
...Padahal part ini udah ready loh kemarin, but enggak capai target hadiah jadi aku publish hari ini😁...
...12700 Hadiah untuk double update. Sukuy pus dulu atuh hadiahnya hingga capai target, agar bisa dapet double update....
...Satu lagi, keknya kalian udah trauma deh dengan mimpi. Hingga tidak mau percaya kalau itu nyata🤣🤣🤣. Tetapi, saya juga enggak tahu kalau itu mimpi atau nyata jug sih. Dari pada menerka-nerka yang tak pasti. Yok simak aja....
...****************...
Kembali ke beberapa jam yang lalu.
Bandara Internasional Lombok.
Kavin mendengar suara seorang wanita mengumumkan, kalau pesawat yang menuju ibu kota sebentar lagi akan berangkat.
Dia yang tadi sedang duduk menangis dalam diam, langsung bergerak bangkit dari duduknya. Tidak lupa, Kavin juga mendongak sembari meraup wajahnya dengan kedua tangan. Agar awan mendung yang berada di matanya itu segera enyah, dan berhenti untuk membawa kesedihan.
"Kau membuatku jadi laki-laki cengeng, Mika," gumam Kavin dan pria itu langsung menegakkan wajahnya yang sudah kembali tersenyum.
Percayalah seutas senyum itu. Dia gunakan sebagai topeng, untuk menutup raut wajah sendu miliknya. Apa lagi sekarang jantungnya semakin berdegup cepat, "Kuatkan diri, dan jangan kalah dengan keinginan hati, Kavin." gumam pria dua puluh tujuh tahun itu, seolah mencoba untuk mengurung keinginan hatinya yang selalu membisikkan untuk kembali.
Kavin tak sengaja melirik salah satu tiang penyangga yang ada di ruang tunggu. Dia ingin sekali memeluk tiang itu, agar langkah kakinya terhenti, "Tuan cepatlah. Pertemuan di rumah utama sudah mau di mulai," ujar sopir sekaligus orang kepercayaan Papa Kavin, dan itu berhasil membuat niat yang sudah tersusun di dalam hati, memudar.
Tang! Tang! Tang!
Kavin menghentikan langkah kakinya saat dia mendengar jelas, sebuah suar besi yang dipukul-pukul. Padahal tinggal satu langkah lagi, dia sampai di bagian pemeriksaan keamanan.
Namun, karena suara bising itu. Kavin menolehkan kepala, dan...
Deg!
"Mika." Pandangan Kavin langsung mengabur, karena air-air hangat mulai terbendung kembali di pelupuk matanya, dan satu dorongan lagi bisa di pastikan. Kalau air itu mengalir keluar.
__ADS_1
Deg!
Pertahan Kavin runtuh. Air-air hangat itu mulai berjatuhan kala Mika melambaikan kedua tangannya, dan bibirnya terlihat sedang melakukan teriakan, tapi sialnya tidak ada suara yang keluar dari dalam sana.
"Sialan. Aku goyah..." Kavin mendongak setelah bergama, "Kau sudah membuat aku tidak bisa pergi dari sini, Mik-'" Ucapan Kavin tergantung, saat kedua mata hitamnya tidak menemukan kehadkran sosok yang tadi jelas-jelas dia lihat. Apa itu sebuah halusinasi, karena sedari tadi dia menginginkan Mika untuk datang ke sini, dan menghentikan durinya.
"Tuan ayok. Jika kita tidak cepat-cepat. Mereka akan meninggalkan kita, Tuan," tegur sang sopir, dan itu berhasil membuat Kavin tersadar dan kembali memutar tubuhnya.
'kenapa aku dipermainkan seperti ini,' batin Kavin, dan dia kembali mengayunkan langkahnya untuk masuk ke bagian pemeriksaan.
Namun, langkah pria itu berhenti di udara. Tidak, itu tidak dia lakukan sengaja. Karena, memang sekarang dia masih bimbang, "Apa aku bisa meninggalkan dia? Apa aku bisa tenang setelah sampai di ibu kota nanti?" tanya Kavin dalam hati.
"Tidak— aku tidak akan tenang, dan karena itu. Aku harus kembali. Iya, aku harus kembali menjemputnya." Kavin bergumam dengan kedua sudut bibir terangkat.
"Tuan?"
"Kita kembaki— aku rasa. Aku meninggalkan sesuatu yang berharga, dan itu bahkan tidak dijual di manapun. Jadi, ayok kembali. Aku tidak akan mau kehilangan sesuatu yang berharga itu, karena aku yakini tidak bisa menemukannya di mana pun."
Kembali ke jam sekarang.
Belakang rumah Mika.
Tuk!
Bunyi kening yang berbenturan memenuhi area belakang rumah Mika yang saat ini hanya diterangi oleh kobaran api dari pembakaran kayu.
Padahal tadi. Kavin sudah menempelkan keningnya dengan milik Mika. Tetapi, karena dia menyadari kalau Mika masih terkejut. Makanya dia kembali membenturkan keningnya.
Mika yang mendapatkan serangan itu meringis, dan hendak bergerak menjauhkan kepalanya, tapi itu tidak bisa dia lakukan karena. Kavin sedari tadi sudah menahan tengkuknya.
"Kau tidak boleh menjauh, atau melakukan gerakan apapun. Biarkan kita seperti ini, karena aku merasa nyaman dengan begini," tutur Kavin dengan nada lembut, dan itu bisa membuat Mika memejamkan mata.
__ADS_1
Kavin yang melihat itu, mulai bergerak menjauhkan kepalanya. Tetapi, dia semakin merapatkan posisi duduknya.
"Mika...."
Cup!
Setelah menyebut nama gadis itu. Kavin langsung mendaratkan kecupan di kening Mika, dan itu dia lakukan tidak sebentar. Malahan kecupan itu sangat dalam hingga saat ini Mika masih diam memejamkan mata, dan jantungnya sudah sedari tadi bergemuruh.
"Buka matamu!" perintah Kavin sembari membingkai sisi wajah Mika dengan kedua tangannya, dan setelah itu dia mendongakkan kepala gadis itu. Agar, melihat wajahnya.
Pandangan mereka saling berada, hingga keheningan menggerogoti tempat itu, membuat suara-suara jangkrik dan embusan angin terasa seperti alunan nada minor merdu yang siap mengiringi ucpaan Kavin.
"Aku ingin mengatakannya sekali lagi, agar....." Kavin menjeda ucapannya, dan....
Tuk!
Kening mereka kembali saling bertautan. Begitu juga dengan ujung hidung mereka yang juga saling bertemu m Jika ada yang membuat satu pergerakan. Bisa di pastikan, kalau bibir mereka akan menempel satu sama lain.
"Agar, otak bodohku ini dapat mencerna perkataanku," lanjut Kavin dengan nada yang ditekan, tapi masih terdengar sangat lembut di gendang telinga Mika.
Mika tidak bergeming. dia tidak juga mengangguk, karena posisinya sekarang sedang dikendalikan oleh Kavin, "Mika— maukah kau menikah denganku?"
...T.B..C...
...Ternyata bukan mimpi kawan...
...Bagaimana untuk part ini?...
...Ada kata untuk babang Kavin atau teteh Mika?...
...12700 hadiah atau 80 tiket vote untuk update selanjutnya...
__ADS_1
...Yok capai target, jika penasaran apa yang akan Muka jawab....