
...(Duh sumpah panas bet. Kakiku penuh lumpur pula, beh sialan! Kenapa harus ada siang hari sih di mari. Aku itu haus, lelah, letih, pegel, capek. Tuh si gadis desa, kemana pula dia)...
...***...
NTB, Kuta beach, 12.00am
"Lio tungguin aku," rengek manja Zaly dengan merentangkan satu tangannya seolah ingin di gandeng.
Agler yang mendengar Zaly merengek, hanya bisa terkekeh. Dia mengarahkan lensa kamera yang sedari tadi menjadi kalungnya itu tepat menyorot ke arah Zaly.
Wanita itu langsung memanyunkan bibirnya, dan dia tak lupa merubah ekspresinya menjadi seperti orang yang terlihat sangat kelelahan, "Dasar manja," gerutu Kavin dengan nada sedikit terkekeh.
Biarpun begitu, dia meraih tangan mungil Zaly, menyelipkan jemarinya di sela-sela jemari Zaly, dan mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan mengelilingi pantai Kuta.
"Lio...." panggil Zaly yang sekarang berjalan di sebelah Agler dengan tangan yang bergandengan. Terlihat seperti sepasang kekasih di mata orang-orang yang tak sengaja melihatnya.
Namun, jika mereka mengetahui yang sebenarnya. Mungkin semua orang akan perihatin kepada Agler, "Apa?" jawab singkat Agler, tapi jawaban singkat itu terkesan lembut, tapi itu semua Percuma karena mau selembut apapun sikapnya. Zaly tidak pernah menganggap dirinya sepesial.
"Kira-kira kenapa yah, Kavin selalu risih jika aku dekati?" tanya Zaly, dan itu membuat Agler serasa tidak ingin menjawab pertanyaan itu.
"Kenapa Kavin lagi sih. Kan sekarmag kamu sedang bersamaku Zel. Jadi, berhentilah menyebut Kavin yang tidak ada di sini," jawab Agler terkesan tidak suka, tapi Zaly tidak menyadarinya.
"Karena dia tidak ada di sini, makanya aku menanyakan tentang dirinya. Gini loh, kaukan sering tuh kumpul dan bicara sama Kavin. Apa saat kalian bertemu, dia tidak pernah membicarakan tentangku?" tanya Zaly dengan harapan Agler akan menganggukan kepala.
"Maaf Zel, tapi Kavin tidak pernah mengungkit tentangmu jika kita bertemu," jawab jujur Agler, membuat harapan Zaly pupus.
"Sungguh?" tanya kembali Zaly mencoba memastikan, dan lagi-lagi Kavin mengangguk.
"Zaly lihat ada penjual pernak pernik," celetuk Agler, membuat Zaly mengangkat kepala dengan tidak bersemangat, "bukankah kemarin kamu mau membeli pernak-pernik seperti itu?" imbuh Agler seriang mungkin, agar semangat Zaly kembali berkobar seperti pagi tadi.
"Memang sih tap-"
"kalau begitu ayok. Aku akan membelikan apapun yang kamu mau," potong Agler, dan pria itu langsung menyeret Zaly mendekati seorang bocah berusia belasan tahun, yang terlihat sedang menjajarkan dagangannya ke para wisatawan.
"Ohh iya, mengingat tentang pernak-pernik, aku jadi kepikiran soal gadis bisu itu loh," celetuk Zaly, dan membuat langkah kaki Agler terhenti.
"Apa yang kau maksud Mika?"
***
Kuta barat, persawahan, 12.00am
__ADS_1
Di waktu yang bersamaan, tapi di tempat yang berbeda. Tepatnya, di sebuah persawahannya yang di mana sudah terlihat sedikit gundul, karena para perampek sudah hampir menghabiskan satu sawah dalam waktu setengah hari.
Dan itu, tanpa bantu dari Kavin yang sekarang sedang asik-asikkan selonjoroan di bawah bayang-bayang guna untuk berteduh. Pakaian yang dia gunakan juga, sudah sama seperti kemarin, tapi bedanya dia sedang telanjang dada.
Dia melakukan itu bukan bermaksud memamerkan lekukan yang menghiasi tubuhnya. Melainkan sekarang, pria itu sedang kepanasan, bercampur capek, lelah, letih, haus.
"Sekarang juga aku butuh udara. Sungguh aku sudah kehabisan napas. Ya Allah, dosa apa yang aku perbuat hingga terdampar di sini," gerutu Kavin sembari memanjatkan doa kepada Tuhannya.
Entah kenapa setelah sering shalat, pria itu selalu menyebut nama tuhan disaat dia merasakan penderitaan, "Kalau begini. Lebih baik aku berada di kantor, dan menghabiskan waktu dengan tumpukkan berkas. Sumpah aku sungguh enggak tahan lagi," imbuh Kavin lebay.
Padahal ini yah, dia itu bisa dibilang tidak bekerja sama sekali. Bagaimana tidak, setelah memotong beberapa batang padi, dia langsung duduk-duduk beristirahat, dan merengek seperti bocah.
"Gadis desa! Woi gadis desa!" panggil Kavin, tapi Mika yang sedang menikmati penderitaan pria kota itu, hanya cekikikan, dan pura-pura sibuk bekerja.
