Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
Part 43. Malam Terakhir.


__ADS_3

...Triple update...


...Xixixixixi gimana udah update tiga loh aku ini....


...Enggak ada kah mawar, hati, dan kopi untukku?...


...Aku enggak mau curhat panjang-panjang. Aku hanya minta kalian komentar yah...


...selamat reading...



...(Tetap terjaga untuk malam ini saja, karena aku belum siap menyambut hari esok, yang akan membuat diriku berpisah darimu. Aneh bukan? Aku pun juga merasa begitu)....


...***...


Bias jingga yang tadi, sudah menghilang beberapa jam yang lalu, karena sekarang jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan, dan Amak Kasim beserta lainnya sedang duduk melingkar di depan sebuah perapian.


Posisi duduk mereka berpisah. di mana para wanita berada di sisi kiri membuat setengah lengkung, dan para pria berad di sisi kanan dengan posisi yang sama.


Sedari pulang menunaikan ibadah shalat isya tadi, mereka berkumpul dan bercanda gurau melepas penat setelah lama bekerja. Terlebih lagi, jika Amak Kasim sudah mengeluarkan celetukan-celetukan anehnya, dan itu membuat semua orang langsung tergelak.


Tak urung Kavin, juga ikut tertawa dibuatnya. Terlebih lagi, sekarang Kavin sedang fokus melihat Mika yang sedari tadi membuka mulutnya tertawa. Tetapi, bedanya gadis itu tidak mengeluarkan suara bahagia itu.


Namun, Kavin yang melihat itu. Seolah merasakan ada suara yang keluar dari dalam mulut bisu itu, 'manisnya,' batin Kavin memuji paras Mika yang malam ini memang benar-benar terlihat sangat manis.


"Cieee Kavin wit—wit," celetuk Amak Kasim membuat perhatian Kavin langsung teralihkan.


"Ada apa Mak?" tanya Kavin yang sudah melihat ke arah Amak Kasim, yang sekarang tengah tersenyum seolah menggoda Kavin.

__ADS_1


"Dari tadi liatin Mika mulu, sampai-sampai kulit kacang rebus pun dikunyahnya," goda Amak Kasim membuat semua orang tergelak.


Sedangkan yang menjadi bahan godaan, malah kembali melirik ke arah Mika, 'emang kenapa? siapa suruh dia manis sekali malam ini,' jawaban Kavin yang terlontar di dalam hati, karena mana mungkin dia mau mengeluarkan itu, jika endingnya akan membuat Mika besar kepala.


"Kavin— Mika jangan diliatin gitu dong. Lihat dia bersemu merah kan," goda Inak Hayati, dan itu berhasil membuat Mika menundukkan kepala.


"Siapa coba yang liatin dia. Wong aku lihat tumpukan jerami itu," kilah Kavin membuat semua orang menyerukan huruf o.


Mika yang tadinya menunduk, langsung menegakkan kepala, dan menatap sinis ke arah Kavin, "Mika tadi udah melayang, ehh pas tahu bukan dia yang dilihatin. Malah jatuh lagi," goda Inak icok membuat semua orang terkekeh, dan Mika hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Mereka semua kembali berbincang menikmati malam yang perlahan mulai semakin larut, 'nah kalau kau tidak menunduk seperti tadi, akukan jadi bisa melihat jelas wajah itu,' batin Kavin, dan pria itu kembali menatap Mika dengan menikmati satu demi satu kacang rebus, yang dibuat Inak Hayati tadi.


***


Malam semakin larut, dan tak terasa bulan semakin bersinar terang di langit yang saat ini menggelap dipenuhi jutaan bintang yang masih berpijar begitu terangnya.


Dan sekarang, di tengah-tengah tiga tenda yang berdiri. Terdapat sebuah kobaran api, yang tercipta dari pembakaran beberapa kayu. Hawa panas dari api unggun itu, sedikit mampu membuat hawa dingin yang menyelimuti tubuh Kavin sedikit terasa mengahangat.


Jadilah Kavin ditinggal sendirina di tengah malam yang semakin larut, tanpa ada celotehan-celotehan asal yang keluar dari dalam mulut Amak Kasim lagi.


