jadi stay reading aja...
...Udah— curhatku segitu aja yakan. Yuk langsung ke cerita aja yuk...
...Babang Kavin bilang gini loh, sahabat paris...
__ADS_1
...*...
..."Ketika orang bertanya kepada saya, apa yang saya lihat dalam 5 tahun ini? Ini di sini .... Melakukan apapun yang aku suka ..... Kebebasan."...
...***...
Malam yang penuh sendu, sekarang telah berubah menjadi pagi yang indah. Buktinya sekarang Kavin dan Mika sedang jalan-jalan di bibir pantai untuk menikmati embusan angin yang menyejukkan hati, deburan ombak kecil yang membasahi kaki, dan jangan lupa semburat cahaya matahari terbit yang juga saat ini menyeruak di ufuk timur.
"Ingat— setelah aku pergi nanti. Berjanjilah padaku, kalua kau akan menyambutku di bandara saat aku kembali nanti," kata-kata perpisahan itu lah yang menjadi percakapan utama antara sepasang manusia yang sekarang sedang bercengkrama, dengan saling menautkan tangan seolah tidak ingin melepaskan.
Namun, itu percuma saja. Penuturan yang di ucapkan Kavin tadi sudah jelas mengatakan. Kalua pria itu akan pergi, dan dia meminta Mika untuk menyambutnya jika kelak akan kembali, tapi kapan dia akan kembali?
Jadi, percuma saja tangan yang saat ini saling menggenggam, akan secepatnya terlepas karena sang pria akan sebentar lagi meninggalkan. Mika yang saat ini terserang gundah gulana.
Begitu juga dengan Kavin. Pria dua puluh tujuh tahun itu sangat-sangat pendiam untuk hari ini. Terlebih lagi saat semalam. Dia mengucapkan beribu-ribu kata selamat tinggal untuk Mika.
"Mika...." Kavin memanggil dengan nada sangat kecil, membuat suaranya teredam oleh kicauan puluhan burung, suara deburan ombak, dan suara pohon-pohon kelapa yang bergoyang.
Namun, biar begitu. Mika masih tetap mendengar panggilan itu, karena posisi mereka berjalan ini sangat lah dekat. Alhasil, Mika menghentikan langkah yang juga membuat Kavin berhenti.
__ADS_1
Mika menolehkan kepala ke arah Kavin. Jujur, padahal hati gadis itu masih terserang gundah gulana, tapi lihatlah. Dia masih bisa menyungging senyum teramat manis.
Kavin yang melihat senyum itu, kembali bimbang dalam memilih pergi atau tetap di sini. Jujur, di satu sisi Kavin tidak ingin pergi meninggalkan Mika, tapi di sisi lain Kavin juga harus kembali karena Papanya yang meminta.
Jadi apa yang harus pria itu lakukan? Apa yang harus Kavin pilih? Itu lah yang membuat pemuda itu diam sedari tadi. Bukan sedari tadi, melainkan dari semalam.
"Aku mempunyai kenang-kenangan untukmu," ucap Kavim setelah tadi terdiam beberapa saat, "aku yakin apa yang akan aku aku berikan itu, tidak akan pernah bisa membuatmu lupa kepadaku."
Mika yang mendengar itu, langsung menaikkan satu alisnya, seolah berkala "apa?".1
"Itu kejutan, dan kamu akan tahu nanti. Jadi, untuk pagi ini aku ingin jalan-jalan hanya denganmu." Kavin bergerak mengangkat tangan yang saat ini sedang menggendong tangan Mika, "jangan coba-coba melepaskan ini," imbuhnya, dan Mika langsung menggelengkan kepala.
"Kenapa kau menggeleng seperti itu? Bukankah semalam kita sudah sepakat untuk saling menggenggam tangan?"
Mika yang mendengar penuturan kata Kavin mulai bergerak menjauh hingga kedua tangan itu terlepas, "Emang dengan kita saling menggenggam, akan membuat perpisahan itu tidak akan terjadi?" Kavin langsung bungkam saat melihat isyrat tangan Mika.
Tanpa diberitahu, Kavin juga sudah tahu walau beberapa jam lagi. Kedua tangan yang saling bercengkrama itu akan dilepas paksa oleh sebuah kata sampai juma, walau mereka tidak tahu pasti kapan akan berjumpa lagi.
Yang jelas Kavin tidak ingin mengatakan selamat tinggal, karena baginya ini bukan perpishan. Dia semalam bilang akan pulang, dan setiap akhir bulan. Dia akan kembali untuk berjumpa lagi.
__ADS_1
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Kavin. Tetapi, biar begitu. Dia bergerak meraih jemari Mika, menggenggam tangan mungil itu, dan langsung matiknya ke posisi semula.
...T.B.C...