Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
95. Tidak Ragu Lagi.


__ADS_3

...Babang Kavin bebeck😙...


...Ada yang selalu rindu sama cerita ini?...


...15700 hadiah untuk double update 😙....


...Yok push hadiahnya dulu, agar bisa update dua kali....


...****************...


Beberapa menit telah berlalu, dan setelah isyrat yang dilakukan Mika. Keheningan langsung menyeruak memenuhi kamar bernuansa dark blue itu.


Tidak ada sepatah kata yang coba Kavin keluarkan, karena dia tidak tahu arus menjawab apa pertanyaan sang istri. Dan itu berhasil membuat, jam di dinding semakin bersuara dengan kerasnya seolah sedang menertawakan kebingungan Kavin.


Mika yang melihat itu juga tidak mau bergerak mengeluarkan isyrat tangan. Dia saat ini sedang dipenuhi ketakutan yang di mana, dia sangat takut kalau orang tua Kavin tidak menerimanya.


Jika itu terjadi, apa Mika harus rela pergi kembali, dan meninggalkan Kavin sendiri lagi? Tidak, mungkin jika dia meninggalkan Kavin. Pasti lah Pria itu akan bersanding dengan wanita lain, dan pada saat hal itu terjadi. Apa dia bisa menerima itu?


Memikirkan Kavin bersanding dengan wanita lain saja sudah membuat hati Mika serasa tercabik-cabik saat ini. Buktinya sekarang dia menggelengkan kepala, dan setelahnya. ia berhamburan masuk ke pelukan Kavin.


Mika menangis. Dia tidak mau semua yang ada di pikirannya itu benar-benar terjadi, dan rasa bimbang di malam ini sukses membuat keinginan bodohnya kembali menyerang otak kecilnya.

__ADS_1


Iya, keinginan datangnya keajaiban yang akan membuat dia bisa bicara. Sekarang sangat-sangat ingin Mika membutuhkannya. Namun, keajaiban, sihir, dan segala macam kekuatan itu. Hanya ada di dunia fantasi.


Sementara Kavin yang sedari tadi terserang bimbang, langsung tersentak kaget. Saat tiba-tiba saja, Mika berhamburan ke dalam pelukannya.


Dia memejamkan mata saat merasakan baju dibagikan dadanya terasa lembab, 'apa yang harus aku lakukan? kenapa disaat aku baru mau merasakan sedikit kebahagiaan, ada saja rintangan yang harus aku lewati. Kenapa tuhan begitu tidak ada kepadaku selama ini? '


Kavin berucap dalam hati, kala dia tidak tahu harus berbicara apa. Malam ini, entah kenapa Kavin menjadi orang bodoh yang tidak tahu harus berbuat apa, untuk menghentikan tangis calon istrinya.


"Sekarang apa yang kamu inginkan?" Pada akhirnya Kavin mengeluarkan sebuah suara, tapi itu justru tidak membuat Mika tenamg. Malahan sekarang gadis ayu itu, semakin terserang kebimbangan yang dia rasa tidak akan pernah ada ujungnya.


"Apa kamu mau membatalkan pernikahan ini?" tanya Kavin dengan mata terpejam, dan pelukan yang semakin menguat, "apa kamu mau pergi meninggalkan aku sendiri di sini?" imbuhnya, dan bukannya membuat Mika berhenti menangis. Malahan pertanyaannya itu, semakin membuat gadis desa itu terisak tanpa suara.


Kavin bergerak menegakkan tubuh Mika, dan setelahnya. Dia langsung membingkai wajah gadis yang terselimuti awan mendung itu, "Pergilah...." Kavin menjeda ucapannya hanya untuk melihat ekspresi Mika yang membulatkan kedua matanya.


Kavin yang melihat calon istrinya mematung, langsung mengeluarkan sebuah kekehan, dan....


Tuk!


Dia kembali menyatukan keningnya dengan milik Mika, hingga membuat ujung hidung mereka saling menempel satu sama lain, dan kedua netra mereka saling menyelami.


"Aku tahu kamu tidak akan bisa menjawab itu semua, karena kamu tidak mau kehilanganku, sayang." Kavin berucap dengan sangat lembut, membuat kedua netra hitam Mika tertutup karena embusan napas Radit menyeruak, seperti sedang membelai lembut area wajahnya walau nyatanya. embusan napas itu, hanya menyerang bibirnya.

__ADS_1


"Dan jika kau pun menganggukkan kepala, aku mana mungkin akan membiarkanmu pergi, karena saat kamu sudah menerima lamaranku. Disaat itulah kamu sudah terikat dengan hidupku. Terikat sangat erat, hingga kamu tidak akan bisa melepaskan diri dariku."


Cup!


Seketika hawa dingin yang menyeruak keluar dari pendingin ruangan tidak terasa lagi membelai kulit mereka, saat Kavin melakukan satu gerakan yang membuat kedua benda kenyal itu saling menyatu.


Kavin diam, dan begitu juga dengan Mika. tidak ada yang melakukan gerakan, karena saat ini mereka sedang menikmati sebuah desiran hangat yang perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya. hingga....


Tok! tok! tok!


"Bang! Papa meminta kalian berdua bergabung ke ruang santai. Papa bilang, dia ingin berbicara, dan berkenalan dengan calon menantunya yang manis!" Teriakan suara dari luar sana, mampu membuat Kavin dan Mika menyudahi acara perjumpaan mereka.


"Iya! kau pergilah duluan!" balas Kavin dengan nada tak kalah kencangnya.


"Baiklah, tapi Abang dan Kakak ipar cepatlah keluar. Jujur, Agam, Papa, dan Mama sangat penasaran dengan Kakak ipar. Terlebih lagi tadi, Kakak ipar belum sempat bicara, dan Abang malah menyeretnya masuk ke dalam kamar." ceriwis Agam dari balik pintu kamar yang tertutup.


Kavin tidak menjawab. Malahan sekarang dia sedang melihat wajah istrinya yang dipenuhi oleh rasa gugup, "Hilangkan rasa bimbang itu, sayang. Percayalah, mereka pasti akan menerimamu. Jika pun tidak, dan mereka juga tidak jadi menyetujui hubungan kita. Itu tidak masalah bagiku, karena aku akan tetap menikahimu."


Mendengar itu, Mika yang sedari tadi diselimuti oleh kebimbangan. Mulai sedikit menyungging senyum saat mendengar penuturan Kavin, dan dia langsung bergerak melakukan isyrat tangan.


"Aku sudah tidak ragu lagi."

__ADS_1


...T.B.C...


...15700 buat next update yah....


__ADS_2