Sebenarnya Kavin tidaklah sendiri di tempat itu, melainkan ada Mika yang menemaninya. Tetapi, gadis itu beberapa menit yang lalu pergi membuatkan Kavin kopi, sekalian mengambilkan kacang rebus yang sedari tadi Kavin makan tanpa henti.


"Memang gadis desa itu selalu saja lama," gerutu Kavin, dan pria dua puluh tujuh tahun itu bergerak membaringkan tubuhnya di atas tikar.


Sepi, hangat, indah— itulah yang sekarang Kavin lihat dan rasakan. Bahkan, perlahan Kavin bergerak memejamkan mata. Tetapi, tak sampai sedetik dia kembali membuka mata, karena merasakan pukulan lembut di pipinya.


Kavin tidak merasa terkejut, karena dia tahu siapa pelaku dari pemukulan pipi itu. Malahan saat ini dia sedang menyungging senyum kecil, dan dia juga langsung bergerak untuk bangkit dari berbaringnya.


"Kenapa kau lama sekali?" protes Kavin disaat dia sudah bangun dari berbaringnya.

__ADS_1


Mika yang baru saja duduk di sebelah Kavin, tidak melakukan gerakan Isyarat apapun untuk menjawab. Melainkan dia bergerak meletakkan secangkir kopi, dan sepiring kacang rebus itu tepat di hadapan Kavin.


"Kau beneran membuatkan aku kopi. Padahal tadi aku hanya bercanda gadis desa. Lagian, aku mana suka kopi murahan seperti itu," ujar Kavin, dan pria itu bergerak menyeruput kopi hitam yang tadi dibuatkan oleh Mika.


'bukankah tadi dia bilang enggak suka kopi murahan. Tetapi, kenapa dia meminumnya,' batin Mika.


Mika bergerak membuat isyrat tangan, "Tuan tidak membutuhkan apapun lagi kan? Kalau begitu, saya kembali ke tenda."


Setelah melakukan Isyarat tangan itu, Mika hendak bangkit dari duduknya, tapi Kavin bergerak lebih dulu mencekal pergelangan tangannya, "Eh siapa yang memintamu untuk pergi. Duduk diam, dan temani aku di sini," ujar Kavin, dan pria itu kembali menarik paksa Mika.


Mika kembali duduk, dan gadis itu langsung membuat isyrat tangan, "Kenapa saya harus tetap di sini? Besok banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan."


"Kau itu banyak isyrat. Aku bilang kau tetap di sini, yah harus tetap di sini. Jangan pedulikan kerjaan besok, karena aku yang akan menyelesaikan semuanya," jawab Kavin, dan membuat kening Mika mengkerut.


Kavin menoyor kening Mika, Jangan bilang kau meremehkan diriku yah. Lihat saja besok, aku akan menyelesaikan semuanya sendiri, dan Kau boleh beristirahat. Tetapi, malam ini tetaplah terjaga bersamaku, karena aku masih belum siap menyambut hari esok," terang Kavin, dan itu semakin menambah kerutan di dahi Mika, 'hari esok yang akan membuat kita berpisah. Ini adalah malam terakhir kita berada di tempat ini, dan aku tidak mau melewatkannya begitu saja,' lanjut Kavin dalam hati.


"Rentangkan kakimu," perintah Kavin, dan Mika menuruti permintaan pria itu tanpa bertanya sedikitpun.


Setelah melihat kaki Mika terlentang, Kavin langsung menidurkan kepalanya tepat di pangkuan Mika, "Suapi aku kacangnya. Aku ingin melihat langit dengan tertidur seperti ini," minta Kavin, dan itu membuat Mika melongo karena terkejut.


...T.B.C...


...Pasti ada yang baper yah xixixixixi...


...Tunjuk tangan yang balet...


...Karakter yang kalian suka di cerita ini siapa yah?...


...Langsung aja kirimkan aku bunga, hati, kopi agar semangat!...

__ADS_1


...Sampai jumpa di next part all!...


__ADS_2