"Sumpah aku haus sekali. Tolong ambilkan aku minum," imbuh Kavin dengan nada dibuat sok menderita.
Namun, Mika yang mendengar dan melihat itu, sedikit merasa kasihan. Wanita itu bangkit dari jongkoknya, dan langsung mengayunkan langkah mendekati Kavin.
Mata Kavin langsung menunjukkan binar, saat dia melihat Mika berjalan mendekatinya. Di mata Kavin, sekarang Mika terlihat seperti seorang penyelamat yang akan membantu dirinya terbebas dari penderitaan ini.
"Allah memang mendengar doa umatnya yang sedang kesusahan sepertiku ini. Terima kasih, karena engkau telah mengirimkan seorang penyelamat," ujar Kavin kembali memanjatkan doa penuh syukur, dan itu terlihat lucu di mata Mika.
Ingin rasanya Mika membuka mulutnya, tapi dia harus menahan itu semua. Karena, sekarang dia sedang berakting jadi seseorang yang kejam. Dia melakukan ini, untuk membalaskan dendamnya saat Kavin memperlakukannya seperti pesuruh tadi.
'makan tuh. Main-main sama aku lagi, maka akan aku buat anda lebih menderita pria kota,' batin Mika merasa bahagia.
"Seingatku kemarin ada yang bilang, kalau kau itu pria kuat dari kota." Mika mulai melakukan isyrat tangan, membuat Kavin mengangguk.
"Emang aku pria dari kota yang kuat. Kau bisa lihat tubuh atletis milikku ini?" Dengan masih selonjoran di tanah, Kavin berucap, dan memamerkan tubuh terbentuknya.
"Tubuh aja gede. Kerja beginian aja merengek," ejek Mika menggunakan bahasa isyarat, dan itu langsung membuat sungut Kavin tumbuh.
"Aku bukannya merengek, tapi aku hanya istirahat sebentar," sanggah Kavin dengan tubuh yang sudah berdiri tegap.
"Istirahat kok sudah sepuluh kali lebih," ejek Mika, dan itu semakin membuat Kavin tidak terima, dan hendak mengeluarkan suara untuk membalas.
Namun, gerakan tangan Mika yang seperti menyuruhnya diam, membuat suaranya tertahan. Bagaimana mau keluar, wong Mika menggerakkan tangannya yang membawa arit, dan itu terlihat seolah sedang mengancam Kavin.
Padahal ini yah, Mika itu tidak sengaja mengangkat tangannya yang membawa arit, dan dia tidak bermaksud mengancam. Kavin aja yang selalu negatif thinking.
"Kita lanjut kerja lagi, dan menyelesaikannya satu sawah ini sebelum adzan Dzuhur." Kavin menganggukan kepala saat melihat gerakan isyrat Mika.
"Nanti setelah makan siang. Kita bisa langsung memisahkan butiran padi itu dengan batangnya." Kavin lagi-lagi mengangguk, dan bergerak mengambil aritnya yang tergeletak di tanah.
__ADS_1
Melihat Kavin yang menurut seperti itu. Mika langsung memutar tubuhnya, dan hendak mengayunkan langkah. Tetapi, cicitan Kavin membuat langkahnya menggantung di udara.
"Tapi aku haus, apa aku boleh minus seteguk air putih?" Mika kembali memutar tubuhnya menghadap ke Kavin.
"Tidak boleh," tolak Mika membuat Kavin tidak lagi mengeluarkan suara.
'ternyata engkau tidak mendatangi seorang penyelamat, tapi justru malaikat maut yang engkau datangi. Ya Allah, aku berjanji akan selalu berbuat baik, disisa hidupku ini. Tetapi, tolong berikan sedikit rasa iba kepada gadis desa di depanku ini,' batin Kavin memanjatkan doa permohonan.
"Tapi, setelah ini selesai. Nanti Tuan akan aku belikan es." Melihat Isyarat itu, Kavin kembali merasa mendapatkan secercah cahaya kehidupan.
"Aku pegang janjimu gadis desa. Aku nanti akan minta kau membelikan es jus jeruk." Semangat Kavin langsung membara, dan pria itu kembali bekerja memotong batang demi batang padi.
Sekarang dia sudah mulai terbiasa, dan tidak seperti kemarin. Ngomong-ngomong. Luka Kavin yang kemarin sudah mengering, karena luka kemarin itu hanya sebuah goresan saja.
Mika yang mendengar jelas permintaan Kavin, hanya bisa tertawa di dalam hati, 'mau jus jeruk yah. Okeh lihat saja nanti,' batin Mika, dan gadis tangguh itu kembali melakukan pekerjaannya.
...T.B.C...
...Ya ampun, ada yah orang modelan kek Kavin ini....
...Kasihan Mika yang harus berpergian dengan orang seperti Kavin....
...110 like dan berapapun komen aku update lagi....
...Gimana masak enggak bisa 110 like sih? Bisa yah....
...Aku **bakalan update lagi setelah part 32, 33, dan 34 capai target. Jadi happy reading. ...
...Jika berhasil capai, malam nanti aku akan update spesial untuk kalian yang rindu Kavin songong**...
...Jangan lupa kasih gift, tiket vote, dan bantu share....
...Ada kata buat:...
...Kavin?...
...Or...
...Mika?...
...Or...
...Agler?...
__ADS_1
...Or...
...Zaly?...